Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 149


__ADS_3

"Ukh..." Rintih Johan membuka matanya perlahan menatap sekeliling yang dikenalinya sebagai kamar pribadinya. Kepalanya terasa berdenyut efek mabuk semalam.


Mabuk? Tunggu? Aku mabuk?


Johan segera menatap sekeliling kamarnya sekali lagi. Melihat tubuhnya masih memakai pakaian yang semalam. Dia pun menghembuskan nafas lega karena tidak ada yang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Selamat pagi." Sapa seseorang yang muncul dari pintu. Johan sontak menatap ke arah suara.


"Riko." Ucap Johan mengernyit mendapati Riko pagi-pagi sekali ada di kamarnya, di rumahnya.


"Apa yang kau lakukan pagi-pagi di rumahku?" Tanya Johan masih menatap Riko yang meletakkan nampan berisi sarapan dan minuman pereda mabuk.


"Ini sudah jam sebelas siang, sudah siang, bos." Jawab Riko tak menjawab pertanyaan Johan yang kebingungan.


"Oh ya?" Johan tersentak kaget lagi menatap jam dinding di kamarnya. Menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit.


"Minumlah! Mungkin bisa meredakan pengar karena mabukmu semalam." Riko menyodorkan sebotol mini minuman pereda mabuk semacam botol penambah vitamin.


"Aku mabuk?" Riko mengangguk.


"Kau yang mengantarku pulang?" Tanya Johan lagi sambil meminum minuman itu. Riko masih terdiam belum menjawab pertanyaan Johan lagi.


"Siapa yang mengantarku?" Tanya Johan sekali lagi.


"Kenapa bos mabuk? Bukannya dulu meski terpuruk bos paling anti untuk minum minuman beralkohol?" Ucap Riko balik bertanya. Johan terdiam tak menjawab. Wajahnya berubah sendu kembali. Seolah diingatkan tentang kejadian kemarin siang.


"Bos tidak takut jika mabukmu diketahui oleh istrimu?" Tanya Riko lagi menghujam jantungnya. Johan masih terdiam.


"Bos tahu kan kalau alkohol minuman haram?" Pertanyaan Riko lagi-lagi menohok dirinya. Dia ingat betul kenangan bersama istrinya.


Apapun masalahmu, apapun kegelisahanmu, seputus asa apapun dirimu, pasrahkan semua pada Allah SWT mas, karena hanya Beliau tempat kita berserah diri. Daripada minum minuman beralkohol ataupun melakukan hal putus asa lainnya.


Ucapan Karina yang pernah diucapkan dulu kembali terngiang di telinganya. Namun saat melihat istrinya dipeluk oleh pria lain membuat Johan kembali putus asa.


"Aku mandi dulu." Johan memilih untuk menghindari pertanyaan Riko.


"Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu." Ucap Riko membuat Johan berbalik menatap Riko dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Hati-hati dengan sekretarismu!" Peringat Riko membuat Johan semakin mengernyitkan keningnya.


"Maksudmu Celine? Ada apa dengannya?" Tanya Johan.


"Namanya Celine? Bukannya dia mantan kekasih almarhum kakakmu?" Riko malah balik bertanya.


Dia memang tahu kisah hidup Johan dan kakaknya. Itu semua karena Riko pernah diminta untuk mencari informasi tentang masa lalu kakaknya sebelum berhubungan dengan Karina.

__ADS_1


Dan salah satunya dia menemukan seorang wanita bernama Celine yang ternyata mantan kekasih almarhum kakak bosnya yang sudah memiliki seorang putri yang ternyata putri kandung almarhum kakak bosnya itu dan juga keponakan bosnya juga. Namun dia tidak tahu bagaimana wajahnya. Karena mereka sudah lama berpisah sejak sekolah menengah atas.


"Kenapa kau memintaku berhati-hati padanya?" Desak Johan.


"Dia yang membawamu pulang dan..." Riko menjeda ucapannya.


"Dan apa?" Johan semakin penasaran.


"Dia hampir saja membuka pakaianmu jika aku tidak segera datang. Saat kupergoki dia seperti ketahuan maling namun dia sempat berkilah kalau hanya membuka kancing kemejamu agar lebih nyaman." Jelas Riko membuat Johan mengernyit heran dan seketika wajahnya memerah karena marah dengan kelakuan sekretarisnya itu. Sudah sejak lama dia ingin mengusirnya dari pekerjaannya namun dia tidak bisa karena pekerjaannya selalu sempurna.


"Katakan! Apalagi yang dilakukan?" Marah Johan menatap memerah pada Riko membayangkan tubuhnya digerayangi oleh wanita lain yang bukan istrinya.


"Tidak ada. Aku keburu datang dan mengusirnya karena aku yang menggantikan tugasnya. Dia pun langsung pergi meninggalkan rumah ini." Jelas Riko lagi.


