Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 79


__ADS_3

Sampai di kamar, sepasang suami istri ini memutuskan untuk langsung tidur. Arick yang sedang rindu serindu rindunya meminta sang istri untuk menggunakan lingeri warna hitam.


Jihan hanya menurut, meski merasa geli sendiri.


"Mas, aku pompa Asi sebentar ya." Asinya terasa penuh dan butuh dikeluarkan.


Arick meyiapkan semua peralatan pompa Asi sang istri, lalu ikut duduk memperhatikan.


"Apa tidak sakit sayang?" tanya Arick penasaran.


"Kemarin waktu awal-awal sakit, sekarang sudah tidak," jelas Jihan. Asinya mengalir deras di pompa Asi itu.


"Oh iya Mas, aku tadi meminta Jasmin dan Selena untuk datang kesini lebih awal besok. Acara syukurannya kan habis magrib, tapi mereka pulang kerja aku suruh langsung kesini."


Arick mengangguk, tapi tatapannya tetap pada aliran Asi itu. Tidak menyangka jika Asi sang istri begitu banyak.


"Mas jangan lupa kasih tau Jodi, Haris dan Kris."


"Iya sayang."


"Teman-teman Mas yang lain kalau mau diundang juga tidak apa-apa."


"Iya sayang."


Jihan cemberut, sedari tadi pertanyaannya hanya dijawab IYA SAYANG.


"Mas!" rengek Jihan, barulah Arick mengangkat wajahnya dan menatap sang istri. Sadar jika salah, ia hanya mampu cengir kuda.


"Iya sayang, apa?" tanyanya perhatian, bahkan ia mengelus pucuk kepala Jihan dengan lembut.


"Kalau reader Turun Ranjang di undang tidak?"


Arick tidak langsung menjawab, ia nampak berpikir.


"Tidak usah sayang."


"Kenapa?" tanya Jihan cepat.


"Takut, takut jika diantara mereka ada bibit bibit pelakor dan pebinor," jawab Arick dengan terkekeh.


Tawanya itu menular kepada Jihan, senyum yang sangat Arick dambakan.


Selesai memompa Asi, keduanya langsung memutuskan untuk merebahkan diri di ranjang.


Tidur sambil saling berpelukan, diselingi tangan nakal Arick yang kelayapan. Merayap menjamah tiap inci tubuh sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari.


Rumah Mardi yang biasanya sepi kini mendadak ramai tak terkendali.


Pagi ini, tetangga Mardi yang bapak-bapak sibuk memotong 4 kambing, 2 untuk aqiqah Anja dan Jani sedangkan 2 nya lagi untuk berbagi pada para tetangga, sebagai bentuk syukur atas kelahiran si kembar.


Sofia sengaja tidak memesan cathering, ingin acara masak memasak dibantu oleh para ibu-ibu tetangganya. Lebih tepatnya para ART tetangga. Karena nyonya-nyonya ini hanya asik bercengkrama. Membicarakan banyak hal tentang kehidupan mereka masing-masing.


Jihan yang ingin ikut membantu dilarang keras oleh Sofia, bahkan ke dapur pun Jihan tak diizinkan.

__ADS_1


Ia hanya diminta untuk beristirahat dan menghabiskan waktu bersama ZAJ dan suaminya di lantai atas.


Saat makan siang pun, Sofia meminta Puji untuk mengantarkan makanannya ke kamar Jihan.


"Terima kasih ya Mbak," ucap Jihan ketika Puji sudah selesai menyusun rapi makanan diatas meja sofa di kamarnya.


"Sama-sama Mbak, saya turun dulu ya." pamitnya dan Jihan mengangguk.


Tak lama setelah kepergian Puji, Arick keluar dari dalam kamar mandi, habis pipis.


"Mas, sini sayang makan dulu," ucap Jihan setengah sadar, mulutnya tiba-tiba dengan lancar menyebut sang suami dengan panggilan sayang.


Yang dipanggil langsung senyum-senyum sendiri, berjalan dengan langkah cepat menghampiri Jihan.


Dari arah belakang, Arick memeluk istrinya setengah erat. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jihan dengan lembut, tak ingin menyakiti.


Jihan yang hendak melepas hijab mematung seketika.


"Aku mencintaimu Ji, sangat." cicit Arick tepat ditelinga sang istri, ia bahkan mencium sekilas pipi Jihan dari arah belakang.


Jihan mengulas senyum, ia berbalik dan membalas pelukan Arick.


"Maaf Mas, tapi aku lebih mencintaimu." lirihnya seolah merasa bersalah.


Tok tok tok


Tok tok tok


Arick dan Jihan langsung melerai pelukan mereka, ketika terdengar pintu kamarnya yang diketuk dengan tidak sabaran.


"Siapa sih?" tanya Arick ketus, mengganggu saja, pikirnya.


Ceklek!


"SURPRISE!"


