
Semalam, Jodi, Haris dan Kris menginap di hotel. Mereka tidur sembarang, ada yang di sofa, ada yang di karpet dan ada yang ikut menyusul Arick ke kamar.
Pagi ini hari Rabu, masih hari kerja dan mereka semua semalam tidur sangat larut.
Jodi yang bos Cafe masih sempat membuat kopi, sementara Haris dan Kris yang masih bekerja di tempat orang langsung kelabakan.
Bangun jam setengah 8, sementara jam 8 mereka diwajibkan untuk absen.
Jadilah Kris dan Haris buru-buru berangkat kerja, tanpa mandi dan hanya mengganti baju, baju Arick pula.
Kini tinggalah Arick dan Jodi di kamar hotel ini.
Mereka berdua sarapan, minuman hangat dan sepotong roti dengan selai.
"Jam berapa Jani boleh keluar?"
"Jam 1 siang, pagi masih ada beberapa pemeriksaan," jawab Arick sambil menelan makanan.
"Aku tidak bisa datang ya, siang nanti aku menemui pak Jaya."
Arick mengangguk.
Keduanya kembali sarapan, setelah selesai masing-masing pergi ke tujuannya masing-masing. Arick ke rumah sakit dan Jodi ke Cafe.
Arick tadi juga sudah check-out, kali ini ia ke rumah sakit sekaligus membawa mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Mardi.
Sehabis shalat zduhur, Mardi dan sofia bergegas ke rumah sakit. Jihan hanya bisa melihat kepergian mertuanya itu, tak diizinkan untuk ikut.
"Ayo Mbak masuk. Duh, senengnya Jani pulang," ajak Puji antusias, senang majikan kecilnya akan segera berkumpul bersama keluarga besar.
Dengan tersenyum, Jihan mengikuti langkah Puji untuk masuk ke dalam rumah.
"Mbak, saya lihat Anja dan Zayn dulu ya." pamit Jihan saat ia dan Puji sudah sampai di ruang tengah.
"Ikut Mbak," jawab Puji sambil cengar-cengir, pasalnya ia ingin sekalian mengambil baju kotor Anja dan Zayn.
Jadilah, kedua orang ini menuju lantai 2, menghampiri kamar para bayi.
Disana Asih dan Melisa sedang memberi Asi kedua anaknya, Anja sudah mulai mengantuk. Sementara Zayn masih asik bermain sambil memegang dot di tangan.
Jihan tersenyum, merasa kebahagiaannya sebentar lagi akan semakin lengkap.
Boxs bayi kosong itu sebentar lagi akan disisi oleh Jani.
__ADS_1
Drt drt drt
Ponsel Jihan yang berada di dalam genggamannya bergetar, dilihatnya ada panggilan masuk dari sang suami.
Tak ingin mengganggu Anja, akhirnya Jihan keluar kamar untuk menjawab panggilan itu. Ia berjalan menuju kamarnya sendiri.
"Assalamualaikum, Mas," jawab Jihan langsung.
"Walaikumsalam sayang, kamu sudah berangkat belum?" tanya Arick yang penasaran, lebih tepatnya sudah tak sabar untuk melihat wajah sang istri.
Tidak langsung menjawab, Jihan malah cemberut sambil membuka pintu kamarnya.
"Aku tidak jadi ke rumah sakit Mas, ibu melarangku. Jadi yang menjemput Jani, ibu dan papa." Jelas Jihan lesu, ia duduk disofa kamar itu.
"Ya sudah tidak apa-apa, ibu pasti tidak ingin kamu kecapekan." jawab Arick, meski sedikit kecewa tapi ia memahami maksud sang ibu.
Lagipula, tak masalah jika Jihan tidak bisa menjemput.
"Kalau begitu tunggu aku di rumah, aku sangat merindukan kalian semua. Kamu, Anja dan Zayn."
"Aku juga merindukan kamu dan Jani Mas, rindu yang sangat banyak."
"Wah, istriku sudah pintar menggoda." ledek Arick dan Jihan mencebik, padahal ia jujur, tidak ada niat sedikitpun untuk menggoda.
Keduanya terus berbincang, hingga Arick mengatakan jika Sofia dan Mardi sudah sampai di rumah sakit. Arick akhirnya memutus sambungan telepon itu dan bersiap-siap untuk pulang.
