Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 35


__ADS_3

Segala yang terjadi di kehidupan kita adalah ketetapan Tuhan. Baik itu Jodoh, Rezeki dan Maut semua adalah takdir yang Tuhan beri pada kita.


Dimas menemani Anin yang masih tertidur di ranjang rumah sakit, dengan perasaan bersalah Dimas terus menggenggam tangan sang istri yang mungkin setelah bangun nanti ia akan kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya dan traumanya akan kembali.


"Mas, makan dulu biar teh Anin sama Dina," ucap Dina.


"Mas belum lapar."


"Jangan salahin diri sendiri, sekarang teh Anin butuh Mas." ucap Dina menepuk bahu sang kakak.


Dimas mengangguk kemudian menenggelamkan wajahnya di tangan Anin yang ia genggam sejak tadi. Tak lama Gilang datang bersama Friska membuat Dimas menoleh.


"Gimana keadaan Anin?" tanya Gilang khawatir.


"Dia masih tidur, tadi dokter kasih obat tidur,"


"Kenapa di kasih obat tidur? " Friska binggung.


"Traumanya kambuh waktu dia sadar dari pingsan dia ngamuk dan nyakitin diri sendiri makanya dokter kasih obat tidur." ucap Dimas lesu.


Friska dan Gilang saling bertatapan ada rasa kasihan pada Anin yang sudah mengalami kejadian seperti ini untuk ke tiga kalinya sudah pasti ia akan mengalami trauma berat dan Dimas sekarang merasa bersalah karena kejadian ini dia tidak ada di sisi Anin.


"Evan udah ditahan polisi, sekarang nunggu keluarganya juga katanya mau datang ke sini," ucap Gilang.


"Dim, aku juga udah nemuin Novan dia juga siap bersaksi buat kasus ini," ucap Friska.


"Makasih bantuannya." ucap Dimas.


"Gue benar-benar minta maaf, seandainya gue gak bodoh buat ke bujuk rayu omongan Evan mungkin ini gak akan terjadi."


"Yang sudah terjadi tidak bisa di ubah lagi," ucap Dimas.


Gilang mengangguk ia tahu Dimas sudah memaafkannya hanya saja ada perasaan tidak enak, Friska meletakkan parcel buah di meja dan pamit pada Dimas bersama Gilang karena Ibunya masih di rawat di rumah sakit.


Gilang berjalan beriringan dengan Friska yang tertunduk dengan perasaan sedih setelah melihat Anin dan Dimas, Gilang tahu Friska peduli dengan keduanya.


"Mau gue anter pulang?" tanya Gilang.


"Gak usah, kamu langsung ke rumah sakit aja," tolak Friska.


"Gapapa biar gue antar lagian sekarang Mamah pulang," ucap Gilang.


"Maaf ngerepotin," ucap Friska.


"Santai aja."


Friska menaiki motor Bermerk mahal Gilang, mereka berdua saling bercengkrama hingga sampai di rumah Friska.


Mereka melihat Leona yang sedang menangis di teras memeluk lutut, Gilang yang awalnya ingin pamit mengurungkan niatnya dan memilih menemui Leona.


"Kenapa sayang?" tanya Friska khawatir.


"Leona gak suka sama Mamah!" ucapnya sambil menangis.


"Ada apa sayang? Maaf Mamah pulang telat besok janji Mamah pulang cepet jangan nangis ya," ucapnya mengelus rambut Leona.


"Temen-temen Leona semuanya punya Papah tapi Leona gak punya!" ucapnya sambil menangis.


Friska terdiam sejenak rasa hatinya menjadi sakit saat Leona mengingat Ayahnya, memang sejak umurnya 3 tahun Friska dan suaminya sudah bercerai dan Leona belum bertemu dengan Ayahnya sejak itu


"tadi temen-temen di jemput sama Papahnya mereka jalan-jalan naik motor sama Mamahnya juga, Leona gak pernah kayak gitu," ucapnya kembali terisak.


Friska binggung ingin menjawab apa ia hanya memeluk Leona dan mengelus rambut anaknya itu, Gilang yang melihat siatusi seperti ini merasa kasihan terlebih dirinya sendiri juga korban dari perceraian orangtuanya saat SMP dulu dan dia mengerti bagaimana keadaan Leona.


"Leona mau ikut Om jalan-jalan?" tanya Gilang.


Leona mengangkat kepalanya kemudian menggeleng membuat Gilang bingung.


"Om mau beli es krim sama beli permen kapas?" ajak Gilang.


"Beneran?" tanya Leona.


"Iya, tapi Leona jangan nangis lagi ya," ucap Gilang menyerka air mata Leona.


