Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 81


__ADS_3

"Untuk apa kamu kesini?" Jasmin buka suara, ia bahkan meninggalkan Jodi dan mendekati Lila.


Lila hanya menunduk, ia menggigit bibir bawahnya merasa takut. Sudah sejak lama ia ingin secara langsung menemui Jihan dan Arick.


Ingin mengucapkan kata maaf yang selama ini hanya terpendam.


"Apa matamu buta, jam segini malah bertamu di rumah orang," ketus Jasmin tak ada habisnya, ia sudah terlanjur muak pada wanita dihadapannya ini.


Melihat Jasmin yang sudah terbakar amarah, Selena mendekat dan memegang lengannya. Meminta Jasmin untu sabar dan memberi kesempatan Lila untuk menjawab.


Bukan sengaja Lila datang saat larut malam begini, namun saat diperjalanan tadi mobilnya sempat mogok.


Awalnya Lila enggan untuk masuk, namun saat melihat rumah Mardi yang masih ramai, akhirnya ia memutuskan untuk tetap kesini.


Tak ingin perjuangannya jauh-jauh ke Jakarta jadi sia-sia, perlahan Lila mulai mengangkat wajah.


"Maaf Bu, tapi saya kesini tidak ada maksud buruk. Saya hanya ingin meminta maaf atas kejadian di masa lalu," jelas Lila sungguh-sungguh.


"Maaf, karena baru sekarang saya baru berani menemui Ibu Jihan dan pak Arick." timpalnya lagi dengan air mata yang mengalir disudut matanya.


Arick hanya terdiam, tak punya kata-kata. Ia sangat enggan untuk membicarakan yang lalu, seolah kembali membuka luka yang sudah tertutup.


Seolah kembali membawa Arend diantara dirinya dan Jihan.


Sama halnya dengan sang suami, Jihan pun tak bisa berkata-kata. Bukan karena enggan menanggapi, malainkan merasa iba. Dilihatnya Lila dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Wajahnya pucat dengan banyak keringat yang belum kering. Perutnya membuncit, Jihan yakin jika saat ini Lila sedang hamil.


Apakah Lila menggunakan mobil itu ke Jakarta? saat kondisinya seperti ini? Ya Allah.


Tanpa aba-aba, Jihan lalu mendekati Lila dan memeluknya erat. Ia bahkan ikut menangis, benar-benar tak tega melihat keadaan Lila saat ini.


Semua orang terperangah, bahkan Jasmin pun hingga menggeleng tak percaya atas tindakan Jihan itu.


"Aku sudah memaafkanmu sejak lama, jadi jangan merasa bersalah lagi. Hiduplah dengan bahagia," jawab Jihan sambil melerai pelukkannya.

__ADS_1


Meski kecil, tapi Arick mengulas senyumnya mendengar ucapan sang istri. Makin yakin jika kini Jihan benar-benar sudah mencintainya, tidak ada lagi Arend diantara mereka.


"Ayo masuk, beristirahatlah disini malam ini." ajak Jihan sungguh-sungguh, ia benar-benar tak mampu membayangkan jika sudah larut malam begini Lila masih luntang lantung di jalanan.


"Tunggu-tunggu!" cegah Jasmin cepat.


"Untuk apa dia menginap disini, bukankah tujuannya hanya meminta maaf? ya sudah sekarang pulanglah, maafmu sudah terima." ketus Jasmin dan dengan cepat Selena langsung menarik Jasmin menjauh.


Benar-benar jahat, kesal Selena dalam hati.


"Sstt." Jodi memberi isyarat pada sang kekasih untuk diam, Jasmim hanya menurut, meski dengan cemberut.


"Ti-tidak usah Bu, biar saya langsung pulang ke Lampung bersama suami saya." jelas Lila yang merasa tak enak hati. Jihan memang memiliki hati bak malaikat. Tak peduli apa kesalahannya di masa lalu, kini Jihan tetap memperlakukannya dengan baik.


"Jadi beliau suamimu?" tanya Jihan dan Lila mengangguk.


