Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 34


__ADS_3

Dimas terbangun dari tidurnya, badannya terasa lebih ringan dari biasanya, ia meregangkan ototnya dan menatap kesebelah kasurnya menatap Anin yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi badannya.


Dimas teringat kejadian kemarin saat Anin terlihat agresif bahkan membuat dirinya kewalahan melayaninya. Dimas tersenyum kemudian mencium pipi dan hidung mancung Anin dan membuat Anin mengeliat dan membuka matanya.


"Sudah pagi." ucap Dimas tersenyum.


"Kepala Anin sakit," ucapnya sambil memejamkan matanya.


Dimas tercenung, ia teringat kemarin Gilang bilang Anin di beri obat perangsang dan tentu saja efeknya pasti sangat kuat, Dimas membuka ponselnya dan mencari tahu tentang efek yang terjadi setelah mengosumsi obat perangsang dan mencari penghilang efek obatnya.


"Kita ke rumah sakit?" tanya Dimas.


"Gak Mas, Anin ngantuk banget," ucapnya.


Dimas mengangguk ia tahu efek obat ini akan membuat seseorang mengantuk. Dimas turun dari ranjang dengan badan tanpa sehelai benang ia mengambil handuk dan memilih mandi untuk menyegarkan badannya karena hari ini sudah pasti ia mengurus Anin yang masih lemas.


*-*-*-*


Selesai mandi Dimas menelepon orangtuanya untuk menitip Afifa beberapa hari dan menceritakan kejadian yang di alami Anin karena bagaimana pun masalah ini sangat serius.


Dimas ingin menuntaskannya meskipun Bapak Dimas sempat ingin membantu untuk menyelidikinya namun Dimas memilih menyelesaikannya sendiri


Dimas membawa gelas berisi susu hangat dan memberikannya pada Anin yang masih tertidur, untungnya Dimas memakaikan Anin baju agar ia tidak masuk angin.


"Minum susu dulu ya biar gak pusing," ucap Dimas membantu Anin duduk.


Anin bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kasur, matanya menatap Dimas samar kemudian ia teringat kejadian kemarin namun lebih tepatnya mengingat kejadian saat Evan hendak memperkosanya dan Anin terdiam tak berdaya.


Dimas menatap Anin yang memeluk lututnya tangannya gemetar bahkan wajahnya kini mulai pucat, ia yakin Anin trauma dengan kejadian kemarin meski pun Dimas belum tahu pasti bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya tapi ia tahu Anin ketakutan.


"Sayang." ucap Dimas lembut.


"Jangan sentuh Anin!" ucapnya menolak


"Ini Mas,"


"Enggak Anin takut." ucapnya terisak.


Dimas yang baru pertama kali melihat Anin begitu ketakutan mendekatinya dan memeluknya meski pun Anin sudah memberontak dan bahkan berteriak karena ketakutan namun Dimas tak peduli Anin adalah istrinya dan ia tak mau Anin menjadi seperti ini.


"Anin takut." ucapnya terisak di dada Dimas.


"Ada Mas sekarang di sini jangan takut Mas gak akan biarin kejadian ini terulang lagi," ucap Dimas mengelus kepala Anin.


"Dia coba buka baju Anin," ucap Anin mengingat.


"Tapi kamu keburu di bawa ke sini sudah kamu aman,"


Anin menggeleng kemudian menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca, Dimas menatap iris coklat Anin, ia tampak kacau dan tertekan Dimas benar-benar khawatir ia sebenarnya ingin menghajar Evan saat ini juga namun ia tak mau meninggalkan Anin dalam keadaan seperti ini.


"Dia memang gak sampai buka baju Anin tapi dia sudah berhasil  bibir Anin dan menyetuh dada Anin," ucap Anin kemudian menangis.


Dimas yang mendengar penuturan Anin terkejut pantas saja Anin ketakutan seperti ini, Dimas mengepalkan tangannya kali ini tindakan Evan benar-benar kelewatan batas ia hampir memperkosa Anin ia tak terima.


"Mas bakal pastiin dia gak akan lolos!" ucap Dimas.


"Anin takut." ucap Anin.


