Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter


__ADS_3

Suasana ruang kerja dokter Nathan sunyi tak ada suara. Dokter Nathan berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya di mansion dengan kedua tangan bertautan di belakang tubuhnya. Perasaan dingin dan mencekam terjadi di ruang kerja itu sejak nona muda Karina, putri dari dokter Nathan mengatakan niatnya untuk bertemu dengan papa yang baru bersamanya itu.


"Karin mohon pa!" Ucap Karina lirih masih terdengar lemah lembut namun tegas itu.


Sudah lebih dari lima belas menit papany terdiam membelakanginya sambil menatap keluar jendela kaca itu tak bicara apapun membuat Karina meremas kedua tangannya merasa bersalah karena mengecewakan papanya. Namun hanya itu yang diinginkannya saat ini. Yaitu bersama dengan suaminya yang ternyata masih mencintainya dan tak menginginkan perceraian seperti yang diketahuinya saat ini.


"Ramon, antar putriku ke kamar!" Titah dokter Nathan memecah kesunyian.


"Papa, kumohon papa! Aku mencintainya pa. Kami saling mencintai. Tolong jangan pisahkan kami pa!" Ucap Karina saat Ramon yang tak diizinkan keluar dari ruang kerja itu sejak Karina meminta izin untuk bertemu dengan papanya. Ramon mendekati Karina belum menjalankan perintah tuannya karena merasa trenyuh dengan permohonan yang terlihat sungguh-sungguh itu.


"Ramon!" Titah dokter Nathan lagi dengan tegas masih dengan posisi membelakangi Karina tanpa melihat wajahnya.


"Baik tuan." Jawab Ramon tegas mulai membantu Karina pergi.


"Papa, aku adalah istrinya pa. Sudah seharusnya aku mengikuti suamiku. Sekarang aku adalah tanggung jawab suamiku pa." Mohon Karina sekali lagi berharap papanya luluh. Namun kekecewaan yang dirasakan dokter Nathan agaknya begitu sangat membekas di hatinya sehingga dia berusaha untuk tidak menghiraukan ucapan permohonan putrinya yang telah lama terpisah.


.


.


.


Setelah dari villa tadi dan bertemu dengan suaminya, Karina memutuskan untuk menemui papanya untuk mengatakannya keinginannya kembali pada suaminya. Johan sebenarnya ingin ikut bertemu dengan Karina menemui pria yang disebut papa kandung oleh istrinya namun kabar kritis yang diterimanya dari Ryan membuatnya terpaksa kembali ke rumah sakit.


Karina sendiri memilih untuk bertemu papanya sendiri dulu dan mencoba meluluhkan hati papanya untuk tidak membuat mereka bercerai karena pada dasarnya kesalah pahaman saja yang terjadi pada mereka.


Begitulah hasilnya, permohonan untuk tetap bersama dengan suaminya tak mendapatkan jawaban yang jelas dari papanya. Namun sikap diam dan dingin yang ditunjukkan papanya yang itu artinya papanya tidak menginginkan mereka bersama lagi meski dirinya memohon dengan sungguh-sungguh.


"Papa, dia adalah nafasku." Lirih Karina lagi sebelum akhirnya menutup pintu ruang kerja papanya.


Ramon mengikuti langkah Karina dari belakang menuju kamar pribadi Karina yang tampak terdiam dengan raut wajah kekecewaan dan sedih yang sangat mendalam di dalam hatinya. Keduanya hanya diam saat menuju kamar Karina. Ramon melihat pintu kamar itu tertutup. Dan langsung pergi setelah menghela nafas panjang.


Dia ingin mengasihani kedua pasangan sejoli itu karena dipaksa berpisah hanya karena kesalahan ibu suami nonanya. Padahal keduanya tampak sangat saling menyayangi. Namun dia tahu tuannya pasti punya alasan kenapa terlihat mengekang putrinya itu. Tuannya pasti juga punya rencana sendiri untuk membahagiakan putrinya yang telah lama hilang itu.


.


.


Johan berlarian kecil di lorong rumah sakit menuju ruang ICU tempat ibunya dirawat. Meski ibunya bukan wanita yang baik, dia tetaplah ibu kandungnya, ibu yang melahirkannya. Dia tidak seharusnya berlaku buruk padanya apalagi sekarang keadaannya yang sangat buruk itu bahkan sekarang sedang kritis.


"Bagaimana keadaan ibuku Ryan?" Tanya Johan menatap Ryan yang sedang berdiri di depan ruang ICU juga.


"Maaf kawan, sepertinya kau harus menyiapkan hati." Jawab Ryan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"A-apa maksudmu?" Tanya Johan memastikan pendengarannya sekali lagi.


Ryan pun menjelaskan kondisi Ambar saat tadi sebelum kritis.


"Dia ingin bertemu dengan istrimu." Ucap Ryan mengakhiri ceritanya membuat Johan sontak menatap Ryan intens.

__ADS_1


"Ibuku mengatakannya?" Tanya Johan.


"Ya, dia terus menerus menyebut nama istrimu dan berkali-kali mengucapkan kata maaf meski terdengar lirih. Mungkin dia merasa bersalah pada istrimu." Jelas Ryan tersenyum tipis di sela kecemasannya.


Cklek


Tiba-tiba ruang ICU terbuka membuat Johan segera mendekati dokter yang bertanggung jawab terhadap ibunya.


"Bagaimana ibu saya dok?" Tanya Johan segera.


"Sebaiknya segera panggilkan Karina, yang disebut berkali-kali oleh ibu anda." Saran dokter itu.


"Boleh saya melihatnya sebentar dok?" Pinta Johan.


