
Karina menyentuh perutnya. Baru dua jam lalu dia selesai sarapan tapi entah kenapa dia merasa lapar lagi. Karina menghela nafas panjang entah kenapa akhir-akhir dia merasa lapar. Biasanya dia tidak begitu bernafsu makan sebelumnya. Saat baru saja dipaksa untuk berpisah dari suaminya. Tapi sekarang baru dua jam lalu dia sarapan nasi goreng seafood seperti yang dipesannya pada bibi namun sekarang dia sudah lapar lagi.
Sampai sejauh ini sudah seminggu lebih sejak Karina hamil. Namun dokter Nathan tetap tak mengatakan yang sebenarnya pada Karina. Dan Karina pun juga tak memaksa mencari tahu. Dia memang sudah tidak seyakin itu bahwa akan ada kabar baik. Dia hanya pasrah pada sang pencipta. Hanya dzikir dan doa yang selalu dipanjatkan jika dia merasa sedang suntuk dan putus asa. Berdoa agar hati papanya luluh dan merestui hubungannya dengan suaminya.
Itulah yang Karina yakini saat ini tidak tentang hal lainnya. Dia berharap sang pencipta mampu membalikkan hati papanya karena hanya Dia lah yang mampu membolak-balikkan hati umat-Nya.
"Nona mau sesuatu?" Tanya bibi melihat Karina datang ke dapur penuh tanda tanya.
"Ah... i-itu... a-aku..." Ragu Karina mengungkapkan keinginannya selain malu dan tak enak hati. Karina juga tak tahu apa yang terjadi dengannya beberapa hari terakhir ini.
"Apa nona ingin makan sesuatu?" Tanya bibi yang notabene tahu tentang keadaan Karina yang memang sedang hamil beberapa minggu. Tuan besarnya yang memberi tahu namun menyuruhnya untuk diam saja tanpa bicara apapun. Dia hanya diminta untuk melayani dan memberikan apapun pada nona majikannya yang diminta seperti makanan dan minuman bergizi termasuk susu untuk ibu hamil namun jangan sampai membuatnya curiga.
Saat itu bibi hanya diam dan mengiyakan tak berani bertanya lebih jauh lagi. Diam-diam dia bahagia mendengar kabar tersebut tapi tetep menjadi pertanyaannya kenapa hal bahagia itu harus disembunyikan. Namun bibi tak berani bertanya apa-apa. Mungkin ada suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan dengan dirinya yang memang tidak terlalu penting untuk tahu.
"Ah...iya." Jawab Karina meski rasa malu menghampirinya.
"Ini ada irisan buah, nona bisa makan ini dulu. Juga ada sedikit biskuit jika nona menginginkannya." Tawar bibi menyodorkan beberapa biskuit dan potongan buah yang sudah disiapkannya beberapa menit yang lalu karena bisa menebak sudah lima hari ini Karina merasa lapar setelah sarapan. Dan hal itu normal untuk ibu hamil. Apalagi janin yang dikandung sang nona tidak hanya satu.
"Terima kasih bi." Karina menerima uluran nampan itu namun ditolak oleh bibi.
"Biar saya bawakan nona! Nona ingin makan dimana?" Karina hendak menyela tapi bibi keburu jalan yang diikuti Karina ke ruang tengah di villa sambil menonton televisi.
"Terima kasih bi."
__ADS_1
"Sama-sama non." Jawab bibi sambil berlalu kembali ke dapur setelah meletakkan nampan di meja.
Karina meraih mangkuk berisi potongan buah itu dan mulai makan dengan santai dan terlihat menikmati seolah bebannya seperti hilang saja. Biskuit sehat yang disediakan bibi juga ikut ludes dimakan Karina tanpa sadar.
"Masya Allah." Guman Karina terkejut karena potongan buah dan biskuit satu toples tadi sudah raib dimakannya tanpa sisa. Tidak seperti yang Karina bayangkan. Dia benar-benar tanpa sadar telah melahap semua camilan itu tanpa sisa seperti orang yang kelaparan dan tidak makan selama beberapa hari.
Karina meneguk susu hamilnya yang tidak diketahuinya. Yang dia tahu itu susu biasa yang sering dia minum karena selama di villa, bibi selalu memberinya susu untuk memenuhi gizinya selama disini. Dan itu pun Karina terpaksa makan karena semua hal itu atas perintah papanya dan Karina tak bisa menolak meski tidak suka dan sekarang dia menjadi terbiasa hingga tidak sadar kalau susunya diganti dengan susu ibu hamil.
.
.
"Tuan, tuan muda Ryan berkali-kali ingin bertemu dengan anda." Beri tahu Ramon untuk kesekian kalinya namun dokter Nathan benar-benar menolak bertemu putra bungsunya itu.
"Biarkan saja!" Jawab dokter Nathan acuh.
"Hal itu apa?"
"Tuan muda Ryan menduga kalau non Karin sedang hamil." Ucap Ramon membuat dokter Nathan mendongak menatap Ramon memicing.
"Tuan muda hanya menebak tuan, tidak ada yang memberi tahu beliau apa lagi saya. Bahkan semua jaringan internet di sekitar villa sengaja sudah sengaja diputus saat nona disana." Ucap Ramon beralasan tak mau disalahkan karena dia benar-benar tak memberi tahunya.
"Suruh dia datang malam nanti!" Ucap dokter Nathan akhirnya.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Ramon sopan.
.
.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya dokter Nathan begitu putra bungsunya itu datang ke ruang kerjanya di mansion utama.
"Papa, tolong katakan dimana mbak Karin? Kumohon jangan pisahkan mereka!" Ucap Ryan sambil berlutut di depan meja papanya.
Dokter Nathan hanya menatap dingin dan tajam pada putra bungsunya itu. Dia juga jadi kesal kenapa putranya yang harus bekerja keras demi sahabatnya itu kemana orang yang bersangkutan. Kenapa tidak memperjuangkan putrinya yang malah semakin membuat dokter Nathan kesal.
"Sudah satu minggu lebih Johan berbaring lemah di rumah sakit karena efek morning sickness yang dialami. Johan mengalami kehamilan simpatik. Jadi, kumohon papa berbelas kasih pada mereka. Jangan pisahkan keluarga kecil itu papa, apalagi akan ada anak diantara mereka. Apa papa tega memisahkan cucu papa dengan ayah kandungnya?" Mohon Ryan dengan sungguh-sungguh masih berlutut di tempatnya.
Memang setelah Johan memaksakan dirinya untuk bangun beberapa hari itu. Johan kembali pingsan dan tubuhnya kembali lemah meski sebenarnya dia mencoba menolak keadaan itu. Tapi tubuhnya benar-benar tidak mendukung tentang usahanya. Akhirnya Ryan yang berinisiatif berjuang menemui papanya demi hubungan keduanya.
Dokter Nathan terdiam lama mencerna ucapan putra bungsunya. Dokter Nathan masih terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Papa." Panggil Ryan lagi penuh permohonan menatap sang papa.
"Pergilah!" Usir dokter Nathan kembali pura-pura serius dengan pekerjaannya namun pikirannya melanglang buana entah kemana.
"Pa. Kumohon! Jangan terlalu kejam pada mereka pa. Mereka saling mencintai. Mereka sudah menunggu hal itu sangat lama. Pa!" Seru Ryan sambil Ramon dan beberapa bodyguard mengeluarkan Ryan dengan paksa.
__ADS_1
.
.