Dimas memeluk Anin erat menenangkan Anin namun badan Anin bergetar hebat bahkan tangannya terasa dingin membuat Dimas bertambah khawatir.


Tiba-tiba suara telepon di ponsel Dimas berbunyi panggilan dari Mamah mertuanya, Dimas dengan ragu mengangkatnya ia memilih berbicara di luar agar Anin sedikit tenang.


"Halo Mah," ucap Dimas ragu.


"Dimas bagaimana keadaan Anin?" ucap Mamah terdengar khawatir.


"Mah kenapa?" tanya Dimas yang sebenarnya tak mau basa-basa dengan mertuanya itu.


"Mamah sudah tahu apa yang terjadi kemarin Gilang telepon tentang kejadian yang dialaminya," ucap Mamah


"Dia baru bangun, tapi.." ucap Dimas terjeda.


"Dimas kamu tolong bawa Anin ke psikiater ya dia pasti sekarang trauma!" ucap Mamah dengan nada khawatir.


"Mamah gak perlu terlalu khawatir,  dia kayaknya butuh ketenangan aja," ucap Dimas


"Dimas, Anin punya trauma dimasalalu dia pernah hampir menjadi korban pemerkosaan kakak kelasnya waktu SMP dan dia trauma sampai ngurung diri di kamar dan hampir bunuh diri!" jelas Mamah.


Dimas terkejut ia sama sekali tidak mengetahui hal itu tidak ada yang memberitahunya.


"Dim, mamah tahu selama ini kami gak peduli dengan dia tapi Mamah gak mau dia kembali seperti ini, sekarang hanya ada dia anak kami tolong kamu jaga dia ya Mamah mohon," ucap Mamah terdengar terisak.


"Iya Mah, inshallah Dimas berusaha mengaja Anin." ucap Dimas


"Mamah minta maaf juga sama kamu sempat meminta Anin bercerai dengan kamu, sekarang Mamah menyesal ternyata Evan jahat dan dia juga yang menyebabkan Papah Anin kecelakaan." ucap Mamah.


"Apa?" ucap Dimas tak percaya.


"Dimas kamu tenang saja bukti sudah ada dan bukti Anin juga kuat Evan akan masuk ke penjara segera, Mamah belum bisa ke sana karena Papah masih harus terapi, tolong jaga dia, Mamah mohon, kami sangat menyesal." ucap Mamah


"Iya Mah." ucap Dimas.


Mamah mematikan sambungan teleponnya, Dimas terdiam di luar kamar, hatinya tak tenang ia ingin sekali menangkap Evan dengan kedua tangannya sendiri kali ini dia sudah banyak membuat dosa dan Dimas tak akan memaafkannya.

__ADS_1


Suara gelas jatuh tiba-tiba terdengar dari dalam kamar, Dimas yang terdiam langsung masuk ke kamar dan mengecek kondisi Anin dan benar saja gelas susu yang ia berikan sudah berserakan di lantai dan kaki Anin nampak berdarah terkena pecahan beling, ia berjalan lunglai tanpa pedulikan luka di kakinya.


"Anin." teriak Dimas.


"Jangan mendekat!"


Anin berjalan ke kamar mandi dengan darah yang keluar dari kaki kanannya tanpa peduli rasa sakit ia membasuh mukanya, Dimas tak bisa mengikuti istrinya ia tahu Anin masih syok dan trauma, namun ia juga tak tega melihat Anin menyakiti dirinya sendiri.


"Arrrggghhhh!!!" teriak Anin menjambak rambutnya.


Dimas memberanikan diri mendekati Anin, ia memeluk Anin dengan erat namun Anin memberontak dan terus mengumpat namun umpatan yang keluar hanya kata ********. Dimas tidak tahu pasti apa yang terjadi pada masalalu istrinya itu, ia langsung mengangkat Anin ke kasur dan membaringkanya.


Dimas mengobati luka kaki Anin untuknya hanya luka di ibu jarinya saja hanya cukup lumayan dalam. Anin tak berhenti menangis sambil tersedu-sedu membuat Dimas makin merasa khawatir.


"Kita pergi sekarang!" ucap Dimas.


