Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 11


__ADS_3

Ryan menuju ruang laboratorium setelah selesai dengan jam kerjanya. Sebelum menuju ruang kerja sahabatnya Johan yang merangkap ruang perawatan Ryan berharap hasil lab sampel darah Johan sudah bisa dilihatnya.


"Dokter Imran?" Panggil Ryan menyelonong masuk ke dalam ruang laboratorium tak sabaran tanpa basa-basi.


"Dokter Ryan." Ryan hanya tersenyum mendekati kursi kerja dokter Imran, rekan sesama dokter tapi dia berada di bagian laboratorium.


"Ada apa dok?" Tanya dokter Imran.


"Bagaimana hasilnya? Apa sudah keluar?" Tanya Ryan terlihat antusias dan tidak sabaran.


"Ah, butuh beberapa waktu lagi, mungkin besok sudah bisa diambil." Jawab dokter Imran. Ryan mengernyit tidak suka.


"Bukannya tadi aku memintamu untuk mendahulukannya?" Protes Ryan sedikit kesal meski tidak sungguh-sungguh.


"Maaf dok, tadi ada pasien darurat dan butuh segera hasilnya karena akan dilakukan tindakan operasi jadi maaf, aku terpaksa memundurkan sedikit waktu untuk pasienmu." Sesal dokter Imran membuat Ryan menghela nafas panjang meski kecewa dia tak mungkin membuat pekerjaan dokter Imran bermasalah karena dirinya.


"Baiklah. Apa boleh buat. Bagaimana kalau malam ini?" Ryan melirik jam tangannya menunjukkan pukul tujuh malam.


"Ck..ck... anda kejam sekali membuat saya lembur. Baru hari ini saya bisa pulang awal. Setega itukah anda, besok pagi! Aku janji!" Nego dokter Imran dengan wajah memelas menatap wajah dokter Ryan.


"Baiklah. Kabari aku langsung besok setelah siap." Jawab Ryan menyerah. Toh hanya menunggu besok pagi.

__ADS_1


"Sebenarnya apa hubungan anda dengan pasien ini? Anda tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari istri anda kan dokter?" Canda dokter Imran menggoda reka kerjanya sesama dokter itu. Keduanya memang akrab dan sering bercanda tapi entah kenapa dokter Imran masih bersikap formal pada Ryan mungkin karena Ryan putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Sembarangan." Jawab Ryan melotot kesal meski bercanda.


"Hahaha..." Dokter Imran tergelak mendengar jawaban Ryan. Dan Ryan pun segera berlalu pergi dari ruang laboratorium itu.


"Selamat malam dok." Ryan hanya tersenyum disapa oleh beberapa rekan sesama dokter dan perawat yang berpapasan dengannya saat menuju ruang kerja Johan.


Cklek


"Dokter Ryan." Perawat yang diminta tolong Ryan sontak berdiri dari duduknya begitu melihat Ryan masuk ke dalam ruang kerjanya. Johan masih setia memejamkan matanya dan tak tahu jika Ryan masuk ke ruangannya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ryan pada perawat yang bernama Eko itu.


"Dia muntah lagi?" Tanya Ryan cemas segera mendekati ranjang Johan memeriksa denyut nadi juga tak lupa stetoskopnya digunakan.


"Setelah makan malam sedikit paksaan sesuai anjuran dokter, dokter Johan langsung mual-mual dan memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk." Cemas perawat Eko yang merasa serba salah. Dia takut karena paksaan makanan yang diberikan tadi membuat dokter Johan semakin buruk.


"Tidak apa. Terima kasih. Kau bisa pulang, aku akan transfer ke rekeningmu nanti." Ucap Ryan menghela nafas berat setelah memeriksa keadaan Johan.


"Dokter yakin dokter Johan baik-baik saja kan? Bukan karena saya memasukkan suapan tadi kan?" Tanya perawat Eko sekali lagi memastikan kalau dia tidak akan disalahkan jika terjadi sesuatu dengan dokter Johan yang dirawatnya setengah hari ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kau tidak usah cemas. Pulanglah! Mungkin besok aku akan meminta tolong lagi padamu untuk menjaganya jika belum baik-baik saja." Usir Ryan secara halus masih belum membuat perawat Eko tenang.


"Dokter yakin dokter Johan tidak memiliki riwayat penyakit yang membahayakan kan? Entah kenapa dokter Johan mual-mual seperti wanita hamil saja."


Deg


Ucapan perawat Eko membuat Ryan terdiam membeku. Sebenarnya dia memang mencurigai hal itu. Namun dia masih belum yakin karena hasil sampel darah Johan belum keluar. Dia ingin mengatakan kalau Johan mula karena efek hormon kehamilan namun Ryan takut salah. Dia tahu bagaimana kondisi istri Johan yang baru saja sembuh dari penyakit kista pada rahimnya.


"Jangan bicara jika belum ada buktinya! Rumor akan tersebar luas jika tidak hati-hati kita bicara." Ucapan Ryan mampu membuat perawat Eko membungkam mulutnya spontan dan langsung menoleh ke kanan dan ke kiri terutama ke arah pintu kalau-kalau ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Maaf dok. Kalau begitu saya pamit. Terima kasih." Ucapan perawat Eko pamit pergi yang hanya diangguki oleh Ryan.


Ryan menatap nanar wajah sahabatnya yang sedang pulas. Wajah pucat masih sangat terlihat.


"Semoga kecurigaanku benar. Dan itu mungkin saja bisa membantu meluluhkan hati papaku. Dia tidak akan setega itu memisahkan orang tua calon cucunya jika dia benar-benar hamil. Aku harap badai segera berlalu dari hidupmu kawan." Guman Ryan memilih masuk ke dalam kamar mandi ruang kerja Johan untuk cuci muka.


Setelah itu dia menghubungi istrinya kalau hari ini tidak bisa pulang karena mau menunggui lagi sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2