Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 141


__ADS_3

Masa kini.


Johan mempunyai janji temu dengan klien barunya dari luar negeri. Tanpa terasa kini sudah mulai merambah go internasional. Hingga Johan tidak ada waktu senggang untuk bersantai. Meski dia masih menyuruh semua orang-orangnya untuk tetap mencari keberadaan istrinya meski lama tidak membuahkan hasil. Namun Johan tidak menyerah.


Dengan sibuknya dirinya sampai tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain seperti bersenang-senang atau refreshing melepaskan lelahnya. Yang dia tahu saat ini selain kerja, kerja dan kerja tidak ada lagi. Bahkan dirinya kini semakin terlihat dingin dan datar sama sekali tidak tersentuh. Bahkan hati lembutnya kini seakan hilang musnah.


Pernah suatu ketika, bawahannya melakukan kesalahan kecil pada laporan yang dibuatnya. Hanya selisih satu nol di belakangnya. Namun orang itu langsung dipecat setelah melempar map yang ditunjukkan itu tepat di wajahnya. Hal itu tentu membuat semua yang mendengar tersentak kaget. Presdirnya yang dulu ramah dan baik hati sekarang sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah Presdir yang dingin dan kejam.


Edo saja sampai menganga tak percaya melihat kejadian yang tidak dikiranya sama sekali itu. Untung saja tuannya itu tidak pernah kelepasan untuk memecatnya jika dia melakukan kesalahan. Tuannya itu berarti masih dalam batas kewajaran jika dirinya sendiri yang melakukan kesalahan.


"Kenapa akhir-akhir mereka jadi semakin tidak becus mengerjakannya?" Kesal Johan saat itu setelah puas melampiaskan amarahnya pada bawahannya itu.


"Mungkin saya yang kurang kompeten mencari orang tuan." Jawab Edo berusaha tenang meski dia sekarang juga terkejut. Efek perpisahan dengan istri, tuannya menjadi semakin kejam. Bagaimana kalau istrinya meninggal? Hal itu selalu bertanya-tanya dibenak sang tuan. Meski tuannya sangat yakin kalau istrinya masih hidup.


Edo lagi-lagi hanya mengikuti semua pikiran tuannya tanpa berani menyela. Dia pun sebenarnya juga berharap kalau nyonya majikannya baik-baik saja d suatu tempat.


"Lain kali carilah yang lebih pengalaman!" Titah Johan masih terdengar kesal.


"Baik tuan." Itulah jawaban ampuh Edo untuk meredakan amarah tuannya. Hanya cukup menjawab baiklah dan juga minta maaf, pasti tuannya akan segera mereda asal tidak ada lagi yang memancing emosinya.


"Apa jadwalku selanjutnya?" Tanya Johan fokus kembali pada pekerjaannya yang ada di mejanya.


"Meeting dengan klien baru kita dari luar negeri tuan." Johan sontak mendongak menatap wajah Edo.


"Pukul berapa?" Edo melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu dua jam lagi tuan. Kita akan bertemu mereka di restoran XXX."


"Kau sudah mempersiapkan semuanya? Aku tak mau ada kesalahan sedikitpun?" Peringat Johan.


"Saya sudah pastikan semua aman terkendali tuan."


"Hmm."


.


.


Setengah jam sebelum pertemuan dengan klien, Johan dan Edo melakukan perjalanan di restoran tempat mereka sudah reservasi untuk pertemuannya.

__ADS_1


"Aku harus berhasil mendapatkannya Ed." Ucap Johan yakin dalam perjalanan ke restoran XXX.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin tuan."


"Ini adalah langkah awal untuk kita go internasional Ed." Ucap Johan lagi.


"Setelah ini semua negara asing pasti akan percaya pada kita karena kerja sama sekelas Alensio grup mau bekerja sama dengan kita."


"Anda benar tuan. Perusahaan ini benar-benar perusahaan terbesar satu-satunya yang ada di kawasan Asi*." Jawab Edo membuat Johan mengangguk-anggukan kepalanya yakin.


"Aku percaya padamu Ed."


"Percayalah pada saya tuan!"


