
Malam hari tepanya jam 8, Diah membari tahu Arick bahwa besok Jani sudah diperbolehkan pulang. Tak ingin menunda memberi tahu sang istri, keluar dari ruangan Diah Arick langsung menghubungi Jihan.
Kabar bahagia ini pasti akan membuat istrinya itu makin bahagia.
Sambil terus berjalan menuju ruangan NICU, Arick menempelkan ponselnya ditelinga, mendengar bunyi Tut Tut Tut, tanda panggilannya dengan sang istri terhubung.
"Assalamualaikum, Mas," jawab Jihan, terdengar sangat lembut ditelinga Arick, tak langsung menjawab, Arick malah senyum-senyum sendiri.
"Mas?"
"Iya sayang, walaikumsalam," jawab Arick dengan suara yang ceria, bahkan hanya dengan mendengar saja Jihan bisa tahu jika suaminya diujung sana sedang senyum-senyum.
"Mas lagi bahagia ya? ada apa?" tebaknya sekaligus bertanya.
"Jani besok pulang sayang."
"Masya Allah, Alhamdulilah, bener Mas?" tanya Jihan antusias, saking bahagianya sampai-sampai ada setetes air mata bening diujung matanya, tidak sampai jatuh, hanya menggenang disana.
"Iya sayang, sungguh," jawab Arick mantap, ia sedikit menyingkir saat ada troli pasien lewat, terus berjalan sambil menelpon sang istri.
Jangan lupakan, bibirnya yang terus tersenyum.
"Ya Allah, aku sudah tidak sabar menunggu besok Mas." Jujur Jihan, kini ia sedang di kamarnya sendiri. Baru saja selesai memompa Asi.
"Sama, aku juga, rasanya sudah tidak sabar untuk berkumpul bersama di rumah."
"Mas, aku ingin melihat Jani, ubah jadi video call ya?" pinta Jihan, ingin sekali melihat bayinya yang jauh disana.
"Iya sayang, tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku sampai di NICU."
Setelah mengatakan itu, Arick memutuskan sambungan teleponnya. Lalu sedikit berlari agar sang istri tidak menunggunya terlalu lama.
3 menit kemudian, Arick berdiri tepat di depan ruang NICU, berdiri persis di jendela kaca tempat biasa ia melihat Jani.
Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Arick kembali menghubungi Jihan. Kini bukan panggilan telepon, melainkan Video call, seperti permintaan sang istri.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu langsung dijawab oleh Jihan.
Arick lalu mengarahkan ponselnya untuk memindai Jani, bayi mungil itu masih berada di dalam inkubator. Namun sudah tidak disinari lagi, selang-selang pun sudah dilepas tak tersisa. Yang nampak hanyalah pipi gembulnya, karena kini berat badan Jani sudah 2,5 kg.
__ADS_1
"Jangan sedih sayang, kamu harus bahagia, besok aku dan Jani pulang." ucap Arick yang mengandung banyak kerinduan.
Arick kembali duduk di kursi tunggu saat ada orang tua bayi lainnya yang ingin bergantian melihat.
"Iya sayang, ini air mata kebahagiaan. Aku sangat bahagia kita akan segera berkumpul," jawab Jihan jujur, ia masih duduk di karpet tebal, bersandar pada ranjangnya sendiri.
"Jam berapa Mas pulangnya? biar aku langsung kasih tahu ibu."
"Siang sayang, sama seperti kemarin. Paginya Jani masih ada sedikit pemeriksaan," jelas Arick apa adanya dan Jihan mengangguk.
"Yang jemput biar Ibu saja, tidak usah banyak-banyak orang. Kamu dan papa di rumah saja ya?" pinta Arick sungguh-sungguh, sebenarnya ia mampu pulang sendiri.
Menggendong bayi sudah bukan hal tabu baginya, malah sudah sangat ahli.
"Mungkin ibu capek Mas, besok biar aku dan Melisa yang menjemput. Melisa itu babysister baru Mas, biar Asih ada yang bantu urus Anja dan Jani."
"Baiklah, jemputnya habis zduhur ya, biar kamu tidak terlalu lama di rumah sakit."
"Iya sayang." jawab Jihan manja, gemas sendiri melihat suaminya yang sangat perhatian.
"Kamu panggil aku apa?" tanya Arick sambil mengulum senyumnya.
