Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 85


__ADS_3

Sore harinya, Arick dan Jihan langsung mendatangi dokter Diah. Konsultasi masalah pencernaan yang kadang mampet-mampet tak jelas.


Diam-diam, Arick juga punya rencana lain. Membuat jadwal untuk operasi KB Vasektominya.


Hanya sebentar, masalah Jihan selesai. Resep sudah ditangan, siap untuk ke apotik. Tapi sang suami masih enggan untuk meninggalkan ruangan Diah.


"Apa masih ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Diah heran.


Arick melirik sang istri yang menatapnya heran pula.


"Begini Dok. Saya ingin membuat jadwal untuk operasi vasektomi." jelas Arick mantap.


Tapi Jihan malah ragu-ragu, walaupun operasi kecil, tetap saja rasanya tak tega.


"Tunggu Mas," sanggah Jihan cepat, ia bahkan memegang lengan suaminya itu cukup kuat.


"Apa tidak ada metode lain Dok, jangan pakai operasi-operasi." tanya Jihan cemas.


Diah tersenyum, dia suka sekali dengan pasangan yang satu ini. Meski hanya melihat, tapi Diah bisa tahu, jika sepasang suami istri ini sangat saling mencintai.


Keduanya saling berlomba-lomba untuk lebih mengasihi.


"Ada, pak Arick bisa suntik hormon, suntiknya tiap 2 bulan sekali," jelas Diah.


Dulu, saat awal konsultasi pada Diah, Arick mengatakan bahwa ia benar-benar tidak ingin memiliki anak lagi. Karena itulah, Diah menyarankan Vasektomi.


Tapi meski begitu, Diah juga mengatakan hal itu perlu persetujuan sang istri.


Dan kini Diah tahu, sang istri tidak menyetujui.


Pelan, tapi Diah terkekeh.


"Bagaimana Pak? kalau menurut saya, suntik Hormon juga tidak masalah. Tapi ya itu, tiap bulan harus rutin." jelas Diah lagi dengan senyumnya yang tak pudar.


Lagi-lagi Arick melihat sang istri, yang ditatap malah angguk-angguk, menyetujui ucapan dokter Diah tadi.


"Baiklah Dok, kalau begitu suntik hormon saja. Kapan saya bisa disuntik?" tanya Arick tidak sabaran.


"Nanti Pak, 2 hari sebelum masa nifas Jihan selesai, Pak Arick bisa langsung kesini dan suntik." jelas Diah.


Jihan menunduk, sedikit malu.


Selesai masalah KB, akhirnya Arick bersedia pulang dengan lapang dada. Merasa lega, jujur, ia memang tak ingin memberatkan sang istri dengan KB. Sudah cukup perjuangan Jihan selama ini sampai melahirkan Anja dan Jani.


Arick tak ingin membebaninya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Jadi besok Mas sudah mulai menggantikan papa?" tanya Jihan, kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Melaju perlahan berniat untuk pulang.


"Iya sayang, besok papa akan memperkenalkan aku oada semua karyawan. Kamu mau ikut?" ajak Arick, sekilas ia melihat ke arah sang istri, lalu kembali menatap jalanan lagi.


"Memangnya boleh?" cicit Jihan ragu, rasanya sangat berlebihan, seorang istri sampai-sampai ikut ketempat kerja suami.


"Tentu boleh, aku malah sangat bahagia jika kamu ikut." jujur Arick, tapi Jihan malah mencebik seolah tidak percaya.


Bukannya para suami sangat benci, saat sedang bekerja malah diganggu? pikir Jihan menerka-nerka sendiri.


"Kenapa? kamu malu?" tanya Arick sambil terkekeh, malu-malu segala, seperti anak gadis.


"Besok ikut saja, ajak ibu dan Zayn sekalian." jelas Arick yakin dan Jihan mulai menahan senyumnya.


Tak percaya, jika suaminya itu benar-benar akan mengajak dirinya.


"Senyumnya jangan ditahan dong sayang." goda Arick dan Jihan mencebik, kesal.


Ia lalu memukul lengan suaminya itu pelan.


Arick makin terkekeh dibuatnya.


Mobil berhenti di lampu merah, Arick pun berhenti tertawa dan merubah posisi duduknya menghadap sang istri.


"Kata papa, aku hanya perlu mengawasi, karena semuanya sudah dikerjakan oleh para ahli." Jelasnya mulai bicara serius.


Jihan angguk-angguk, memahami penjelasan sang suami.


"Dulu mas Arend pernah mengajak aku kesana, tapi hanya sekali. Sekarang aku sudah lupa dimana perusahaan papa." ucap Jihan, sambil mengingat masa lalu, memutar kilas balik jalan-jalan yang pernah ia tuju untuk sampai di perusahaan Mardi.


