Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 25


__ADS_3

Anin terbangun dari tidurnya, sudah beberapa malam ia tidak pernah bergandang mengganti popok atau memberi susu formula pada Afifa, sepertinya Dimas sudah terjaga lebih dulu ketimbang dirinya karena setiap pagi celana basah Afifa juga botol susunya selalu ada di sisi ranjang, mungkin Dimas mengerti Anin sudah lelah seharian mengasuh anaknya jadi giliran malam Dimas lah yang berjaga bergantian.


Tangan kekar melingkar di perutnya, Anin pun membalikan badannya menghadap Dimas yang masih tertidur dengan pulas, bagaimana bisa bukankah ia sedang marah pada Anin tapi masih bisa-bisa memeluk Anin seperti ini. Dasar lelaki pandai mencari kesempatan!


Anin bangkit dari tidurnya dan memilih melihat Afifa yang sudah terbangun, Afifa sudah sering bangun tanpa menangis dan itu yang membuat Anin khawatir karena ia tidak tahu kapan Afifa terjaga dan ia juga takut Afifa kenapa-napa.


"Hei anak Ibu udah bangun," ucap Anin menggendong Afifa yang tersenyum.


Dimas menggeliat mendengar suara Anin dan juga tawa Afifa yang begitu nyaring ditelinganya, ia pun mengucek matanya dan melihat Anin yang menggedong Afifa. Namun pandangnya beralih pada pakaian tidur Anin yang sangat minim dan seksi, apakah ia sedang bermimpi melihat Anin berpakaian seperti itu di depannya? Dimas mengucek matanya berulang kali.


"Ayah udah bangun," ucap Anin membalikan badannya menghadap Dimas.


"Afifa udah bangun dari tadi?" tanya Dimas.


"Kayaknya iya soalnya Anin baru bangun dan lihat dia udah main sendiri," ucap Anin sambil mencium pipi tembem Afifa.


Anin berjalan ke arah ranjang dan duduk di dekat kaki Dimas, pandangan Dimas tak lepas dari pakaian yang Anin kenakan, paha mulus dan belahan dada begitu terlihat oleh Dimas, ia pun bertanya-tanya apakah sejak malam tadi Anin menggunakan pakaian ini?


Belum terjawab pertanyaan Dimas bel rumah mereka sudah berbunyi, Anin yang mendengarnya langsung berdiri untuk membuka pintu.


"Tunggu, biar saya yang buka," ucap Dimas berdiri.


"Biar Anin aja lagian Mas belum cuci muka juga."


"Kamu yakin mau buka pintu dengan pakaian seperti itu?" ucap Dimas dengan arah pandang menatap tubuh Anin.


Anin yang tersadar dengan pakaian yang ia gunakanpun langsung terdiam, betapa bodohnya ia tidak sadar memakai pakaian seperti ini sejak malam.


"mm ya udah Mas aja," ucap Anin sambil menggendong Afifa kembali ke kasur.


Dimas pun langsung membuka pintu kamar dan pergi turun kebawah mencari tahu siapa yang datang pagi-pagi begini ke rumahnya.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam, Ibu," ucap Dimas terkejut.


"Mana Afifa udah bangun?" tanya Ibu yang langsung masuk kedalam yang kemudian disusul Dina.


"Ibu kenapa pagi-pagi gini datang ke sini?" tanya Dimas sambil merapihkan rambutnya.


"Kenapa memangnya? Ibu mau lihat cucu Ibu," ucap Ibu.


"Tapi kenapa sepagi ini Bu kan bisa siang Dimas ke rumah ngajak Afifa,"


"Adek kamu ada tugas observasi selama seminggu di luar kota, Ibu sama Bapak kesepian jadi Ibu mau bawa Afifa buat tinggal di rumah selama seminggu." ucap Ibu.


"Iya Mas, kasihan kan kalau Ibu sama Bapak cuman berduaan dirumah lagian Ibu seneng kalau lihat Afifa," ucap Dina.


"Bukan gitu Bu, gimana pun Afifa anak Anin juga belum tentu dia ngizinin lagian kenapa Ibu gak nginep disini aja?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Kalian juga butuh waktu berduakan, dari awal nikah belum pernah punya waktu berdua, kamu mau kejadian kemaren pagi keganggu lagi?" ucap Ibu berbisik.