"Silahkan! Sepertinya waktunya tidak lama lagi." Jawab dokter penuh sesal. Johan bergegas masuk ke dalam ruang ICU setelah memakai pakaian khusus.


"Ibu! Ibu dengar aku?" Bisik Johan lemah menatap nanar keadaan ibunya yang jauh dari kata baik setelah hampir seminggu dirawat.


"Ka...rin... ma..af... Ka... rin.. ma... af." Bisik Ambar lirih seolah tidak mendengar Johan bicara.


"Ibu." Jawab Johan sendu.


"Ma.. af... Ka.. rin.." Lirih Ambar lagi dengan nada putus-putus dengan lemah seolah memang sudah mendekati ajalnya.


"Ryan!" Panggil Johan keluar dari ruang ICU ibunya karena tak tega melihat keadaan ibunya.


"Bisa kau bawa istriku kemari?" Pinta Johan penuh harap.


"Ta..."


"Kumohon! Sepertinya ibuku ingin minta maaf pada istriku. Kumohon bawa istriku kemari, dia pulang ke mansion dokter Nathan entah ingin bicara apa dia tidak mengatakan. Aku harus menunggu ibuku jika memang sewaktu-waktu akan pergi. Meski ibuku nanti tidak sempat bertemu langsung dengan istriku secara langsung untuk minta maaf setidaknya dia datang saat ibuku sudah menghembuskan nafasnya agar bisa pergi dengan tenang." Pintu Johan penuh harap menatap Ryan.


"Akan aku coba." Johan mengangguk terharu mendengar jawaban Ryan yang segera bergegas pergi pulang ke mansion papanya.


.


.


"Mbak... mbak Karin!" Seru Ryan di depan pintu kamar Karina setelah dirinya sampai di mansion papanya. Bahkan sapaan maid tak dihiraukannya.


Cklek


"Iya?" Jawab Karina setelah membuka pintu kamarnya. Ryan menatap nanar wajah sembab istri sahabatnya itu yang juga kakak tirinya. Namun sudah berusaha disembunyikan meski Ryan masih mampu melihatnya samar.


"Ibumu. Maksudku ibu mertuamu. Bu Ambar sekarang dalam kondisi kritis dan ingin bertemu dengan mbak Karin."


"Masya Allah, Astaghfirullah..." Guman Karina lirih sambil menutup mulutnya tak percaya dengan kabar yang dibawa oleh adik tirinya itu.


"Mbak bisakan menemuinya. Mungkin hidupnya tidak akan lama lagi, jadi..."

__ADS_1


"Kita pergi sekarang." Ajak Karina sambil membenahi hijabnya agar lebih rapi dan sopan meski sebenarnya memang sudah rapi.


"Ayo mbak!" Ryan pergi diikuti Karina di belakangnya juga tampak tergesa-gesa.


Namun sebuah suara menghentikan langkah keduanya.


"Apa yang kau lakukan Ryan?" Tegur dokter Nathan yang baru keluar dari dalam ruang kerjanya diikuti Ramon di belakangnya. Dokter Nathan bahkan hanya melirik pada putrinya yang juga menatapnya, hingga wajah sembab terlihat sedih sempat terlihat oleh dokter Nathan namun dia hanya diam saja.


"Pa-papa..." Lirih Ryan ragu untuk mengatakannya.


"Papa, kami mau ke rumah sakit untuk menjenguk ibu mertuaku yang sedang kritis. Dan kata dokter..."


"Kau tidak akan kemana-mana." Tegas dokter Nathan menatap keduanya tajam.


"Papa, mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertemu Bu Ambar karena sejak tadi dia menyebut nama mbak Karin berkali-kali. Kali ini..."


"Kau tahu apa tentang itu semua. Karin tidak akan kemana-mana." Tegas dokter Nathan menatap tajam pada putra bungsunya itu membuat nyali Ryan menciut karena dia memang takut pada papanya itu.


"Papa, Karin mohon pa!" Pinta Karina membuat dokter Nathan hendak pergi meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan permintaan putrinya lagi.


"Papa." Karina terpaksa berlari dan segera berlutut di hadapan papanya untuk mendapatkan izin bertemu ibu mertuanya yang mungkin saja itu untuk terakhir kalinya.


Semua yang ada di situ sontak terkejut melihat Karina berlutut memohon.


"Tolong pa, Karin... akan lakukan apapun... keinginan papa, jika papa mengizinkan Karin untuk bertemu ibu." Ucap Karina sambil menundukkan kepalanya di depan dokter Nathan yang masih terdiam terkejut melihat putrinya sampai melakukan hal itu.


"Apapun?" Jawab dokter Nathan menyeringai yang tak dilihat siapapun.


"Ya, apapun." Jawab Karina yakin meski akhirnya dia akan menyesalinya. Dia hanya ingin berada di sisi suaminya mendampinginya saat ibunya kritis.


"Ingat janjimu itu!" Dokter Nathan berucap dingin hingga akhirnya pergi meninggalkan mansion karena ada sesuatu yang penting yang harus dia urus.


"Terima kasih papa." Ucap Karina berdiri dengan dibantu Ryan.


"Mbak yakin?" Tanya Ryan merasa bersalah karena memaksa.


"Kuharap kau tidak mengatakan hal yang baru saja terjadi pada suamiku." Pinta Karina menatap Ryan penuh harap.


"Tapi mbak, papa bukan orang yang mudah."


"Aku tahu. Aku hanya memintamu jangan katakan apapun pada suamiku." Pinta Karina yang diangguki terpaksa oleh Ryan.


Keduanya pun pergi ke rumah sakit mengendarai mobil Ryan yang dibawanya tadi.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2