Dimas mengambil jaket dan mengganti baju Anin, ia mengangkat Anin turun ke bawah dan sampai ke mobil untungnya Anin tak memberontak ia menenggelamkan wajahnya pada dada Dimas.


Dimas mendapat pesan whatsapp dari Mertuanya yang mengirim alamat tempat biasa Anin pergi ke psikiater lamanya karena ia sudah lebih mengetahui kondisi Anin.


Lima belas menit mereka sampai di sana, Anin tersadar saat keluar dari mobil dan ia bersembunyi dibelakang punggung Dimas.


"Jangan takut ada Mas," ucap Dimas mengelus kepala Anin.


Anin menunduk dan berjalan mengenggam tangan Dimas, tak butuh waktu lama mereka langsung bertemu dengan psikolog tersebut.


"Anindira?" tanya Dokter tersebut.


"Iya Dok, dia istri saya," jawab Dimas.


"Sekarang dia sudah menikah? Tadi orangtuanya sudah mengabari saja tentang kejadian yang menimpanya" ucap Dokter tersebut.


"Perkenalkan saya Regran." ucap dokter tersebut pada Dimas.


"Dimas,"


"Sepertinya saya mengenal kamu juga, dulu bukankah kamu berobat di sini?" tanyanya pada Dimas.


"Iya saya ingat." ucap Dimas.


Dimas dan Dokter Regran berbincang sesekali mengajak Anin ikut berbicara hingga akhirnya Anin sedikit tersenyum dengan guyonan Dokter Regran tersebut, beliau sudah memahami karakter Anin sejak lama begitu juga Dimas yang pernah menjadi pasiennya dulu.


"Baik Pak Dimas saya ingin berbicara dengan anda," ucap pak Regran.


Anin menunggu di luar setelah di periksa dan sekarang keadaannya sedikit membaik meskipun ia sedikit takut dengan orang-orang yang berada di sana.


"Dulu Anin punya trauma yang sama dengan sekarang, cukup lama dia bisa sembuh kejadian lebih parah dari sekarang."


"Saya baru tahu tentang trauma dia," ujar Dimas


"Saya tahu, saya akan memahaminya," jawab Dimas.


"Kamu ajak dia berbincang lebih lama jangan biarkan dia sendiri beberapa hari ini dan coba kamu ajak keluarga berbincang juga dengan dia tapi jangan bahas masalah ini supaya trauma cepat hilang,"


"Baik dokter terima kasih sarannya."


"Ini obat untuk dia jika dia tidak bisa tidur, setelah ini lebih baik kalian ajak dia jalan-jalan keluar untuk menghilangkan traumanya."


"Obat yang sama seperti punya saya dulu?"


"Bagaimana trauma kamu sekarang?"


"Sudah lumayan membaik, saya juga bertemu kembali dengan wanita itu tapi semenjak ada Anin dia membantu saya juga menghilangkan trauma saya sekarang giliran saya yang membantunya," ucap Dimas.


"Syukurlah, kalau begitu kamu jaga istri kamu dengan baik." ucap Dokter Regran.


Dimas dan Anin pamit pulang setelah pemeriksaan, Anin masih terdiam di mobil sambil menatap jalan dengan tatapan kosong.


"Mau beli jajanan?" tanya Dimas.


Anin menggeleng tetap terdiam di mobil, Dimas tak kehabisan akal dia menghidupkan lagu di mobil.


"Kamu tahu gak westlife bikin lagu baru setelah reuni mereka juga bikin videoklip sama anak-anaknya?" tanya Dimas.


Anin tak menghiraukan ucapan Dimas ia masih terdiam menatap jalan, Dimas menganti lagunya dan memutar lagu One direction "Story of my life" yang menjadi kesukaan Anin.


"Lagu-lagu One direction itu bagus-bagus sayang mereka masih vakum." ucap Dimas.


Anin tetap terdiam, Dimas menarik nafasnya sepertinya Anin masih belum mau berbincang, ia memilih menyayikan lagu tersebut dengan suara lembutnya.


"Mas jangan ngerusak lagu," ucap Anin.


