Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 62


__ADS_3

Jam setengah 12 malam, Arick dan faruq baru selesai berbincang, Faruq tidur diruang kerja Arick. Aluna, Rizky dan Nami tidur di ruang tamu.


Dengan perlahan, Arick membuka pintu kamarnya.


Dilihatnya sang istri yang sudah tertidur lelap dengan lampu utama yang masih menyala. Arick kemudian memerika keadaan Zayn, anak sulungnya ini pun sudah tertidur pulas.


Hati-hati, Arick duduk di sisi ranjang, ia mengamati wajah sang istri dan membelainya lembut.


Jihan mengerjab, semenjak memiliki anak Jihan memang gampanh sekali terbangun. Ada bunyi sedikitpun ia akan langsung tersadar, apalagi kini, saat wajahnya dibelai-belai sang suami.


Jihan melirik ke arah jam dinding, jam setengah 12 malam.


"Mas pasti capek ya? sini tidur," ajak Jihan dengan suara parau. Jihan menggeser tubuhnya dan memberi ruang Arick untuk berbaring.


Arick menurut, tanpa babibu ia mulai merebahkan tubuhnya di samping Jihan.


"Menghadap kesana, biar ku elus punggungmu." titah Arick, Jihan menurut, ia pun merasa senang jika punggungnya dileus-elus.


"Memangnya Mas belum ngantuk?" tanya Jihan, kini ia menikmati sentuhan tangan suaminya di punggung.


"Belum sayang, ada satu rahasia yang ingin aku ungkap padamu."


Jihan menoleh, merasa curiga dengan sang suami, " Rahasia apa?"


"Jangan lihat kesini." Arick mendorong kepala Jihan untuk kembali membelakangi dirinya.


"Rahasia apa Mas?" tanya Jihan yang sudah sangat penasaran. Wajahnya mendadak was was, takut jika rahasia itu adalah berita buruk.


Masih terus mengelus punggung Jihan, Arick mulai buka suara.


"Sebenarnya, aku sudah menyukaimu semenjak kamu menjadi istri mas Arend."


Deg! Jihan tersentak, merasa terkejut, bingung antara harus bahagia atau bagaimana. Akhirnya ia hanya bisa terdiam.


"Kedua kalinya kamu datang ke rumah, aku mengintipmu dibalik jendela," jelas Arick, tangannya terus bergerak naik turun di punggung sang istri.


"Aku sadar, sejak kali pertama melihatmu aku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta pada wanita berhijab dengan gamis besar yang menutup seluruh tubuhnya."


"Senyumnya sangat teduh, tiap kali aku melihatmu tersenyum, bibirku pun ikut mengukir senyum yang sama."

__ADS_1


"Tapi aku juga sadar, jika wanita yang aku cintai adalah kekasih kakakku, bahkan akan menjadi istrinya sekaligus kakak iparku."


"Demi meredam rasaku itu, aku mulai menjauhi mu, bersikap dingin, bahkan aku sering keluar rumah untuk menghindarimu."


"Yang aku lakukan hanya 1, aku berdoa kepada Allah untuk mengirimkan ku wanita seperti dirimu untuk menjadi istriku."


"Sampai saat itu, tiba-tiba mas Arend mengalami kecelakaan dan merenggut nyawanya."


"Papa Mardi datang padaku dan memintaku untuk menikahimu. Jujur saja, awalnya aku menolak pernikahan ini. Merasa aku mengambil keuntungan diatas meninggalnya kakak ku. Tapi melihatmu dan Zayn selalu menangis tiap malam membuat ku tak tega."


"Dan akhirnya aku memutuskan untuk menikahimu."


Air mata bening mengalir disudut mata Jihan, tanpa Jihan tahu, Arick pun sama, ia menangis ditengah-tengah ceritanya itu.


"Aku sangat mencintaimu Ji," ucap Arick, mengakhiri cerita tentang rahasianya sendiri.


Jihan berbalik dan kini ia menatap sang suami, tangan Jihan terulur menghapus air mata Arick.


"Percayalah Mas, aku sudah mengihklaskan semua masa lalu. Dan kini aku sangat sangat mencintaimu," jelas Jihan, dengan susah payah ia menarik badannya mendekat, kemudian membenamkan sebuah ciuman dibibir sang suami.


