
"Aku tidak hamil Mas, aku hanya masuk angin," jelasku pada mas Arick. Wajahnya mendadak sendu, mungkin dia sedikit kecewa.
"Benarkah? kamu pusing tidak? atau jangan-jangan asam lambung mu naik, ayo kita ke rumah sakit sekarang."
"Mas!" Aku menahan tangannya saat mas Arick berniat bangkit.
"Aku hanya masuk angin, sore tadi aku terburu-buru mandi padahal tubuhku masih penuh dengan keringat."
Mas Arick menatapku intens, aku tau dia marah. Sudah sering sekali mas Arick mengingatkan aku untuk mandi setelah keringat kering. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang gampang kegerahan dan keringatan, jadi inginnya buru-buru mandi agar cepat segar.
"Mas." Aku membelai lembut lengannya, jangan marah. Aku memasang wajah sememelas mungkin.
"Jasmin, Selena, jangan lihat kearah kami. Aku ingin mencium Jihan,"
"Hih!" kesal Selena, tapi ia tetap menurut dan menarik Jasmin untuk memunggungi kami.
Dengan cepat mas Arick mencium bibirku sekilas.
"Aku akan membuatkan mu jahe hangat, juga meminta mbak Puji untuk membawa Zayn kesini. Kamu istirahat saja ya." Mas Arick mengelus wajahku, aku mengangguk. Aku memang butuh istirahat, rasanya ingin tidur dan memakai selimut tebal.
"Mas, selamat ya." Mungkin ucapanku ini sudah sangat terlambat, tapi aku benar-benar ingin mengucapkannya, aku sangat bahagia melihat usaha mas Arick yang sudah mulai berjalan.
Kembali, mas Arick mencium bibirku, kini ia tambah dengan hisapan.
"Sudah belum?!" tanya Selena, terdengar penuh dengan kekesalan.
"Sudah," jawab mas Arick sambil mengulum senyumnya, akupun sama.
Mas Arick pergi, Jasmin dan Selena masih menemani aku disini.
"Coba kamu ingat-ingat lagi Ji, kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya Selena, ia menarik kursi dan duduk disisi ranjang, begitu juga dengan Jasmin. Sementara aku sudah tiduran dan memakai selimut sampai ke perut.
"Aku tidak ingat, tapi dari dulu memang siklus haid ku tidak beraturan," jelasku apa adanya, sambil mengingat-ingat kapan aku terakhir datang bulan. Entahlah, aku lupa.
"Sebaiknya besok kamu periksa, semakin cepat tahu semakin bagus, jadi bisa ditangani dengan tepat," ucap Jasmin dan aku membenarkan.
Benar juga.
"Baiklah, besok aku akan periksa."
__ADS_1
Lama kami berbincang, sampai mbak Puji datang berulah kami berhenti bercerita. Jasmin dan Selena pamit keluar, kembali mengikuti acara diluar sana. Aku dan mbak Puji tidur dengan Zayn ditengah-tengah kami. Anakku ini sedang menyusu.
"Mbak beneran nggak sakit?" tanya mbak Puji, ia melirik kearah ku sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Iya Mbak, tadi mual parah, tapi sehabis muntah sudah mendingan."
"Jangan-jangan Mbak Ji hamil, wah harus kasih tahu ibu nih."
"Mbak Pujii!" Aku menegurnya, "Aku kan belum periksa Mbak, belum tahu hamil atau tidaknya, jadi jangan sesumbar dulu."
Mbak Puji menoleh, memperlihatkan wajah bersalah, "Maaf ya Mbak."
"Hem."
"Tapi kalau saya ingat-ingat, sudah 2 bulan ini Mbak nggak datang bulan. Kalau Mbak Ji halangan kan saya selalu tahu."
"Kalau begitu besok tolong Mbak Puji belikan saya testpack ya?"
"Siap Nyonya," jawab mbak Puji antusias.
Aku membelai perutku yang masih rata, apa iya hamil? aku melihat kearah Zayn yang sedang menyusu. Mendadak perasaan bersalah menyelimuti isi hatiku.
Tidak, aku menggeleng pelan. Jika aku hamil maka ini adalah titipan Allah, kepercayaan Allah padaku bahwa aku bisa kembali mempunyai anak. Aku tidak boleh bersedih hati seperti ini. Harusnya aku bersyukur.
...****************...
