Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 72


__ADS_3

5 hari berlalu, hari-hari berjalan seperti biasanya. Jihan masih terus bertanya apa Jani sudah boleh pulang dan Arick selalu menjawab belum, sebentar lagi.


Malam ini Jodi dan Jasmin giliran menjenguk Jani di rumah sakit, kemarin Kris dan Selena sudah lebih dulu kesini.


Sementara Harris selalu menyempatkan tidur di Hotel menemani sang sahabat, tapi ya itu, biasanya ia akan datang jam 12 malam. Entah habis keluyuran kemana.


Jodi baru pulang dari Bandung jam 5 sore tadi, malamnya ia langsung menemui Arick di rumah sakit, bersama Jasmin.


Kini ketiga orang itu duduk di ruang tunggu, setelah beberapa saat lalu, ketiga orang ini mengintip keadaan Jani Jani dibalik kaca. Arick akan kembali ke hotel saat jam 10 malam.


"Jika kondisi Jani stabil seperti ini terus 2 hari lagi dia sudah boleh pulang?" tanya Jasmin, ia masih saja merasa iba melihaat Jani di dalam inkubator, ingin Jani segera diperbolehkan pulang.


"Iya Jas, doakan saja semoga Jani bisa segera pulang." jawab Arick.


Jasmin dan Jodi mengangguk kompak, seraya mengucapkan kata Amin.


"Maaf ya Jo, karena kondisinya seperti ini aku jadi merepotkan mu," ucap Arick sungguh-sungguh, ia pun merasa tak enak hati karena hampir 2 minggu ini ia tidak pernah bekerja, hanya sebisa mungkin mengerjakan tugasnya di hotel.


Itupun tidak bisa maksimal, layaknya ia berkerja di Cafe langsung.


"Sudahlah Rick, jangan dibahas lagi. Jangan buat aku merasa tak nyaman." Jujur Jodi, pasalnya ia benar-benar ihklas mengerjakan ini semua. Yang penting Cafe tetap berjalan, cicilan Bank bisa terus dibayar, gaji karyawan pun terlunasi dan mereka tetap mendapatkan untung.


Tapi tetap saja, Arick merasa makan gaji buta.


"Bagaimana jika aku keluar dari Cafe Jo?" tanya Arick lirih, Jasmin yang ikut mendengarpun merasa tak suka.


Iba bercampur kesal sekaligus.


"Jangan asal bicara, bukannya ini mimpimu untuk punya usaha Cafe sendiri. Kenapa mendadak ingin keluar saat sedang sibuk-sibuknya seperti ini, Cafe di Jakarta sedang ramai-ramainya, dan di Bandung kalian buat cabang baru." Jasmin buka suara, Jodi yang tak ingin ada keributan langsung menggenggam tangan kekasihnya itu. Meminta Jasmin untuk meredam emosinya.


Arick sendiri terdiam, bingung ingin menjawab apa.


"Apa alasanmu mengatakan itu Rick?" tanya Jodi setelah mereka cukup lama terdiam.


Arick tidak langsung menjawab, ia memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan itu.


"Aku ingin berhenti bukan karena tak enak hati dengan mu Jo, tapi aku ingin membantu papa menjalankan perusahaannya," jawab Arick mantap.


Meskipun alasan sebenarnya adalah ia merasa tak enak hati pada Jodi, jujur saja, selama ini ia sadar jika Jodilah yang paling banyak berjuang demi Cafe. Arick tak mau, semakin merepotkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sebagai gantiku, bagaimana jika Jasmin keluar dari hotel dan mulai bekerja di Cafe?" usul Arick lagi, bukan tanpa sebab kenapa ia meminta Jasmin.


Selama ini Jasmin bekerja sebagai asisitennya, Jasmin banyak tahu tentang manajemen pengolahan Cafe seperti yang ia terapkan selama ini.


"Aku akan tetap membantu, bagaimanapun keputusan kita meminjam uang di Bank juga ada andilku. Jadi aku tidak akam lepas tanggung jawab begitu saja," timpal Arick lagi karena Jodi hanya terdiam.


Jodi mencerna semua ucapan sahabatnya itu.


"Tapi izinkan aku keluar dari manajemen dan kepemilikan Cafe itu. Aku benar-benar ingin membantu papa."


