Turun Ranjang

Turun Ranjang
Bab 28


__ADS_3

Pertemuan dengan rekan kerjanya membuat Dimas bertambah semangat, ia berharap usahanya kali ini tidak menyia-nyiakan hasil di akhir. Terlebih diusahanya kali ini Dimas bisa lebih santai hanya mengurus beberapa surat keberangkat termasuk Visa saja selebihnya dibantu beberapa rekan kerjanya.


Selesai rapat Dimas menemui janji bertemu dengan seseorang, ya Dimas sudah punya rencana mencari tempat untuk usaha Anindira terlebih kini usahanya lumayan menguntungkan pula dan ia ingin mengembangkan usahanya itu, ia sudah mendapatkan tempat yang strategis untuk membuka usahanya itu.


"Gimana barang-barang yang saya pesan sudah semua " tanya Dimas


"SUdah pak, kami mulai dekorasi sekarang bagaimana?"


"Nanti saya kabari lagi kapan kalian akan mendekorasi, saya akan tanya istri saya dulu karena dia yang akan membuka usaha ini dan dia juga arsitek mungkin dia akan merancang tempat ini," ucap Dimas.


"Baik Pak Dimas, nanti anda kabari kami saja." ucap lelaki itu pamit.


Dimas menganggukkan kepalanya dan berjalan menatap ruangan yang cukup besar itu dan masih sedikit berantakan. Kursi dan meja belum tertata rapih di tambah oven dan kompor baru diletak sembarang tempat. Dimas berharap Anin akan menyukai tempat ini sehingga usahanya bisa lebih berkembang.


*-*-*-*-*


Anin baru saja selesai membuat brownis pesanan bersama Afifa yang ikut ke dapur sambil duduk di kursi bayi, Afifa sesekali tersenyum sambil mengoceh tak jelas membuat Anin ikut tertawa mendengarnya.


Ada kerinduan setiap kali bersama Afifa ia selalu teringat wajah kakak kandungnya itu. Jalan dan takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu, dulu dirinya yang dijaga dan di rawat sang kakak karena orangtuanya yang sibuk bekerja, dan sekarang semuanya berbalik giliran Anin yang menjaga dan merawat anak Kirana namun bedanya sekarang Anin juga menerima Dimas mantan kakak iparnya menjadi suaminya pula.


"Assalammualaikum." ucap Dimas masuk ke rumah.


"Waalaikumsalam, udah selesai rapatnya?" tanya Anin dari dapur.


"Sudah, tadi cuman ngebahas sebentar aja," ucap Dimas kemudian mencuci tangan.


Anin mengangguk kemudian menaburi topping pada brownisnya yang sudah matang itu. Afifa sudah merengek melihat Dimas datang sepertinya ia ingin digendong Ayahnya itu.


"Mas ganti baju dulu gih, Anin siapin makanannya," ucap Anin kemudian menggendong Afifa.


"Ayah ganti baju dulu ya," ucapnya pada Afifa sambil mencium pipinya.


Setelah selesai ganti baju Dimas dan Anin makan bersama Afifa juga yang ikut duduk di meja makan dengan kursinya membuat Dimas dan Anin tertawa karena tingkah gemas Afifa yang kini sudah sering mengoceh.


"Nin kita foto keluarga gimana?" tanya Dimas.


"Boleh Mas, kapan?" tanya Anin.


"Besok siang gimana?" ajak Dimas.


"Tapi Anin ada pesenan kue besok siang di anternya,"


"Gapapa kita antar dulu aja pesanannya baru kita foto," ucap Dimas.


"Boleh Mas, eh Mas tahu gak yang pesen brownis tadi siang itu ternyata a'Gilang," ucap Anin sambil menyuapi Afifa.


Dimas langsung terbatuk saat Anin menyebut nama Gilang, Anin yang terkejut pun langsung memberikan Dimas minum. Sudah seminggu lebih nama Gilang sering disebut tapi hubungan bersama Gilang sampai saat ini belum membaik.


"Jadi tadi kamu ke rumahnya?" tanya Dimas.


"Iya Mas, Anin gak tahu itu rumahnya,"


"Dulu sebenarnya hubungan kalian kayak gimana?" tanya Dimas tiba-tiba.


"Gak gimana-gimana cuman temanan biasa, kenal sama a'Gilang aja pas nikahan Mas dulu sama teh Kirana," ucap Anin.