Leona mengangguk, Gilang mengandeng tangannya kemudian menantap Friska yang kini menatap ke arahnya .


"Ayo kita pergi!" ajak Gilang.


"Tapi kamu mau jemput Mamah?" ucap Friska.


"Gampang ada Rendra yang nungguin juga di sana,"


"Aku ganti baju dulu kalau gitu," ucapnya.


Gilang mengangguk kemudian menggendong Leona duduk di motor dan menunggu Friska berganti baju karena ia masih menggunakan baju kantor.


"Leona jangan nangis lagi ya sekarang," ucap Gilang.


"Leona ingin punya Papah juga," ucapnya.

__ADS_1


"Sekarang panggil Papah sama Om ya,"


"Tapi Om bukan papah Leona!"


"Gapapa dong, kan Leona anak om juga jadi mulai sekarang panggil Papah aja jadi jangan nangis kan udah ada Papah." ucap Gilang.


"Iya Papah." ucap Leona tersenyum.


Friska yang baru selesai mengganti bajunya mendengar percakapan mereka, ia tersenyum melihat keakraban Gilang dengan Leona hanya saja ia merasa tak enak jika anaknya memanggil Gilang dengan sebutan Papah namun melihat wajah Leona yang tersenyum bahagia membuatnya membiarkannya.


Gilang mengajak Leona membeli ek krim di depan Mini market ia juga membeli beberapa makanan ringan, Leona terlihat senang sambil menikmati es krim rasa coklat itu.


"Lang maaf ngerepotin," ucap Friska.


"Santai aja." ucap Gilang.


"Papah kapan ajak Leona ke kebun binatang?" tanya Leona.


"Jangan panggil Papah!" ucap Friska


"Gapapa Fris, nanti kalau Leona gak nangis Papah aja jalan-jalan," ucap Gilang tersenyum


"Beneran ya." ucap Leona.


Gilang mengangguk sambil mengusap rambut Leona yang membuat ia tersenyum, Friska hanya bisa tersenyum melihat Leona yang nampak bahagia.


Mereka sampai di rumah dengan Leona yang tertidur dan membuat Gilang menggendongnya ke kamar.


"Gilang, makasih banyak udah mau luangin waktu nemenin Leona maaf ngerepotin,"


"Santai aja, gue juga ingin bilang makasih karena selama Mamah sakit loe sering ngejenguk," ucap Gilang.


"Sama-sama." ucap Friska tersenyum.


"Kalian tinggal berdua?" tanya Gilang.


"Sebenernya ada Mamah, cuman Mamah lagi ke Jakarta soalnya kakak baru lahiran jadi kita berdua di rumah cuman Leona sering main ke rumah tetangga kalau aku pulang baru aku samperin." jelas Friska.


"Gue boleh mampir kalau loe kerja?" tanya Gilang.


"Gak usah takut ngerepotin,"


"Gapapa lagian gue gak ada kegiatan ke bengkel juga malem," ucap Gilang.


"Terserah kamu tapi gak usah repot-repot Leona juga udah besar,"


"Gue juga kesepian jadi gak ada salahnya mampir." ucap Gilang kemudian memakai helmnya.


"Iya hati-hati." ucap Friska.


*-*-*-*-*


Anin terbangun dari tidurnya, kepalanya sedikit pusing ia menatap langit-langit ruangan yang tampak asing bagi Anin ia menatap ke arah samping dan menemui Dimas yang sedang tertidur memeluk tangannya.


Anin terdiam sejenak kemudian mengingat kejadian apa yang ia alami hingga sampai di rumah sakit dan ia mengingat saat Evan masuk ke dalam rumahnya dan hampir memperkosanya, ia juga mengingat saat Evan memukuli tangannya karena memberontak bahkan mencekik lehernya karena berteriak.


"arrggghhhhhh!!!" teriak Anin menjambak rambutnya.


Dimas terbangun kemudian melihat Anin yang kini menarik rambutnya histeris ia pun menenangkan Anin yang memberontak padahal tangannya sudah lebam namun ia terus melawan.


"Anin ini Mas sadar sayang," ucap Dimas.


"Lepasin lepas jangan sentuh!!"


"Sayang tolong tenangin diri kamu ini Mas," ucap Dimas mengelus rambut Anin.


Anin memberontak hingga akhirnya terdiam sambil menangis karena Dimas berhasil memeluknya dan menenangkannya.


"Maafin Mas sayang," ucap Dimas menenangkan Anin.


Namun Anin tetap menangis tak berhenti membuat Dimas semakin bersalah dengan kondisi Anin sekarang, ia tahu Anin pasti trauma besar setelahnya.


"Evan, dia narik baju Anin dia mukul Anin dia cekik Anin," ucapnya di sela-sela tangisannya.


