
"Kakak!" Panggil Karina dengan semangat.
"Karin." Ivan menoleh menatap adiknya baru muncul dari belakang.
"Suamiku sedang pergi kak. Mau mengurus sesuatu katanya. Ada apa kakak kemari?" Tanya Karina sambil tersenyum sumringah. Bibirnya tak lepas dari senyuman yang terlihat bahagia itu membuat Ivan ragu untuk menyampaikan tujuannya datang.
"Ayo kita pulang!" Ucap Ivan langsung. Senyum di bibir Karina sontak memudar. Seketika kebahagiaan yang baru saja dirasakan seolah hanya mimpi belaka. Dan janji yang dikatakan pada papanya langsung terlintas di benaknya membuat Karina terdiam membisu di tempatnya.
Ivan yang menyadari perubahan ekspresi adiknya terdiam. Namun dia melakukannya karena ingin mencegah papanya melakukan paksaan pada adiknya itu. Sehingga dia menawarkan diri untuk menjemput sang adik meski pekerjaannya sangat banyak.
Setelah selesai sarapan dan membereskan meja makan. Suaminya pamit keluar sebentar mengurus sesuatu. Karina juga mengantar tadi saat suaminya berangkat. Dia juga berjanji akan pulang setidaknya saat makan siang dia akan makan siang di rumah bersama istrinya.
Awalnya Johan ingin mengajak istrinya itu. Entah kenapa sejak semalam firasatnya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dia ingin menunda hal yang akan dilakukannya itu. Namun setelah pagi-pagi tadi dia mendapat panggilan telepon dari orang itu. Dia pun terpaksa pergi setelah sarapan dan berjanji akan pulang saat makan siang.
Johan hanya berharap firasat buruknya tidak terjadi. Istrinya pun tidak ada tanda-tanda akan pergi. Terlihat dari wajah cerianya pagi ini. Johan memilih untuk percaya pada istrinya kalau dia sudah berjanji tidak akan meninggalkannya.
"Aku mencintaimu." Bisik Johan saat berpamitan dengan istrinya pagi itu. Meski dengan wajah meronanya istrinya membalas ungkapannya dengan sangat manis membuat Johan berkali-kali jatuh cinta pada wanita janda mendiang kakaknya itu.
"Hati-hati." Ucap Karina setelah melihat Johan masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa dia melambaikan tangannya berpamitan.
"Aku akan membereskan meja makan sebentar kak. Dan mengambil barang-barangku dulu." Ucap Karina pergi meninggalkan ruang tamu yang ada kakaknya itu tanpa menolak.
Dia sudah berjanji pada papanya setelah dia diizinkan untuk menemani suaminya selama kematian sampai tujuh hari meninggalnya ibu mertuanya. Kini dia harus menerima konsekuensinya dari keinginan untuk selalu menemani suaminya.
Dia berharap kalau papanya tidak memintanya untuk berpisah dengan suaminya. Jikalau dia harus diminta untuk meninggalkan suaminya. Apa dia siap? Dia juga sudah berjanji untuk selalu menemani dan bersama suaminya. Bagaimana pun suaminya hanya memiliki dirinya saja. Tidak seperti dirinya dulu yang pernah tinggal di panti asuhan. Dan kini dia sudah bertemu dengan orang tua kandungnya meski mamanya juga sudah tiada, setidaknya masih ada papa dan kakak kandungnya serta adik-adik tirinya.
Ivan yang tak mendengar bantahan apapun dari sang adik hatinya seketika mencelos merasa bersalah. Dia sebenarnya tidak tega memisahkan pasangan sejoli yang saling mencintai itu. Namun dia harus terpaksa melakukan apa yang diperintahkan papanya. Daripada orang-orang papanya turun tangan sendiri dan melakukan kekerasan jika adiknya menolak nanti.
Setidaknya dirinya nanti jika adiknya meminta sedikit waktu lebih lama untuk bersama suaminya lagi. Ivan akan mencoba memohon pada papanya untuk sedikit lebih lama memberikan waktu pada sejoli itu. Tapi sekarang adiknya tidak membantah sama sekali. Dan hal itu membuat Ivan sungguh sangat merasa bersalah.
__ADS_1
"Ayo kak!" Ucap Karina setelah kembali tiba dengan membawa tas kecil miliknya saja.
"Apa kau yakin?" Tanya Ivan sekali lagi sebelum adiknya itu menyesal.
"Tidak kak." Jawab Karina dengan senyum getirnya.
Meski merasa sakit dan sesak di dadanya, dia masih menunjukkan senyumannya pada sang kakak dan hal itu lagi-lagi membuat Ivan menatap sendu adiknya yang tentu saja dia tahu dari mata adiknya yang berkaca-kaca sehingga sedikit lagi air mata itu akan jatuh. Ivan tahu adiknya menahan semua itu.
"Aku akan meminta papa untuk memberikan waktu sedikit lebih lama kau untuk bersamanya jika kau menginginkannya." Ucap Ivan lagi menatap adiknya yang menundukkan kepalanya menghindari tatapannya.
