
"JAS BANGUN!" teriak Selena saat sudah berhasil membuka matanya lebar-lebar, ia makin mendelik saat melihat jam di dinding, garis pendek itu mengarah keangka delapan, sementara yang agak panjang diangka tiga.
Mereka kesiangan dan bisa dipastikan mereka akan telat ke hotel.
"Jasmiin! Banguun!" Selena terus menggoyang tubuh Jasmin yang seperti orang mati, tidur dan tak peduli apapun.
"Apasih Len? jangan ganggu aku." jawab Jasmin dengan suara parau, matanya masih terpejam.
"Jas, bangun, ini sudah jam 8 lewat."
Mata Jasmin langsung terbuka sempurna, membola.
Tak percaya, ia lalu melihat sendiri jam didinding itu dengan mata kepalanya. Dan ternyata benar.
"Ah sial!" jawabnya asal lalu bangkit dari atas ranjang.
Kedua gadis ini buru-buru mengganti baju dan segera bergegas keluar tanpa mandi dan cuci muka. Subuh tadi mereka sudah bangun, namun malah memutuskan untuk tidur kembali.
Naas, saat keluar dari kamar mereka berpapasan dengan Jihan dan Arick.
Terlihat jelas oleh keduanya, saat sepasang suami istri ini sedang saling bercumbu, saling merebut untuk mencium lebih dalam.
"JIHAN!!" teriak keduanya kompak, Arick dan Jihan langsung berdiri tegap, kepergok.
Tangan Arick pun terulur untuk menutup pintu kamarnya sendiri.
"Aku tidak menyangka, jika kamu seagresif itu." decak kesal Jasmin saat ia dan Selena sudah menghampiri Jihan dan Arick.
Jihan sedikit menunduk, malu. Sedangkan Arick acuh tak peduli, bahkan ia menarik pinggang sang istri agar lebih dekat dengannya.
"Nanti saat kalian sudah menikah, aku yakin, kalian akan lebih agresif daripada Jihan." kilah Arik, Jasmin dan Selena kompak bergidik ngeri.
"Iew, tidak mungkin," jawab mereka kompak, dengan gaya seolah jijik.
Arick terkekeh, sementara Jihan mencebik, makin malu saat dijadikan contoh.
Mas sih, kan sudah ku bilang jangan lakukan jika bukan di kamar. Gerutu Jihan di dalam hati, ia masih setia menunduk menatap lantai.
"Kenapa masih disini? bukannya kalian sudah telat?" ucap Arick lagi dan menyadarkan kedua wanita lajang itu.
"Astagfirulahalazim! lupa!" ucap Jasmin dan Selena yang lagi-lagi seirama.
Tanpa babibu, keduanya langsung berlari menuruni anak tangga.
Arick terbahak melihat tinglah kedua sahabatnya itu, berhenti saat Jihan memukul dadanya pelan.
"Mas, ih. Malah diketawain."
"Lucu," jawab Arick singkat, lalu kembali mengecup bibir sang istri sekilas.
Keduanya kembali berjalan, menuju kamar anak-anak mereka, baby ZAJ.
__ADS_1
Anja dan Jani masih tertidur, setelah Melisa dan Puji menjemur keduanya. Sementara Zayn sudah turun, bermain dengan Asih. Kata Melisa, Zayn bermain di taman belakang, ada Mardi dan juga Sofia disana.
Subuh tadi setelah Lila pergi, Sofia mengirimkan pesan pada sang anak, Arick. Tak ingin mengganggu, karena itulah Sofia memilih pesan singkat sebagai media bicaranya.
Lila sudah pulang, dia menitip salam untuk kalian berdua.
Ucap Sofia dalam pesan itu.
"Mas, apa tidak sebaiknya kamu mulai masuk kerja?" tanya Jihan saat Melisa sudah keluar dan menutup pintu kamar ZAJ.
Keduanya duduk di sofa yang letaknya disamping boxs bayi ZAJ.
Arick terdiam, tak langsung menjawab. Ia lupa, belum bercerita tentang masalah Cafe dengan sang istri.
"Ji."
"Hem, apa?"
Keduanya saling tatap, intens.
"Sebenarnya, aku sudah memutuskan untuk keluar dari Cafe."
Hening.
"Aku putuskan untuk melanjutkan perusahaan papa." timpal Arick lagi, tangannya terus menggenggam tangan sang istri erat.
