
Sehabis Arick shalat isya, Jihan mengajak suaminya itu untuk melihat anak anak. Selagi Jihan dan Arick di kamar ZAJ (Zayn, Anja dan Jani), Asih dan Melisa memutuskan untuk keluar, menemui Puji dan Santi di lantai bawah.
Kini keluarga kecil ini sedang berkumpul, Zayn yang belum mengantuk sedang memainkan lego sementara Jani sedang menyusu dalam dot di gendongan sang ibu.
Sedangkan Anja? jangan ditanya, dia sudah tidur lebih dulu.
"Ji."
"Iya, Mas. Apa?" tanya Jihan sambil menoleh, sedari tadi ia asik memandangi wajah Jani, sampai-sampai lupa jika suaminya duduk disamping.
Arick tersenyum, dilihatnya wajah sang istri yang makin berseri disaat bersama anak-anak mereka.
"Apa kamu bahagia?" tanya Arick sungguh-sungguh, mendengar pertanyaan sang suami itu Jihan langsung tersenyum lebar.
"Tentu saja aku bahagia," jawabnya jujur, sangat bahagia malah.
Arick mengulurkan tangannya, membelai wajah sang istri lembut.
"Saat kamu melahirkan Anja dan Jani kemarin, aku sangat takut kalian akan meninggalkan aku dan Zayn," ucap Arick pelan, sambil terus membelai wajah Jihan.
Jika diingat-ingat, saat itu adalah saat paling terpuruknya dalam hidup.
"Aku sadar, kamu ada diposisi seperti itu karena menuruti keinginanku untuk segera memiliki anak, maafkan aku Ji_"
Belum selesai Arick bicara, Jihan langsung membungkan mulut sang suami dengan cara yang paling ampuh.
Dibungkam dengan ciuman.
Tak ingin ada kesedihan lagi, Jihan mengakhiri ciumannya dengan menggigit pelan bibir Arick, seolah ia adalah istri yang nakal.
Arick terkekeh dan Jihan sangat bahagia melihat tawa suaminya itu.
"Mas jangan merasa bersalah lagi, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Jadi jangan diingat-ingat yang sudah lalu," ucap Jihan yang tak ingin Arick selalu merasa bersalah. Itu semua adalah takdir yang digariskan untuknya.
Tapi karena kejadian itu, Arick memutuskan untuk tidak ingin memiliki anak lagi. Tidak ingin Jihan hamil lagi. Cukup kini mereka hidup berlima.
"Apa ada yang mengganggu pikiran mas Arick?" tanya Jihan karena Arick hanya terdiam sambil terus menatapnya lekat.
Cukup lama mereka terdiam, hanya saling pandang.
"Kemarin aku sangat takut kehilangan kamu dan aku tidak mau hal itu terulang lagi." Arick buka suara.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kamu hamil lagi sayang," desis Arick dengan suara yang pelan, matanya masih terus lurus menatap Jihan. Jujur, sebenarnya Arick takut jika kata-katanya itu akan menyakiti hati sang istri.
Bukannya langsung mejawab, Jihan malah kembali mendekat dan menyesap bibir Arick. Disesapnya lembut menyalurkan seluruh rasa cinta.
"Jadi itu yang membuat Mas Arick terus kepikiran?" tebak Jihan dan Arick mengangguk.
"Mas adalah imamku, apapun keputusan yang Mas ambil aku akan setujui. Lagipula sekarang kita sudah memiliki 3 anak. Aku tidak masalah jika kita memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Nanti aku akan mulai KB_"
"Tidak." Potong Arick cepat.
"Kamu tidak perlu KB, sebenarnya kemarin saat di rumah sakit aku konsultasi dengan dokter Diah. Aku katakan jika aku saja yang KB dan dokter Diah menyarankan aku untuk menggunakan metode vasektomi," jelas Arick dan Jihan mengeryit bingung.
"Metode vasektomi?" ulang Jihan yang tidak tahu itu KB jenis apa.
Arick mengangguk, "Iya, vasektomi, kamu tidak perlu tahu, yang jelas biar aku yang KB," jelas Arick, ia mulai tersenyum lebar agar Jihan tidak banyak bertanya.
KB Vasektomi harus menjalani operasi kecil, takutnya nanti Jihan malah tidak setuju kalau sampai tahu.
"Besok setelah Anja dan Jani aqiqah, aku akan langsung menemui dokter Diah."
