Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 71


__ADS_3

Jam setengah 4 sore, payudara Jihan terasa penuh, butuh dikeluarkan agar ia tak merasa kesakitan. Akhirnya Jihan memompa Asinya di ruang khusus ibu menyusui, serangkan Arick setia menunggu di depan ruangan itu.


20 menit kemudian Jihan keluar, serentak dengan kedatangan Amir untuk menjemputnya pulang. Sesuai dengan pesan Mardi tadi siang.


"Pak Amir cepat sekali sampai disini?" tanya Arick, sedikit tak suka dengan kedatangan supir keluarganya itu, karena menandakan ia akan kembali berpisah dengan sang istri.


Baik Jihan maupun Amir yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum, merasa lucu sendiri.


"Mana Asinya?" tanya Arick pada sang istri, ia melihat Jihan tak membawa apa-apa.


"Kata perawatnya tinggal disitu saja Mas, nanti diambil, yang penting sudah ada namanya, Jani," jawab Jihan dan Arick mengangguk.


Sebelum pulang, Jihan kembali melihat keadaan Jani, berpamitan pada anak kesayangannya itu dan mendoakan untuk segera pulih agar bisa berkumpul bersama.


"Ayo," ajak Arick, yang tak ingin Jihan berlama-lama, bisa-bisa Jihan kembali menangis.


Tanpa menunggu jawaban Jihan, Arick langsung menarik istrinya itu untuk mengikuti langkahnya. Berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran, dimana Amir memarkirkan mobilnya.


"Ingat, jangan sedih, ada aku disini yang akan menjaga Jani," ucap Arick pelan, tepat ditelinga sang istri, lengan panjang Arick mendekap bahu Jihan sambil terus berjalan.


"Iya Mas, Mas juga harus jaga kesehatan ya, jangan mentang-mentang tidak pulang dan aku tidak lihat Mas jadi acuh."


"Iya sayang, aku janji."


"Jangan asal janji."


"Iya iya iya, maaf, saat aku pulang nanti berat badanku kembali normal. Lihat saja," seloroh Arick dan membuat sang istri mencebik.


Awas saja jika tidak. Batin Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di parkiran, Arick seperti enggan untuk melepas sang istri. Amir yang memahami kerinduan sang majikan mulai mencari alasan untuk pergi, setidaknya memberi waktu untuk kedua majikannya memiliki waktu bersama, di tempat yang lebih privasi, di dalam mobil.

__ADS_1


"Mas, saya mau beli kopi dulu boleh? mendadak ngantuk," alasan Amir sambil bergaya menguap persis seperti orang ngantuk, padahal Arick paham jika ini hanya akal-akalan sang supir.


"Iya Pak, kami tunggu disini," jawab Arick.


Setelah itu Amir menyerahkan kunci mobilnya pada Arick dan segera berlalu dari sana. Meninggalkan sepasang suami istri itu hanya berdua.


"Masuklah, duduk dibelakang, aku akan menyalakan mobil sebentar, menghidupkan AC." Titah Arick dan Jihan menurut.


Setelah AC menyala, Arick menyusul sang istri untuk dudyk di kursi belakang.


"Tumben-tumbennan jam segini pak Amir sudah ngantuk," ucap Jihan sedikit heran, biasanya jam jam ngantuk Amir itu jam 12 siang, jika jam segini pasti ia akan segar bugar.


"Mungkin semalam pak Amir begadang, untung beliau jujur kalau ngantuk, bahaya sayang kalau menhetir dalam keadaan mengantuk." jelas Arick sambil menarik pinggang sang istri untuk mendekat, dan Jihan hanya angguk-angguk sambil menuruti keingan sang suami.


Kini keduanya saling berhimpitan, lama-lama Jihan mengulum senyum, mulai memahami kerinduan sang suami.


Tanpa aba-aba, Jihan mencium bibir suaminya lebih dulu, bahkan menyesapnya dalam hingga pelukan itu semakin erat.


"Cuma boleh yang atas yang sayang? yang bawah tidak boleh?" tanya Arick dan Jihan terkekeh dibuatnya.


"Sayang, berhenti tertawa," rengek Arick dan Jihan berusaha menahan tawa itu, ia mengulum bibirnya sendiri.