"Kamu gak pernah punya rasa sama Gilang?" tanya Dimas kembali.


Anin yang mendengar pertanyaan Dimas langsung menoleh ke arah Dimas dan menatap mata hitam Dimas itu, ia tak tahu mengapa Dimas secara tiba-tiba menanyakan hal ini?


"Anin bukan orang yang mudah jatuh cinta, akrab sama orang juga sebenarnya susah waktu a'Gilang pertama kali kenalan Anin nyambut dia karena dia bilang sahabat Mas Dimas. selama ini Anin juga anggap dia seorang kakak gak lebih," ucap Anin serius.


"Tapi gimana kalau Gilang ada rasa sama kamu selama ini?" tanya Dimas kembali .


"Rasa? Mas sekarang kan Anin udah nikah mana mungkin dia suka sama Anin," ucap Anin tersenyum.


"Dulu waktu sebelum kita nikah? Mungkin aja dulu dia punya rasa?"


"Anin gak tahu lagian Anin juga gak ada rasa sama a'Gilang, dia memang baik dan selalu bantuin Anin,"


"Kalau saya gak nikah sama kamu, apa kamu bakalan nikah sama dia? Mau terima dia?" tanya Dimas kembali.


Anin menatap wajah Dimas dengan lekat, entah mengapa tiba-tiba suaminya menanyai perihal Gilang sejak tadi ia menyebutnya, dan menanyakan perihal perasaan? Lagi pula sekarang Anin sudah menikah tidak mungkin ia memiliki perasaan pada orang lain termasuk Gilang.


"Mas, Anin udah bilang kalau Anin susah jatuh cinta dan sama a'Gilang Anin sama sekali gak punya perasaan apa-apa kalaupun Anin gak nikah sama Mas mungkin kita juga belum tentu bisa nikah karena Anin memang gak bisa suka sama a'Gilang," ucap Anin.


"Lalu kenapa kamu mau terima saya dulu padahal kamu juga belum jatuh cinta dengan saya kan?" tanya Dimas.


"Lalu kenapa Mas juga mau nikah sama Anin padahal Mas gak cinta sama Anin kan?" tanya Anin kembali.

__ADS_1


Skak! Kini Dimas terdiam ia tak tahu mau menjawab apa, pasalnya ia juga menikah dengan Anin karena permintaan Alm istrinya dan iapun belum mencintai Anin saat pertama menikahinya. Namun ia tak mungkin menjawab pertanyaan Anin seperti itu karena mereka menikah pun sebenarnya karena paksaan turun ranjang dan permintaan terakhir Kirana.


Anin menatap Dimas yang terdiam memegangi sendok dan garpu. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sesak pada dadanya saat ia menanyakan alasan Dimas menikahinya, ia juga tahu Dimas menikahinya karena permintaan terakhir kakaknya bukan karena mencintainya.


"Afifa pipis ya? Yuk Ibu ganti celananya," ucap Anin menggendong Afifa.


Dimas tersadar dari diamnya dan melihat Anin yang menggendong Afifa ke kamar mereka, ia tahu Anin sekarang kecewa dengannya karena ia tak menjawab pertanyaan Anin. Dan sekarang ia sengaja menghindar padahal ia tahu Afifa memakai popok.


*-*-*-*-*


Anin terdiam di kamarnya sambil sesekali menyerka air matanya yang jatuh di pipi mulusnya, entah mengapa diamnya Dimas membuat ia merasa kecewa, Anin akui dia memang sulit jatuh cinta, namun ia sudah membuka hati untuk Dimas sungguh ia sudah membuka hatinya hanya untuk Dimas tapi apakah tidak ada sedikit rasapun untuknya? Apakah Dimas belum bisa melupakan Kirana dan menerima dirinya?


"Anin," ucap Dimas masuk ke kamar.


"Mas Dimas," ucap Anin tersenyum.


"Afifa udah tidur?" tanya Dimas.


"Udah Mas," ucap Anin tanpa menoleh pada Dimas.


"Nin kamu gapapa?" tanya Dimas.


"Gapapa Mas, eh Anin lupa mau bungkus brownisnya dulu." ucapnya langsung pergi.


Dimas hanya menatap punggung Anin yang langsung keluar kamar tanpa menatapnya, entah mengapa ia merasa bersalah pada Anin tapi ia juga belum bisa mengatakan yang sejujurnya.


