
"Tuan, sekarang sudah tanggal 15." ucap Huda, sekretaris Arick yang baru.
Saat ini Arick sedang berada di kantor, baru saja menandatangani berkas kerjasama. Ingat tanggal 15, ia lalu buru-buru bangkit dari kursi kebesarannya.
"Tuan, Anda mau kemana? klien kita ingin makan siang bersama lebih dulu." Huda mengingatkan dengan buru-buru.
Tapi Arick tak mengindahkan, ia langsung keluar begitu saja dari dalam ruangan.
Huda menghela napas, siap pasang badan untuk menghadapi sang klien sendirian, karena Denni sedang berada di lapangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan wajah yang cerah, Arick mengemudikan mobilnya membelah keramaian kota Jakarta.
Jika mata normal, maka akan melihat cuaca siang ini sedikit mendung. Tapi bagi Arick, hari ini begitu cerah dengan udara yang sangat segar.
Penantiannya akan segera berakhir.
Dengan sempurna, ia memarkirkan mobilnya di sebuah gedung besar bernuansa putih. Ia turun dan berjalan dengan tergesa, menemui seseorang yang sudah pasti menunggunya.
Setelah dipersilahkan masuk, Arick langsung membuka pintu itu dengan semangat 45.
"Pak Arick." sapa Diah yang ikut tersenyum gara-gara melihat senyum Arick.
"Kita langsung suntik saja ya Pak?" tanya Diah dan Arick mengangguk mantap.
Ya, hari ini adalah jadwalnya suntik KB, itu artinya 3 hari lagi masa nifas sang istri akan selesai.
"Sudah Pak."
"Terima kasih Bu." jawab Arick ramah, baru kali inilah ia ramah pada wanita lain selain sang istri dan juga keluarga.
__ADS_1
Hebat. Rekor baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah urusannya dengan Diah selesai, Arick memutuskan untuk langsung pulang. Ia juga memerintahkan Huda untuk datang ke rumahnya, mengantar beberapa berkas yang belum fixs.
Sampai di rumah, ia langsung buru-buru mencari sang istri yang ternyata sedang makan siang bersama Mardi dan Sofia.
"Assalamualaikum." salam Arick lalu mengambil posisi duduk disamping sang istri.
Semua orang heran, kok sudah pulang? pikir mereka semua kompak.
"Memangnya pertemuanmu sudah selesai? kenapa cepat sekali pulang?" tanya Mardi menyelidik.
Sementara Jihan, menyajikan makan siang untuk sang suami.
"Sudah Pa, sisa-sisanya aku minta Huda untuk datang kesini." jelas Arick dengan senyum lebar.
"Rick, masa nifas Jihan selesai tiga hari lagi. Bukan hari ini," ucap Sofia mengingatkan dengan tatapan tajam.
Arick terkekeh sementara Jihan menunduk malu. Sedangkan Mardi hanya geleng-geleng kepala.
"Aku tahu Bu, aku pulang cepat karena ingin menyelesaikan hadiah untuk istriku." jawab Arick santai, laku menerima piring dari sang istri dan malai menyantapnya lahap.
Bukan hanya sofia, Jihan pun sebenarnya menatap curiga pada sang suami.
Nanti, Jihan akan tanya.
Tak berapa lama setelah makan siang selesai, Huda datang dengan membawa beberapa berkas.
Didepan tadi ia diminta langsung masuk oleh Ujang. Tapi sampai didalam ia bingung sendiri harus kemana. Rumah ini begitu besar dengan banyak jalan menuju kemana-mana.
__ADS_1
Ponselnya tertinggal hingga tak bisa menghubungi sang Tuan, Arick.
Akhirnya, ia menggunakan instingnya sendiri untuk mencari sang Tuan. Perlahan, Huda mulai masuk lebih dalam ke dalam rumah.
Ia celingak celinguk mencari seseorang yang bisa ditanya.
Hingga matanya menangkap seorang wanita yang sedang menggendong bayi. Cantik, berjalan dengan riang menuju ke arahnya.
"Anda siapa?" tanya si gadis cantik.
Huda tak bergeming, masih terpesona.
Wajah cantik, yang makin terlihat cantik karena rambutnya diikat tinggi.
"Kalau mau nawarin asuransi yang sopan dong Mas, duduk saja di ruang tamu. Jangan asal masuk-masuk. Tidak sopan." ketus si gadis dengan tatapan tajamnya.
Bukannya takut, Huda malah makin tenggelam.
Siapa gadis ini? Batinnya.
💟
Author: Tanya dong Hudaa, biar tahu itu siapaa?
Huda: Siapa dong Thoor? kan kamu yang paling tahu.
Author: Bener mau tahu? Kiss dulu dong 😗😗
Huda: Off.
Author: Hudaaa!!! jangan kabuurrr 😑
__ADS_1