"Sudah ah, assalamualaikum." Putus Jihan secara sepihak, tiba-tiba wajahnya hilang begitu saja dari layar ponsel Arick.
Bukannya marah, Arick malah terkekeh, lucu.
"Pengantin baru ya Mas?" tanya ibu-ibu yang duduk di sebelah Arick, lidahnya gatal untuk tidak bertanya.
"Iya Bu, pengantin baru." jawab Arick sambil mencoba menghapus rona kebahagiaan diwajahnya, walaupun usahanya itu tidak berhasil, karena rona kebahagiaan itu begitu ketara.
"Yang di ruang NICU anak pertama?" tebaknya lagi dan Arick menggeleng.
"Bukan Bu, anak kedua."
Mendengar itu sang ibu-ibu mencebik, Anak sudah 2 bilangnya pengantin baru, batinnya meledek.
Arick tak peduli reaksi sang ibu, Jihan dan anak-anaknya jauh lebih menarik untuk dipikirkan daripada yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sama, setelah panggilan video call itu terputus, Jihan juga jadi senyum-senyum sendiri.
Bahkan pipinya merona seolah sang suaminya ada disini.
"Ah aku bisa gila," desis Jihan sambil
mulai bangkit, memberekan peralatan pompa Asi dan segera ingin keluar. Sudah tidak sabar untuk memberi tahu Sofia tentang kabar kepulangan Jani.
Sedikit tergesa, Jihan keluar dari dalam kamarnya. Menuruni anak tangga turun ke lantai 1. Jam segini pasti Sofia dan Mardi sedang menghabiskan waktu bersama di ruang tengah.
Sampai disana, Jihan tersenyum, ternyata tebakannya benar. Mardi dan Sofia sedang bercengkrama di ruang keluarga ini.
"Bu," sapa Jihan sambil duduk di salah satu sofa.
Sofia dan Mardi menoleh, tumben malam-malam begini Jihan turun. Padahal Sofia sudah berpesan jika butuh apa-apa tekan saja bell di dalam kamar. Bell itu akan menghubungkan pesannya ke kamar Asih Melisa dan kamar Santi, juga kamar Puji.
"Sayang, kenapa kamu turun? pindah sajalah kamarnya di lantai 1 ya?" tanya Sofia bertubi, masih saja membayangkan rasa nyeri di bekas jahitan caesar sang menantu.
Bukannya langsung menjawab, Jiham malah asik senyum-senyum sendiri. Sampai-sampai Sofia dan Mardi kompak mengeryit bingung.
"Ada berita apa Nak?" tanya Mardi serius.
"Besok Jani pulang Pa," jawab Jihan antusias, lagi-lagi matanya berembun. Merasakan kebahagiaan yang membuncah. Semua doanya sudah terkabul, dan dia sangat haru.
"Alhamdulilah." Mardi dan sofia seirama mengucap kata syukur, mereka sama bahagianya seperti Jihan.
Ketiga orang itu terus berbincang, Mardi dan sofia tidak setuju jika yang menjemput Jani adalah Jihan dan Melisa. Mardi dan Sofia sepakat, mereka berdualah yang akan menjemput sang cucu secara langsung.
Jihan yang awalnya menolak mulai pasrah, dua lawan satu, pasti kalah. Palagi kedua orang itu adalah mertuanya. Akhirnya Jiham hanya bisa menurut.
"Sudah, jangan lesu-lesu, sana naik ke kamar mu, pakai lift saja, langsung tidur, ini sudah jam 9," titah Sofia tak ingin di bantah.
Dengan gontai, Jihan bangkit lalu kembali ke kamarnya sendiri. Meninggalkan Mardi dan sofia yang masih ingin berada disana.
"Ibu masih ngeri kalau bayangin bekas jahitannya Jihan Pa, kemarin ibu lihat belum terlalu kering, hii." Sofia bercerita sambil bergidik ngeri, Sofia melihat bekas jahitan itu saat Jihan habis mandi.
"Tapi Papa lihat Jihan baik-baik saja Bu, kasihan kalau dia tidak diajak." sanggah Mardi yang tak tega melihat wajah Jihan kecewa.
"Biarkan saja kasihan, daripada dia kecapekan. Sudah yok Pa, kita tidur. Ibu sudah ngantuk." ajak Sofia sambil menekan remote TV.
__ADS_1
OFF.