
"Ibu ingin bicara?" Ucap Ambar saat masuk ke dalam ruang kerja Johan tanpa permisi. Toh yang dia temui adalah putranya sendiri.
Johan yang sejak tadi serius dengan pekerjaannya mendongak menatap wajah yang membuatnya tak bisa marah. Karena kehilangan istrinya enam bulan lalu adalah karena kesalahan ibunya secara tidak langsung.
"Aku sedang sibuk bu." Jawab Johan datar dan dingin. Dia masih sibuk mengerjakan pekerjaannya tanpa menghiraukan ibunya. Diusir pun percuma yang membuatnya lebih memilih mengacuhkan ibunya.
"Ibu ingin kamu menikah dengan Celine." Johan tidak terkejut sudah lebih dari satu kali ibunya itu mengungkapkan kata yang sama namun untuk kesekian kalinya dia tetap tidak menggubrisnya lagi. Dia masih melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau kau diam berarti iya kan?" Ucap Ambar lagi karena tak mendapatkan jawaban dari putranya.
"Huff... ibu .. jangan membuat aku menjadi semakin durhaka pada ibu. Kumohon! Aku akan menganggap tak ada percakapan apapun diantara kita hari ini." Jawab Johan tegas, dingin dan datar. Tak ada senyum sedikitpun terukir di bibirnya.
"Ine butuh akta kelahiran. Dan dia harus segera mendaftar di sekolah dasar. Apa kau tak kasihan padanya?" Bujuk Ambar dengan membawa nama keponakannya. Johan masih diam enggan menjawabnya.
"Apa kau tak kasihan jika anak itu tidak memiliki seorang ayah? Apa yang akan terjadi padanya nanti saat bersekolah dia diejek oleh teman-temannya tentang dia tak punya ayah?" Bujuk Ambar masih belum menyerah. Johan masih kukuh terdiam, Ambar lama-lama menjadi berang.
"Setidaknya hanya untuk status putrinya. Pikirkanlah sekali lagi!" Seru Ambar kesal karena didiamkan putranya.
"Ibu." Ambar terdiam mendengar suara putranya.
Sebenarnya dia sedikit takut dengan Johan karena sejak kecil dia tidak terlalu memperhatikan putra bungsunya itu. Dia lebih menyayangi putra sulungnya almarhum Keanu ketimbang Johan. Johan lebih diasuh pengasuh daripada dirinya karena saat melahirkan Johan, Ambar sibuk dengan teman-teman sosialitanya ketimbang putranya.
Berbeda saat kelahiran Keanu, Ambar sedang bahagia-bahagianya memiliki anak dan ingin merawat sendiri serta mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada putra sulungnya itu. Meski begitu Johan tetap menyayanginya meski sering tidak menurut jika dia menyuruhnya melakukan hal yang tidak dia suka. Seperti saat putra bungsunya itu memilih melanjutkan ke luar negeri karena beasiswa, sebenarnya Ambar ingin melanjutkan jejak ayahnya sebagai seorang tentara nasional.
__ADS_1
Namun Johan menolak mentah-mentah karena ingin menjadi seorang dokter yang menolong orang sakit yang tidak mampu. Meski sekarang berubah haluan mengurus perusahaan sang almarhum kakaknya.
"Ya?" Tanya Ambar berusaha untuk tenang.
"Dia putra kakak, bukan putraku. Bukan aku yang seharusnya bertanggung jawab pada putrinya." Jawab Johan tenang namun terdengar intimidasi.
"Tapi kan..."
"Aku belum bercerai dengan istriku ibu. Dan aku tidak berencana untuk menceraikannya apalagi menikah lagi. Karina istriku satu-satunya selamanya." Tukas Johan menatap ibunya dingin tak berekspresi.
