Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 37


__ADS_3

Sejak pagi Anin masih terbaring di kasur, sudah sejak malam ia muntah dan membuat Dimas khawatir, beruntung orag tua Anin masih di Bandung dan menginap di rumahnya jadi Afifa bersama mereka karena Dimas harus menjaga Anin yang masih tampak lemas.


"Sayang, bangun sudah pagi kita sarapan,"


Anin hanya menggeliat di kasur sambil menarik selimutnya, Dimas yang masih duduk di sisi ranjang mengelus rambut panjang Anin berusaha menbangunkannya agar ikut sarapan bersama.


"Sayang, ayo bangun kita sarapan nanti siang kita ke Bidan yang dekat aja ya," ucap Dimas kembali.


"Anin gak mau sarapan." ucapnya masih menutup mata.


"Ya sudah minum susu aja gimana?"


Anin tak menjawab ia hanya memeluk erat gulingnya dan menarik selimut, rasanya hari ini ia malas melakukan aktivitas apapun terlebih orangtuanya yang kini menginap di rumahnya beberapa hari membuatnya ingin beristirahat lebih lama di kasur tanpa melakukan aktivitas apapun.


Dimas sudah selesai mandi, ia melihat Anin masih bergelut dengan kasurnya, ia tersenyum sepertinya kehamilan Anin membuatnya malas melakukan aktivitas.


Dimas memilih ke bawah menemui mertuanya yang sudah menyiapkan sarapan, sedangkan Afifa sedang bermain bersama Papah Anin. Sejak kemarin malam Mamah Anin meminta Afifa untuk tidur bersamanya agar Anin tidak terlalu kecapekan karena terjaga malam.


"Dimas sudah bangun, Ayo sarapan!" ajak Mamah.


"Iya Mah." ucap Dimas duduk di kursi makan.


"Anin belum bangun Dim?"


"Belum Pah, semalam masih muntah,"


"Mamah buatkan susu untuk dia, nanti kamu bawakan saja ya," ucap Mamah.


Dimas mengangguk, Papah Anin ikut bergabung dan memberikan Afifa pada istrinya untuk di mandikan.


Dimas sedikit bahagia karena akhirnya orangtua Anin kini sudah berubaha untuk peduli dan ini pertama kalinya mereka makan bersama setelah Dimas menjadi keluarga mereka. Dulu saat bersama dengan Kirana pun ia tak pernah makan bersama mertuanya itu.


Selesai makan Dimas kembali ke kamar membawa susu hangat untuk Anin. Ia membuka pintu kamar namun kasurnya sudah rapih, ia melihat ke kamar mandi yang tidak di kunci, rupanya Anin sedang berendam di bathtub dengan mata terpenjam.


"Dicariin tahunya lagi berendam toh," ucap Dimas membuat Anin terkejut.


"Mas, ih kalau masuk ketuk pintu dulu!"


"Ya gak apa-apa lagian kamar kita berdua gak akan ada yang masuk," ucap Dimas acuh.


Anin mengerucutkan bibirnya menatap Dimas dengan kesal, entah kenapa sejak kemarin suasana hatinya berubah-ubah, bahkan merasa kesal dengan Dimas padahal pria itu hanya diam di kamar menemaninya.


"Ya sudah, Mas tunggu di luar aja."


Anin tetap tak menjawab ucapan suaminya itu, masih dengan suasana hati yang kesal ia memilih menutup matanya.


"Atau Mas di sini aja temanin kamu mandi atau sekalian kita mandi bareng aja gimana?" goda Dimas.


Anin membulatkan matanya menatap Dimas dengan tajam, Dimas yang mendapat tatapan tajam dari sang istri membuat nyalinya ciut, ia pun memilih pergi dan menutup pintu kamar mandi sambil menghirup nafas banyak-banyak akhir-akhir ini ia merasa Anin akan memakannya hidup-hidup entah apa salah Dimas.


Tak lama Anin keluar dari kamar mandi menggunakan kimono handuk, ia menatap Dimas yang sedang bermain game di ponselnya, Dimas yang sadar keberadaan Anin langsung menyimpannya


"Minum dulu susunya ya"


"Gak enak susunya!" tolak Anin.


"Tapi bagus buat kandungan,"


"Tapi kan kita belum periksa kandungan Mas, Anin juga gak ngerasa hamil," ucapnya cuek.


"Iya makanya kita periksa sekarang ya."