"Kenapa buru-buru sekali Mas?" tanya Jihan heran, suaminya ini semangat sekali untuk KB. Sementara mereka saja belum boleh berhubungam badan.
Mendapati pertanyaan Jihan itu, Arick menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Maksudnya kan biar saat masa nifas selesai, ia juga sudah sembuh pasca operasi.
"Hei, apa yang kamu pikirkan?" tanya Arick sambil menarik pelan hidung Jihan.
Dan Jihan makin dibuat cemberut.
Tak ingin Jihan mencurigainya, akhirnya Arick menceritakan semua tetang KB Vasektomi. Dengan metode KB itu ia diharuskan mejalani operasi kecil. Ingin menyesuaikan dengan masa nifas, karena itulah ia juga ingin segera di operasi.
"Benar seperti itu?" tanya Jihan lagi memastikan.
"Iya sayangku, lagipula kenapa pikiran mu jadi kemana-mana. Memangnya kamu sudah tidak mempercayai kesetiaan ku lagi?"
"Percaya sih percaya, tapi kalau gerak geriknya mencurigakan kan wajib ditanya," keluh Jihan sambil mencebik.
Merasa gemas, Arick langsung mengangkat Jani yang sudah tertidur dan memindahkannya di boxs bayi.
Ia lalu kembali mendekati sang istri dan mencium bibir Jihan tanpa ampun.
Bahkan hingga terdengar bunyi decapan dari ciuman itu.
__ADS_1
"Yah yah ayaaaa." Rengek Zayn dan langsung membuat Arick tersingkap.
Dengan cepat ia melepas ciumannya sendiri.
Tawa Jihan tak bisa ditahan, pecah begitu saja melihat suaminya yang diganggu anak sendiri.
"Ayaaa," coloteh Zayn sambil tertawa-tawa, Jihan makin terpingkal-pingkal.
"Mas sih, tidak lihat situasi," ledek Jihan disisa-sisa tawanya.
Arick tidak menjawab, hanya mendengus kesal lalu mengangkat tumbuh gembul Zayn. Dipangkunya anak laki-laki satu-satunya ini.
"Zayn anak ayah, malam ini malam pertama ayah dan ibu tidur sama-sama lagi. Jadi jangan diganggu ya sayang," ucapnya merayu Zayn.
Bayi berusia 15 bulan ini hanya diam, malah tangannya ingin meraih sang ibu, minta digendong Jihan.
Karena belum terlalu kuat menggendong, akhirnya Jihan mendekat, menempel pada 2 lelakinya ini.
"Anak ibu, Zayn memangnya belum ngantuk? kok main terus sih?" tanya Jihan dan Zayn tidak menjawab.
Arick dan Jihan saling pandang, lalu terkekeh bersamaan. Sudah tahu jika Zayn tidak akan menjawab, masih saja ditanya.
Meski begitu, mereka terus saja mengajak Zayn untuk ngobrol, hingga jam setengah 9 malam, Asih dan Melisa kembali ke kamar.
Keduanya sempat tertegun, ketika sampai di ambang pintu melihat pemandangan keluarga yang bahagia ini.
"Asih, Melisa, sini masuk," perintah Jihan, pintu kamar memang tidak ditutup, ia bisa melihat dengan jelas kedua pengasuh anaknya ini berdiri disana.
"Maaf Bu mengganggu, tapi sekarang waktunya Zayn tidur," jawab Asih tak enak hati, kepalang masuk ke kamar ini ya sudahlah, alasan saja seperti itu.
Padahal suka-suka Zayn mau tidur jam berapa.
Jihan mengangguk, menyetujui ucapan Asih.
Setelah itu, Arick bangkit dan memberikan Zayn pada Asih. Lalu menautkan jemarinya pada sang istri dan segera keluar. Berjalan beriringan menuju kamarnya sendiri.
"Gila gila, pak Arick bener-bener nggak nyapa kita ya?" tanya Melisa heran ketika kedua majikannya itu sudah benar-benar keluar dari kamar ZAJ.
"Lagipula apa gunanya beliau menyapa kita?" Asih balik tanya dengan terkekeh.
"Ibarat kata mereka itu langit dan kita bumi, banyak-banyaklah sadar diri, wkwkwk." Asih tergelak, sampai-sampai Zayn yang melihatnya pun ikut tertawa.
__ADS_1
"Nah loh, diketawain anaknya kan?" ledek Asih lagi tak ada habisnya.
Sementara itu Melisa tetap pada mode cemberut.