Dimas menatap Ibu dengan tatapan binggung, tanpa menunggu jawab Dimas, Ibu memilih pergi ke kamar Anin untuk membawa Afifa dan merapihkan pakaiannya yang akan di bawa.


Setengah jam berlalu Ibu dan Dina sudah pulang, Anin terpaksa mengizinkan Ibu membawa Afifa karena tak enak melihat Ibu yang kesepian dan Ibu menyuruh Dimas dan Anin untuk mengunjunginya saja jika rindu dengan Afifa.


*-*-*-*


Anin dan Dimas sama-sama terdiam di sofa ruang tamu, keduanya sama-sama belum berniat untuk mandi atau membuat sarapan.


Anin juga masih menggunakan pakaian semalam, ia belum sempat menggantinya karena ia langsung membereskan pakaian Afifa untuk menginap seminggu di rumah mertuanya itu. Entah mengapa keduanya menjadi canggung seperti ini mungkin karena kemarin keduanya saling bungkam.


"Mas mau di buatkan Kopi?"  tanya Anin.


"Gak usah nanti aja saya baru cuci muka belum mandi," ucap Dimas sambil menonton tv.


Hening..


"Hm yaudah kalau gitu Anin langsung ke kamar aja ya mau langsung mandi," ucap Anin berjalan ke atas.


Dimas yang memperhatikan langkah Anin yang berjalan ke atas dengan cepat, ia terus menatap Anin dengan pakaian yang masih belum ia ganti, Dimas kemudian berpikir apakah Anin tadi malam segaja ingin menggodanya dengan pakaian seperti itu? Tapi dia bilang sedang datang bulan tapi bagaimana bisa dia menggoda suaminya dengan sengaja memakai baju seperti itu apakah Anin sengaja mempermainkannya? Tanpa berpikir lama Dimas mengukuti langkah Anin menuju kamar.


Anin yang baru saja hendak menutup pintu ditahan Dimas yang langsung masuk ke kamar mereka, dengan cepat Dimas menghimpit Anin ke tembok Anin yang terkejut pun membelalakan matanya dan ia menatap mata Anin yang sedang menatap Anin dengan lekat.


"Apa maksud kamu Anin menggoda saya dengan pakaian seperti ini?" tanya Dimas di depan wajahnya


"Apa maksudnya Mas?" ucap Anin gugup.


"Mas lepasin Anin dulu." ucap Anin merasa tak suka dengan kurungan Dimas.


"Anin kamu benar-benar membuat saya hampir runtuh, kamu tahu saya benar-benar menginginkan kamu dan sekarang kamu berhasil membuat pertahanan saya runtuh tapi kamu juga berhasil membuat saya tersiksa Anin tolong katakan apa maumu?" ucap Dimas begitu terdengar menyiksa ditelinga Anin.


"Mas maafin Anin sebenarnya semalam Anin mau bilang yang sebenarnya tapi Mas keburu marah," jawab Anin kemudian terpotong.


Dimas langsung membungkamkan mulut Anin dengan bibirnya, Anin yang terkejut karena Dimas selalu membuatnya sport jantung dengan ciuman tiba-tiba seperti ini, ciuman yang awalnya lembut hingga membuat Anin terdiam tak menolak namun Dimas memperdalam ciumannya menuntut Anin untuk membalasnya, tak hanya itu kini Dimas sudah menyingkap pakaian tidur Anin.


Kedua tangan Anin sudah mengantung di leher Dimas, keduanya sama-sama terhanyut dalam ciuman panas mereka, tangan Dimas dengan cepat melepas pakaian Anin. Dimas melepaskan ciuman dan mereka kedua mencari pasokan udara ciuman itu benar-benar membuat keduanya kehabisan nafas.


"Jangan harap bisa lepas hari ini, kamu harus bertanggung jawab Anin!" ucap Dimas di telinga Anin.


kemudian mencium leher jenjang Anin yang membuat Anin merasa geli namun juga menikmatinya, Dimas memberikan tanda kepemilikannya di leher mulus Anin dan membuat Anin mendesah tak karuan.


Dimas menghentikan aktifitasnya ia kemudian membawa tubuh Anin ke ranjang dan menidurkannya.


"Anin ini pasti sakit karena kamu baru pertama kali melakukannya tapi saya yakin nanti tidak akan sakit lagi saya akan berhati-hati," ucap Dimas


Dimas.