"Ngerusak lagu?" ucap Dimas.


"Suara Mas gak bagus!" ucap Anin.


Dimas yang mendengar itu malah menambahkan volume suaranya lebih tinggi membuat Anin kesal dan mencubit Dimas kemudian tersenyum, Dimas menarik tangan Anin agar bersandar di dadanya dan Anin menurutinya, Dimas mengendarai mobil dengan tenang.


*-*-*-*-*


Hari sudah malam, kondisi Anin sudah sedikit membaik ia juga menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, ia sempat bertanya kemana Afifa yang baru sadar tidak ada di rumah sejak tadi pagi dan Dimas sudah memberitahu Afifa dibawa Ibu sejak kemarin.


"Mas, Anin gak bisa bobo," ucap Anin.

__ADS_1


"Tadi Dokter Regran kasih obat, kamu minum dulu ya," ucap Dimas mengambil obat.


Dimas memberikan obat pada Anin dan ia meminumnya, Dimas dan Anin masih duduk bersandar di rajang keduanya masih belum menutup mata.


"Maafin Anin ngerepotin Mas,"


"Jangan ngomong gitu!"


"Anin kemarin ceroboh seandainya Anin gak duduk dan mau ngobrol sama Evan mungkin gak akan kayak gini," ucap Anin


"Sudah jangan di pikirkan, yang penting kamu sudah sadar."


"Kemarin waktu nganterin bolu dia bilang kondisi Papah sekarang katanya harus terapi Anin penasaran makanya ngobrol sama dia dan gak curiga apapun sama dia." ucap Anin.


Dimas memeluk Anin dan menyandarkannya di dada bidangnya sambil mengelus kepalanya agar Anin tenang, ia takut Anin akan kembali trauma terlebih kejadian ini bukan baru sekali terjadi pada Anin.


"Dulu waktu Anin SMP, perempuan banyak yang gak suka sama Anin mereka ganggap Anin saingan,"


"Mereka bilang karena Anin cantik dan pintar banyak cowok naksir Anin dari mulai kakak kelas atau adik kelas tapi Anin gak pernah nanggapin dan kejadiannya waktu itu namanya Gea dia kakak kelas Anin," ucap Anin terpotong badannya kembali bergetar ketakutan.


"Kamu gak perlu cerita kalau bikin kamu takut dan kembali trauma."


Anin menggeleng menceritakan kejadian yang pernah menimpanya dulu.


"Waktu itu Gea pacaran sama Fadli tapi mereka tiba-tiba putus katanya Fadli suka sama Anin dan beberapa hari kemudian dia nembak Anin tapi di tolak,"


"Gea ngajak Anin ke ruangan lab tapi di sana ada Fadli sama temen-temennya, mereka berusaha buat buka baju Anin dan temen Fadli berusaha buat perkosa Anin, mereka juga mukul Anin karena Anin teriak sampai kepala Anin berdarah dan tiba-tiba ada Guru datang nyelamatin sebelum terjadi pemerkosaan, dan setelah itu Anin gak sadar." ucap Anin kemudian memeluk Dimas.


"Sudah berlalu jangan ingat lagi," ucap Dimas.


"Mereka bilang Anin udah gak perawan, nyebarin rumor gak bener, sampai akhrinya Anin pindah sekolah tapi sebelum pindah sekolah kepala sekolah ngeluarin Gea dan Fadli juga gengnya Anin juga disuruh buat ngejelasin kejadian tapi Anin gak mau."


"Sudah jangan di terusin sekarang kamu udah sama Mas gak perlu khawatir,"


"Kalau jadi cantik itu kutukan Anin gak mau jadi seperti ini, Anin gak punya temen yang tulus dari dulu mereka dekatin Anin cuman manfaatin kepintaran dan berharap banyak cowok yang deketin."


"Mamu cantik itu anugerah dari Tuhan, mereka cuma iri aja."


"Sejak itu Anin nutup diri, dan waktu SMA Anin diem-diem sering ke Dokter Regran tanpa sepengetahuan Mamah karena mereka kira Anin udah baik-baik aja, makanya Anin mutusin buat pergi  ke Jogja dan kuliah di sana supaya bisa lebih aman."


