Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 68


__ADS_3

Selesai mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Sofia dan Mardi keluar kamar mereka dan berniat menemui Jihan. Ingin mengatakan, perihal ide Mardi untuk merenovasi rumah ini.


Merubah ruang kerja Arick menjadi kamar Zayn dan menambah 1 kamar lagi untuk si kembar nanti, juga membuat ruang kerja Arick yang baru.


Selama masa renovasi itu, Mardi akan meminta Jihan dan semua orang untuk kembali ke rumahnya.


"Puji, dimana Jihan?" tanya Sofia saat sudah berada diruang tengah, Puji sedang bersiap untuk mengepel.


"Loh! Ibu Sofia kok disini? ada Pak Mardi juga?" tanyanya heran, sedari tadi sibuk mengurus rumah sampai tidak tahu kedatangan tamu.


Sofia hanya geleng-geleng kepala, lalu bergegas berjalan ke kamar Jihan dan Mardi duduk menunggu di ruang tengah.


"Mbak Jihan sudah pulang Bu?" tanya Puji yang mengekor Sofia, meninggalkan alat pel itu begitu saja.


"Iya Puji, sudah sekitar 1 jam kita pulang."


"Hah! kok saya tidak tahu." sesal Puji yang tidak menyambut kedatangan majikannya itu.


Tok tok tok


Sofia mengetuk pintu kamar Jihan, kemudian masuk ketika Asih membukakan pintu itu.


"Mbak Jihaan!!" teriak Puji haru, selama 3 hari ini ia galau sendiri di rumah memikirkan nasib semua majikannya, Jihan, Arick dan si kembar di rumah sakit.


Ia bahkan selalu menangis tiap kali mendoakan semua majikannya itu.


"Mbak Ji sehat-sehat saja kan? semuanya baik-baik saja kan Mbak?" tanya Puji beruntun sambil memeluk Jihan erat.


Yang dipeluk merasa lucu sendiri, ia bahkan terkekeh pelan sampai membuat Puji bingung.


"Tidak usah lebay deh Puji, kamu kebanyakan nonton sinetron, jadi hayalanmu melayang kemana-mana." cerca Sofia sambil duduk diatas karpet tebal menghampiri sang cucu, Zayn.


"Jihan, Arick, Anja dan Jani semuanya baik-baik saja. Hapus air mata sama ingus mu itu, jorok!" kesal Sofia dan Puji mencebik, sementara Jihan dan Asih tertawa tak mampu menahan.


"Orang lagi sedih kok malah dimarahi, ketawain, nggak maksud!" kesal puji sambil menghapus air matanya sendiri, lalu mengambil tisue dan membersihkan hidungnya.

__ADS_1


Sofia hanya geleng-geleng kepala, nyaris lupa dengan tujuannya datang ke kamar ini.


"Sayang, kamu kedepan dulu sana, papa ingin bicara dengan mu." ucap Sofia yang malas beranjak, jadi ingin bermain dengan Zayn disini.


"Iya Bu." jawab Jihan singkat, lalu berjalan perlahan ke ruang tengah menemui Mardi.


Jihan langsung duduk dihadapan sang papa, dan mulai bertanya.


"Ada apa Pa? kata ibu ada yang ingin Papa bicarakan?" tanya Jihan penasaran.


"Lah ibu mu mana? tidak ikut keluar?"


Jihan menggeleng, "Tidak Pa, ibu sedang bersama Zayn."


"Oh ... Jadi gini, papa punya rencana untuk merenovasi rumah ini. Tambah 2 kamar lagi, untuk Zayn dan si kembar. Selama rumah ini di renovasi, kamu tinggal dulu di rumah papa? bagaimana? mau tidak?" tanya Mardi, dilihatnya Jihan nampak berpikir tidak langsung menjawab.


"Jihan setuju Pa, tapi Jihan kabari mas Arick dulu ya, siapa tau mas Arick punya rencana lain." jawab Jihan hati-hati, tidak ingin membuat Mardi kecewa jika niat baiknya tidak diterima.