Anin mengangguk seraya meminum susu, Dimas menatap wajah cantik Anin yang baru saja selesai mandi, tanpa makeup apapun ia memang selalu cantik membuat Dimas selalu bersyukur bisa berjodoh dengan Anin.


"Mas,"


"Apa?"


"Kalau udah hamil, Anin mau coba pake hijab," ucapnya serius.


"Kamu Nazar?"


"Bukan aku musdalifah masa Nazar sih!" ucap Anin kesal.


"Bukan, maksudnya Nazar itu sebuah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai." jelas Dimas.

__ADS_1


"Oh kirain Anin Nazar penyanyi itu lho," ucapnya polos.


"Katanya pinter tapi nazar aja gak tahu." gumam Dimas.


"Apa Mas?" ucap Anin sudah melotot.


"Sabar sayang jangan marah-marah terus dong," ucap Dimas.


"Iya jadi gimana pendapat Mas?"


"Mas dukung kamu kok, kalau kamu mau pakai hijab dari sekarang malahan Mas bakalan senang,"


"Tapi belum sekarang sih, belajar dulu sambil beli baju sama hijabnya boleh?"


"Iya gak apa-apa yang penting sudah ada niat." ucap Dimas.


Anin tersenyum ke arah Dimas dan memeluk suaminya itu, ia beruntung Dimas pernah menuntutnya meskipun ia tahu Dimas sendiri menginginkannya.


*-*-*-*-*


Dimas dan Anin sudah selesai memeriksakan kehamilan Anin ke Bidan dan hasilnya positif, Usia kandungannya baru tiga minggu dokter menyarankan agar ia tak banyak melakukan aktivitas yang melelahkan.


Sebelum pulang ke rumah, Anin meminta untuk mengunjungi toko brownisnya, kedua karyawan tampak sibuk di dapur karena pesanan bolu yang meningkat, sepertinya Anin harus mencari karyawan lagi agar karyawannya tidak terlalu kelelahan.


"Kalian bekerja sangat keras," ucap Anin.


"Lumayan Mbak pesanan kita meningkat,"


"Alhamdulillah, sepertinya saya harus cari karyawan lagi supaya kalian tidak kelelahan, apalagi saya sedang hamil tidak mungkin bisa membantu kalian." ucap Anin.


"Kami tidak apa-apa Mbak, tapi kalau mau cari karyawan lagi itu terserah Mbak aja sebagai atasan." ucap Rina diiringi tawanya.


"Ya sudah kalau begitu hari ini kalian tutup jam empat ya supaya bisa istirahat bilang sama yang lain ya," ucap Anin.


"Baik Mbak terimakasih."


Anin melihat bahan-bahan yang sudah sudah habis dan menuliskannya di kertas dan meminta Dimas untuk membelinya besok dan mengantarkannya langsung ke toko.


"Hi Anin, Dimas," sapa Friska.


"Iya Nin, aku mau pesen brownis coklat habisnya enak, Leona juga suka banget makanya mampir ke sini," ucap Friska.


"Wah makasih teh, sendiri ke sini?" tanya Anin.


Baru saja hendak menjawab tiba-tiba Gilang masuk bersama Leona yang ia gandeng tangannya, Dimas yang terkejut dengan kedatangan Gilang bersama Leona pun menatap curiga pada sahabatnya itu.


"Dim loe di sini?" ucap Gilang terkejut.


"Iya gue nemenin Anin ngecek toko," ucap Dimas.


"Wah a'Gilang sama Teh Friska datangnya?"


"Ehh i.. Iya Nin." ucap Gilang.


"Papah ayo beli brownis coklat!" ajak Leona.


"Papah?"


Dimas dan Anin yang mendengar Leona memanggil Gilang dengan sebutan papah pun menatap kaget dan membuat Gilang menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, ia sudah tahu pasangan suami-istri ini pasti akan bertanya-tanya dan mengintrogasi dirinya.


"Lang, papah?" tanya Dimas.


"Ini Papah Leona om!" ucap Leona.


"Oh jadi om Gilang ini udah jadi Papah Leona?" tanya Anin.


"Iya tante ini Papah Leona, ganteng kan?" tanya Leona.


"Iya iya ganteng." ucap Anin menyengir.


"Leona, kan mamah suruh tunggu di motor," ucap Friska.


"Kata Papah di motor panas jadi d suruh ke sini!" ucap Leona.