"Brengsek." Umpat Johan.


"Makanya aku hanya mengingatkan untuk hati-hati dengan sekretarismu."


"Terima kasih." Jawab Johan kembali masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


.


.


"Kau dimana?" Tanya dokter Ryan pagi itu saat menghubungi ponsel Johan.


"Bisa kita bertemu?" Tanya Ryan dengan nada cemas dan terdengar terburu-buru.


"Ada apa?" Tanya Johan heran, tak seperti biasanya sahabatnya itu mengajaknya bertemu.


"Ada yang ingin kukatakan. Penting!" Ucap Ryan dengan nada serius.


"Tentang apa?" Tanya Johan.


"Istrimu..." Belum selesai Ryan bicara, ponselnya tiba-tiba direbut seseorang dan diambilnya, langsung dimatikan panggilan itu.


"Kak, apa yang kakak lakukan?" Tanya Ryan merebut kembali ponselnya.


"Tidak. Sebelum kakak bicara padamu." Jawab dokter Ivan yang ternyata dialah pelaku yang merebut ponsel Ryan.


"Ada apa?" Tanya Ryan masih marah dengan kejadian waktu sarapan tadi.


"Jangan katakan apapun pada Johan!" Larang dokter Ivan menatap Ryan serius.


"Apa maksud kakak?" Tanya Ryan.

__ADS_1


"Kakak hanya minta tolong. Jangan katakan apapun pada Johan tentang Karina! Dia butuh waktu untuk bertemu dengan suaminya." Pinta Ivan membuat Ryan berdecih.


"Apa maksud kakak? Kakak mau menyembunyikan istri orang? Seharusnya kakak tidak berhak atas semua itu. Bagaimana pun mereka sudah menikah dan menjadi suami istri. Kakak tahu bagaimana putus asanya Johan ditinggalkan istrinya? Bahkan kemarin dia melihat kakak memeluk Karina. Apa maksud kakak menyembunyikan lebih lama darinya?" Ucap Ryan marah.


"Bukan seperti itu Ryan, kau tak tahu apapun yang terjadi pada mereka. Karina belum siap bertemu dengan suaminya. Biarkan dia tenang untuk mempersiapkan diri. Kau tak tahu apapun." Ucap Ivan kesal.


"Kakak sendiri tahu apa, jika mereka mempunyai masalah. Itupun urusan mereka berdua. Kakak tidak berhak ikut campur."


"Kakak hanya tidak ingin penyakit Karina kambuh lagi, kau tahu apa dengan semua itu. Aku yang tahu penderitaan adikku setahun lalu. Hingga baru beberapa hari ini dia dinyatakan sembuh total meski harus menjaga diri agar tidak kambuh lagi." Ujar Ivan membuat Ryan terdiam. Dia tidak tahu tentang penyakit Karina , berita yang didengarnya terakhir kali ada kista di dalam rahim Karina namun dia tidak tahu setelah itu.


"Tapi kak...Johan..."


Cklek


Keduanya tak melanjutkan ucapannya demi melihat siapa yang membuka pintu, Karina muncul dan menatap keduanya dengan tatapan mata sendu.


"Apa yang terjadi dengan suamiku?" Tanya Karina menatap Ryan sendu.


"Johan terpuruk, semalam dia mabuk-mabukan. Bahkan dia melihatmu kemarin dipeluk dengan seorang pria. Kurasa dia tak tahu kalau kak Ivan adalah kakakmu. Dan mungkin hal itu membuatnya mabuk-mabukan karena salah paham." Jelas Ryan menatap Karina serta melirik Ivan yang ikut terdiam.


"Kak." Panggilan lembut dari Karina membuat Ivan menoleh menatap Karina.


"Ya?"


"Apa aku harus menemuinya sekarang?" Tanya Karina meminta izin pada kakaknya.


"Tunggu papa memberi kabar!" Jawab Ivan.


"Papa? Apa yang akan dilakukan papa?" Tanya Karina bingung begitu juga dengan Ryan juga tak mengerti tentang apa hubungan sang papa dengan pertemuan Karina dan suaminya.


"Kita tunggu saja! Dan kau Ryan... katakan niatmu yang ingin mempertemukan Karina dengan suaminya pada papa. Sebelum kau lancang." Tegur Ivan.


"Ayo, istirahatlah di kamar!" Ajak Ivan membuat Karina mau tak mau menuruti ucapan kakaknya. Selalu seperti itu jika dia bertanya dan berniat untuk menemui suaminya.


.


.


TBC


Epilog


"Ada apa anak itu? Kenapa tiba-tiba mematikan ponselnya? Memangnya apa yang dikatakan terakhir itu ya?" Guman Johan menatap ponselnya yang telah mati dari panggilan ryan, sahabatnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2