Kedua insan itu terhanyut dalam permain mereka, tidak ada yang tahu bagaimana dengan perasaan keduanya, mekaipum belum ada pernyataan cinta satu sama lain namun keduanya seolah tahu perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Terimakasih Anin," ucap Dimas kemudian mengelap keringat di dahi Anin dan kembali menciumnya.


Anin hanya tersenyum kemudian menatap Dimas, Anin menghapus peluh di dahi Dimas dan mengusap pipi Dimas dengan lembut sebelum keduanya kembali terlelap dengan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


*-*-*-*-*


Waktu sudah siang, bahkan matahari sudah menerobos jendala kamar Anin, Anin membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya yang sudah terang, ia membuka selimutnya namun ia terkejut saat ia menatap tubuhnya polos tanpa busana ia pun teringat dengan kejadian tadi pagi bersama Dimas.


Anin mendudukan tubuhnya namun terasa ngilu dibagian selangkangannya, sudah pasti ulah Dimas tapi juga keinginannya sendiri karena ia juga menikmati permainan tadi, ia menatap sprei kasurnya yang sudah terdapat bercak darah, Anin kemudian menyadari dirinya kini sudah tidak perawan lagi.


Anin mencoba menggerakkan kakinya namun masih terasa perih, ia melihat kesebelah kasur Dimas sudah tidak ada sepertinya ia sudah lebih dulu.


"Selamat siang sayang," ucap Dimas yang sudah segar dengan baju kaos warna hitam dan celana pendek.


"Mas udah bangun dari tadi kenapa gak bangunin Anin?" tanya Anin.


"Mas gak tega banguninnya, kasihan kamu kecapekan juga," ucap Dimas kemudian memberikan segelas susu yang ia bawa.


"Kamu minum dulu susunya, udah itu mandi langsung makan," ucap Dimas.


"Anin belum masak Mas." ucap Anin sambil meneguk susunya sampai habis.


"Mas udah pesen makanan tinggal tunggu nasinya sebentar lagi matang, kamu mandi dulu gih," ucap Dimas mengambil gelas susu Anin.


"Mas masak nasi?" tanya Anin tak percaya.


"Udah beres semuanya, rumah juga udah saya bereskan semuanya." ucap Dimas tersenyum.


Anin menatap Dimas tak percaya, suaminya itu sudah merapihkan semua rumah bahkan memasak nasi dan membuatkannya segelas susu? Tanpa mau bertanya lagi Anin memilih untuk pergi mandi namun ia lupa bahwa ia masih bertelanjang.


"Mas keluar dulu, Anin mau ke kamar mandi," ucap Anin.


"Lho kenapa kalau mandi pergi aja," ucap Dimas.


"Anin gak pake baju Mas ihh sana," usir Anin.


"Mas udah lihat semuanya gak usah malu lagian udah dicobain juga kok." goda Dimas.


Anin memanyunkan bibirnya, sepertinya berdiskusi dengan Dimas kali ini pun tidak bisa.


"Kenapa? Masih sakit ya " tanya Dimas khawatir.


"Perih sama masih kerasa ngilu," ucap Anin menunduk.


Tanpa menjawab Dimas langsung mengangkat Anin ke kamar mandi, Anin yang terkejut pun langsung meminta Dimas agar menurunkannya, namun Dimas tak menghiraukannya ia memilih tetap mengendong Anin dan mendudukannya di bathtub.


"Kamu mandi aja biar Mas tunggu di luar kalau udah selesai nanti Mas gendong lagi," ucap Dimas.


"Tapi Mas.." ucap Anin.

__ADS_1


"Udah gapapa, Mas yang udah bikin kamu susah jalan jadi biar hari ini Mas yang manjain kamu," ucap Dimas kemudian mencium puncuk kepala Anin.


Dimas pun keluar dari kamar dan menyiapkan handuk untuk Anin, ia juga merapihkan kasur dan mengganti alas kasur, hari ini rasanya sangat bahagia untuk Dimas karena sudah lama ia tidak pernah merasakan sehidup ini sejak Kirana meninggal dan Anin berhasil membuat dirinya kembali merasakannya, bahkan Anin begitu sabar menunggunya ia bersyukur mantan adik iparnya yang kini menjadi istrinya mau menerima Dimas apa adanya.


__ADS_2