Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 8


__ADS_3

"Tuan besar!" Seru Ramon masuk tiba-tiba ke ruang meeting di perusahaan Mulia grup.


Dokter Nathan menatap tajam dan dingin pada asisten kepercayaannya itu. Padahal dia sedang mendengarkan presentasi salah seorang kliennya saat ini. Tadi Ramon minta izin sebentar keluar ruang meeting untuk menerima panggilan ponselnya.


Semua orang yang ada di ruang meeting melihat ke arah Ramon muncul dengan wajah panik dan cemas. Juga ketakutan yang membuat wajahnya ikut pucat pasi. Seolah kabar buruk yang diterimanya dari panggilan ponsel tadi.


"Katakan!" Jawab dokter Nathan masih menatap tajam ke arah Ramon.


Ramon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa salah tingkah dilihat oleh semua orang di ruang meeting tersebut. Dia pun kembali merubah ekspresinya seperti biasa. Tetap cool dan datar.


Dia mendekati dokter Nathan dan berbisik pelan di telinga dokter Nathan memastikan kalau tidak ada yang mendengarnya selain mereka berdua. Karena Ramon yakin, kabar yang dibawanya bukan kabar untuk konsumsi publik sebelum tuannya memutuskan mendengarnya dulu.


Dokter Nathan sontak berdiri dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Dia pun segera melangkah cepat keluar dari ruang meeting. Ramon sendiri seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan, dia pun menatap semua orang yang ada disitu.


"Meeting ditunda. Nanti saya akan memberi kabar kepada anda semua. Karena ada sesuatu hal yang sedikit genting dan darurat yang tidak bisa ditinggalkan oleh Presdir." Jelas Ramon sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat sekaligus meminta maaf mewakili tuan besarnya.


Semua orang pun hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan tanpa berani membantah karena mereka tahu sebesar apa kekuasaan tuan besar Jonathan Mulia.


Ramon segera berlari mengikuti langkah dokter Nathan yang sudah mencapai lobi. Ramon pun segera datang segera setelah berlarian kencang dan menahan pintu mobil.


"Tuan besar!" Panggil Ramon dengan nafas yang terengah-engah.


"Kau urus kantor."


"Ya?" Belum selesai Ramon berpikir pintu mobil sudah ditutup oleh sopir pribadi dokter Nathan dan langsung melaju menuju tempat yang diperintahkan tuan besarnya.


Ah, kalau tahu aku tidak ikut begini, sebaiknya kulanjutkan saja meeting tadi. Batin Ramon yang hanya berani mengungkapkannya dalam hati meski tuan besarnya sudah tidak berada dekatnya.


.


.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ryan siang itu mengunjungi mansion Johan setelah seminggu di rumah.


Dia hanya dirawat selama tiga hari setelah Ryan memaksanya. Sebenarnya dia ingin sekali pergi untuk mencari keberadaan istrinya. Namun perawat yang disewa Ryan untuk merawatnya sekaligus menjaganya agar tidak kabur membuat Johan tetap berada di mansionnya dan hari ini sudah hari ke lima dia di mansion setelah pulang dari rumah sakit.


"Seperti yang kau inginkan." Jawab Johan masih kesal pada Ryan karena mengekangnya di mansion miliknya sendiri.


"Kau tahu aku melakukannya karena kau sahabatku. Jadi jangan mengeluh." Jawab Ryan santai.

__ADS_1


"Ya..ya... terserah kau saja." Jawab Johan tidak bersemangat berusaha untuk baik-baik saja meski dalam benaknya sudah menyusun rencana untuk mencari keberadaan istrinya


"Jangan nekat! Istrimu tidak ada disana!" Celetuk Ryan seolah tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


"Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?" Ucap Johan balik bertanya.


"Papaku bukan orang yang bodoh akan melakukan kesalahan yang sama. Dia tidak ada di villa itu lagi. Mungkin di villa keluargaku yang lain. Mungkin?" Jelas Ryan mengedikkan bahunya tanda tak tahu.


"Huff... aku merindukannya Ryan. Aku sangat merindukannya." Lirih Johan menundukkan kepalanya yang tanpa sadar air matanya menetes dan segera diusapnya.


"Aku tahu. Kau harus bersabar sebentar lagi. Pasti ada keajaiban." Hibur Ryan menepuk lengan Johan memberi semangat.


"Semoga!"


"Aku sudah bicara pada papaku."


"Dia tak mengatakannya kan?" Ryan mengangguk.


"Tapi kau jangan cemas, Kak Ivan akan bantu kita untuk mencari tahu membujuk papa."


"Bahkan kakak kesayanganmu itu juga tidak tahu?" Jawab Johan terkejut, biasane tidak ada yang tidak diketahui oleh seorang Jonathan Mulia. Ryan menggelengkan kepalanya tak tahu.


"Apa maksudmu? Apa kau akan menyerah semudah itu? Dimana semangatmu yang menggebu-gebu kemarin?" Kesal Ryan menatap Johan datar.


"Ryan, seolah aku memang tidak pantas untuknya. Bahkan setelah dia bertemu dengan keluarga kandungnya. Kalau sampai dia bersama keluarganya sejak dulu bukankah hubungan kami belum tentu direstui." Curhat Johan mengusap wajahnya kasar.


"Apa kau sudah tak mencintainya? Apa kau berharap melupakannya dan dia juga melupakanmu begitu?"


