Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 22


__ADS_3

Karina berlari di lorong rumah sakit tempat suaminya bekerja. Setelah mendapat kabar dari adik tirinya dokter Ryan. Karina bergegas berlari menuju rumah sakit. Kabar pingsannya suaminya yang katanya tidak hanya satu kali ini membuat dadanya Karina berdenyut sakit. Dia tahu kalau suaminya mengalami mual dan muntah akibat hormon kehamilan simpatik yang dialaminya.


Saat seminggu yang lalu suaminya memutuskan bekerja kembali seperti biasanya. Sebenarnya membuat Karina cemas dan khawatir. Namun suaminya memaksa untuk tetap berangkat seperti tidak terjadi apa-apa. Malah sikap suaminya menjadi lebih dingin tidak seperti biasanya yang mesra dan manja padanya.


Dia lupa sejak kapan suaminya mulai berubah acuh padanya. Dan Karina mencoba mencari tahu bertanya pada suaminya. Jawaban suaminya tidak begitu memuaskan Karina. Namun dia memilih untuk tidak kembali bertanya. Mungkin efek hormon kehamilannya itu.


Sebenarnya Karina tak tega melihat keadaan suaminya seperti itu. Namun niat hatinya untuk tetap mempertahankan calon bayinya atau menggugurkannya dia bingung. Kakaknya Ivan memberinya waktu sepuluh hari setelah waktu yang diberikan seminggu tidak cukup untuk Karina mengambil keputusannya.


Niatnya juga ingin memberi tahu keluhannya pada suaminya namun perubahan sikap dan lembur kerja suaminya membuat Karina urung untuk bicara karena melihat suaminya terlihat lelah dan capek. Membuat Karina tak tega.


Dan sekarang Karina sungguh menyesalinya. Kalau saja... Andai saja ada cara untuk tetap mempertahankan calon bayinya meski nyawanya sebagai taruhannya. Karina rela, namun jika tetap mempertahankan calon bayinya, mungkin mereka berdua tidak akan selamat. Dan jika dia mempertahankan dirinya sendiri. Dia pasti akan sangat merasa bersalah seumur hidupnya karena menggugurkan calon bayinya yang bahkan sangat diinginkan oleh suaminya itu.


"Bagaimana keadaan suamiku Ryan?" Tanya Karina dengan raut wajah cemas dan sendu tak peduli dengan basa-basi lagi pada adik tirinya yang tidak terlalu akrab itu.


"Dia sudah ditangani. Dia sedang istirahat. Sepertinya dia banyak kehilangan berat badan dan asupan gizi. Mungkin karena terlalu banyak mual dan muntah. Semua makanan tak bisa dapat masuk ke dalam perutnya dengan benar." Jelas Ryan yang baru saja keluar dari ruang perawatan Johan.


Karina menangis sesenggukan, dia sudah tidak bisa membendung kesedihannya. Bahkan dia kesulitan untuk bicara karena terlalu sesak mendengar penderitaan suaminya itu.


Ryan merasa prihatin, dia hanya bisa menepuk-nepuk lembut pundak kakak tirinya itu. Dia tidak menyalahkan Johan juga tidak menyalahkan Karina. Setelah semua dokter tahu kondisi Johan tadi kakaknya Ivan langsung menghubungi Ryan menjelaskan semua hal tentang kehamilan Karina yang kritis itu.


Ryan turut berduka mendengar penjelasan kakaknya tentang hal yang langka terjadi itu. Seolah Tuhan belum berhenti memberikan cobaan pada pasangan sejoli itu. Kehamilan yang dialami Karina itu memang sangat langka terjadi. Bisa dikatakan seribu banding satu kejadian langka itu.


Mungkin untuk pasangan yang sudah memiliki anak tidak akan ragu mengambil keputusan untuk menggugurkan kandungan saat usia masih dini. Namun untuk pasangan sejoli seperti Johan dan Karina yang belum memiliki anak membuat keduanya bingung, takut dan frustasi dengan apa yang harus keputusan mereka ambil.

__ADS_1


"Mbak mau menemuinya?" Tawar Ryan setelah melihat Karina sedikit tenang.


