
"Selamat sore sayang." Sapa Johan saat memasuki kamar utama mereka. Karina terkejut mendapati tangan melingkar di pinggangnya. Pasalnya saat ini dia sedang memakai skincare wajah setelah mandi. Namun dia melamun menatap cermin rias yang ada di hadapannya ini.
Meski dia merasa kesal dalam hatinya pada suaminya. Dia tak pernah melupakan menyambut suaminya pulang kerja yang biasanya melewati pukul delapan malam. Namun tumben-tumbenan suaminya sudah pulang di pukul lima sore.
"Istriku sangat cantik." Puji Johan sambil mengecupi pipi istrinya penuh cinta. Karina yang masih terbengong dengan kepulangan suaminya yang tiba-tiba masih mencerna bahwa yang ada di hadapannya ini adalah benar-benar suaminya.
Cup
Cup
Cup
Kecupan di bibir istrinya yang masih terdiam belum menjawabnya. Namun bukan hanya kecupan tapi lama kelamaan menjadi luma*tan dan pagu*tan mesra dari suaminya. Namun Karina tidak meresponnya tapi lama kelamaan merasakan keenakan dengan sikap mesra suaminya membuat Karina perlahan membalas luma*tan serta pagu*tan suaminya.
Hingga desa*han tanpa sadar keluar dari bibir mungil Karina membuat Johan semakin berkabut hasrat dan menekan tengkuk istrinya memperdalam ciuman mereka.
Hingga merasakan istrinya kehabisan nafas Johan melepas pagu*tannya. Johan menempelkan keningnya di kening istrinya dengan nafas sama-sama memburu.
"Aku selalu mencintaimu, hanya padamu, sampai maut memisahkan kita." Bisik Johan menatap mata istrinya lekat yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Air mata pun luruh di sudut mata istrinya membuat Johan menghapus air mata itu.
"Maaf jika aku membuatmu kecewa, maaf jika kamu belum bisa bahagia bersamaku. Maaf atas semua kesalahanku. Apapun itu." Bisik Johan lagi membuat Karina tiba-tiba terisak dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Johan pun merengkuh tubuh istrinya lembut memperlakukan seolah dia akan remuk jika dia mendekapnya erat.
"Maaf mas...maaf... Kamu nggak salah mas, kamu nggak salah... akulah yang salah... maaf...maafkan aku..." Bisik Karina terisak dalam dekapan dada bidang suaminya.
"Nggak sayang, kamu sempurna di mataku. Akulah yang selalu kurang di depanmu. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu." Jawab Johan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya masih tetap mendekap tubuh istrinya erat. Seolah takut kehilangan dan ditinggalkan.
__ADS_1
"Hiks...hiks...hiks.." Isak Karina tanpa bisa berhenti masih menyembunyikan wajahnya di dekapan tubuh suaminya. Air mata Johan sempat menetes di pipinya namun dia segera menghapusnya.
Aku harus kuat, aku harus bisa menjadi kekuatan istriku. Aku hanya mencintaimu seumur hidupku. Batin Johan.
.
.
Johan menatap wajah istrinya yang terlelap terbaring di ranjang. Dengan mata sembab dan bekas air mata yang sempat menetes di pipinya tadi. Hati Johan merasa terenyuh dan bersalah menatap istrinya. Dadanya terasa dihimpit batu besar membuat Johan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kamu kekuatanku sayang, kalau kamu mendiamkan aku seperti sebelumnya aku tak akan sanggup. Lebih baik kau pukul aku atau kamu berteriak marah padaku. Daripada kamu mendiamkanku sehingga aku tak tahu apa salahku dan bagaimana aku memperbaikinya. Aku mencintaimu. Sangat." Bisik Johan sambil membelai lembut rambut istrinya dan menyingkirkannya yang menutupi wajah istrinya.
Setelah menangis terisak dalam dekapan suaminya. Karina pun terdiam hingga Johan kebingungan apa yang terjadi pada istrinya. Hingga nafas teratur terdengar dalam dadanya membuat Johan menyunggingkan senyum tipis menebak kalau istrinya sedang tertidur karena kelelahan menangis. Mungkin juga merasakan kelegaan setelah melampiaskan semua isi hatinya dalam dekapannya.
.
.
"Apa yang anda keluhkan nona?" Tanya dokter Ivan saat memeriksa Karina di hari ketujuh Karina untuk terapi dan kontrol kondisinya. Dokter Ivan terpaksa memanggil Karina dengan formal karena ada suaminya yang terus mendampinginya. Atau dia akan mendapatkan tatapan tajam darinya karena dia tahu secemburu dan seposesif apa Johan.
"Tidak ada dok." Jawab Karina dengan nada lembut.
"Apa ada hal yang harus dihindarinya dok? Makanan misalnya?" Tanya Johan yang sejak tadi mendampingi istrinya melakukan terapi dan pemeriksaan.
"Sejauh ini tidak perlu menghindari makanan apapun. Hanya kondisi psikisnya yang harus diperhatikan. Jangan sampai banyak pikiran dan tertekan tentang apapun!" Jawab dokter Ivan menatap Johan. Johan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dokter Ivan berganti menatap wajah Karina yang sudah mulai memerah ketimbang terakhir bertemu saat hendak pulang setelah pemulihan pasca operasi. Wajahnya terlihat khawatir.
__ADS_1
Dia adikmu Ivan, sadarlah! Saat kutatap dengan lekat, kamu memang mirip dengan mama. Batin dokter Ivan mulai menulis resep obat untuk Karina.
"Dokter Ivan."
"Ya?" Dokter Ivan tersentak kaget, pasalnya dia sedang berkonsentrasi menulis resep obat Karina namun Johan menyentaknya dengan panggilan sedikit kencang hingga membuatnya terkejut. Bahkan Karina pun ikut terkejut mendengar seruan panggilan suaminya pada dokter Ivan.
"Bisa kita bicara berdua saja!" Ucap Johan tegas menatap tajam wajah dokter Ivan.
"Tentu." Jawab dokter Ivan tak tahu kenapa dia merasa dimusuhi oleh Johan.
"Sayang, bisa kamu tunggu kami diluar. Aku mau bicara berdua membahas tentang pekerjaan." Bujuk Johan menatap istrinya dengan tatapan mata lembut penuh cinta membuat dokter Ivan melongo melihat pemandangan yang terlihat asing di hadapannya dan dia sedikit... cemburu, may be.
Karina masih terdiam belum mengiyakan permintaan suaminya yang terlihat manis di bibir tapi terdengar ngeri di telinganya.
"Baiklah."
"Biar kuantar istriku sebentar dokter." Ucap Johan menatap dokter Ivan yang diangguki olehnya.
Johan mendekap pinggang istrinya erat menunjukkan kepemilikannya pada istrinya di hadapannya dokter Ivan yang terlihat menghela nafas panjang.
.
.
TBC
__ADS_1