
Sehabis magrib, semua orang benar-benar sudah berkumpul di rumah Arick. Para wanita masih sibuk di dapur dan para pria duduk di ruang tengah.
Sengaja mereka tidak berkumpul di taman belakang, karena tidak ingin sang ibu hamil terkena angin malam.
"Jadi sekarang Asih tinggal di rumah ini?" tanya Jasmin pada orangnya langsung, Asih sedang bermain dengan Zayn sedangkan Jihan dan Selena mendampingi.
Jasmin sendiri membantu Puji membuat minuman hangat.
"Iya Mbak, sudah hampir 2 minggu saya tinggal disini," jawab Asih.
"Berapa usia mu Sih?"
"22 tahun."
"Hem, masih muda ya, kamu sudah punya pacar belum?" Jasmin terus saja mengintrogasi Asih, untunglah Asih orang yang ramah, ia menanggapi tanpa berpikir yang macam-macam.
"Sudah Mbak, di kampung," jawab Asih malu-malu.
"Baguslah, kalau kamu sudah punya pacar, punya calon suami. Kamu kan masih gadis, walaupun disini kamu kerja tapi kamu tetap harus tahu batasan-batasannya, harus jaga mata jaga hati, dan yang terpenting jaga kehormatan kamu sendiri. Tahukan maksud saya Sih?" ucap Jasmin, ucapannya terdengar serius tapi ia masih sibuk mengaduk-ngaduk minuman di dalam gelas.
"Iya Mbak, saya ngerti," jawab Asih, sebelum bekerja disinipun ia sudah diwanti-wanti oleh bude Santi dan Nyonya Sofia, intinya jangan sampai tertarik pada tuannya sendiri dan menjadi perusak rumah tangga majikan, karena mau bagaimanapun status Asih masih sendiri. Tidak seperti Santi dan Puji, yang sudah berumah tangga.
Semua orang yang mendengar ucapan Jasmin hanya terdiam, begitulah Jasmin, ceplas ceplos. Tapi percayalah, dalam setiap ucapannya tidak ada maksud untuk menyakiti orang lain.
Jam 7 malam, semuanya mulai makan malam, Puji dan Asih pun ikut duduk bersama mereka.
Selena selalu mengikuti kemanapun Asih pergi, tujuannya hanya 1, agar ia bisa dekat-dekat dengan Zayn.
Dalam acara makan malam ini, ada satu orang yang merasa paling bahagia, yaitu Jodi. Ia merasa telah berhasil menggagalkan kencan buta Jasmin.
Jam setengah 9, semuanya pamit pulang. Haris pulang sendiri menggunakan motor kesayangannya, Selena bersama Kris dan Jodi pulang bersama Jasmin.
"Apa malam ini Jodi akan menyatakan cintanya pada Jasmin Mas?" tanya Jihan ketika dilihatnya mobil Jodi sudah mulai menjauh.
"Sepertinya begitu, jika tidak malam ini, mungkin dia tidak punya kesempatan lagi," jawab Arick, ia menggandeng sang istri dan membimbingnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kita buat jalan yuk sayang."
"Besok saja ya Mas, malam ini sudah capek."
"Baiklah," jawab Arick lesu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Demi menghilangkan kecanggungan, Jodi mulai menyalakan lagu. Lagu-lagu kesukaan Jasmin selama ini.
__ADS_1
Keduanya masih sama-sama terdiam, entahlah, jika mereka sudah berdua seperti saat ini mendadak canggung menguasi, seolah ada jarak yang mereka buat sendiri. Padahal ketika berkumpul dengan teman yang lain, keduanya merasa tak ada jarak sedikitpun. Saling melempar canda dan tawa.
"Jas."
"Jo."
Jasmin menggigit bibir bawahnya, bagaimana bisa ia dan Jodi memanggil dalam waktu yang bersamaan.
"Jas, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Jodi, serentak dengan ia yang memarkirkan mobilnya di rest Area pom bensin terdekat.
Jasmin hanya terdiam, namun ia memberanikan diri menoleh dan membalas tatapan mata Jodi.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk ikut kencan buta ataupun kencan yang lain-lainnya," jelas Jodi, jantungnya berdetak sangat keras. Jika lagu ini berhenti berputar, ia yakin pasti Jasmin bisa mendengar detak jantungnya.
Sama halnya dengan Jodi, Jasmin pun merasakan kegugupan yang sama.
