
Sebulan setelah kepergian Karina, Johan masih terdiam di tempat tidurnya menatap kosong ke depan. Infus juga tertancap di pergelangan tangan kanannya setelah di pergelangan tangan kirinya tidak ada tempat lagi untuk menancapkan jarum infus itu. Berkali-kali Johan berontak dan mencabut selang infusnya karena begitu tersadar saat tak ada yang menungguinya di sisinya dia pasti akan langsung mencabut selang itu dan bergerak keluar rumah untuk mencari keberadaan istrinya.
Tubuh lemas dan tirusnya dipaksakan untuk melangkah entah menuju ke mana yang jelas Johan tetap belum menyerah untuk mencari keberadaan istrinya dan mengajaknya pulang. Dia yakin istrinya masih hidup di luar sana entah dengan siapa. Istrinya orang baik, bahkan sangat baik, dia yakin semua orang pasti akan menolong istrinya yang baik bak malaikat itu.
Namun bodohnya dia telah membiarkan istrinya yang baik bak malaikat itu pergi meninggalkan dirinya karena ucapan dan perlakuan buruk ibunya. Johan sungguh menyesali hal itu. Pernah terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun ucapan, nasihat bak seorang ustadzah itu mampu mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya itu.
Rayuan, bujukan dan nasihat dari Edo dan Riko sama sekali tidak masuk dalam jiwanya yang entah pergi kemana. Johan seperti mayat hidup saja, raganya disini jiwanya ikut pergi bersama istrinya. Padahal istrinya belum tentu masih hidup mengingat penyakit yang diderita istrinya bisa saja mengambil nyawanya.
Namun Johan bersikeras dan yakin kalau istrinya masih hidup dan menunggunya untuk dijemput olehnya. Istrinya sedang main petak umpet dengannya dan menginginkan dirinya sebagai seorang suami yang mencintainya agar menemukannya sekaligus memberikan ujian pada suaminya itu seberapa besar perasaannya pada sang istri. Itulah yang selalu ditanamkan dalam benaknya untuk menjadi penyemangat dirinya hidup dan pantang menyerah untuk mencari istrinya.
Selain Edo dan Riko tak ada yang lainnya untuk menghibur dan membantunya. Bahkan ibu kandungnya sendiri tak pernah mengunjunginya berharap untuk menghibur dan menemani putranya untuk berjuang hidup meski tanpa istrinya.
Pernah sekali Ambar datang melihat keadaannya namun bukan membantu malah memaksa Johan untuk menikah saja dengan ibu cucunya yaitu Celine. Bukannya malah membantu Ambar semakin memperburuk keadaan. Johan sama sekali tidak menggubrisnya. Dia ingin marah, dia ingin berteriak, dia ingin memaki ibunya itu yang sama sekali tak berempati padanya dengan kesedihannya yang ditinggalkan istrinya. Apalagi penyebab istrinya pergi adalah ibunya sendiri, kata-kata tajam yang menusuk hati nuraninya juga istrinya hingga membuat istrinya menyerah untuk berada di sisinya.
"Kenapa kau tidak menikah saja dengan Celine? Toh, istrimu sudah kabur meninggalkanmu." Ucap Ambar kala itu. Edo dan Riko yang juga mendengar ucapan sang nyonya besar dari luar pintu kamar merasa geram dan mengepalkan tangannya erat ingin sekali memukul itu.
"Pergilah Bu!" Jawab Johan lirih, seolah tenaganya sudah hilang entah kemana. Tubuhnya yang semakin kurus karena tak bisa makan apapun membuat tenaganya hilang bahkan untuk bicara saja terdengar seperti bisikan.
"Kau akan rugi, hanya menyiksa dirimu sendiri sedangkan istrimu kabur entah dengan siapa. Siapa yang tahu kalau ternyata istrimu kabur dengan seorang pria lain." Seru Ambar memanas-manasi Johan.
Johan hanya terdiam tak menjawab lagi, dia masih tetap berbaring di ranjangnya. Dipejamkannnya matanya yang terasa lelah. Dia tak pernah berpikir sejauh itu tentang istrinya, dia percaya istrinya adalah wanita setia yang hanya mencintainya. Dia yakin ucapan ibunya itu tidak benar.
"Terserah kalau kau mau merusak dirimu sendiri." Ambar pun menyerah dan pergi meninggalkan putranya yang masih tidak memberikan jawaban padanya. Lain kali dia akan membujuk putranya itu untuk menjadi ayah dari cucunya.
Cklek
Blam
Edo dan Riko sontak menoleh ke arah pintu melihat nyonya besar keluar dari dalam kamar dengan wajah kesal. Ambar menatap keduanya bergantian masih menunjukkan wajah juteknya dan kesalnya itu. Hingga kemudian pergi dari sana tanpa mengatakan apapun pada keduanya.
"Mulut nyonya memang tajam." Ucap Riko yang dijawab anggukan kepala oleh Edo. Hingga keduanya pun bergegas masuk ke dalam kamar Johan melihat keadaannya setelah kedatangan ibunya.