Karina hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan sambil masih terdengar suara sesenggukan tangisnya. Namun dipaksa harus kuat.


Ryan membuka pintu ruang perawatan dan membuka lebar untuk Karina yang sudah mulai diam tak sesenggukan seperti tadi meski masih jarang.


"Mbak baik-baik saja?" Tanya Ryan memastikan. Karina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Keduanya melangkah mendekati ranjang. infus terpasang di lengan kiri Johan masih dengan mata tertutup. Wajahnya terlihat pucat dengan kantung hitam melingkar di sekitar matanya menandakan dia jarang tidur dengan nyenyak.


Pipinya terlihat menonjol karena tirus dan kurang gizi membuat Karina tak sanggup melihat lagi dan segera menutup mulutnya rapat seolah ikut merasakan sakit apa yang dialaminya. Ryan yang sengaja tidak melihat reaksi kakak tirinya itu membuang muka ke arah lain karena tak tega. Matanya pun juga ikut berkaca-kaca hampir saja air matanya turun jika dia tidak segera mengusap sudut matanya.


Ryan mengerjap-ngerjapkan matanya cepat tak mampu untuk ikut menangis. Dia harus memberi semangat untuk kakak tiri juga sahabatnya itu.


"Maafkan aku mas. Maaf." Bisik Karina lirih hampir luruh kalau saja Ryan tidak segera menopang tubuhnya.


"Apa dia baik-baik saja? Apa hal ini akan terus terjadi? Seandainya bayi ini tidak ada apa dia akan sembuh?" Tanya Karina menatap Ryan dengan putus asa. Ryan terdiam menatap Karina sendu. Wajahnya muram membuat Karina semakin cemas saja dan tak bisa dielak lagi, dia pun kembali menangis sesenggukan tak terperikan membuat Ryan kembali menepuk pundaknya lembut.


.


.


"Nona Karina?" Ucap dokter Mira melihat tamu pasiennya. Dokter Mira terlihat iba melihat wajah sembab dan sedih istri rekan dokternya itu. Dia juga sudah mendengar mengenai pingsannya dokter Johan karena mual dan muntah yang dialaminya karena hormon kehamilan simpatik istrinya.

__ADS_1


"Silahkan duduk! Ada yang bisa saya bantu?" Tawar dokter Mira ramah menyunggingkan senyum tipisnya.


Karina pun mengulurkan rekam jejak medisnya di atas meja seolah memberi kode pada dokter Mira untuk melihatnya.


"Ini... apa?" Tanya dokter Mira masih belum paham.


"Bacalah dok!" Jawab Karina masih dengan suara lembut dan senyum tipis terlihat dipaksakan.


Dokter Mira meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti dari awal hingga akhir dengan teliti. Belum selesai dokter Mira membaca sampai akhir, sontak tangan dokter Mira menutup mulutnya tak percaya membaca jejak rekam medis pasien istri rekan sesama dokternya.


"I-ini...?"


"Benar dok." Jawab Karina menjawab dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya yakin. Dokter Mira melanjutkan membacanya sampai akhir dan langsung menghembuskan nafas panjang di akhir dia selesai membaca.


"Sebaiknya segera ambil tindakan sebelum semua terlambat dan semua menjadi korban." Saran dokter Mira setelah membaca berkas itu. Awalnya dia mengira kalau istri dokter Johan ini menyangkal atau tidak percaya dengan kehamilannya. Namun setelah membaca berkas tersebut, mungkin dia pun juga akan melakukan hal yang sama jika mengalaminya.


"Bisakah dokter mengabulkan permohonan saya?" Pinta Karina dengan nada lembut menatap dokter Mira penuh harap.


"Akan saya lakukan jika bisa dan akan saya usahakan jika itu perlu." Jawab dokter Mira tegas.


"Bisakah anda membuat calon bayi kami tetap hidup meski....?" Karina menjeda ucapannya menghela nafas sebentar karena nafasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokannya.


"Meski saya harus kehilangan nyawa saya?" Pinta Karina membuat dokter Mira membelalakan matanya tak percaya mendengar permohonan Karina.

__ADS_1


.


.


__ADS_2