Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 67


__ADS_3

3 hari berlalu, kini keadaan Jihan dan Arick sudah mulai membaik. Keduanya sudah tidak sesedih kemarin, saat Anja dan Jani lahir ke dunia ini.


ASI Jihan juga sudah penuh, bahkan tiap 1 jam sekali dia harus memompa ASInya agar tidak terasa menyakitkan. Selain porsi makannya yang bertambah, Jihan kini juga meminum suplemen pelancar Asi.


Semua itu ia lakukan untuk ke tiga anaknya, jangan lupakan Zayn, ia juga masih butuh ASI sang ibu untuk tumbuh kembangnya.


Hari ini, Jihan sudah diperbolehkan pulang. Tapi Anja dan Jani masih harus tinggal dan menetap di NICU. Kedua bayi itu harus tetap dirawat disini sampai berat badan mereka naik hingga 2,5 kg.


Jihan pulang bersama Mardi dan sofia, sementara Arick menjaga anak-anak mereka di rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 9 pagi, mobil Mardi sudah terparkir sempurna di halaman rumah. Tanpa mengulur waktu, ketiganya langsung turun.


"Ji, hati-hati Nak." ucap Sofia saat melihat Jihan yang berjalan lebih cepat.


Jihan hanya tersenyum dan kembali berjalan Normal, rasanya sudah tidak sabar untuk segera menemui Zayn.


Mardi mengetuk pintu rumah itu dan tak lama setelahnya pintu terbuka. Asih membuka pintu itu sambil membawa Zayn dalam gendongannya.


"Sayang." ucap Jihan Antusias, ia tanpa sadar mengangkat tumbuh gembul Zayn dan digendongnya sendiri, berulang kali menciumi wajah anak sulungnya ini.


"Ibu sangat merindukanmu Zayn." Mata Jihan berembun, tapi tidak sampai menangis.


Sofia yang melihat itu hanya mampu meringis, membayangkan apa jahitan di perut Jihan sudah cukup kuat untuk dipakai menggendong Zayn.


"Sini sayang, Zayn sama Oma, Oma juga sangat merindukanmu." tutur Sofia sambil merebut Zayn, ia tidak mau Jihan kembali sakit. Tapi jika dicegah secara langsung takutnya membuat menantunya ini merasa bersedih. Karena itulah, ia beralasan merindukan Zayn juga.


Sofia melihat Jihan yang kembali tersenyum dan ia mulai bernapas lega.


"Terima kasih ya Sih, kamu dan mbak Puji sudah menjaga Zayn dengan sangat baik." ucap Jihan pada Asih, kini mereka semua mulai masuk ke dalam rumah.


Asih mengangguk dengan antusias, ia bahkan tersenyum sangat lebar. Bahagia jika pekerjaannya mendapat pujian dari sang majikan.


Saat ini Puji sedang menjemur baju di samping rumah, hingga ia tidak tahu jika Jihan sudah pulang.


"Ibu tidak perlu berterima kasih, Zayn memang anak yang pintar, tidak membuat saya susah." jujur Asih.

__ADS_1


Sampai di ruang tengah, Jihan kembali meminta Zayn dari gendongam sang ibu. Ingin seharian ini menghabiskan waktu bersama bayi laki-lakinya ini.


"Tapi biar Asih yang gendong ya, kamu main-main saja. Ingat kata dokter Diah, kamu belum boleh angkat-angkat beban."


Jihan kembali tersenyum, setelah melihat Zayn, ia malah melupakan semua pesan dokter Diah itu.


"Iya, maaf Bu, Jihan lupa." jawabnya dengan terkekeh pelan.


Akhirnya Jihan meminta Asih untuk membewa Zayn masuk ke dalam kamarnya. Sementara Mardi dan Sofia beristirahat di kamar tamu.


"Bu, bagaimana kalau ruang kerja Arick kita renovasi jadi kamar tidurnya Zayn?" Tanya Mardi saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar.


Sofia tidak langsung menjawab, memilih duduk di meja rias dan memperhatikan pantulan dirinya sendiri.