Setelah enam bulan kepergian istrinya tanpa kabar. Membuat Johan menjadi pria yang datar dan dingin tak tersentuh. Dulu yang dirinya selalu tersenyum dan ramah pada siapapun kini tidak ada. Setelah Edo menyadarkannya sebulan setelah kepergian istrinya membuat Johan kembali bangkit meski tetap tidak menyerah untuk mencari keberadaan istrinya.
Johan memilih untuk menghabiskan waktunya mengurus semua pekerjaan sebagai bukti baktinya sebagai seorang suami pada istrinya yang dicintainya. Bagaimana pun juga perusahaan itu bisa dikatakan milik istrinya yang harus dijaga dengan baik. Dia berharap suatu hari nanti istrinya akan kembali pulang dan mengatakan apa kabar padanya dan aku masih tetap mencintaimu. Johan akan dengan senang hati menyambut kedatangan istrinya itu. Dia yakin istrinya masih hidup di suatu tempat. Dan semoga dalam keadaan baik-baik saja.
"Dia sudah pergi meninggalkanmu, itu artinya dia sudah mencampakkanmu. Dan dia sudah tidak mencintaimu lagi. Apa kau akan dengan bodohnya tetap menunggunya?" Seru Ambar semakin kesal saat mengungkit menantu yang tidak disukainya itu.
"Kau mau durhaka pada ibu!" Teriak Ambar mulai kehilangan kesabaran.
"Itu yang kuinginkan ibu, tapi... istriku selalu mengingatkan kalau ibu adalah ibuku. Apapun yang terjadi jangan sampai aku berani pada ibu meski ibu tidak pernah menyukaiku. Karena kata-kata istriku itu yang selalu terngiang-ngiang di telingaku sampai saat ini Bu. Istriku berharap dengan kesabarannya berada di sisiku saat itu ibu bisa menerima istriku suatu saat nanti. Bukan karena hal lain tapi karena memang dia istriku. Karina ibu." Ucap Johan tanpa sadar air matanya menetes membuat Johan segera berdiri dari duduknya menghadap ke belakang yang terdapat jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota yang cerah hari itu.
Ambar terdiam, dia tak membantah. Memang selama Karina menjadi menantunya dia tak pernah menunjukkan protes apapun padanya meski perlakuannya padanya sangat buruk. Dia selalu terdiam dan tidak pernah membantah setiap ucapan buruk yang dilontarkannya padanya. Hingga akhirnya Ambar memilih pergi meninggalkan ruang kerja Johan tanpa pamit.
Cklek
__ADS_1
Brak
Suara pintu ditutup dari luar ruangannya. Johan sontak menghapus air matanya yang semakin menetes deras di pipinya.
"Dimana kamu sayang, aku masih menunggumu di tempat yang sama. Kumohon, pulanglah! Aku merindukanmu. Sangat." Guman Johan dalam kesunyian ruang kerjanya. Dia pun meraih pigura foto di mejanya yang berisi fotonya dan foto istrinya saat mereka menikah.
.
.
"Ibu." Sapa Celine melihat Ambar keluar dari ruang kerja tuannya.
"Ah, Celine. Maaf, aku belum berhasil membujuknya. Lain kali aku akan membujuknya lagi. Kau yang sabar ya, cucuku pasti akan mempunyai ayah." Ucap Ambar sebelum pergi dari kantor putranya.
"Iya Bu." Jawab Celine dengan sopan dan ramah.
"Ibu mau pulang, sebentar lagi Ine akan pulang. Ibu akan menjemputnya." Pamit Ambar tersenyum tipis.
"Maaf merepotkan ibu." Ambar hanya tersenyum getir dan pergi meninggalkan kantor.
Celine hanya terdiam menatap punggung wanita yang pernah mengusirnya untuk menjauh dari putranya itu. Bahkan Celine tak lupa bagaimana penghinaan yang diberikan wanita itu padanya dulu membuat Celine mengepalkan tangannya erat. Senyum seringai tipis terukir di bibir Celine yang berlipstik merah menyala itu.
.
__ADS_1
.
TBC