Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 91


__ADS_3

Malam hari.


Saat ini Arick dan Jihan sudah kembali ke kamar mereka setelah beberapa saat lalu berada di kamar baby ZAJ.


Sampai di kamar, jihan langsung menunjukkam baju yang dikirim Selena tadi pagi. Ingin tahu apa pendapat suaminya itu.


"Mas sini deh, ini baju seragam untuk nikahannya Selena. Yang punya Mas sama Zayn bagus, aku suka, tapi_"


"Tapi apa?" tanya Arick cepat, ia ikut duduk disisi ranjang dan memperhatian beberapa potong baju itu.


"Aku masih ingin memakai baju yang senada denganmu, Ji." rengek Arick, ia menatap tak puas pada bajunya sendiri.


"Mas jangan begitu, ini kan untuk hari spesial Selena. Kita harus ikuti apa keinginan dia," jelas Jihan, ia memangku bajunya sendiri di atas pangkuan.


"Coba lihat bajumu." pinta Arick, dengan perlahan ia membua baju itu, seketika itu juga bibirnya tersenyum, memandang kagum.


"Bagus, akan lebih terlihat cantik saat kamu yang memakainya." jelas Arick, ia tersenyum dengan tangan yang terulur mengelus pipi sang istri.


"Tapi Mas_"


"Tapi apa?"


Jihan terdiam sejenak, ragu untuk menjawab pertanyaan sang suami. Lebih tepatnya bukan ragu, tapi malu.


"Tapi apa?" tanya Arick lagi karena Jihan hanya terdiam.


"Apa baju itu muat denganku?" desis Jihan ragu-ragu, mendengar itu, Arick makin tersenyum lebar saja.


"Cobalah pakai, aku akan lihat." ucap Arick, Jihan yang sedari tadi menunduk mulai mengangkat wajahnya.


Mencoba? Batinnya.


"Sini." Arick membuka hijab sang istri, menurunkan resleting baju khusus ibu menyusui.


Belum terbuka semua, Jihan langsung menahan tangan sang suami cepat.


"Aku bisa ganti sendiri, Mas." ucap Jihan cepat, ia tau maksud Arick. Pastilah suaminya ini ingin menanggalkan bajunya dan memintanya untuk mencoba baju itu disini, ya disini, bukan di kamar mandi.


Arick tak langsung menjawab, ia menatap lekat dalam netra sang istri.


"Jadi kamu tidak mau aku melihatmu ganti baju?" tanyanya dengan tatapan yang dingin.


Mendadak menciut, Jihan jadi takut jika sang suami malah tersinggung.


"Mau, Mas." jawab Jihan malu, wajahnya merona hampir mirip udang rebus.


Melihat itu Arick berusaha keras agar tidak terbahak, ia mengulum senyumnya dengan susah payah.


Setelah mengatakan itu, Jihan melepas gengganan tangannya dan membiarkan sang suami kembali melanjutkan niat.

__ADS_1


Saking gemasnya, sebelum membuka baju itu Arick mengecup bibir sang istri sekilas.


"Jangan malu-malu begini." ledeknya, Jihan yang kesal langsung memukul dada suaminya pelan.


Arick terkekeh, lalu kembali membuka baju itu.


"Angkat tanganmu." titahnya dan Jihan menurut.


Kini wanita sholeha ini sudah tak mengenakan baju, hanya tersisa dua pelindung yang melekat ditubuh polosnya.


"Masukkan tanganmu." titah Arick lagi, dan Jihan menurut. Dengan hati-hati, Arick membantu Jihan untuk menggunakam baju dari Selena.


Baju yang pas melekat ditubuhnya, hanya saja memang bagian dadanya tercektak dengan jelas. Meski tak membuatnya sesak.


Seketika itu juga tatapan Arick langsung tertuju pada dada sang istri.


Malu, Jihan langsung menutup dada itu dengan kedua tangannya.


"Aku tidak usah pakai baju ini ya Mas, nanti aku akan katakan pada Selena kalau baju ini tidak muat." ucap Jihan buru-buru, seolah ingin suaminya itu segera tahu maksud hatinya.


"Baju ini muat sayang, katamu kita harus menuruti keinginan Selena. Lagipula ini nanti akan tertutup hijabmu." Jelas Arick, ia menurunkan tangan Jihan agar tak menutupi dadanya.


"Kamu cantik memakai baju ini."


"Benar?" tanya Jihan yang meragukan ucapan suaminya itu.


"Iya." jawab Arick singkat, ia lalu mengikis jarak dan menyesap bibir sang istri dalam.


Masa nifas sang istri.


