
Dokter Ivan tergesa-gesa untuk pulang karena sebenarnya dia lembur di rumah sakit. Karena setelah menangani pengobatan Karina secara langsung terus terang membuat pekerjaannya sebagai direktur utama rumah sakit menumpuk meski dokter Ivan tidak menyesalinya namun dia malah menikmati karena hidupnya kini lebih berwarna tidak seperti sebelumnya, monoton dan terasa hambar.
Pukul tujuh malam jam dinding ruang kerjanya berdentang menunjukkannya. Namun tak membuat dokter Ivan beranjak dari ruang kerjanya. Dia bahkan menghela nafas panjang dan berat melihat pekerjaannya terlihat tidak selesai-selesai padahal sudah seharian penuh dia di ruangannya duduk di depan laptop. Makan siang pun dia meminta tolong pada pegawai cleaning servis di rumah sakit itu untuk mengantarnya ke ruangannya.
Namun saat asisten sang papa yang tidak biasa-biasanya pria paruh baya yang dipanggilnya paman itu menghubunginya. Dan dokter Ivan bisa menebak kalau ada hal serius hingga asisten papanya itu menghubunginya jam segini.
"Ya paman?" Sapa dokter Ivan santai.
"Tuan muda, tuan besar meminta anda untuk pulang, sekarang. Penting. Dan tolong bawa perlengkapan kedokteran anda!" Ucap Ramon langsung tanpa basa-basi karena memang keadaan sedang genting, apalagi saat melihat orang suruhannya membopong tubuh sang nona yang terlihat berlumuran darah di bagian perutnya entah bawahnya. Ramon sendiri merasa cemas, dia sendiri merasa bersalah karena terlambat atau sebenarnya belum.
"A..." Dokter Ivan tak melanjutkan ucapannya karena terdengar suara ponsel ditutup dan suara orang panik di sekitar Ramon.
Tanpa ba bi bu lagi, dokter Ivan langsung beranjak mengambil segala sesuatu perlengkapan kedokterannya serta dompet, ponsel dan kunci mobil dengan tangan kanan menenteng tas kedokterannya. Jas dokternya sudah dilepas sejak tadi, dia hanya meraih jas kerjanya yang hanya disampirkan di lengan kirinya.
Dokter Ivan segera berlari kecil keluar dari ruangannya menuju tempat parkir. Untung saja lorong rumah sakit sudah sedikit lengang karena jam menunjukkan waktu orang-orang sudah mulai istirahat dan jam besuk yang sudah habis serta para pekerja hanya ada beberapa yang lalu lalang.
Sapaan dan panggilan para bawahan dan rekan kerjanya tak dihiraukannya karena sekarang ada yang lebih darurat yang harus segera ditangani.
Apa terjadi sesuatu dengan papa? Apa ada yang gawat? Semoga tidak ada hal buruk terjadi, ya Tuhan. Batin dokter Ivan mulai melajukan mobilnya untuk pulang ke mansion papanya.
.
.
"Dimana kalian melihatnya?" Tanya dokter Nathan pada kedua orang suruhan Ramon sambil memandangi wajah Karina yang terlihat lemas dan pucat, tadi dia sudah meminta maid untuk menggantikan pakaian Karina yang kotor dan basah juga berlumur darah membuat dokter Nathan merasa geram pada Johan selaku suami putrinya. Yang tega menelantarkan putri semata wayangnya yang dikira meninggal itu.
"Di trotoar tak jauh dari mansion ibu dokter Johan." Jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa?" Dokter Nathan sontak menatap kedua orang itu tajam membuat keduanya langsung bergidik ngeri.
"I-iya tuan, kami segera mendatanginya begitu nona jatuh pingsan tanpa ada yang mengejarnya dari belakang." Jelas salah satu dari mereka.
"Ada apa pa?" Suara dokter Ivan yang tiba-tiba muncul membuat semua orang terdiam. Dokter Nathan langsung menoleh menatap sang putra.
"Periksa dia Ivan!" Titah dokter Nathan membuat dokter Ivan masih bingung siapa yang harus diperiksanya. Dokter Ivan langsung melotot melihat siapa yang sedang terbaring lemas dengan wajah pucat di ranjang kamar tamu mansion papanya.