Dimas mengambil ponselnya, ia menatap wallpaper foto pernikahannya bersama Kirana dulu yang belum sempat ia ubah, Anin belum pernah melihat atau meminjamnya. Apakah ia harus melakukannya sekarang dan memberi tahu Anin yang sebenarnya?


*-*-*-*-*


Hari sudah berganti Dimas dan Anin sama-sama terdiam tak banyak bicara. Anin mencoba menghindar dari Dimas dan Dimas tidak berusaha membujuk Anin lagipula ia merasa tidak bersalah dan memang tidak ada yang salah di antara mereka berdua.


"Mas, Anin antar pesanan bolu dulu ya," ucapnya sudah siap-siap.


"Biar saya aja yang antar,"


"Gak usah Anin aja, sekalian mau beli bahan-bahan yang kurang juga," ucap Anin.


"Ya sudah hati-hati bawa motornya jangan ngebut-ngebut," ucap Dimas.


"Iya, titip Afifa ya bentar," ucap Anin.


"Gimana kalau lain kali aja Mas soalnya Anin banyak pesenan juga dan sore sekarang katanya mau di ambil." ucap Anin memakai helmnya.


"Ya sudah kalau gitu lain kali aja." ucap Dimas.


Aninpun langsung mengambil kunci motor dan pergi. Sejujurnya membuat brownis dan dapat pesanan untuk nanti sore itu hanya berbohong pada Dimas, ia tadinya ingin foto keluarga bersama Dimas dan Afifa namun apakah bisa mereka disebut keluarga? Dimas saja belum mencintainya bahkan pertanyaan kemarin pun tak ada jawabannya.


Anin sudah mengantar pesanan brownisnya ia singgah ke supermaket untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan ia juga membeli ice cream dan membayarnya.


Setelah keluar dari supermarket Anin memilih duduk di meja depan supermarket sambil memakan ice cream coklat yang ia beli. Ia malas pulang ke rumah cepat-cepat lagipula ia butuh udara segar dan ketenangan sejenak untuk hatinya. Baru kali ini Anin merasakan patah hati cintanya tak berbalas suaminya sendiri, benar-benar sedih.


"Lagi ngapain di sini?" tanya Gilang yang tiba-tiba datang.


"A'Gilang, kok bisa kebetulan banget ketemu di sini?" tanya Anin.


"Saya baru mau berangkat ke toko, kamu sendirian?" tanya Gilang yang duduk didepan Anin.


"Iya a, habis nganterin pesanan terus beli bahan ke sini." ucapnya sambil mencicipi ice creamnya.


"Kecapekan?"


"Gak terlalu sih,"


"Kamu makan Ice Cream siang gini? Pasti lagi badmood ya?" tebak Gilang.


"Enggak juga lagi kepengen aja lagian panas banget," ucap Anin


"Saya tahu kamu Anin, kamu makan ice cream itu cuman kalau lagi badmood aja," ucap Gilang.


"Ya ya ya.., a'Gilang bener," ucap Anin tersenyum.


"Masalah sama Dimas? Ada apa sama dia? Katanya kamu udah bahagia,"


"Gakpapa a, Anin duluan ya mau langsung pulang," ucap Anin.


"Mau saya antar?" tanya Gilang.


"Anin bawa motor kok,"

__ADS_1


"Ya sudah hati-hati," ucap Gilang.


"Oke a," ucap Anin tersenyum.


"Nin, kalau ada masalah jangan sungkan kamu bisa cerita ke saya,


"Makasih." ucap Anin kemudian menjalankan motornya.


Gilang tersenyum ke arah Anin yang sudah pergi dengan motor maticnya, Gilang kemudian beranjak dari duduknya namun ia tersadar barang belanjaan Anin tertinggal ia pun memilih mengantarkan langsung ke rumah Anin daripada menelpon Anin karena ia masih di jalan.


Anin memakirkan motornya di garasi dan langsung masuk ke dalam rumah, terlihat Dimas sedang menidurkan Afifa ia pun tersenyum melihat Dimas yang begitu menyayangi anaknya itu.


"Mas biar Anin bawa Afifa ke kamar," ucap Anin.


"Kamu baru pulang?" tanya Dimas terkejut.


"Iya Mas, sini biar Anin tidurin." ucap Anin kemudian menggambik Afifa.