Tapi dulu ia bisa tahan saat melihat dada sang istri yang tak tertutup penghalang apapun saat menyusui Zayn. Tahan saat Jihan hanya mengenakan baju tidur yang tipis dan pendek.


Tapi kini itu tak berlaku lagi.


Meski tanpa menyatu, namun Arick tak kuasa untuk tak menyentuh, menyesap bahkan meremaat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari spesial Selena pun tiba, malam ini gadis cantik itu akan menggelar acara pernikahan di ballroom hotel tempatnya bekerja.


Sehabis magrib, Arick, Jihan, baby ZAJ, Asih, Melisa dan Puji datang kesana. Membawa dua mobil, dengan Amir sebagai supir mobil satunya.


Di lobby hotel, ternyata mereka bertemu dengan Haris yang datang seorang diri.


"Dimana Dira?" tanya Jihan karena tak melihat si gadis cantik itu disamping Haris. Padahal Dira juga diundang dan diberikan baju seragam yang sama, sama seperti dirinya dan Jasmin.


"Entahlah, jangan sebut nama dia lagi." jawab Haris dengan wajah kusut.


Arick terkekeh, lucu bercampur iba sekaligus.

__ADS_1


"Ya sudah ayo naik." Ajak Arick sambil menepuk pundak sang sahabat.


Mereka naik bersamaan menuju lantai 18, dimana ballroom hotel itu berada.


Sampai si sana, rombongan Arick langsung masuk di ruang tunggu khusus pengantin. Disana, Selena sudah didampingi oleh para keluarga, ada juga Jodi dan Jasmin.


Saat melihat Selena, Zayn tiba-tiba merengek, ingin digendong sang calon pengantin, alias mommynya.


"Adududu, anak mommy, sini sayang." pinta Selena, entah punya pelet apa, tapi Zayn begitu lengket dengan mommynya ini.


"Kris dimana?" tanya Arick, karena 15 menit lagi acara akan dimulai, sementara Kris tak nampak batang hidungnya.


"Dia diruangan lain." Jelas Selena sambil menciumi wajah Zayn, hingga lipstiknya tercetak jelas dipipi si bayi.


"Ampun, jaga sikapmu. Lihat pipi Zayn." Keluh Jasmin, ia menarik selembar tissue dan menghapus jejak itu. Lalu meminta si perias untuk menambah warna pada lipstik si pengantin.


Tak lama setelah itu, terdengar suara pemandu acara meminta pada tamu untuk duduk dikursinya masing-masing sesuai dengan nomor undangan.


Arick berusaha mengambil Zayn, tapi bayi ini malah enggan lepas dari Selena.


"Sini sayang, tuh lihat adek Anja dan adek Jani punya mainan." rayu Arick sambil menunjuk si kembar yang berada dalam gendongam Melisa dan Puji.


"No no no." jawab Zayn dengan menggeleng cepat.


"Sayang, mommy mau pup dulu, Zayn anak mommy ikut ayah sebentar ya? nanti gendong mommy lagi." kini Selena ikut bersuara membujuk.


"Lili?" tanya Zayn seolah tak percaya. Jihan terkekeh sementara Arick, Selena dan semua orang yang mendengar jadi bingung sendiri.


Lili? batin mereka semua kompak.


"Really," ulang Jihan setelah puas terkekeh.


Semua orang berOh ria, lalu Selena langsung menjawab Yes! setelah itu Zayn baru mau kembali ke gendongan sang ayah.


Ijab kabul diucapakan dengan lancar dan lantang, suasana jadi haru kala menyaksikan Selena dan Kris yang melakukan sungkeman pada kedua orang tua mereka.


Di tengah-tengah acara itu, Jihan mendadak gelisah.


"Kamu kenapa?" bisik Arick.


Tak ingin cemas sendiri, akhirnya Jihan mencoba jujur.


"Asiku penuh Mas, aku takut nanti bajunya basah. Pompa Asinya di mobil." Bisik Jihan, ia meremat kedua tangannya yang sudah basah dengan keringat dingin.


Mendengar kegelisahan sang istri, Arick langsung bangkit dan membawa Jihan untuk meninggalkan ballroom hotel, kembali masuk ke ruang tunggu pengantin dan mengunci pintu itu rapat-rapat.


"Ini darurat sayang." ucap Arick dengan tatapan yang tak dimengerti oleh Jihan.


Namun saat dilihatnya sang suami yang menyingkap hijabnya, ia tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.

__ADS_1


Membantu mengeluarkan Asi dengan mulutnya sendiri.


Tak bisa menolak, akhirnya Jihan hanya bisa pasrah, ia terus menggigit bibir bawahnya kala sang suami menyesapnya secara bergantian.


__ADS_2