Jam setengah 10 kami semua sudah pulang, ibu Nami, ibu Sofia dan papa Mardi memutuskan untuk menginap dirumah, melihat wajahku yang semakin pucat mereka takut sakitku semakin parah. Sedangkan mas Faruq dan mbak Aluna pulang kerumahnya sendiri, besok mas Faruq harus keluar kota.
"Ji, malam ini saja ya kita ke rumah sakit, wajahmu pucat sekali Nak," ucap ibu Nami, ibu sofia berulang kali memeriksa suhu tubuhku.
"Padahal tidak demam, kenapa wajahmu sepucat ini? ibu buatkan bubur saja ya?" timpal ibu Sofia.
Aku mengulum senyum, betapa beruntungnya aku memiliki 2 ibu yang sangat menyayangiku.
"Bu, aku baik-baik saja, aku hanya ingin segera tidur sambil memeluk suamiku," kataku jujur, entah kenapa rasanya aku ingin sekali memeluk mas Arick dan menciumi seluruh tubuhnya.
Ku lihat wajah kedua ibuku mulai tak cemas, mulai bisa sedikit tenang dengan jawabanku itu. Ibu Nami dan Ibu Sofia tidur bersama, sedangkan papa Mardi tidur di ruang kerja mas Arick. Disana ada sofa panjang yang nyaman digunakan untuk tidur.
"Ji."
__ADS_1
"Sayang."
Aku menggeliat, ketika mendengar suara kesukaanku memanggil, mas Arick mulai naik keatas tempat tidur dan langsung menarikku masuk ke dalam pelukkannya.
Aku ketiduran, bahkan tidak ingat kapan ibu Nami dan ibu Sofia keluar dari kamar ini.
"Mas," ucapku sambil menggeratkan pelukan, ku hirup dalam-dalam aroma tubuh suamiku, sangat menenangkan. Perutku yang masih sedikit mual kini sembuh total.
"Mas, copot ya bajunya?" pintaku, mas Arick mengeryit bingung. Namun tak lama, ia mendekat dan meraup bibirku dengan kasar. Tapi aku suka sekali dikasari seperti ini, hihi.
Aku membalas ciuman mas Arick, bahkan kini entah kenapa malah tanganku yang lebih nakal dibanding tangan suamiku.
Dengan tanpa malunya aku melepas baju mas Arick, menariknya dengan kuat hingga lolos begitu saja.
"Mas." Aku menghentikan ciuman panas kami, keinginanku saat ini bukanlah bercinta, aku hanya ingin memeluk tubuh polosnya.
"Mas, aku hanya ingin memeluk tubuh Mas saat tidak memakai baju seperti ini, tapi tidak usah melalukan itu, bolehkah?" pintaku, dan mas Arick kembali mengeryitkan dahinya.
"Boleh ya?" Aku memainkan jemariku diatas dadanya, entah kenapa dada bidang mas Arick ini sangat menarik perhatianku.
"Baiklah, kamu boleh memelukku sepuasnya. Tapi sebelum itu puaskan aku dulu." Setelah mengatakan kata-kata vulgar itu, mas Arick menyergapku tanpa ampun.
Cukup lama kami memadu kasih, tumben sekali aku bisa tahan lebih lama seperti ini.
"Ji, bukankah kamu tadi sakit? kenapa sekarang bersemangat sekali?" tanya mas Arick disela-sela hentakannya.
"Aku juga tidak tahu Mas, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, sudah tidak mual lagih," jawabku dengan suara terengah.
"Aku percaya kamu baik-baik saja," Seringai mas Arick muncul, apakah aku sudah membangunkan singa tidur?
...****************...
Paginya, aku bangun dengan wajah yang sangat cerah. Ibu Nami, ibu Sofia dan papa Mardi yang melihat kedatangaku dibuat heran sendiri.
Mas Arick membimbingku untuk duduk disampingnya, kami semua duduk diruang tengah.
Mungkin mereka semua heran, tadi malam aku seperti orang yang lemah dan tak berdaya, tapi kini? hem, aku juga tidak tahu kenapa seperti itu. Mungkinkah bercinta dengan mas Arick memberikan kekuatan untukku? tanpa sentuhannya aku tak berdaya? hii, aku bergidik ngeri, menyadari betapa mesumnya aku saat ini.
"Mbak ini testpacknya," ucap mbak Puji sambil mengulurkan kotak berwarna putih dengan aksen biru itu.
__ADS_1
Semua mata langsung menatap kearahku.
"Kamu hamil?" tanya mereka semua kompak.