
Keesokan harinya, Arick memutuskan untuk tidak bekerja. Entah kenapa, hari ini ia ingin berada di rumah dan menemani sang istri.
Sekalian belajar merajut, nyicil membuat baju sang istri sesuai janjinya.
Jam setengah 7, Sofia mengahak Jihan untuk membawa Anja dan Jani keliling perumahana menggunakan stroller. Jihan antusias, setuju. Ia pun rindu menghabiskan waktu bersama sang ibu mertua.
Arick cemberut di teras rumah, memperhatikan kepergian sang istri yang terlihat begitu bahagia. Kata Sofia "Tidak usah ikut."
Akhirnya Arick memanggil Asih dan meminta Zayn untuk bersama dirinya bermain di halaman rumah.
"Kita disini saja ya Nak, ibumu sombong, lebih memilih Oma daripada Ayah." jelas Arick pada sang anak.
Setelah Asih mengantar Zayn, ia meminta sang babysister untuk kembali ke dalam rumah.
Kini ia dan Zayn sedang bermain bola bola kecil di halaman rumah itu.
Asik bermain, netra Arick menangkap sesosok pria muda yang membuat hatinya gundah.
"Dimas!" panggil Arick sedikit berteriak.
Yang dipanggil menoleh ke arah sumber suara, ia mendekat kala melihat sang majikan melambaikan tangannya, memintanya untuk menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Dimas sopan.
Sang supir kedua ini belum mandi, rambutnya masih kering, bahkan ia masih mengguakan celana pendek.
"Kamu masih capek?" tanya Arick menyelidik.
"Tidak, Pak." jawab Dimas sok kuat, jika boleh jujur ia sebenarnya sangat capek. 2 minggu di Jogja tiap hari ia harus menyetir tanpa henti demi sang nyonya.
"Ambil karpet taman dirumah dan juga sekeranjang mainan Zayn." Pinta Arick dan Dimas menurut, buru-buru ia mengambil semua permintaan sang majikan.
Bahkan dimas juga menggelarkan karpet itu di halaman rumah.
__ADS_1
"Duduklah disini, temani aku dan Zayn." ajak Arick.
Jadilah ketiga pria berbeda generasi ini duduk bersama, persis piknik dadakan.
"Kamu benar keponakannya pak Amir?" tanya Arick mulai menyelidik.
Dimas langsung tersenyum kikuk. Kenapa setiap orang selalu menanyainya seperti itu?
"Tentu saja benar pak, saya mana berani bohong." jawab Dimas yakin.
Mata Arick menyipit, menatap curiga.
"Kamu sudah punya pacar belum?" tanya sang majikan lagi lebih dalam.
Dimas kaget, waduh! bagaimana ini? aku belum punya pacar? apa bekerja disini salah satu syaratnya harus punya pacar? Batin Dimas takut, takut dipecat.
"Be-belum Pak," jawab Dimas gugup.
Mendengar itu, raut wajah Arick langsung berubah masam.
"Di rumah ini ada 2 wanita yang single, Asih dan Melisa. Kalau kamu masih mau bekerja disini, nikahi salah satu diantara mereka." bisik Arick sungguh-sungguh.
Dimas sampai tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk uhuk!" Batuk Dimas, Zayn yang sedang asik bermain sampai menoleh kearah sang supir.
Kenapa sih? Batin Zayn lalu asik kembali dengan mainannya sendiri.
Arick yang ikut cemas pun mengelus-ngelus punggung Dimas.
"Begitu saja sampai tersedak." keluh Arick dan Dimas langsung buru-buru meminta maaf.
"Sekarang aku tanya, diantara Asih dan Melisa mana yang begitu menarik di matamu?" tanya Arick lagi saat Dimas sudah mulai tenang.
__ADS_1
Dimas yang awalnya bingung, kaget dan tak memahami maksud sang majikan. Kini mendadak merona kala ditanya tentang tertarik kepada siapa.
Jujur saja, memang ada yang ia sukai diantara kedua wanita itu.
Melihat raut wajah Dimas yang unyu-unyu kemerahan, Arick langsung tersenyum sumringah. Niat terselubungnya berhasil.
"Siapa? Asih atau Melisa?" tanya Arick lagi, menggoda.
Dimas yang malu-malu masih diam saja, sambil mengulum senyum.
"Jawab." ucap Arick dingin dan senyum Dimas langsung surut seketika.
"Asih Pak." jawabnya keceplosan.
Arick terbahak, ia bahkan memukul bahu Dimas berulang.
"Apa Bapak mau membantu saya untuk mendekati Asih?" tanya Dimas sambil bisik-bisik, takut ada yang mendengar. Padahal di halaman rumah itu tidak ada siapa-siapa. Hanya dihuni oleh mereka bertiga dan daun-daun yang bergoyang.
"Tidak, itu sih tugasmu sendiri." jawab Arick setelah tawanya mereda.
Bersyukur, Dimas sudah mempunyai wanita yang ia suka. Yang jelas, wanita itu bukan istrinya.
Mendengar jawaban sang tuan, Dimas langsung cemberut, ternyata sang majikan tidak membantu. Sia-sia saja membongkar isi hatinya sendiri. Sudah malu tapi tidak mendapatkan apa-apa.
Keduanya lalu kembali berbincang, Arick yang sudah tak memusuhi Dimas mulai menerima kehadiran si pemuda ini.
Lama-kelamaan mereka menjadi akrab, malah lebih terlihat seperti adik dan kakak ketimbang supir dan majikan.
Asih dan Melisa yang diam-diam mengintip dari dalam rumah, kesemsem sendiri, saat melihat sang pujaan yang tertawa-tawa bersama sang majikan.
Tiap kali melihat tawa Dimas, rasa tertarik itu makin membesar dihati keduanya.
Sesaat Asih khilaf, namun dengan cepat ia kembali sadar.
__ADS_1
Istigfar Sih, ingat mas Ilham di kampung. Batinnya mengingatkan diri sendiri.