Inikah saatnya? inikah saat-saat yang ku tunggu tunggu selama ini? Batin Jasmin.
"Kenapa?" akhirnya lolos juga satu pertanyaan ini, kenapa?
"Karena aku mencintaimu, aku tidak akan mebiarkanmu dimiliki oleh orang lain. Karena itu, mau kah kamu menikah dengan ku?"
Deg! Jasmin tergugu, sumpah demi apapun, ia tidak menyangka malam ini akan benar-benar terjadi. Bukan sebagai kekasih, melainkan seorang istri.
Mata Jasmin terasa panas, cairan bening mengalir tanpa permisi. Sangat bahagia ketika ada orang yang mencintai kita dengan tulus.
Ingin menghapus air mata itu, tapi merasa tak sopan untuk menyentuh Jasmin.
"Ku mohon jangan menangis," lirih Jodi yang bingung harus bagaimana.
Dengan perlahan, Jasmin mulai menghapus air matanya sendiri menggunakan jemarinya.
Ia menatap wajah cemas Jodi.
"Mana cincinnya?" tanya Jasmin, ia mengulurkan tangan kirinya kearah Jodi.
"Kalau melamar bukannya harus ada cincin?" timpal Jasmin lagi, bibirnya mulai mengukir sedikit senyuman.
Bukannya memasang cincin, Jodi malah menyambut uluran tangan itu. Ia kecup sekilas punggung tangan Jasmin.
"Maaf, cincinnya belum ada," jawab Jodi sejujur-sejujurnya.
Keduanya terkekeh, ingin memeluk namun sekuat tenaga ditahan. Belum saatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Sayang, kapan kita beritahu semua orang jika selama ini kita sudah bertunangan?" tanya Kris pada Selena, kini mobil Kris sudah terparkir sempurna di depan rumah sang kekasih.
"Tunggu dulu, setidaknya sampai Jodi dan Jasmin bersama."
"Kapan itu terjadi?" tanya Kris sambil memutar bola matanya jengah.
"Sepertinya sebentar lagi," jawab Selena yakin.
Selena sengaja meminta Kris untuk merahasiakan hubungan mereka, Selena tak tega mengatakan kabar bahagia ini disaat Jasmin begitu terpuruk ketika mengetahui Arick menikah dengan Jihan.
Rasa-rasanya ia ingin selalu ada untuk Jasmin, ingin Jasmin merasa bahwa ia tak sendiri.
Setelah banyak mengobrol akhirnya Selena turun dari mobil Kris dan mulai masuk ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagaimana dengan Haris? ia sedang memperjuangkan cintanya pada sang kekasih pujaan, Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
3 Hari telah berlalu, Jihan masih mencari-cari hari yang tepat untuk menceritakan kegundahan Mardi kepada Arick.
Namun entah mengapa, Jihan selalu merasa bahwa saatnya belum tepat. Apalagi ketika melihat sang suami yang begitu bersemangat dengan usahanya kini.
"Mas, kamu benar tidak mau memerikaa jenis kelamin kedua anak kita?" tanya Jihan saat memasangkan dasi.
Hari ini Arick akan menemui salah satu investor yang akan menanamkan modal pada Cafenya.
"Iya, tidak usah, biar jadi kejutan," jawab Arick tanpa ragu.
"Tapi kan kalau tidak tahu jenis kelaminya bingung beli baju-bajunya Mas." Jihan masih terus berusaha membujuk, ia sudah sangat penasaran dengan jenis kelamin sang jabang bayi.
"Beli yang warna netral saja sayang, lagipula yang beli semua perlengkapan anak-anak kita kan Ibu dan mbak Puji, sayang tidak boleh ikut berbelanja, jadi kenapa bingung-bingung?" Jelas Arick dan Jihan mencebik, cemberut.
Tanpa sengaja ia menarik dasi terlalu kuat.
"Aw, ek! sakit sayang," Rengek Arick, buru-buru Jihan mengulur dasinya kembali.
"Maaf." lirih Jihan dengan sedikit menunduk.
"Baiklah-baiklah, pemeriksaan besok kita lihat jenis kelaminnya ya," ucap Arick sambil mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah sang istri.
"Benarkah?"
"Iya."
__ADS_1
Jihan bersorak kecil, kemudian menghadiahi ciuman pada bibir sang suami, cup!