"Dia sudah ditangkap!" ucap Dimas


"Dia hampir buka baju Anin," ucapnya.


Dimas memeluk erat Anin kemudian mengelus kepalanya tak peduli kini posisinya duduk di ranjang Anin yang sempit ia hanya ingin menenangkan istrinya.


"Anin takut," ucapnya.


"Semuanya gak akan terjadi lagi."


Anin menggeleng ia benar-benar takut bayangan saat Evan mencekik dan memukul tangannya masih berbayang olehnya bahkan saat Evan berhasil merobek baju Anin rasanya ia sudah ternodai.


"Lihat Mas, gak ada orang yang menyentuh kamu selain Mas, Evan tidak menyentuh kamu Anin percaya sama Mas,"


"Dia udah nyentuh Anin dia cium Anin!"

__ADS_1


Dengan perlahan Dimas mendekatkan bibirnya pada Anin dan menciumnya dengan lembut tubuh Anin masih bergetar hebat karena traumanya namun beberapa detik kemudian tubuhnya memeluk Dimas.


"Gak ada yang berani cium kamu selain Mas, bibir kamu hanya untuk Mas," ucap Dimas.


Anin menatap Dimas yang menatapnya lekat, ia tersenyum pada Dimas namun bayangan yang ia lihat di depannya beberapa menit kemudian adalah Evan, ia teringat saat Evan mencoba menciumnya dengan cepat meskipun gagal dan Anin mendorong Dimas dengan keras dan kembali menangis, ia juga mencabut infusannya dan turun dari ranjang mengambil pisau buah di meja.


"Anin sadar ini Mas, tolong jangan kayak gini." ucap Dimas.


"Enggak Anin udah ternodai dia pasti datang buat ngancurin hidup Anin, kalau Anin tetep hidup dia bakal terus ngejar Anin!"


Tak lama pintu ruangan terbuka, Mamah dan Papah Anin yang datang dengan tongkat di tangannya menatap terkejut melihat Anin yang kini memegang pisau dan menangis, Dimas sedikit menjauh karena takut Anin nekat.


"Anin ini Mamah sama Papah," ucap Mamah Anin.


"Ngapain kalian di sini?" ucap Anin.


"Anin sadar ini Mas taruh pisaunya ya," ucap Dimas.


"Enggak, kalau Anin masih hidup orang-orang bakal nyelakain Anin mereka mau ngancurin hidup Anin!" ucapnya.


"Anin ada Mamah sama Papah kita janji akan melindungi kamu,"


"Ngelindungin? kalian gak pernah ada dari dulu kalian gak pernah sayang sama Anin kalian juga ngancurin hidup Anin dari dulu kalian inginkan hanya kekuasaan dan uang!!" teriak Anin kesal.


"Anin maafkan Papah tolong kita bicarakan baik-baik ya," ucap Papah menahan tongkatnya.


"Bicara apa? Dari dulu kalian gak peduli sama Anin dan teh Kirana kalian juga gak peduli waktu Anin di Jogja gak pernah tanya apa Anin baik-baik aja, sehat atau sakit kalian gak pernah tanya," ucap Anin berteriak.


Dimas mencoba berjalan mendekati Anin mengambil aba-aba bersama Mamah yang menginterupsi, Papah mencoba mengajak Anin berbicara agar fokusnya hilang.


"Papah sama Mamah minta maaf kita sadar kalau salah sudah membuat kamu menderita."


"Kalian jahat, Anin sendirian gak ada siapa-siapa kalian juga pergi ke Bogor dan gak bilang apa-apa sama Anin kalian pikir Anin baik-baik aja, Anin berjuang sendirian!"


"Mamah minta maaf Anin kita bicara baik-baik ya."


"Enggak ada yang harus di bicarakan, setelah teh Kirana meninggal Anin gak punya siapa-siapa, Anin hampir di perkosa gak pernah punya teman yang tulus dan kalian juga ninggalin Anin!" ucap Anin frustasi.


Dimas bertambah khawatir melihat istrinya yang kini benar-benar frustasi, sejak awal mengenal Anin ia tak pernah mengeluh dalam hal apapun, tak pernah menangis dengan kehidupannya dan tak pernah kesal dan berteriak seperti ini dan ini kali pertama ia melihat Anin begitu tersiksa selama ini Anin menutupi semuanya seorang diri.


"Anin kamu harus ingat kita semua ada untuk kamu, tolong jangan nekat nak kasihan Afifa dia butuh kamu Kirana sudah menitipkannya sama kamu," ucap Mamah.


Anin terdiam sejenak ia mengingat Afifa anak Kirana yang kini menjadi anaknya, ia pun menatap ke arah Dimas yang kini berdiri tak jauh darinya menatapnya dengan cemas.


