
Nadine dan Danan saling bergandengan tangan saat berjalan di pusat perbelanjaan di kota itu. Hari itu Nadine mengajak Danan untuk menemani dirinya berbelanja dan mencari barang yang diinginkan. Akhirnya setelah berbelanja itu, Danan mengajak. Nadine lihat film di studio. Nadine pun tidak menolak nya.
Saat di dalam studio film itu, kedua tangan mereka saling berpegangan. Danan merangkul pundak Nadine hingga keduanya sangat dekat. Suasana studio yang remang-remang dan sangat mendukung membuat keduanya begitu larut dalam keintiman. Sampai akhirnya film itu selesai diputar mereka saling berpegangan tangan.
"Danan, kita mau kemana?" tanya Nadine. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku akan memperkenalkan kamu pada mamaku," jawab Danan. Nadine menyipit bola matanya mendengar jawaban dari Danan.
"Danan, apakah tidak terburu-buru? Kita baru saja saling kenal dan memutuskan berpacaran. Kenapa kamu sudah mau mengenalkan aku pada mama ku, Danan?" sahut Nadine.
"Aku sudah mantap dan ingin serius dengan hubungan ini. Aku ingin menikah secepatnya. Aku ingin menikah muda, Nadine. Kamu mau kan menjadi ibu dari anak-anak ku?" kata Danan.
Nadine tersenyum lebar. Dia tentu sangat bahagia jika Danan sangat serius dengan hubungan mereka saat ini. Namun untuk cepat-cepat menikah, rasanya Nadine seperti belum siap.
"Tapi Danan!? Kenapa ingin cepat-cepat menikah sih?" sahut Nadine.
"Jujur ketika didekat kamu, rasanya aku sudah tidak bisa menahan diriku. Memangnya kamu mau jika kita berpacaran lalu kebablasan? Walaupun aku tahu selama ini kamu tinggal. dan lama di luar negeri tapi aku tetap ingin memegang prinsip, akan melakukan itu setelah aku resmi menikahi dan menjadikan kamu istriku. Baru setelah kita halal, aku bisa melakukan nya denganmu sepuasnya," urai. Danan dengan mengedipkan bola matanya genit pada Nadine.
"Danan?! Kamu tahu gak? Kata Ayu, cara berpacaran kita ini sangat kolot dan seperti anak kecil. Saat Ayu bertanya soal ciuman, dan aku bercerita bahwa kita gak pernah berciuman, Ayu tertawa terbahak-bahak dan mengejek ku," cerita Nadine. Danan terkekeh saja mendengar cerita dari Nadine.
__ADS_1
Saat mobil itu tiba di jalanan sepi, Danan menepikan mobilnya itu dan menghentikan nya di sana. Danan melepaskan sabuk pengamannya lalu sedikit menggeser badannya mendekati Nadine. Kini serta merta wajah mereka begitu dekat. Nadine tentu saja sangat terkejut dengan pergerakan Danan yang seperti hendak mencium dirinya. Kedua netra mereka bertemu. Kedua nafas mereka sudah saling beradu. Nadine diam dan akhirnya menutup matanya seolah sudah siap jika Danan ingin menciumnya. Bahkan jika Danan ingin melakukan nya di dalam mobil untuk yang pertama kalinya, Nadine sudah sangat siap. Karena Nadine telah menyukai Danan. Pesona Danan tidak bisa ia tolak.
Cukup lama Nadine menunggu. Tapi bibir nya tidak ada yang menyentuhnya bahkan menciumnya. Kedua matanya akhirnya ia buka dan menatap Danan masih memandangi wajahnya begitu dekat. Dengan senyum jail dan nakalnya, Danan menarik hidung Nadine karena gemas.
"Hahaha, aku tidak ingin melakukan nya dengan mu sekarang, Nadine!? Aku ingin menikahi kamu terlebih dahulu. Oke?" kata Danan sambil tertawa terbahak-bahak melihat wajah kekecewaan dari Nadine yang ia pikir Danan akan menciumnya tetapi kenyataan nya tidak Danan lakukan. Tentu saja Nadine menjadi malu dan bibirnya jadi manyun cemberut.