"Jangan bohong Rick, aku tahu kamu tidak ingin mengambil alih perusahaan papa Mardi. Kamu ingin berdiri dengan kakimu sendiri." jawab Jodi dingin, tatapannya lurus menghadap kedepan, tidak melihat kearah Arick.


Jodi merasa, Arick hanya sedang mencari-cari alasan.


Mendengar ucapan Jodi itu, Arick hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Susah memang untuk membohongi Jodi, sahabat yang sudah tahu seluk beluk hidupnya.


Lagi-lagi hening, Arick belum menemukan kata yang pas untuk menyanggah ucapan Jodi.


Arick merasa sangat egois, dulu ia selalu mengajak Jodi untuk memulai bisnis ini, sekarang ia ingin melepas begitu saja. Arick pusing, entah bingung mau bagaimana.


Arick selama ini tahu, jika Mardi menginginkan dirinya untuk menganbil alih perusahaan. Arick juga tahu, jika Mardi sempat meminta Jihan untuk meneruskan perusahaan itu jika dia menolak.


Egonya tak terima jika kini ia pun harus menggantikan posisi Arend di perusahaan itu, benar-benar merasa seperti cadangan.


Tapi disatu sisi, ia pun tak tega jika Jihan yang harus ikut andil bekerja.


Dan kini, ia tak bisa fokus pada Cafe.


Arick mengusap wajahnya frustasi, akhir-akhir ini pikirannya benar-benar terkuras.


Jasmin yang melihat kedua sahabatnya berdebat merasa tak tega.


"Baiklah, aku akan keluar dari hotel dan mulai membantu Cafe." ucap Jasmin memecah keheningan.


Jodi dan Arick langsung menoleh pada wanita itu.


"Kenapa?" Jodi.


"Benarkah?" Arick.

__ADS_1


Tanya kedua pria ini bersamaan.


"Sayang, anggap saja ini usaha kita untuk masa depan kita nanti." jawab Jasmin pada Jodi dengan suara yang lembut, tak ingin kekasihnya ini berpikir jika ia melakukan semuanya demi Arick, sang mantan.


Jodi yang mendengar jawaban Jasmin itu mengukir senyum tipis dibibirnya, mulai merasa rela jika Arick akan meninggalkannya.


"Benarkah Jas?" tanya Arick ingin kepastian, ia tak merasa kecewa sedikitpun jika usaha impiannya ini masih tetap berjalan dan di lanjutkan oleh sahabat-sahabatnya.


"Iya, tapi bukan bulan ini. Bulan depan." jawab Jasmin ketus, masih kesal karena membuat kekasihnya bersedih.


Arick dan Jodi saling pandang, lalu sama-sama tersenyum dan saling berpelukan. Jasmin yang melihat itu pun ikut tersenyum.


"Sudah, sudah. Jangan lama-lama pelukannya." lerai Jasmin, ia saja tidak pernah dipeluk erat seperti itu oleh Jodi, belum sah katanya.


"Terima kasih Jo," ucap Arick ketika mereka sudah kembali duduk seperti biasa, melepas pelukan mereka tadi.


"Aku yang harusnya berterima kasih, jika bukan karena semangatmu untuk membuat usaha ini aku pasti akan tetap bekerja di hotel," jawab Jodi sungguh-sungguh.


"Sudah sih, jangan melow-melow," ketus Jasmin yang mulai merasa diabaikan.


Jodi dan Arick terkekeh, kini merasa semuanya seperti sedia kala, baik-baik saja.


Arick juga berusaha untuk menurunkan egonya. Nanti saat sudah pulang, ia akan menghadap Mardi dan mengatakan tentang kesediaannya mengelola perusahaan kontruksi sang ayah.


Jam 9 malam, Jodi dan Jasmin memutuskan untuk pulang. Saat itu juga Amir datang mengantar botol susu untuk Jani.


Di ruang tunggu ini, kini Arick duduk di temani Amir.


"Pak, terima kasih ya yang waktu itu," ucap Arick memulai pembicaraan.


"Terima kasih apa Mas?" tanya Amir bingung, tiba-tiba diberi ucapan terima kasih, padahal ia tidak melakukan apa-apa.


Amir bingung, sementara Arick malah terkekeh.


Pasti sekarang tanda merahnya sudah hilang. Batin Arick sambil membayangkan sang istri.


☘☘☘☘


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2