Friska tersenyum kemudian menatap ke arah Dimas dan Anin yang kini menatap ke arah mereka dengan tatapan tanda tanya membuat keduanya menjadi binggung untuk menjelaskannya.

__ADS_1


"Kalau gitu kita pamit dulu ya Nin, Dim," ucap Friska.


"Iya teh Makasih ya."


"Dim gue pamit," ucap Gilang.


"Lo utang penjelasan ke gue!"


"Oke gue jelasin nanti sabar aja," ucap Gilang menepuk bahu Dimas.


Dimas dan Anin saling berpandangan binggung menatap mereka yang keluar dari toko sambil menggandeng tangan Leona.


"Keluarga bahagia ya." ucap Anin.


"Kayaknya Leona sayang sama Gilang" ucap Dimas.


"Sejak kapan mereka dekat?" tanya Anin.


"Mas juga gak tahu, nanti kita tunggu klarifikasi dari yang bersangkutan, nanti mas bakal sidang Gilang kalau ketemu!" ucap Dimas.


"Mas ih jangan gitu!" ucap Anin tertawa.


"Supaya jelas sayang, lagi pula Gilang adalah tersangka utamanya," ucap Dimas tertawa.


"Ngomongin masalah Sidang, kapan sidang Evan Mas?" tanya Anin.


"Belum tahu, sudah jangan di pikirkan," ucap Dimas.


"Tapi Anin harus datang ke sidangnya kan sebagai saksi?" tanya Anin.


"Jangan takut Mas juga datang kok, kita semua ikut datang nanti temani kamu." ucap Dimas.


Anin mengangguk,memang benar ia tak perlu takut karena Dimas dan keluarganya akan membantu dan mendukungnya.


*-*-*-*-*


Anin sedang bermain bersama dengan Afifa di ruang televisi, sedangkan Papah dan Dimas sedang berbincang seputar usaha Dimas juga pekerjaan mertuanya itu.


Dimas mulai tampak akrab meskipun awalnya sedikit canggung namun Papah Anin akhirnya mengajak Dimas berbincang terus sehingga Dimaspun merasa terbiasa.


"Nih minum dulu kopinya," ucap Mamah Anin.


"Makasih Mah." ucap Dimas.


"Oh iya Anin untuk sementara Afifa tidur sama Mamah Papah aja, kamu juga gak boleh kecapekan," ucap Mamah.


"Mamah sama Papah kapan pulang?" tanya Anin.


"Kayaknya minggu depan Nin," ucap Papah.


"Emang gak bisa tinggal di sini dulu?" tanya Anin.


"Papah masih harus terapi," jawab Papah.


"Pindah ke sini aja Pah terapinya biar Dimas carikan dokternya." ucap Dimas.


"Kalau kita tinggal di sini gimana rumah di Bogor gak ada yang tempati," ucap Mamah.


"Anin kan lagi hamil maunya Mamah di sini," ucap Anin.


"Kenapa tiba-tiba manja sih?" ucap Mamah tersenyum.


"Gapapa, lagian kan Papah juga udah gak ngejabat lagi," ucap Anin.


"Gimana Pah?" tanya Mamah binggung.


"Ya sudah kalau gitu mau Anin, lagian dia juga lagi hamil butuh Mamah." ucap Papah.


"Barang-barang gimana?" tanya Mamah.


"Biar Papah sama Dimas aja yang ambil ke Bogor lagi pula hanya baju saja," ucap Papah.


Mamah pun mengangguk setuju dengan Papah, ia pun merasa tak enak meninggalkan Anin yang sedang hamil sendiri terlebih ada Afifa yang masih kecil pula. Mereka tak mau kejadian saat itu terulang lagi.


Mamah dan Papah juga sudah waktunya membagi waktu dengan keluarga terlebih masa jabatan Papah yang sudah di ganti karena dirinya yang mengundurkan diri dan ingin menghabiskan waktu dengan anak cucunya.

__ADS_1


Sedangkan itu Dimas hanya menatap bahagia melihat Mamah dan Anin sedang bermain bersama Afifa bahkan suara tawa Afifa terdengar nyaring membuat Dimas juga ikut tertawa melihat anaknya. Dimas percaya setiap manusia pasti akan berubah termasuk orangtua Anin yang kini sudah mulai sadar dan peduli dengan keluarga dan Dimas senang karena Anin tidak sendirian ia sudah memiliki banyak orang yang menyayanginya.


__ADS_2