"Iya, sebaiknya sekarang kamu telepon. Kalau dia setuju, hari ini juga kita pindah, biar besok karyawan papa bisa langsung renovasi rumah ini. Jadi saat Anja dan Jani pulang rumah sudah selesai di renovasi." jelas Mardi antusias dan Jihan tersenyum lebar, mengimbangi senyum Mardi itu.


Untunglah ponsel Jihan masih berada di genggaman, jadi ia langsung saja menghubungi suaminya, Arick.


"Mas, bagaimana?" tanya Jihan, membubarkan lamunan Arick di ujung sana.


Arick masih terdiam, sebenarnya ia enggan untuk menyetujui ide papa Mardi. Karena jujur saja, keuangannya kini belum cukup untuk biaya merenovasi rumah.


"Ji, berikan ponselnya pada papa." ucap Mardi dan Jihan menoleh seraya mengangguk kecil.


"Mas, Papa ingin bicara denganmu." cukup lama Jihan menunggu tapi Arick tetap terdiam, akhirnya Jihan memberikan ponselnya pada Mardi.


Setelah mendapatkan ponsel Jihan itu, Mardi bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh.


Jihan yang melihat itu mengerti, bahwa kini ayah dan anak itu butuh privasi untuk bicara berdua. Ia pun lalu bangkit dan menuju kamarnya.


"Assalamualaimum Rick." sapa Mardi dan Arick langsung menjawabnya.

__ADS_1


Sesaat panggilan itu menjadi hening, seolah saling menunggu siapa dulu yang ingin buka suara.


"Rick, kamu jangan berpikir yang macam-macam, papa melakukan ini semua demi Anja, Jani dan juga Zayn. Papa melakukam ini hanya untuk mereka, bukan demi kamu." jelas Mardi, setengah berbohong. Mardi tahu, jika ia berkata ingin membantunya, pasti Arick malah akan menolak dan berbicara panjang lebar.


Mardi sangat memahami sifat anaknya satu ini.


"Tapi Pa, saat ini Arick belum punya modal untuk merenovasi rumah_"


"Rick, sudahlah, kali ini saja ya, papa mohon."


Arick terdiam, bukan ia tak ingin menghargai maksud baik ayahnya. Hanya saja ia merasa tak enak hati karena hingga kini masih saja bergantung pada Mardi.


"Papa mu ini punya perusahaan konstruksi, bukan hal besar jika hanya merenovasi rumah. Jadi jangan dipersulit masalah ini ya. Kita sepakat? oke? nanti siang Jihan dan Zayn akan ikut papa pulang."


Lagi-lagi hening setelah Mardi berucap panjang kali lebar. Hingga Arick buka suara dengan suara yang sangat pelan.


"Terima kasih Pa." ucap Arick lirih bercampur malu.


"Kamu itu anak ayah satu-satunya Rick, hanya untukmu lah semua yang papa usahakan selama ini." jelas Mardi.


Sebenarnya Mardi pun ingin meminta Arick untuk melanjutkan usahanya itu dan meninggalkan Cafe. Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Lagi-lagi Mardi hanya bisa mengundurkan niatannya.


"Ya sudah papa matikan teleponnya, assalamualaikum."


"Walaikumsalam." jawab Arick dan panggilan itu langsung terputus.


Baik Mardi maupun Arick masih sama-sama terdiam, entah ada apa, anak laki-laki dan ayahnya pasti memiliki jarak yang tak kasat mata. Seolah ada dinding pembatas diantara keduanya yang tak bisa dijabarkan.


"Pa," sapa Sofia dari arah belakang saat dilihatnya sang suami yang malah termenung disana.


"Papa kenapa?" tanya Sofia penasaran, melihat Mardi hanya terdiam, ia menyelidik sendiri dari raut wajah suaminya itu.


"Apa Arick tidak setuju?" tebaknya dan Mardi menggeleng.

__ADS_1


"Bukan Bu, Arick setuju kok. Sebaiknya sekarang kita siap-siap, papa akan telepon Amir untuk kesini." jawabnya, lalu menyerahkan ponsel Jihan itu pada Sofia dan merogoh ponselnya sendiri di saku celana.


Tanpa babibu lagi, ia langsung menghubungi Amir. Sofia yang melihat gelagat suaminya itu hanya mampu menghela napas, ia tahu pasti ada sesuatu.


__ADS_2