
Flashback on
"Ah, kurasa tebakanku benar." Suara Riko mengejutkan Rani yang baru saja masuk ke dalam tempat parkir bandara. Tubuh Rani langsung menegang, wajahnya pucat pasi. Padahal dia tadi sudah memastikan tidak ada yang mengejarnya. Namun pria yang dikenalinya itu adalah orang yang sama yang mengurungnya di penjara bawah tanah.
Padahal dia baru kabur dini hari tadi kenapa harus tertangkap lagi. Sungguh bodoh. Begitulah kira-kira isi pikiran Rani saat ini. Perlahan dia membalikkan tubuhnya menghadap Riko yang dengan tenangnya berdiri tak jauh dari tempat Rani berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Si-siapa kau?" Ucap Rani terbata-bata.
"Kau memang tak tahu siapa aku. Dengan baik hati aku akan memperkenalkan diri. Namaku Riko." Ucap Riko dengan senyum seringai terus terpatri di bibirnya membuat siapapun yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Begitu pun Rani, wajahnya yang sudah pucat pias semakin pucat saja. Dia berusaha tenang agar bisa menyusun strategi untuk kabur. Namun diotaknya mencari celah untuk lari. Namun hal itu dapat diketahui Riko. Riko yang notabene adalah preman gengster dulunya sudah bisa menebak isi pikiran wanita di hadapannya ini.
"Kali ini jangan harap kau bisa kabur." Ucapan Riko membuat tubuh Rani yang semula sudah menegang kini semakin tegang dan kaku. Karena tiba-tiba ada beberapa orang pria berpakaian jas rapi dengan tubuh besar dan kekar.
"A-aku tak tahu siapa kau, kenapa kau ingin menangkapku?" Ucap Rani terbata-bata keringat dingin mengalir deras di wajahnya karena ketakutan.
"Ah, seseorang memberikan perintah dan aku wajib mematuhinya, apalagi untuk penjahat sepertimu." Ucap Riko dengan seringaian yang semakin jelas membuat Rani kembali merinding ketakutan.
"A-aku tak tahu... a-apa kejahatan yang kau maksud?" Jawab Rani mengelak tuduhan Riko.
"Yeah, kalau tak mau mengaku biar kuingatkan lagi. Penculikan, pelecehan, rencana pembunuhan...ah, apalagi ya..." Riko mulai mendekati Rani yang semakin ketakutan dan mundur perlahan.
"Ja-jadi kau... suruhan Johan?" Ucap Rani tergagap tak mampu mengelak lagi.
"Kau yang mengaku sendiri bukan?" Ucap Riko lagi masih terus maju perlahan mendekati Rani yang mulai mentok ke dinding bandara yang sedang sepi itu. Sedikit orang yang berlalu lalang di sudut itu karena Rani tadi mencoba berjalan secara sembunyi-sembunyi namun tetap bisa ditemukan oleh Riko.
"Jangan buat aku kehilangan kesabaran. Kalau banyak orang yang tahu, tentu saja kau akan lebih lama mendekam di penjara di kepolisian. Dan kau pasti tahu bagaimana disana bukan?" Ucap Riko dengan santainya berbisik di dekat telinga Rani membuat tubuh Rani semakin merinding.
Buk
Pukulan melayang di wajah Riko yang langsung bisa dibaca olehnya dan mencekal tangan itu.
"Brengsek." Umpat Rani menggeram.
Bruk
Pukulan Riko di tengkuk Rani membuat seketika tubuh Rani lemas dan pingsan. Riko memberi kode pada beberapa orang-orangnya untuk membawa Rani ke mobil mereka.
.
__ADS_1
.
"Kapan bos akan mengurus mereka?" Tanya salah seorang yang menjaga Rani. Riko sedang tidak ada di tempatnya. Dia kembali mengunjungi si bos melihat keadaannya. Setelah melakukan rencana penangkapan kembali pada Rani, Riko memilih untuk melakukan rencananya sendiri tanpa bos mereka. Karena dia tahu bosnya sedang tidak baik-baik saja.