"Kalau sekedar ciuman saja, masak kamu tidak mau melakukan nya dengan ku sih, Danan??" protes Nadine yang tiba-tiba nekat mendekati Danan. Tanpa ancang-ancang dan persiapan Nadine segera mencium bibir tebal Danan hingga rakus. Mata Danan melebar karena sangat terkejut dengan sikap agresif Nadine. Cukup lama Nadine mencium bibir itu hingga memainkan lidahnya di sana. Tetapi Danan belum mau membalasnya, hingga tangan Nadine sudah menyentuh bagian pribadi milik Danan supaya Danan membalas ciumannya yang semakin liar dan ganas. Tapi dengan pelan Danan mendorong tubuh Nadine hingga lepas pagutan ciuman dibibir nya.
"Eh em, maaf!! Aku menyayangimu Nadine. Tapi aku tidak ingin melakukan nya sekarang sebelum aku menikah mu," ucap Danan seraya merangkum kedua pipi Nadine. Tentu saja Nadine kembali merasa malu karena dirinya sudah tidak bisa menahan dirinya.
"Baiklah! Kita lebih baik secepatnya menikah, Danan!! Aku mau menikah muda dengan mu!" ucap Nadine pelan. Danan tersenyum lebar mendengar itu semuanya.
*****
"Mama, kenalkan ini Nadine, pacarku ma! Nadine, ini mama ku yang cantik sendiri!?" ucap Danan saat mereka sudah tiba di rumah kediaman orang tua Danan.
"Danan, kamu sangat pinter memilih calon istri. Kamu kenapa. sangat cantik sekali, nak?!" kata Anura seraya memeluk Nadine begitu erat. Anura belum menyadari bahwasanya Nadine adalah putri nya yang hilang dulu.
"Tante, rasanya seperti dipeluk dengan seorang ibu. Mungkin selama ini aku belum pernah merasakan pelukan seorang ibu," kata Nadine yang masih ingin berlama-lama dipeluk oleh Anura. Anura menyipit bola matanya mendengar pengakuan dari Nadine.
__ADS_1
"Ayo duduk dulu! Mama hari ini masak banyak dan juga kue kue. Danan, kenapa kamu tidak bilang dengan mama kalau membawa Nadine ke rumah? Kalau sebelumnya bilang kan, mama akan mempersiapkan makanan kesukaan Nadine," kata Anura yang mengajak Nadine duduk. Danan juga ikut duduk di sana.
"Memangnya mama tahu makanan kesukaan Nadine?" sahut Danan.
"Hehehehe, kan nanti mama tanya dulu ke kamu makanan apa kesukaan, Nadine!?" kata Anura.
"Saya makanan apa saja suka kok, tante!?" sahut Nadine.
"Oh iya, ma! Nadine ini sejak lahir, ibu nya meninggal dunia. Selama ini Nadine dibesarkan oleh ayahnya. Bahkan baru saja ayahnya menikah lagi. Benar begitu kan, Nadine?" kata Danan. Nadine mengangguk pelan untuk membenarkan apa yang dikatakan oleh Danan.
"Makanya saat tante memeluk saya, saya merasakan kenyamanan dan kehangatan seorang ibu. Walaupun saya tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu," sahut Nadine.
"Eh, ya ampun!? Kasihan sekali, kamu sayang!? Sekarang kamu bisa menganggap aku mama kamu yah seperti Danan. Oke?" kata Anura sambil kembali memeluk Nadine.
"Mama, Nadine akan aku nikahi dan Nadine akan menjadi istriku. Kami ingin menikah secepatnya, boleh kah ma?!" sahut Danan tanpa banyak basa-basi.
"Boleh, mama akan bicara dengan ayah kamu nanti setelah ini. Kita harus datang ke rumah Nadine untuk melamar Nadine bukan?" kata Anura tanpa berpikir panjang segera menyetujui rencana Danan untuk menikah secepatnya dengan Nadine.
"Senangnya bisa memiliki mama mertua seperti tante," kata Nadine dengan tersenyum lebar.
__ADS_1