Cklek
"Tuan, anda baik-baik saja." Johan diam, masih memejamkan mata meski dia tidak benar-benar tidur. Hanya memejamkan mata. Bola matanya hanya bergerak saat mendengar suara Edo, asisten kepercayaannya yang selalu setia menemaninya hingga saat ini. Begitu juga Riko, meski Riko jarang bicara, Johan tahu, Riko orang kepercayaannya juga yang selalu setia menemani dan mengunjunginya meski juga sibuk membantu Edo dari balik layar.
"Biarkan bos istirahat!" Ucap Riko menyela ucapan Edo yang menoleh menatapnya. Edo tampak menghela nafas berat.
"Aku butuh tanda tangannya untuk melanjutkan proyek kerjasama ini yang sempat tertunda beberapa minggu, klien itu memberi waktu untuk terakhir kalinya hari ini." Keluh Edo membuat keduanya sontak menoleh ke arah Johan yang tiba-tiba membuka matanya cepat.
"Tuan."
"Bos."
Keduanya sama-sama mendekati ranjang mencari tahu apa yang terjadi pada Johan. Mereka berharap keajaiban segera didapatkan oleh tuan atau bos mereka.
"Tuan, baik-baik saja?" Tanya Edo, keduanya masih menatap Johan yang masih diam menerawang ke arah langit-langit kamarnya.
"Bos." Ganti Riko yang bicara.
"Istriku... istriku memanggilku." Guman Johan yang masih didengar keduanya membuat keduanya saling pandang berharap dalam benak mereka tidak terjadi. Ya, Edo dan Riko berpikir semoga tuan atau bosnya tidak gila beneran.
"Bantu aku Edo!" Titah Johan membuat keduanya langsung kompak melaksanakan titah Johan. Meski yang dipanggil hanya Edo karena dia berdiri paling dekat dengannya. Riko yang terlalu setia ikut meresponnya meski bukan dia yang disebut.
"Tuan, baik-baik saja?" Tanya Edo sekali lagi menatap Johan lekat.
"Berikan!" Johan meraih map yang ditaruh di nakas meja di samping ranjangnya. Edo sontak menyerahkannya.
__ADS_1
"Dimana aku harus tanda tangan?" Tanya Johan.
"Disini tuan." Edo menunjukkan tempatnya sambil menyodorkan pena.
"Kau sudah mengecek semuanya?" Tanya Johan masih terdengar lemah tak bertenaga.
"Sudah saya pastikan kalau tak ada masalah yang terjadi." Jawab Edo tegas. Johan hanya mengangguk mengiyakan mempercayai ucapan Edo sembari membubuhkan tanda tangan di tempat yang ditunjuk Edo.
"Ada lagi?" Tanya Johan menatap Edo dengan pandangan mata sayu.
Edo pun menyampaikan penjelasan tentang proyek tersebut juga jadwal meeting yang harus dihadiri setelah ini. Johan hanya mengangguk mengiyakan.
"Kembalilah ke kantor sekarang! Aku mau bicara dengan Riko." Titah Johan.
"Baik tuan. Saya permisi." Johan mengangguk.
"Bos." Riko mendekati ranjang setelah Edo meninggalkan kamar Johan.
"Riko."
"Ya bos." Bukannya senang entah kenapa Riko merasa merinding dipanggil Johan seperti itu.
"Serahkan wanita itu pada polisi, berikan bukti-bukti yang kita miliki! Biarkan polisi yang mengurusnya!.... Biarkan pengadilan yang menjatuhkan hukuman yang setimpal padanya!.... Aku berharap dia tidak lolos dari jeratan hukum." Ucap Johan panjang lebar, ini kalimat panjang pertama yang diucapkan Johan setelah kepergian istrinya. Meski sempat terjeda karena tubuh lemah Johan membuatnya ngos ngosan hanya berbicara seperti itu saja. Riko yang masih mencerna ucapan Johan masih terdiam.
"Riko." Seru Johan menatap tajam Riko yang malah terlihat melamun itu.
"I-iya bos."
"Kau dengar apa kataku?" Tanya Johan mengernyit menatap Riko.
"... bos yakin? Bukannya bos ingin memberi pelajaran sendiri padanya?" Tanya Riko memastikan pendengarannya tidak salah.
"Baik bos, jika itu keinginan bos." Jawab Riko akhirnya.
"Aku... bermimpi... istriku mengatakan... aku akan kembali..." Ucap Johan tanpa sadar air matanya mengalir.
"Bos..."
"Aku akan menunggunya Riko..., sampai istriku kembali..., sampai istriku datang..." Ucap Johan lagi sambil mengusap air matanya.
"Semangat bos..."
"Terima kasih Riko." Jawab Johan sambil tersenyum bahagia, senyum pertama setelah kepergian istrinya.
.
.
TBC
Epilog
"Mas, sudah pagi. Mas kan harus kerja." Ucap Karina pagi itu menepuk pipi suaminya lembut. Suara yang mengalun lembut dan merdu membuat Johan terlena masih setia memejamkan mata.