Arick menutup mata dan kedua tangannya reflek menutup telinga, suara cempreng ini benar-benar merusak moodnya.


"Jas, Selena, kalian sudah datang?" sapa Jihan yang keluar dari balik tubuh Arick.


Bukannya menjawab, Selena dan Jasmin langsung saja menyingkirkan Arick yang menghalangi dan memeluk Jihan.


"Aku rinduu," rengek Selena. Jasmin dan Jihan hanya terkekeh saja.


Sedangkan Arick? hanya geleng-geleng kepala.


"Sayang, aku makan di bawah saja ya? kalau makan disini aku sudah tidak berselera." pamit Arick, tapi sayang pamitannya itu diacuhkan.


Ketiga wanita ini asik sendiri melepas rindu, maklum, semenjak Jihan keluar dari rumah sakit mereka belum bertemu.


Apalagi Jihan pulang ke rumah Mardi, Jasmin dan Selena sungkan untuk sering-sering kesini.


"Aku pergi." Pamit Arick.


"Sayang, aku turun," ucap Arick lagi.


"Ya sudah sih sana turun, daritadi tidak pergi-pergi." ketus Jasmin, seolah ini adalah kamarnya.

__ADS_1


Selena terbahak sementara Jihan hanya tersenyum.


"Iya sayang." jawab Jihan akhirnya.


Setelah itu, Arick benar-benar turun. Sementara Jihan, Jasmin dan Selena masuk ke dalam kamar.


"Dimana anakku?" tanya Selena, ia mengedarkan pandangan dan tak menemukan Zayn dimana-mana, bahkan Anja dan Jani pun tidak ada.


Sedari Zayn kecil, Selena sudah sangat menyayangi bayi laki-laki itu. Bahkan ia meminta Zayn untuk memanggilnya mommy dan Kris dipaksa harus mau dipanggil Daddy.


"Zayn, Anja dan Jani tidur di kamarnya sendiri. Kamar ini hanya aku dan Arick yang menempati," jawab Jihan jujur.


Ketiga wanita ini lalu duduk di sofa, tanpa diminta Jasmin dan Selena langsung memakan makanan di atas meja itu.


Jadilah siang ini mereka makan siang bersama.


Diselingi tawa, karena kalau sudah bertemu seperti ini rasanya dunia hanya milik mereka bertiga.


"Jadi pernikahanmu tanggal 2 september?" tanya Jihan pada Selena dan gadis yang ditanya itu mengangguk dengan antusias.


"Aku 2 november." Saut Jasmin tak kalah antusias.


"Alhamdulilah, aku tidak sabar menghadiri hari bahagia kalian," ucap Jihan yang mendadak sendu, entah kenapa melihat kedua sahabatnya yang akan menikah ia jadi haru.


Apakah kita akan tetap bisa seperti ini? batin Jihan.


"Hei, kenapa matamu berembun seperti itu?" tanya Selena, ia menggeser duduknya dan memeluk Jihan dari samping.


"Sebenarnya kamu bahagia atau sedih?" tanya Jasmin ketus. Sebenarnya iapun juga haru, tapi sekuat tenaga ditahan agar tak terlihat lemah.


"Apa kita akan tetap bisa bersahabat seperti ini setalah kalian menikah nanti?" tanya Jihan dan Selena jadi terisak.


Bagi Selena, Jasmin dan Jihan adalah sahabat terbaiknya. Mereka bertiga merasakan hal yang sama.


"Tentu saja kita akan terus bersahabat, walaupun kamu terlalu pendiam dan Jasmin terlalu cerewet tapi aku akan tetap bertahan." ucap Selena dengan sesenggukan, seolah ia yang paling teraniaya.


Dengan cepat, Jasmin mencubit lengan Selena yang sedang memeluk Jihan.


"Aw! sakit Jas!" keluhnya sambil berteriak.


"Geser, beri aku ruang untuk memeluk Jihan." Ketus Jasmin.


Ketiga wanita ini kembali berpelukan, seperti akan berpisah saja.


"Haduh, drama," ucap Arick dengan suara sedikit keras, ia juga geleng-geleng kepala, baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan itu. 3 wanita dewasa saling peluk bahkan ada yang terisak menangis.


Ketiga wanita itu tidak peduli, acuh pada Arick yang masuk kamar untuk mengambil ponsel dan kembali keluar.


"Malam ini kalian tidur disini ya?" pinta Jihan serius setelah Arick menutup pintu.


"Tidak mau." Jawab Selena dan Jasmin kompak.


"Kenapa?" tanya Jihan dengan wajah memelas.


"Jawab Len!" titah Jasmin.


"Lebih baik kami pulang baik-baik daripada diusir oleh suamimu itu, apalagi kalian sudah lama tidak bertemu. Hii." jelas Selena dengan bergidik.

__ADS_1


Paham akan kelakuan Arick.


__ADS_2