Mendengar itu, Jihan tersenyum. Meski sedikit sedih, karena Jihan tahu jika Cafe itu adalah cita-cita suaminya.
"Papa pasti bahagia saat Mas mengatakan ini padanya." ucap Jihan lagi dengan senyum yang semakin mengembang.
Senyum itu menular, meski tipis, namun Arick menyunggingkan senyumnya.
"Satu lagi," kata Arick, tanpa memutus tatapan keduanya.
Jihan terdiam, menunggu ucapan sang suami selanjutnya.
"Bagaimana jika kita kembali ke rumah ini, apa kamu tidak keberatan?" tanya Arick hati-hati.
Bukannya menjawab, Jihan malah langsung memeluk tubuh suaminya erat.
Bersyukur karena tanpa buka suara, kini suaminya mewujudkan semua doa-doanya. Selama ini, diam-diam Jihan selalu berdoa agar Arick bisa menuruti keinginan Mardi dan Sofia.
Bingung bagaimana caranya bicara, akhirnya Jihan hanya bisa berdoa.
Dan kini doa-doa terkabul begitu saja.
"Kenapa? apa kamu tidak mau?" tanya Arick penasaran, ia hendak melerai pelukan Jihan, namun sang istri malah enggan.
Menahan agar tetap berada di dalam dekapan.
"Aku mau Mas, sangat mau. Aku bahagia sekali mendnegar 2 kabar ini ..."
__ADS_1
"Asal Mas tahu, sudah sejak lama papa ingin Mas Arick menggantikan posisinya. Ibu juga selalu memintaku untuk membujuk Mas agar kembali ke rumah ini ...," jelas Jihan tanpa melepas pelukan.
"Jujur, sebenarnya aku menyetujui keingan papa dan ibu, tapi ragu, takut Mas Arick akan menolak."
Arick sedikit terkekeh mendengar cerita sang istri, kekehan itu terdengar oleh Jihan hingga ia sedikit melerai pelukan. Mendongak dan menatap mata sang suami.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Jihan mengeryit bingung.
Sebelum menjawab, Arick mengecup bibir sang istri, bahkan menyesapnya sedikit lebih dalam.
"Ternyata banyak yang kamu sembunyikan dari aku ya? hemm?" ucap Arick dengan mata yang menyelidik.
Jihan mati kutu, ia beringsut mundur, berniat melepas pelukan itu. Namun sial, kini sang suami yang tak ingin melepas dirinya.
Sadar jika salah, Jihan menuduk seraya berdesis mengucapkan kata Maaf.
"Maaf," katanya pelan.
"Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja. Kamu tahu, lama-lama kamu akan terbiasa menyembunyikan apapun dariku," jawab Arick dengan suara dingin, seolah ia benar-benar marah.
Jihan yang sedang menunduk merasa takut, tak tahu jika mimik wajah suaminya itu sedang menahan tawa.
"Lama-lama, bahkan mungkin kamu akan sering membohongiku_"
"Mas, maaf." Potong Jihan cepat.
"Hanya 2 itu saja yang aku sembunyikan, tidak ada yang lain, sungguh." Sanggahnya buru-buru, wajahnya menyiratkan penyesalan.
Tak tahan, akhirnya Arick tertawa juga. Saking gemasnya, ia bahkan menggigit hidung sang istri, gemas.
Jihan mencebik, matanya sudah berembun ternyata Arick hanya mengerjainya saja.
Tak terima, kini ia mencoba memainkan peran yang sama.
"Mas jahat." desis Jihan, air matanya mengalir sesuai perintah sang pemilik.
"Aku benar-benar takut Mas marah, ternyata hanya bohong. Mas sudah memainkan perasaanku."
Tawa Arick terhenti, kini wajahnya pias karena takut menyakiti hati sang istri.
"Maaf Ji, bukan seperti itu maksudku. Kamu berpikir terlalu jauh." Bela Arick sungguh-sungguh, ia hendak mendekap kembali sang istri, namun dengan cepat pula Jihan mengelak.
Memunggungi sang suami, Jihan bersuara sesenggukan. Namun ia menggigit bibirnya, menahan senyuman.
"Mas Jahat." lirih Jihan dan makin membuat Arick bingung sendirian.
"Ji, maafkan aku sayang." desis Arick, ia memeluk Jihan dari arah belakang.
Arick tak tahu, jika kini sang istri sedang senyum-senyum sendiri.
Satu sama. Batin Jihan.
__ADS_1