"Mas sih, ada-ada saja. Yang atas juga tidak boleh, ini sekarang punya Anja, Jani dan Zayn." kata Jihan yang memasang wajah serius.


"Ah aku tidak peduli," jawab Arick cepat, lalu menarik tengkuk Jihan dan diciuminya bibir itu dengan keras, hingga terasa kebas.


Tangannya pun tak tinggal diam, ia menurunkan resleting dibagian dada sang istri yang biasanya digunakan untuk memudahkan Jihan memompa Asi. Kini digunakan untuk menyalurkan hasrat sang suami.


Untunglah tadi Asi itu baru saja dipompa, hingga tak terlalu banyak yang masuk ke dalam mulutnya ketika ia menyesap itu.


"Mas, apa kamu haus?" goda Jihan disela-selanya melenguh, pasalnya sang suami meraup tanpa ampun hingga Jihan merasakan tubuhnya memanas. Jika diteruskan bisa saja ia mendapat pelepasan.


Bukannya menjawab, Arick malah kembali membungkam bibir sang istri dengan ciumannya, ciuman yang lama-lama memelan, karena hasratnya makin tak bisa ditahan.

__ADS_1


"Sabar Mas, 2 bulan lagi," ucap Jihan, saat napas panas Arick menyapu wajahnya. Ciuman itu terlepas dan kini dahi mereka saling menempel, hidungpun masih saling menyatu.


"Iya sayang, aku hanya ingin meninggalkan banyak bekas disini," jawab Arick, sambil menunjuk bekas memar dileher dan dada sang istri, hasil karyanya tadi.


Jihan kembali terkekeh, jujur, ia juga merindukan tanda-tanda itu melekat di tubuhnya.


Melihat senyum sang istri, Arick pun mengukir senyum yang sama. Lalu kembali mengecup bibir Jihan sekilas, dan merapikan baju sang istri yang acak-acakkan karena ulahnya.


Keduanya kembali berbincang, menceritakan banyak hal yang terlewat di setiap panggilan telepon meraka, hingga 15 menit kemudian Amir datang, dan mau tidak mau Arick harus kembali berpisah dengan Jihan.


"Hati-hati Pak bawa mobilnya," pesan Arick, Amir menyetujui lalu dengan perlahan mobil melaju, meninggalkan area parkiran rumah sakit dan meninggalkan Arick.


Jihan menoleh kebelakang, ingin melihat suaminya itu hingga benar-benar tak terlihat. Sama halnya dengan Arick, dia pun tetap berdiri disana hingga mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di rumah, Jihan langsung bergegas menemui Anja, si bayi mungil itu ternyata sudah tidur di dalam box bayi bernuansa merah muda. Tidur pulas di kamar khusus Anja, Jani dan Zayn.


Sofia sengaja menempatkan bayi-bayi itu di kamar tersendiri, bukan di kamar Jihan.


Jihan pun menurut, karena ia tak bisa leluasa mengurus ketiga bayinya, benar-benar butuh bantuan orang lain. Sofia juga menambah 1 babysister lagi untuk mengurus si kembar, Zayn tetap dalam pengasuhan Asih.


Melisa adalah pengasuh bayi yang baru, usianya sama seperti Asih. Melisa bisa bekerja bersama Sofia melalui yayasan. Karena mendadak, Sofia pun menyerahkan semuanya pada yayasan, dan didapatlah Melisa.


Siang tadi saat semua orang ke rumah sakit, Melisa datang ke rumah ini.


"Jadi kamu yang akan membantu saya mengasuh Anja dan Jani?" tanya Jihan saat ia sudah puas memandangi sang anak.


Melisa tersenyum ramah, lalu memperkenalkan dirinya dengan sopan.


"Tolong bantu saya ya, anggap anak-anak saya seperti bagian dari keluargamu," jelas Jihan, ia ingin anak-anaknya mendapatkan kasih sayang yang tulus dari semua orang.


"Baik Bu," jawab Melisa patuh sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


Melisa dan Asih tidur di kamar ini, agar siap siaga mengurus semua bayi-bayi mungil itu.


__ADS_2