Keduanya terus berpaut, seolah saling membuktikan jika cintanyalah yang paling besar.


Keduanya saling tatap, kemudian mengukir senyum yang sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu terus berjalan, kini sudah sampai dihari Jasmin dan Jodi bertunangan.


Malam itu, Jihan dan Selena menggunakan baju senada, sebagai pendamping sang wanita yang akan dilamar.


"Wah! aku cantik sekali." Puji Jasmin pada dirinya sendiri, kini ia sedang memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin.


"Iya iya, kamu memang cantik. Tapi ingat, yang menikah harus aku dulu, baru kamu." timpal Selena, ia tidak ingin jika kini Jasmin yang lebih dulu menikah.


"Lalu bagaimana dengan ku? apa aku terlihat cantik?" tanya Jihan, pasalnya kini perutnya sangat buncit dan itu membuat Jihan tidak percaya diri saat bersanding dengan Jasmin dan Selena.


Selena terkekeh, kemudian medekati Jihan dan mengelus perut buncit itu.


"Kamu pernah dengar tidak? jika wanita hamil itu pesonanya meningkat berkali-kali lipat, apalagi dimata suami," tanya Selena, baik Jihan maupun Jasmin sama-sama mengeryit bingung.

__ADS_1


"Wanita hamil itu bukan cuma perutnya yang membesar, tapi payudara dan bokongnya juga ikut membesar, seksi." Jelas Selena dengan terkekeh pelan.


"Lihat punyaku, ini kecil sekali, digenggam seperti ini langsung hilang." lanjut Selena dan Jasmin tertawa terbahak, sedangkan Jihan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Salah besar jika bertanya dengan Selena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam setengah 9 malam acara lamaran Jasmin dan Jodi selesai digelar, kini ke tujuh sahabat itu sedang duduk-duduk di halaman rumah Jasmin.


Eh, bukan tujuh sahabat, melainkan delapan, karena malam ini Haris membawa sang kekasih yang bernama Dira.


Dira ternyata masih kuliah semester akhir, masih sibuk-sibuknya menulis skripsi.


"Jadi kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Arick, ia duduk sambil memangku Zayn. Zayn sedang asik memakan kue sajiaj di rumah Jasmin.


"Yang jelas setelah Jihan lahiran," jawab Jodi.


"Tapi ingat, aku dulu baru kalian, ya kan beb?" tanya Selena pada Kris, meminta pembelaan. Yang ditanya mangguk-mangguk, menyetujui sang tunangan. Pasalnya pun kedua belah pihak keluarga Selena dan Kris sudah mendesak-desak untuk segera menikah.


Mereka terus bersenda gurau, hingga jam setengah 10 malam barulah mereka semua memutuskan untuk pulang.


"Apa kamu capek sayang?" tanya Arick pada sang istri. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, melaju menuju rumah mereka.


Asih duduk dibelakang, memangku Zayn yang sudah tertidur.


"Tidak Mas, kalau aku lelah aku pasti memberi tahumu."


"Bagus." Arick mengelus kepala Jihan sejenak


Saat di lampu merah, Arick menurunkan sandaran kursi Jihan, hingga Jihan bisa berbaring disana. "Sayang tiduran disini dulu ya, biar tidak duduk terus." ucap Arick penuh perhatian.


Jihan menurut, sebelum kembali ke kursinya sendiri pun Arick berulang kali mengelus-ngelus perut sang istri. Meminta agar anak-anaknya tidak nakal, tidak menyusahkan ibu.


Asih yang memperhatikan keduanya hanya mampu mengulas senyum. Terbesit sedikit keinginan untuk memiliki suami seperti majikannya ini. Sudah tampan, mapan dan sangat perhatian.


Namun secepat kilat ia sadar, bahwa tiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika kita mensyukuri pasangan kita sendiri, maka kita pun akan menemukan kebahagiaan yang tak terkira.


"Pak, lampunya sudah hijau," ucap Asih dengan terkekeh pelan, ia merasa lucu, membenarkan ucapan Puji beberapa hari lalu. Jika Arick sudah melihat Jihan, maka ia tidak akan peduli pada apapun lainnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2