Anin pun berjalan ke arah kamar sambil melepaskan botol susu dari mulut mungil Afifa. Tak lama suara bel berbunyi Dimas yang berada di ruang tamu bergegas membuka pintu.


"Gilang," ucap Dimas terkejut.


"Ada Anin?" tanya Gilang dengan tatapan dingin.


"Ada apa?"


"Ini barang belanjaannya ketinggalan tadi," ucap Gilang menyodorkan kresek belanjaan.


"Kok bisa sama lo?" tanya Dimas.


"Tadi kita habis ketemu dan ngobrol dia lupa bawa barangnya," ucap Gilang santai.


"Ngapain dia ketemu sama lo?" tanya Dimas.


"Tanya aja sama istri lo!"


"Lang, gue nanya serius sama lo," ucap Dimas sedikit tegas.


"Dim, gue kenal sama Anin itu sebelum lo nikah sama dia jadi wajar kalau gue ketemu dan ngobrol sama dia!" ucap Gilang dengan tatapan tajam.


"Sekarang dia istri gue Lang, loe harusnya bisa sadar dan tahu posisi lo!" ucap Dimas kemudian menutup pintu.


Namun baru saja hendak menutup pintu Gilang menahannya dengan tangan, Dimas yang terkejut langsung menahan tangannya menutup pintu dan menatap Gilang yang sudah menatap tajam ke arahnya.


"Asal loe tahu Dim, lo nikah sama Anin itu hanya turun ranjang dan gue juga yakin lo gak cinta kan sama dia, lo nikah sama dia hanya karena terpaksa!" ucap Gilang terdengar keras.


"Bukan urusan lo, lebih baik jangan ganggu rumah tangga gue dan hidup gue!"


"Lo gak Cinta kan sama Anin? jawab gue," ucap Gilang dengan keras.


Dimas menahan tangannya agar bisa menutup pintu, ia tak mau berdebat dengan Gilang saat ini apalagi Anin ada di dalam suara Gilang bisa terdengar oleh Anin dan akan membuat keributan.


"Lang lebih baik lo pulang jangan bikin masalah," ucap Dimas menahan emosi.


"Jawab dulu pertanyaan gue, lo cinta sama Anin atau enggak?" tanya Gilang.


Dimas terdiam tanpa menjawab ia mencoba menutup pintu namun Gilang terus menahannya.


"Jawab gue Dimas, apa lo cinta sama Anin atau enggak! " tanya Gilang tegas.


"Cinta gue bukan untuk di kasih tahu ke elo!"


"Oh jadi gitu? Lo nikah sama dia tapi lo gak cinta sama dia? lo udah ngancurin masa depan Anin!" ucap Gilang.


"Terserah lo ngomong apa,"


"Lo Dim, gue suka sama Anin dari 2 tahun yang lalu tapi lo nikahin dia gitu aja, sekarang lo pun belum cintai dia buat apa pernikahan tanpa cinta Dim," ucap Gilang tersenyum miring.


"Lo gak usah ikut campur urusan rumah tangga gue dan hidup gue, mending sekarang loe balik!" ucap Dimas.


"Oke, kalau gitu jangan salahin gue akhirnya Anin nyerah sama lo karena gue sampai kapan pun gak akan ngelepasin dia apalagi ini sangat mudah," ucap Gilang menepuk bahu Dimas kemudian pergi.


Dimas terdiam mendengar perkataan Gilang, ia sadar belum bisa menjelaskan semua isi hatinya yang sebenarnya. Namun mendengar perkataan Gilang tadi yang ingin merebut Anin mengapa ia tak rela jujur Dimas takut kehilangan Anin.


Sedangkan itu Anin masih berdiri membeku ditangga, ia sudah mendengar semua percakapan antara Gilang dan Dimas tadi, bahkan ia mendengar sendiri Dimas belum menjawab mencintainya. Benarkah Dimas belum bisa mencintai Anin? Lalu untuk apa semua hubungan ini? Apakah Dimas tak bisa membuka hatinya. Hingga ia tak sadar kini butiran air mata jatuh di pipinya.


"Anin, kamu di sini?" tanya Dimas terkejut.


Anin menghapus air matanya dan langsung berjalan ke kamar tanpa menjawab pertanyaan Dimas.

__ADS_1


__ADS_2