"Tidak kak, aku sudah meminta terlalu banyak pada papa. Sudah mengizinkan aku menemani suamiku sampai tujuh hari meninggalnya ibu mertuaku itu sudah lebih dari cukup untukku." Jawab Karina yakin meski dadanya terasa dihimpit batu besar.
"Ayo!" Ajak Ivan setelah menghela nafas panjang dan berat. Berbalik dan pergi dari mansion besar milik mendiang ibu mertuanya. Dan saat Ivan membalikkan tubuhnya, air mata Karina pun menetes tanpa mampu dibendungnya meski langsung segera diusapnya tak mau dipergoki oleh kakaknya.
Karina sudah merasa bahagia diizinkan bersama suaminya sedikit lebih lama dari perjanjian yang diberikan oleh papanya. Sesaat dia melupakan janjinya itu karena terlalu bahagia saat kebersamaannya dengan suaminya itu. Dan sekarang dia tak akan pernah menyesal meski harus menepati janjinya pada papanya.
Mobil yang dikendarai oleh Ivan sendiri melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota menuju mansion besar keluarganya. Tak ada percakapan yang berarti di dalam. Ivan memilih untuk terdiam begitu juga Karina memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela mobil menatap keindahan ibukota selain macet jalanannya.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sambil entah apa yang dipikirkan di benak masing-masing. Karina memejamkan mata sejenak sambil bibirnya terus komat-kamit berdzikir dan melantunkan doa untuk hubungannya dengan suaminya.
Tak sampai satu jam, mobil sudah terparkir apik di halaman mansion milik keluarga Mulia. Ivan turun diikuti oleh Karina. Setelah mengucapkan basmalah, Karina turun dan mengikuti langkah kaki kakaknya. Dia berusaha berpikir positif kalau janji yang diinginkan papanya bukan untuk berpisah dari suaminya.
"Dimana papa paman?" Tanya Ivan saat melihat Ramon melintas di ruang tengah hendak melakukan titah tuannya. Ramon berhenti menatap sejenak keduanya.
"Beliau ada di ruang kerja tuan muda. Dan kebetulan sekali beliau menunggu nona muda di dalam." Jawab Ramon ramah menunduk sopan.
"Terima kasih paman." Jawab Ivan menoleh menatap adiknya yang masih tersenyum lembut mencoba menutupi rasa sakitnya.
"Aku akan menemanimu bertemu papa." Karina tidak menolak hanya mengangguk mengikuti langkah kakaknya. Ramon hanya menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan sambil menunduk sopan saat keduanya melintas di depannya.
__ADS_1
"Langsung masuk saja tuan muda!" Ucap Ramon menyela karena Ivan hendak mengetuk pintu tersebut.
Karena aturan pertama rumah itu harus mengetuk pintu jika tuan besarnya sedang di dalam ruang kerjanya. Karena Ramon baru saja keluar dari dalam dia pun sudah diberi pesan untuk menyampaikan pada nona muda langsung masuk ke dalam ruang kerjanya yang itu artinya tak usah mengetuk pintu lagi.
Ivan pun melakukan apa yang dikatakan Ramon dan langsung membuka pintu ruang kerja itu serasa membuka pintu neraka saja. Karena dia tahu, berurusan dengan papanya seperti berurusan dengan malaikat maut tidak ada yang berani membantahnya.
Cklek
Dokter Nathan yang sedang melakukan sesuatu dengan berkas-berkas di meja kerjanya sontak mendongak menatap Ivan yang muncul di pintu dan disusul Karina mengikutinya dari belakang dengan senyum yang selalu terukir di bibir mungilnya.
"Aku membawa Karina seperti keinginan papa." Ucap Ivan setelah keduanya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Assalamualaikum pa." Ucap Karina menghampiri papanya dan mengambil jemari tangan kanan papanya mengecup punggung tangannya dengan takzim sebagai putri yang berbakti membuat Ivan mencelos. Dia tahu suasana hati adiknya tidak sedang baik-baik saja. Namun dia masih menunjukkan rasa sopan santun dan menghormati papanya seolah dia sedang baik-baik saja.
"Wa'alaikum salam." Guman dokter Nathan yang sudah mulai fasih mengucapkannya karena Karina selalu melakukan hal itu saat dia pulang kerja. Dan mau tak mau dokter Nathan sedikit terbiasa. Hanya saja sudah seminggu ini dia merindukan hal itu.
"Kau keluarlah Ivan, aku ingin bicara berdua saja dengan putriku!" Usir dokter Nathan langsung tanpa basa-basi membuat Ivan protes.
"Papa." Protes Ivan menatap papanya yang juga menatapnya seolah tak mau dibantah. Ivan terdiam ganti beralih menatap adiknya sendu. Karina hanya tersenyum penuh arti ditatap kakaknya.
"Baiklah." Jawab Ivan akhirnya memilih untuk pergi dan mempercayai adiknya akan baik-baik saja dengan papanya, bukannya mereka ayah dan anak perempuannya, seharusnya Ivan tidak cemas. Dia tahu adiknya akan baik-baik saja.
"Duduklah!" Titah dokter Nathan berdiri dari kursi kerjanya duduk di sofa diikuti Karina yang duduk tak jauh dari tempat papanya duduk.
.
.
.
__ADS_1