Mengatakan jika hari ini Jani akan pulang. Mendengar itu, Nami sangat bahagia, ia bahkan ingin segera datang ke rumah Mardi.
Namun buru-buru Jihan melarang, tak ingin sang ibu kelelahan, Jihan mengatakan jika kesininya besok saja. Saat syukuran dan aqiqah Anja Jani.
Nami menurut, ia menyetujui keinginan anak perempuannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
30 menit kemudian.
Dengan hati yang berdebar dan telapak tangan dipenuhi keringat dingin, Jihan dan semua orang di rumah Mardi duduk di ruang tamu.
Menyambut kedatangan Jani, yang sudah lama berjuang di rumah sakit.
"Kok lama sekali ya Bude." tanya Jihan pada Santi yang sedang duduk di sampingnya.
"Sabar Mbak, sebentar lagi pasti mereka sampai." Santi menenangkan, ia bahkan mengelus punggung Jihan lembut.
Semua mata terus menatap pintu yang sengaja tidak ditutup itu, hingga sayup-sayup terdengar deru suara mobil yang berhenti di depan rumah.
Tak sabar, Jihan langsung bangkit dan melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Matanya berbinar, senyumnya langsung mengembang sempurna. Itu adalah mobil sang suami dan mobil mertuanya.
Sedikit buru-buru, Jihan menghampiri mobil Arick.
Melihat sang istri yang hendak menghampirinya, Arick pun dengan cepat keluar dari dalam mobil. Berjalan cepat dan menyambut kedatangan Jihan dalam pelukkannya.
Keduanya saling memeluk sangat erat, bahkan Arick berulang kali menciumi pucuk kepala sang istri.
Menyalurkan rindu yang amat mendalam.
Mardi dan Sofia yang melihat pemandangan itu merasa bahagia, ketenangan yang ikut menjalar ke hati mereka.
"Itu pak Arick?" bisik Melisa pada Asih, yang dibisiki hanya memgangguk sebagai jawaban.
Beruntung sekali Bu Jihan, pak Arick sangat tampan dan bertanggung jawab. Bahkan dia mau manjaga anaknya sendiri di rumah sakit. Batin Melisa sambil tersenyum merasa kagum.
Jihan yang sudah melepas pelukannya pada Arick pun langsung menemui Sofia, menggantikannya menggendong Jani.
Semua orang kembali masuk ke dalam rumah, Arick memeluk pinggang Jihan sambil terus berjalan menuju kamar anak-anak.
Sofia, Asih, dan Melisa meengekor di belakang.
Awalnya Puji ingin ikut, namun buru-buru Sofia melarang. Meminta Puji untuk kembali ke dapur dan menyiapkan makanan kesukaan sang anak, Arick.
Meminta Puji mengantar makanan itu ke kamar Arick langsung.
Berulang kali Jihan menciumi wajah Jani, Jani yang sedang tertidur pun tak merasa terganggu sedikitpun. Malah ia sedikit mengulas senyum, yang membuat Jihan dan Arick saling pandang, lalu terkekeh bersamaan.
Sofia dan Asih yang sudah lama tak melihat pamandangan indah ini pun ikut tersenyum, lain halnya dengan Melisa yang merasa sedikit tak nyaman, belum terbiasa.
"Jomblo diharap bersabar," bisik Asih tepat ditelinga Melisa. Setelah mengatakan itu Asih terkekeh, setelah dilirik Sofia barulah kekehan itu terhenti.
"Ini baru permulaan, belum bikin mupeng," bisik Asih lagi yang sedang semangat-semangatnya mengganggu Melisa.
Dulu dia juga sama seperti Melisa, tapi kini ia sudah terbiasa. Baginya majikannya ini memang sangat saling mencintai, tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Melisa yang menjadi bahan ledekan Asih hanya bisa mencebik, jujur saja, dia memang sedikit iri dengan keberuntungan majikannya, Jihan.
"Inget pesen bude Santi, di larang baper," ledek Asih lagi tak ada habisnya.
Saking kesalnya, Melisa dengan kuat mencubit perut Asih.
"Aduh!" keluh Asih sedikit berteriak hingga mencuri pendengaran Sofia.
"Kamu kenapa?" tanya Sofia galak.
"Tidak apa-apa Nyonya." jawab Asih takut dan Melisa mengulum senyumnya.
__ADS_1
Mencebik, meledek Asih.