"Karin!" Seru dokter Ivan langsung mendekati ranjang, refleks meletakkan tas dokternya mengambil peralatannya dan segera memeriksa dengan teliti.
"Bisa keluar semua!" Pinta dokter Ivan lebih ke perintah sambil terus memeriksa.
Semua orang yang ada di dalam kamar tadi sontak keluar semua termasuk dokter Nathan. Dia tahu kalau saat dokter harus berkonsentrasi untuk memeriksa pasien. Sebenarnya dokter Nathan bisa memeriksa sendiri tapi karena pasien adalah putrinya sendiri, dokter Nathan merasa tak sanggup. Apalagi tadi dia sempat melihat lumuran darah di perut putrinya membuat dokter Nathan shock merasa bersalah karena tidak mampu melindungi putrinya.
"Ramon, cepat cari tahu apa yang sebenarnya terjadi! Aku tak akan memaafkan pada mereka yang membuat putriku menderita seperti ini!" Geram dokter Nathan penuh amarah yang menyala di matanya. Tatapan matanya seolah ingin membunuh siapapun pelakunya.
.
.
Sementara itu, Johan kalang kabut kesana-kemari menelusuri jalanan di sekitar mansion ibunya. Mencari kemana pun istrinya berada. Bahkan dia berteriak-teriak seperti orang gila yang kesetanan mencari orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Sayang.... Karin... kemana kamu...? Pulanglah sayang! Maafkan aku sekali lagi sayang... maafkan aku..." Isak Johan untuk kesekian kalinya sambil berjalan tak tentu arah di malam hari yang dingin itu tanpa memperdulikan dirinya yang sudah berwajah kusut tak beraturan lagi dengan pakaian dan wajahnya.
Johan tak peduli semua itu, dia terus bertanya pada semua orang yang melintasinya sambil menunjukkan foto istrinya berharap salah satu dari mereka melihatnya. Namun semuanya nihil, tak ada satu pun dari mereka melihatnya. Bahkan para bodyguard serta anak buah Riko dia suruh ikut mencari menelusuri jalanan yang mungkin dilalui istrinya. Rumah sakit pun tak luput dalam pencariannya.
Namun hingga tengah malam tak menemukan istrinya dimana berada. Johan terduduk lemah di bangku taman tak jauh dari mansion ibunya berharap istrinya ada di sekitar situ. Namun lagi-lagi nihil, Johan merasa tubuhnya lemas dan lelah namun dia tetap bergerak mencari kemana pun yang mungkin didatangi ibunya. Masjid, mushola tak luput pula pencariannya, namun tetap nihil.
__ADS_1
"Tuan, kita tunggu di rumah, siapa tahu nona pulang." Bujuk Edo yang ikut dalam pencarian sang istri majikannya.
"Dia pergi Edo, dia pergi. Dia meninggalkanku. Dia pasti kecewa padaku." Bisik Johan lemah dengan tubuh tak bertenaga lagi.
"Tuan..." Bisik Edo merasa kasihan pada majikannya.
Dia mengenal betul majikannya dan juga istrinya. Istri tuannya tak pernah neko-neko. Dia pendiam, ramah dan baik hati. Dia tak pernah marah meski perlakuan sang nyonya besar tidak baik padanya. Edo tahu kelakuan nyonya besarnya itu. Dia wanita yang bermulut kejam. Namun karena terlalu lama mengabdi pada keluarga majikannya sudah cukup lama membuat Edo kebal.
Tapi dia bisa menebak kenapa sang nyonya memilih pergi mungkin dia sudah tidak tahan dengan ucapan kejam sang nyonya besar. Semarah-marahnya orang sabar, itu sangat menakutkan. Mungkin inilah saatnya. Dan yang membuatnya menyayangkannya adalah penyesalan sang tuan muda yang begitu mencintainya.
Edo hanya bisa menghela nafas panjang dan berat mencoba menjadi kekuatan untuk majikannya.
.
.
TBC
Maaf ya para pembaca jika terkesan berbelit-belit 🙏🙏 sebenarnya saya bingung bagaimana cara penyelesaian masalahnya, mendadak ide saya buntu. Jadi yang punya ide boleh dong diusulkan...
Terima kasih
Tetap dukung karya saya ya
Beri rate, vote dan dukungan poinnya, makasih
.
__ADS_1