"Kamu udah ngelewatin banyak masa yang sulit Anin," ucap Dimas.


Anin kemudian terlelap memeluk Dimas setelah selesai bercerita, obat yang diberikan dokter Regran memang membuat tertidur.


 


*-*-*-*


Dimas mendapat telepon dari Gilang dan mengajak untuk bertemu di luar, meskipun ia tak enak meninggalkan Anin sendirian saat kondisi seperti ini namun Anin menyuruh Dimas untuk pergi dan harus menangkap Evan segera karena bisa saja ia berbuat nekat kembali.


Dimas pamit pada Anin meskipun berat namun melihat Anin yang lumayan membaik Dimas percaya Anin tak akan melakukan hal yang aneh-aneh dan ia berjanji akan segera pulang.


"Gimana keadaan Anin?" tanya Gilang.


"Dia masih trauma kemarin gue bawa dia ke psikiater kata nyokapnya dia pernah trauma,"


"Evan memang gila, dia udah gak waras terlalu terobsesi sama Anin sampai nekat!"


"Terus gimana sekarang loe udah nangkap dia?"


"Dim, gue minta maaf waktu gue balik setelah nganter Anin dia kabur gak ada di rumahnya dan nomornya gak aktif."


"Brengsek kenapa dia bisa lari?" tanya Dimas.


"Gue minta maaf, gue kenal Evan dari jogja dia bilang sahabat Anin makanya gue deket sama dia sampai akhirnya gue cerita semuanya dan tentang kita yang berantem dia ngebela gue tapi gue gak tahu kalau dia bakalan nekat ngancurin perusahaan lo,"


"Bukannya lo ikut kerjasama?" tanya Dimas.


"Enggak, gue waktu itu datang ke perusahaan loe dia bilang ada data yang harus gue ambil dari karyawan loe, makanya gue kesana dia bilang perusahaan kalian kerjasama sampai akhirnya gue denger kabar perusahaan loe bangkrut." ucap Gilang.


Dimas nampak berpikir sejenak ia sudah tahu Gilang tak mungkin sampai senekat ini pada Dimas meskipun mereka sempat bertengkar sebelumnya.


"Dan nyokap gue bilang yang nabrak dia itu Evan dan sempet lihat wajah Evan di mobil."


"Kenapa dia nabrak nyokap loe?" tanya Dimas.


"Dia marah karena gue tahu tujuan dia buat dapetin Anin dan gue mutusin buat gak ikut lagi sama dia dan dia murka nyokap gue yang jadi sasaran, dan waktu gue mau ngehajar dia ternyata Anin ada di sana," ucap Gilang.


Dimas terdiam sejenak kemudian tiba-tiba ia teringat dengan Anin yang ia tinggal di rumah dan mungkin saja Evan bisa mencari Anin sewaktu-waktu karena sudah pasti tujuan Evan ke sini karena terobsesi dengan Anin.


"Dia bisa nekat buat dapetin Anin," ucap Gilang.


Dimas bangkit dari duduknya dan mengambil kunci motornya perasaannya tak enak karena meninggalkan Anin di rumah, dan Evan masih berkeliaran diluar.


Gilang berpikiran sama mengikuti Dimas, sampai dir umah pintu rumah Dimas sudah terbuka membuat Dimas makin takut ia masuk ke dalam dan mencari Anin sambil berteriak namun tak ada jawaban.


"Mas," ucap Anin terdengar lirih.


Dimas membulatkan matanya saat melihat Evan yang sudah membuka bajunya hendak menindih Anin yang bajunya sudah sobek dengan emosi tinggi Dimas menarik Evan dan menghajarnya tak lama Gilang datang dan membantu Dimas dan menelepon polisi.


"Dim loe lihat Anin dulu " ucap Gilang


"Anin."

__ADS_1


Dimas memeluk Anin yang menangis namun ia tersadar tangan Anin lebam sepertinya terkena pukulan Evan.


Tak lama polisi datang dan menangkap Evan, keluarga Dimas datang ke rumah dan membawa Anin kerumah sakit karena pingsan.


__ADS_2