Sesaat, Lila memperkenalkan suaminya itu. Hasan, bekerja sebagai supir di salah satu perusahaan gula di Lampung. Mobil pick up yang mereka gunakan itu adalah mobil perusahaan.


"Jangan buru-buru, besok pagi kalian bisa pulang. Malam ini beristitahatlah disini. Aku memaksa." tutur Jihan.


Terpaksa, akhirnya Lila menyetujui. Malam ini ia dan sang suami akan menginap disini.


Jasmin yang tak terima akhirnya mengajak Selena untuk menginap juga.


Selena menurut, ia pun sebenarnya tak terlalu percaya pada Lila, tapi ia juga merasa Iba. Ah, bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jihan langsung mengantar Lila untuk menempati salah satu kamar di sana, ia juga meminta pada Puji untuk menyiapkan makanan dan mengambilkan pakaian bersihnya agar bisa digunakan Lila untuk berganti.


Sementara itu, Arick terpaksa mengganggu istirahat sang papa dan ibu, mengatakan jika Lila kesini. Arick juga menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Ya Allah, kasihan sekali anak itu." Desis Mardi sementara Sofia hanya terdiam tanpa tanggapan.


"Ayo Bu, kita lihat dulu keadaan Lila saat ini. " Ajak Mardi, tapi Sofia malah menggeleng pelan.

__ADS_1


"Besok saja Pa kita temui dia, ku rasa dia tidak akan nyaman tidur disini jika melihat wajahku," Jawab Sofia apa adanya, jika diingat-inggat, pertemuan terakhir mereka dulu sangat buruk.


Kini pun rasanya sangat enggan untuk kembali memiliki hubungan. Tapi Sofia menghargai niat tulus Lila itu. Sofia pun sudah memaafkan Lila. Apalagi kini ia sudah hidup bahagia, keluarganya lengkap dan dia tidak ingin memikirkan hal yang lainnya lagi.


"Ya sudah, besok saja Rick papa dan ibu menemui Lila. Biarlah malam ini Lila beristirahat, dia pasti lelah."


Arick mengangguk, lalu ia pamit untuk undur diri keluar.


Saat kembali ke kamar, ia mendapati Jasmin dan Selena berada di dalam kamarnya.


"Hei, kenapa kalian disini? rumah ini masih banyak kamar kosong, kalian tinggal pilih mau tidur dimana. Asal jangan di kamar ini." ketus Arick sambil duduk di Sofa.


Jasmin dan Selena cemberut, Jihan juga sedikit kecewa.


"Baiklah, sepertinya malam ini kalian memang harus tidur berdua, apalagi ada wanita tidak tahu malu itu." jawab Jasmin ketus.


"Jas, jangan seperti itu. Aku yakin sekarang Lila sudah berubah, bahkan dia sudah menikah dan sekarang sedang mengandung." Jelas Jihan dan Selena mengangguk setuju.


"Benar kata Jihan Jas, semua orang pasti memiliki kesalahan, tapi dia juga berhak untuk berubah kan?" tanya Selena dan Jasmin kehabisan kata-kata.


Tak bisa lagi membantah.


"Jangan diungkit lagi tentang yang lalu. Kamu tahu, dengan memaafkan kita akan menemukan kedamaian." Setelah mengatakan itu Jihan mendekat pada Jasmin dan Selena.


"Baiklah, maafkan aku karena sudah keterlaluan." ucap Jasmin sambil merangkul kedua sahabatnya itu.


Ketiga wanita ini kembali berpelukan dan Arick yang memperhatikan hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sudah sudah, cepatlah keluar, aku ngantuk!" ketus Arick, ia berjalan mendekati pintu dan membukanya lebar-lebar. Kode agar Jasmin dan Selena segera keluar.


"Tuh kan Ji, apa kataku, suamimu ini pasti akan mengusir kami." decak kesal Selena, dengan bibir mengerucut ia menarik Jasmin untuk keluar dari kamar suami istri ini.


Ditangan mereka juga sudah ada baju tidur Jihan untuk ganti mereka nanti.


Setelah para pengganggu keluar, Arick langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

__ADS_1


Tidak ingin diganggu.


__ADS_2