"Hmm." Johan hanya bergumam.
"Mas, ayo bangun!" Ucap Karina lagi dengan lembut, duduk di tepi ranjang tempat suaminya berbaring.
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang." Guman Johan.
"Sudah jam tujuh mas, kemarin mas bilang ada meeting pagi." Johan sontak membuka mata menatap wajah istrinya yang ada di hadapannya sudah terlihat cantik di pagi hari saat dia membuka matanya.
Grep
Johan sontak mendekap tubuh istrinya erat. Air matanya tiba-tiba menetes.
"Mas, kenapa? Mas, menangis?" Tanya Karina masih dalam dekapan tiba-tiba dari suaminya. Terdengar isakan kecil dari suaminya.
"Enggak sayang, aku enggak papa, aku hanya teringat mimpiku. Kamu... meninggalkanku." Bisik Johan lemah masih mendekap tubuh istrinya sambil menyerukkan wajahnya di cerukan leher istrinya yang tidak terbalut hijab itu.
"Mimpi itu hanya bunga tidur. Meski hal itu benar-benar terjadi, yakinlah. Jodoh, mati, rejeki semua sudah ketetapan Allah." Ucap Karina dengan nada lemah lembut.
"Tapi aku tak mau kamu tinggalkan. Jika harus meninggal, biarkan aku meninggal lebih dulu." Ucap Johan lemah.
"Mas, jangan bicara seperti itu! Ucapan adalah doa. Harus hati-hati kalau bicara. Jika..." Karina merenggangkan dekapan suaminya menatap wajah suaminya yang terlihat sendu, terlihat air mata di sudut matanya membuat Karina tersenyum manis membuat senyum itu menular padanya ikut tersenyum.
"Jika suatu saat ada hari yang membuat kita berpisah. Ingatlah!"
"Aku tak mau kita berpisah sayang, apapun yang terjadi jangan pergi dariku. Kumohon sayang, aku tak tahu bagaimana hidupku tanpamu. Aku pasti mati, aku pasti hancur. Kamu ingin aku hancur? Kamu ingin aku mati?" Ucap Johan emosi meski tidak sampai meninggikan nada suaranya.
"Mas. Dengarkan dulu mas!"
"Jangan tinggalkan aku! Kamu harus janji dulu. Katakan sayang!" Ucap Johan menatap istrinya penuh harap.
"Aku tak bisa berjanji mas, maaf."
"Jadi, suatu saat kamu pasti akan pergi dariku. Kamu akan meninggalkanku? Kamu... apakah kamu mencintaiku?" Ucap Johan kembali emosi.
"Mas, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Lebih dari nyawaku. Tapi, jika itu takdir Allah, siapa yang bisa melawannya mas. Jika Allah sudah menentukan umur manusia. Kita tak bisa mengelaknya mas. Semua manusia pasti akan pergi dan meninggal suatu saat nanti. Jadi, jika suatu saat Allah memisahkan kita, percayalah Allah juga yang akan menyatukan kita kembali. Sekuat apapun kita menggenggam sesuatu jika tidak berjodoh, kita tak akan bertemu. Dan sejauh apapun kita. Yakinlah Allah akan menyatukan dan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kita." Johan terdiam, dia mencerna ucapan istrinya. Namun dia terus berharap, apapun yang terjadi mereka tidak akan berpisah. Meski dia harus menentang takdir Allah.
"Aku mandi dulu." Johan tak menjawab ucapan istrinya, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar mereka. Karina hanya menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
"Aku mencintaimu mas, jangan diamkan aku!" Karina memeluk tubuh suaminya yang sedang sibuk memakai pakaian kerjanya. Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Johan lebih banyak diam tak menggubris ucapan istrinya. Dia sedikit kesal dan marah pada istrinya.
"Maafkan aku mas, jika kata-kataku menyakitimu. Maaf." Ucap Karina lagi. Johan menghentikannya mengancingkan kemejanya.
"Aku bermimpi, kamu meninggalkanku." Ucap Johan akhirnya. Karina sontak menatap suaminya yang berbalik menghadapnya.
"Dan aku seperti mayat hidup dan hancur." Karina masih diam mendengar keluh kesah suaminya.
"Dan aku tak bisa menemukanmu dimanapun? Tak tahu kamu masih hidup atau meninggal. Itu sangat menyakitkan Karin, sangat." Ucap Johan kembali menumpahkan setetes air mata tanpa sadar.
"Aku akan kembali, jika suatu saat kita terpisah. Aku akan kembali. Aku akan mencarimu. Aku akan pulang padamu. Aku janji." Jawab Karina sambil mendekap tubuh suaminya.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku mencintaimu. Sangat."
.
.
Maaf, tidak bisa up lebih dari satu chapter, moodnya naik turun. Tapi janji aku bakal up setiap hari. Terima kasih masih tetap setia membaca.
__ADS_1
.