"Kalau hal itu bisa membuatnya bahagia aku pun rela Yan? Sekarang saja aku tak tahu dimana istriku. Apa aku sebodoh itu sampai istriku menyetujui perintah papanya untuk meninggalkanku yang suaminya. Aku pun tak sanggup jauh darinya Yan, aku mencintainya, aku sangat merindukannya. Dimana dia Ryan? Dimana istriku? Hiks...hiks..." Ucap Johan putus asa menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terdengar isakan tangis pilu dari Johan.


"Yakinlah kalau dia akan kembali dan baik-baik saja!" Ucap Ryan memberi semangat sambil menepuk-nepuk pelan punggung Johan sekedar penghiburan.


"Jangan menyerah dan jangan putus asa! Kami juga berusaha membantumu, setidaknya tunjukkan pada papa, kalau kau sangat mencintainya, kau akan berjuang untuknya. Kalau kau hanya menginginkan bersamanya!" Hanya isakan tangis yang terdengar namun Johan meyakinkan dirinya kalau dia tidak akan menyerah.


.


.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya dokter Nathan pada dokter pribadi keluarganya.

__ADS_1


"Nona muda baik-baik saja tuan." Jawab dokter itu sambil menjeda ucapannya, merasa ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa? Apa ada yang serius padanya? Apa penyakitnya kambuh lagi?" Tanya dokter Nathan tidak sabaran menatap kesal dokter yang merupakan juniornya di kampus dulu.


"Tidak ada. Tidak ada yang serius terjadi padanya. Hanya... nona muda sedang hamil." Ucapan dokter itu membuat dokter Nathan terdiam bungkam.


"Kau pasti salah diagnosis." Ucap dokter Nathan.


"Anda bisa memeriksakan pada dokter obgyn atau lakukan tes alat kehamilan. Saya memang bukan dokter kandungan. Namun tanda-tanda yang saya lihat itu benar, tapi saya yakin. Dan itu mungkin baru beberapa minggu sekitar tiga atau empat minggu mungkin." Jelas dokter itu yang lagi-lagi membuat dokter Nathan terdiam tak menjawab apapun.


Dokter Nathan terlihat memijat pelipisnya di balkon villa milik keluarganya. Dan itu adalah villa Sangrila, villa kesukaan istrinya dulu. Ya, dokter Nathan tetap membawa putrinya ke villa itu karena dia hanya sanggup pergi ke villa tersebut saat merindukannya.


Selain untuk mengelabuhi semua orang karena tebakan seseorang tentang dirinya pasti semua orang mengira kalau dia tidak akan membawanya lagi ke villa yang sama mengingat bukan hanya satu atau dua villa yang dia miliki.


"Apa yang harus kulakukan sayang? Apa aku harus mengikhlaskan putri kita pada suaminya?" Guman dokter Nathan.


"Ini kopinya tuan besar." Ucap kepala pelayan yang dipercaya dokter Nathan untuk mengurus villa kesayangan mendiang istrinya.


"Ed."


"Ya tuan?" Kepala pelayan yang sering dipanggil Edward itu terdiam menatap tuan besar yang dilayani sejak remaja itu sendu. Tuan besarnya itu selalu datang ke villa tersebut hanya untuk sekedar berbincang padanya seolah meminta pendapatnya selayaknya seorang teman atau sebagai orang tua.


"Apa yang harus kulakukan?" Dokter Nathan menerawang menatap langit cerah di depannya.


"Ikuti kata hati anda tuan. Tuan besar adalah orang yang bijak." Jawab Edward sopan dan ramah.


Selalu jawaban yang sama yang didapatkan Jonathan saat dia curhat pada Edward yang dijadikan orang tua yang dipercayainya setelah orang tuanya meninggal. Namun meski hanya begitu dan selalu sama yang dijawabnya itu sudah mampu membuat Jonathan tenang dan mengambil keputusan yang bijak. Hanya sekali Edward menentang keputusanya saat dia berkeinginan untuk memisahkan pasangan sejoli itu. Dan sekarang kata hatinya bertentangan dengan keadaan.


Hamil... bukan prediksi yang bisa ditebaknya terjadi pada putrinya. Bukan tak percaya putrinya bisa hamil. Tapi vonis dokter yang menanganinya saat kemoterapi kista saat itu, putrinya divonis akan sulit hamil meski ada kemungkinan tidak bisa hamil alias mandul itu ada. Saat itu Jonathan memutuskan untuk memisahkan keduanya sebelum putrinya mendapatkan hinaan, cacian dan makian lebih banyak dari keluarga suaminya terutama dari ibu mertuanya.


Tapi cara Tuhan sungguh adil, seolah ingin menunjukkan padanya kalau mereka tidak bisa dipisahkan oleh siapapun termasuk dirinya sebagai seorang ayah yang sangat merindukan putrinya puluhan tahun. Jonathan hanya menginginkan kebahagiaan putrinya yang telah lama sendiri tanpa keluarga dan memutuskan dengan berpisahnya putrinya dengan suaminya, itu adalah jalan terbaik untuk putrinya.


Agar terhindar dari ketidak diterimanya di keluarga suaminya karena sulit hamil. Dan sekarang putrinya sungguh hamil. Senang? Tentu saja Jonathan senang. Bahagia? Tentu saja Jonathan juga bahagia sehingga tidak ada alasan lagi baginya untuk memisahkan pasangan itu. Namun Jonathan tidak akan secepatnya menyerah, dia akan melihat sebesar apa menantunya itu berjuang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2