Lama tak mendengar jawaban sang suami, Jihan lalu menoleh ke arah Arick.


Seketika itu juga dia sadar, sudah menyebut nama Arend diantara keduanya.


"Maaf Mas." desis Jihan, pelan, nyaris tak terdengar.


Melihat wajah cemas sang istri, Arick malah terkekeh, tangan kirinya terulur untuk mengusap pucuk kepala sang istri.


"Itu karena mas Arend belum sepenuhnya menggantikan posisi Papa, jadi dia hanya sekali-sekali saja kesana." jawab Arick biasa, seolah Arend bukan lagi tanda luka, melainkan kakaknya sendiri.


Bingung harus bagaimana menanggapi, akhirnya Jihan hanya diam saja, sambil terus menatap lekat netra sang suami. Mencari jawabannya sendiri.


Benarkah mas Arick sudah biasa bercerita tentang mas Arend?


"Apa sekarang kamu mau lihat perusahaan Papa? kita bisa melewatinya sambil jalan pulang." Ajak Arick antusias.


Jihan mengangguk ragu.

__ADS_1


Tanpa babibu, saat lampu jalan berubah hijau, Arick langsung melaju, belok ke kanan menuju perusahaan sang ayah.


Tak sampai lama, 15 menit kemudian keduanya melewati gedung yang tak terlalu tinggi. Bisa dilihat dengan jelas, jika gedung itu hanya terdiri dari 10 lantai, beda jauh dengan gedung-gedung disamping kanan dan kirinya, yang mungkin bisa mencapai 40 lantai.


Diatas sana tercetak dengan jelas nama perusahaan,


PT. Dua Putra


"Itu perusahaan papa, tempat kerjaki nanti." terang Arick, saat melintasi gedung itu.


"Banyak juga yang berubah ya Mas, dulu belum ada cafetaria di bawah sana." jelas Jihan, menunjuk lantai dasar diujung gedung. Dulu tempat itu hanya ruang tunggu, kini sudah disulap jadi kantin cafe kantor.


Bisa digunakan oleh para karyawan ataupun para pelanggan disana.


Tak menjawab, Arick hanya tersenyum. Dia tahu, Mardi sengaja membuat itu untuknya. Agar tiap kali bekerja, Arick masih bisa melihat suasana cafe.


"Kapan-kapan kita makan disana ya Mas?" ajak Jihan antusias, dinding cafe itu berupa kaca tebal, jadi mereka tetap bisa menyaksikan ramainya jalanan dari sana. Didepannya ditumbuhi bunga-bunga, menambah kesan asri dan sejuk.


"Besok kita makan disana." jawab Arick cepat dan Jihan kegirangan sendiri dibuatnya.


15 menit kemudian, sepasang suami istri ini sampai juga di rumah. Lelah, persis seperi habis kencan keliling kota Jakarta.


Dengan senym mengembang, keduanya masuk dengan bergandengan tangan.


"Kok lama sekali?" tanya Sofia yang menghalang langkah keduanya di ruang keluarga. Sebelum menyusuri seluruh ruangan rumah ini, pasti mereka akan melewati ruang tengah.


"Tadi, Jihan ajak mas Arick lihat perusahaan papa dulu Bu," jawab Jihan jujur, dan Sofia mendadak bahagia mendengar kata-kata itu.


"Um baiklah, ya sudah sana masuk. Tuh lihat, Asimu sudah merembes, basah." jelas Sofia lalu berlalu,


Jihan dan Arick kompak menunduk, melihat kearah yang ditunjuk sang ibu tadi.


Dan benar saja, ternyata sudah basah. Karena terlalu bersemangat, Jihan sampai tidak merasa sesak.


"Ayo, aku bantu pompa. Tapi bukan pakai alat itu, tapi pakai ini?" ucap Arick sambil mengangkat tangan kanannya, lengkap dengan senyum menggoda.


Kesal, Jihan lalu mencubit perut suaminya itu kuat-kuat.


"Aw, ampun ampun ampun!" keluh Arick sungguh-sungguh.


Santi yang melihat pemandangan itu hanya terkekeh, kembali nyapu dengan perasaan bahagia. Kini tuan mudanya sudah sangat berbeda, kini Arick lebih mudah tertawa. Rumah ini jadi lebih hidup.


"Bude, nyapu kok senyum-senyum gitu?" tanya Puji heran, rela berhenti jalan demi bertanya itu.


Tak menjawab, Santi langsung menunjuk kearah Arick dan Jihan. Puji mengikuti arah pandang Santi lalu berdecak kesal.


"Haduh, endi bojoku, endi bojoku." keluh Puji, ia langsung saja pergi, tak kuat melihat pemandangan adult romance itu.

__ADS_1


__ADS_2