"Entahlah, Riko sedang ke tempat bos."
"Aku sudah bosan dengan mereka. Kenapa tidak segera dieksekusi saja."
"Aku maunya juga begitu. Tapi kita tidak bisa melakukannya tanpa ada perintah dari si bos kan."
"Kau benar."
.
.
"Bagaimana keadaannya hari ini?" Tanya Riko saat melihat wajah Edo terlihat kusut tak bersemangat. Edo hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Apa dia histeris lagi?" Tanya Riko lagi.
"Dokter sudah memberikan suntikan penenang beberapa saat lalu." Jawab Edo membuat Riko meringis mendengar kabar tersebut.
"Dan masih belum ditemukan juga dimana nyonya." Keduanya pun sama-sama menghela nafas panjang.
"Kasihan bos."
"Nyonya besar memang keterlaluan. Aku malah mendukung keputusan nyonya muda untuk pergi." Ucapan Edo membuat Riko menoleh menatap Edo. Keduanya saling menatap, keduanya tahu bagaimana kelakuan ibu tuannya terhadap istri tuannya. Padahal istri tuan adalah wanita paling sabar yang mereka kenal.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Kau pergi lagi?"
"Hmm."
"Aku harus pergi ke perusahaan. Aku tak bisa lebih lama lagi meninggalkannya. Banyak hal yang harus dilakukan. Dan tuan dalam keadaan yang tidak mungkin untuk mengurusnya."
"Kau benar, serahkan pada seseorang yang bisa dipercaya disini untuk menjaga bos. Jika dia mulai histeris lagi."
__ADS_1
"Tentu."
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah Johan dengan tujuan masing-masing dan kendaraan mereka masing-masing.
Flashback off
Masa sekarang.
"Kau butuh sesuatu?" Suara seorang pria yang dikenal Karina mendekati ranjang tempatnya istirahat.
"Tidak. Terima kasih." Jawab Karina tersenyum ramah.
"Apa ada bagian tubuhmu yang kembali sakit?" Tanya pria itu cemas menatap wajah Karina sendu.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mencemaskanku. Setelah pengobatan beberapa bulan ini, tubuhku terasa lebih baik." Jawab Karina lembut masih mempertahankan senyumannya yang terus terukir di bibirnya.
"Katakan sakit jika memang sakit, katakan kau tidak baik-baik saja jika memang kau tidak baik-baik saja. Itu akan sedikit mengurangi rasa bersalah kami." Ucapnya membuat Karina terdiam meski masih mempertahankan senyum getirnya.
"Aku sungguh baik-baik saja kak. Kalian memberikan pengobatan yang terbaik padaku." Jawab Karina tersenyum.
"Kami menyayangimu." Bisik pria itu membuat Karina tersenyum mendapat usapan di kepalanya yang masih tertutup hijab membuat Karina merasa mendapatkan kasih sayang yang sangat tulus dari seorang kakak yang telah terpisah dengannya sejak masih kecil dulu.
"Aku juga kak, aku menyayangi kalian. Terima kasih sudah menemukanku."
"Kami tidak akan pernah menyerah menemukanmu seandainya dulu tahu kalau kau masih hidup. Maaf, kami terlambat menemukanmu." Ucap pria itu dengan sendu penuh dengan penyesalan.
"Tidak kak, mungkin memang Allah baru mempertemukan kita saja saat ini."
"Mulai saat ini kami akan menebusnya dengan memberikan kasih sayang sepenuhnya padamu. Kuharap kami belum terlambat." Karina malah tertawa.
"Aku bukan anak kecil lagi yang butuh kasih sayang kak." Ucap Karina tersenyum.
"Kakak lagi serius kenapa kau malah tertawa." Ucap pria itu ikut tertawa melihat tawa adiknya yang semakin memancarkan kecantikannya meski dengan wajah yang masih pucat meski mulai berangsur membaik.
.
.
__ADS_1
TBC