"Mas masih butuh kamu dan Afifa juga,dia butuh Ibu seperti kamu Anin tolong jangan nekat." ucap Dimas.


Anin merasakan tubuhnya lemas ia tersadar tangannya kini memegang pisau yang baru ia dapat dari meja ia pun menjatuhkan pisaunya dan terduduk menangis terisak, Dimas yang melihat Anin sudah tersadar langsung memeluk Anin erat dan menjauhkan pisaunya sedangkan Mamah Anin langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Maafin Anin," ucapnya terisak di dada Dimas.


Dimas tak berbicara apapun, ia merasakan tubuh istrinya yang bergetar hebat juga isak tangis yang begitu menyiksa ia terus mengelus rambut istrinya itu untuk menenangkannya, ia tahu emosi istrinya akhir-akhir ini memang tak terkendali ditambah dengan kejadian yang menimpanya.


Dokter datang keruangan segera dan memeriksa Anin yang sudah dibaringkan di ranjang, ia sudah pingsan sebelum dokter sampai ke ruangan.


Dimas mengajak mertuanya berbincang di luar setelah memastikan benda tajam tidak ada di ruangan Anin karena dokter menyuruh mereka mengawasi barang-barang tajam karena bisa saja sewaktu-waktu saat traumanya kembali Anin akan kembali nekat.


"Gimana kabar Mamah sama Papah?" tanya Dimas.


"Mamah baik, Papah untuk sementara waktu harus pakai tongkat karena cedera tulang sangat parah," ucap Mamah.


"Mungkin ini ngajaran dari Tuhan untuk Papah karena selama ini menghiraukan dan menelantarkan Anin," ucap Papah.


"Anin tadi hanya terbawa emosi," ujar Dimas.


"Kami sadar Dimas, semua yang dia bilang benar selama ini Mamah sama Papah udah lupain dia, selama ini gak pernah peduli sama dia dan mungkin hari ini kami bisa tahu isi hatinya." ucap Mamah menyesal.


"Dimas, selama ini Papah pikir keluarga itu hanya butuh uang dan bisa bahagia Papah berjuang untuk mencari jabatan agar Anin dan Kirana bisa bangga tapi kami lupa bahagia tidak butuh itu semua dan Papah malah dengan sombongnya peduli dengan jabatan ketimbang keluarga." ucap Papah.


"Sebenarnya setelah Kirana meninggal kami merasakan penyesalan karena selama ini kami pikir sudah bisa membuat mereka bahagia, setelah Kirana meninggal kami juga menyuruh Anin menikah dengan kamu tanpa bertanya bagaimana dengan dia kami memaksakan kehendaknya." ucap Mamah.


Dimas terdiam memberi waktu untuk mertuanya itu meluapkan semua isi hatinya.


"Selama ini Anin hanya bersama Kirana kami sibuk bekerja setiap hari, Anin memang mandiri ia tidak banyak menuntut hubungan kami bermasalah waktu dia memutuskan kuliah di Jogja,"


"Ternyata selama ini dia tidak punya teman mereka memanfaatkan kencantikan Anin, dia pindah ke Jogja untuk menghilangkan traumanya tapi kami malah tidak mempedulikannya." ucap Mamah.


Dimas sebenarnya merasakan sesak di dada terutama merasakan sakit hati pada sifat dan sikap orangtua Anin yang kini baru menyesal setelah sekian lama bahkan setelah Kirana meninggal.


"Bisa bicara dengan keluarga Pasien?" tanya Dokter yang baru keluar ruangan.


"Ada apa Dok?" tanya Dimas khawatir.


"Ibu Anin sedang hamil dan mungkin sekarang emosinya tidak stabil, untuk beberapa hari ke depan jangan membuatnya banyak pikiran dan untuk traumanya lebih baik untuk tidak membahas masalah yang membuat emosi kembali." terang dokter.


"Hamil dok?" tanya Dimas tak percaya.


"Benar, kandungnya masih lemah jadi saya ingatkan jangan membuatnya banyak pikiran karena akan mempengaruhi kehamilannya,"


"Baik dokter terimakasih," ucap Dimas.

__ADS_1


Setelah dokter pergi Dimas terduduk bersama orangtua Anin yang mengucap syukur karena akan kembali menimang cucu, Dimas binggung antara senang atau sedih ia bahagia Anin hamil dan tak lama lagi ia akan memiliki anak kembali.


Namun ia marah karena Evan hampir saja membuat mereka kehilangan anak, Dimas mengepalkan tangannya ia tak akan biarkan Evan bebas karena sudah membuat Anin trauma dan hampir mencelakakan anak di kandungan Anin.


__ADS_2