.


.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Edo telah terparkir di halaman parkir khusus di restoran tersebut. Johan segera keluar dari dalam mobil diikuti Edo sambil menenteng sebuah tas yang berisi map tentang kerja sama yang akan dibahas mereka nantinya.


"Reservasi atas nama tuan Edo Pradipta." Ucap Edo saat seorang pelayan menyambut mereka. Pelayan tersebut melihat buku catatan dan sontak menoleh kembali pada Edo.


Sebuah ruangan privat di lantai dua dibuka oleh pelayan yang segera mempersilahkan keduanya. Tak lupa pelayan itu mengikuti langkah Johan dan Edo untuk bertanya pesanan sebelum dia keluar dari ruang privat tersebut.


"Kami masih menunggu rekan kami, setelah mereka datang siapkan pesanan terbaik kalian!" Titah Edo yang langsung diangguki oleh pelayan itu. Johan sendiri yang masih berwajah datar dan dingin hanya diam sambil mengutak-atik tabletnya mempelajari proposal yang akan ditunjukkan nanti.


"Baik tuan." Pelayan itu pun meninggalkan ruang privat restoran setelah mengiyakan titah mereka.


"Apa masih lama Ed?" Tanya Johan terlihat tidak sabaran.


"Mereka sudah tiba di depan tuan." Jawab Edo berdiri dari duduknya bersiap menyambut calon klien mereka.


Cklek


"Selamat datang tuan." Sapa Edo begitu membuka pintu terlihat dua orang muncul. Tentu saja dengan bahasa Inggris karena Michael adalah asli keturunan Inggris.


"Ah, apa kabar? Dengan tuan Edo?" Sapa balik pria itu diikuti seorang wanita berhijab terlihat sopan. Pria itu langsung menerima uluran tangan Edo dan membalas jabatan tangan itu.


"Oh ya, perkenalkan, dia sekretaris saya." Beri tahu pria yang bernama Michael.

__ADS_1


"Apa kabar nona?" Sapa Edo bergantian menyapa wanita cantik itu.


"Baik tuan, bagaimana dengan anda?" Tanya wanita itu hanya menangkupkan kedua tangannya di dada menyapa Edo. Edo yang sudah mengulurkan tangan menarik kembali ikut menangkupkan kedua tangannya di dada membalas sapaan wanita berhijab yang tersenyum lembut itu. Seketika dia teringat seseorang yang pernah melakukan hal yang sama padanya.


Nyonya. Batin Edo langsung dibuyarkan oleh sapaan Michael dengan Johan.


"Saya Edo."


"Panggil saya Hana tuan." Jawab wanita berhijab bernama Hana itu. Hana mengikuti Michael menuju meja yang sudah disambut oleh Johan dan dipersilahkan duduk di depan mereka itu.


Pandangan Hana berhenti menatap lekat wajah yang terasa familiar di depannya ini. Dia merasa kenal dengan pria yang satunya selain Edo.


"Apa kabarmu tuan?" Sapa Johan menatap Michael ramah.


"Baik. Bagaimana denganmu?"


"Saya juga baik tuan." Pandangan mata Johan menoleh pada wanita berhijab di belakang Michael yang seketika tersentak kaget sama reaksinya dengan Edo tadi.


Karin. Batin Johan dengan tubuh menegang.


"Johan?" Ucap dari bibir mungil wanita cantik berhijab tersebut.


"Kau mengenalnya honey?" Tanya Michael melihat Hana langsung memanggil Johan padahal belum berkenalan.


"Entahlah Hon, sepertinya aku pernah melihat Johan."


"Iya nona nama saya Johan. Apa kita pernah bertemu?" Tanya Johan langsung tersadar begitu dia tahu wanita di hadapannya ini juga berhijab syar'i mengingatkannya pada istrinya yang hampir setahun ini pergi.


"Silahkan duduk dulu!" Persilahkan Edo karena mereka sama-sama masih belum duduk.


"Ah tentu." Jawab Michael duduk bersamaan dengan Hana.


"Ah, kau kan...." Hana menata Johan seolah mengingatnya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2