"Bu." tegur Mardi lagi karena Sofia hanya terdiam.


Mendengar panggilan Mardi yang terdengar menekan, sofia memutar badannya dan kini menatap sang suami.


"Pa, sebenarnya Ibu masih mau Jihan dan Arick kembali ke rumah kita. Jadi tidak perlu merenovasi rumah ini." jelas Sofia sesuai isi hati, apalagi setelah kelahiran si kembar. Makin memantapkan hatinya untuk membawa Jihan dan Arick kembali pulang.


Mardi duduk di ujung ranjang dan melihat ke arah istrinya itu, ia menghela napas sebelum menjawab.


"Tapi ibu ingin menghabiskan masa tua ibu bersama anak dan cucu kita Pa." rengeknya tak habis-habis.


"Beginilah takdir orang tua Bu, ketika anak kita dewasa dia akan memiliki kehidupannya masing-masing."


Hening, baik Sofia maupun Mardi merasakan kekosongan dihati mereka.


"Kita tidak boleh pamrih dan mengharapkan mereka untuk selalu menuruti keinginan kita." timpal Mardi lagi memecah keheningan dan Sofia mengangguk lemah.


"Masih ada papa yang akan selalu mendampingi Ibu."


Sofia tersenyum tipis ketika mendengar kata-kata manis suaminya, ia pun lalu bangkit dan menghampiri Mardi.


"Ibu bersyukur sekali memiliki suami seperti Papa." jawab Sofia sambil duduk disamping Mardi, ia juga mengelus lembut lengan suaminya itu.


"Papa lebih beruntung memiliki Sofia sebagai istri papa."

__ADS_1


Keduanya saling tatap dan saling membalas senyuman. Benar, seperti ini saja sudah membuat hidup mereka terasa damai. Keinginan-keinginan yang berlebih hanya akan menambah beban di hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sih, tolong ambilkan ponsel saya ya, di dalam tas itu." ucap Jihan pada Asih sambil menunjuk tas nya sendiri di bawah meja rias.


Asih menjawab Iya, seraya bergegas mengambil ponsel Jihan.


"Ini Bu."


"Terima kasih ya."


Jihan berniat menghubungi suaminya, memberi kabar jika kini ia sudah berada di rumah dan bertemu dengan Zayn.


Di panggilan pertama, sambungan telepon itu langsung terhubung.


Jihan lalu dengan antusias menceritakan pertemuannya dengan Zayn, seolah sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan anak sulungnya itu.


Arick yang mendengar cerita istrinya ikut tersenyum, bahagia kini Jihan sudah kembali ceria.


"Jadi nanti malam mas tidur di hotel?" tanya Jihan ketika ia sudah selesai bercerita.


"Iya sayang, hotel tempat Ibu dan Papa menginap semalam. Jaraknya dekat dengan rumah sakit, bahkan aku bisa berjalan kaki kesana." jelas Arick apa adanya, sengaja tidak pulang dan memilih menginap di hotel. Jadi jika ada keperluan mendadak mengenai si kembar ia bisa langsung menangani.


"Mas yang sabar ya, pasti sebentar lagi anak-anak kita pulang." ucap Jihan yang mulai sendu, apalagi kini melihat suaminya yang kesusahan seperti itu, bahkan selama 3 hari ini Arick tidak kembali bekerja. Urusan Cafe benar-bebar di pegang semua oleh Jodi.


"Iya Ji, pasti pulang, aku juga sudah sangat merindukanmu." goda Arick yang ingin mengalihkan kesedihan sang istri.


"Coba tadi ibu dan papa ku suruh tunggu di bawah, aku pasti bisa menciummu sampai puas dulu." sesalnya sungguh-sungguh, pasalnya tadi ia hanya bisa mencium kening Jihan karena sudah ada Mardi dan sofia yang menunggu.


"Mas ih." kesal Jihan sambil mengulum senyumnya.


Asih yang melihat senyum majikannya itu hanya bisa menahan senyumnya, sudah hapal.


.


.

__ADS_1


Mampir ya, kisah Kiran, Aslan dan Alfath 🙏😊



__ADS_2