Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 101


__ADS_3

45 menit kemudian.


Jihan dan Arick keluar dari dalam kamar sang pengantin. Arick tersenyum puas, sementara Jihan begitu gugup. Takut jika teman-temannya yang lain menyadari perbuatannya dengan sang suami di dalam kamar itu.


Memadu kasih di kamar Jasmin, duh malunya. Batin Jihan.


Seketika itu semua kejadian tadi terbayang jelas di kepalanya. Saat ia mendesah disela-sela hentakan sang suami.


Jihan mengeleng pelan, gugupnya makin menguasai.


"Sayang, jangan tegang begitu." ucap Arick, mereka masih berdiri di depan pintu kamar Jasmin. Arick lalu mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah sang istri.


"Kalau wajahmu tegang begini, mereka akan benar-benar tahu apa yang kita lakukan tadi," kata Arick lagi dengan tersenyum menyeringai.


Kesal, Jihan lalu memukul dada suaminya pelan.


Arick terkekeh, lalu mengecup bibir sang istri sekilas.


Kemudian kembali berjalan dengan menautkan jemari keduanya, saling menggenggam erat.


Sampai di bawah, Ternyata Jasmin dan Jodi mulai naik ke pelaminan. Mereka akhinya memutuskan untuk ikut duduk bersama teman-temannya yang lain.


"Kalian darimana saja? kenapa lama sekali?" tanya Selena dengan wajah kesal.


"Dimana Zayn?" tanya Jihan tak menjawab pertanyaan Selena.


"Ikut mbak Puji, makan. Kamu darimana?" tanya Selena lagi yang masih penasaran.


Jihan mendadak kikuk, sementara Arick malah terkekeh. Jihan memang tak biasa berbohong, jadi rasanya sulit sekali untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tertawa-tawa?" tanya Selena ketus pada Arick.


Kris dan Haris yang mendengar dan melihat ketiga orang itu hanya geleng-geleng kepala. Kedua orang ini tahu betul apa yang sudah dilakukan Arick pada istri penurutnya ini.


"Mereka pemanasan Len," bisik Haris ditelinga Selena, Kris langsung buru-buru menepuk pundak Haris cukup kuat.


"Jangan nodai istriku," ketusnya langsung.


Selena mengeryit bingung, nodai apa? pemanasan apa? tanyanya sendiri di dalam hati, bingung.


Haris dan Arick terkekeh, Selena memang sedikit Lola. Pikir mereka berdua kompak.


Di bawah meja, Arick terus menggenggam tangan sang istri, seolah mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


Hingga tak berselang lama, Arick dan Jihan memutuskan untuk pulang lebih dulu. Apalagi alasannya kalau bukan tentang anak-anak. Anja dan Jani sudah tertidur, sementara Zayn sudah mengantuk.


Setelah berpamitan, disinilah kini mereka berada, di dalam mobil yang sedang melaju di tengah jalan raya.


Anja dan Jani bersama Melisa dan Puji di mobil satu lagi, yang dikemudikan oleh Dimas.


"Mas, nanti berhenti di minimarket sebentar ya, ada yang ingin aku beli," ucap Jihan yang langsung di IYA kan oleh sang suami.


"Kamu mau beli apa? biar aku yang turun," timpal Arick lagi lengkap dengan pertanyaan.


"Pembalut," jawab Jihan pelan, untuk jaga-jaga kalau siklus menstruasinya kembali normal.


"Memangnya kamu sudah datang bulan sayang?" tanya Arick penasaran.


"Belum sih Mas, untuk jaga-jaga saja. Dirumah kan tidak ada sama sekali," jawab Jihan apa adanya dan Arick mengangguk.

__ADS_1


Arick lupa, kalau sang istri tidak KB, itu artinya sikus datang bulan itu akan kembali lagi dan membuatnya berpuasa selama 7 hari setiap bulannya.


Suara hati suami ini mengatakan jika ia sedikit kecewa. Padahal maunya, tiap minggu selalu ada penyatuan. Seperti bulan ini, ia bebas melakukan itu kapanpun tanpa ditahan-tahan.


"Loh Mas, kok itu minimarketnya dilewati," keluh Jihan dan membuat Arick sadar dari lamunannya.


"Maaf sayang, aku tidak lihat, kita berhenti di depan sana ya?"


Jihan mengangguk.


"Mas sedang memikirkan apasih? kenapa melamun?" tanya Jihan kemudian, ia tahu suaminya itu bukan tak melihat, melainkan sibuk dengan pikirannya sendiri.


Mendengar pertanyaan sang istri yang mengandung kecemburuan itu pun membuat Arick terenyum, lalu berubah mejadi kekehan kecil.


"Aku memikirkan kamu Ji, apa kamu cemburu dengan Jihan yang ada dipikiranku?" tanya Arick masih dengan kekehannya.


Jihan cemberut, malah digoda, pikirnya.


Tak berselang lama, mobil itu berhenti juga di salah satu minimarket, mobil Dimas yang sedari tadi mengekor pun ikut berhenti juga.


"Asih, kamu tunggu disini ya? saya akan minta Dimas untuk menemani kamu disini," ucap Arick sebelun turun, mobil itu ia tinggalkan dalam keadaan hidup agar ACnya tetap menyala.


"I-iya Pak," jawab Asih, mendadak gugup saat dibilang Dimas akan menemaninya disini.


Setelah itu Arick dan Jihan turun, bersama-sama masuk ke minimarket itu.


"Kenapa Mas minta Dimas untuk menemani Asih, kita kan tidak lama Mas," tanya Jihan penasaran.


"Kita lama-lama kan ya? demi kesejahteran para ART kita," jawab Arick sekenanya, lalu menarik Jihan lebih dekat agat tidak tersenggol orang lain.

__ADS_1


"Kesejahteraan apa?" desis Jihan bingung, Arick yang mendengar itupun terkekeh, lalu mendorong pintu minimarket dan membimbing sang istri untuk masuk lebih dulu.


__ADS_2