
"Ayo Mas kita pulang," ajakku pada mas Arick yang masih mengelus nisan sang kakak. Ia menoleh, tersenyum, bangkit dan menautkan jemari kami.
"Ayo," ucapnya sambil membimbingku untuk berjalan menjauh dari makam mas Arend.
Aku memeluk lengannya erat, entah kenapa setelah mengunjungi makam mas Arend, aku merasa cinta kami semakin kuat. Seolah tidak ada lagi penghalang diantara kami. Seolah semuanya bermula dari awal lagi, kini aku merasa menikah dengan mas Arend bukan lagi hanya karena Zayn, tapi karena aku mencintainya.
"Besok kita periksa kandungan ya?" ucap mas Arick sambil memasangkan seatbelt pada tubuhku.
Aku seperti tak ingin hilang kesempatan, buru-buru aku mencium bibirnya sebelum ia selesai memasang seatbelt. Ya ampun, kenapa aku jadi seberani ini?
"Ji, jangan memancingku," goda mas Arick sambil menatap ku intens.
Aku jadi takut sendiri.
"Baiklah, baiklah, ampun." Aku mendorong pelan dadanya, dengan kekehan kecil mas Arick kembali ke kursinya sendiri. Sementara aku memegangi kedua pipi yang mulai memanas.
Sampai di rumah sudah hampir magrib, aku dan mas Arick mandi bersama. Benar-benar hanya mandi bersama karena tidak ingin ketinggalan waktu shalat magrib walau hanya sedikit.
Kami ingin berterima kasih, mengucap syukur sedalam-dalamnya atas rezeki yang Allah berikan dalam keluarga kami. Disaat mas Arick meresmikan usaha barunya, aku positif hamil.
Ya Allah, tidak ada yang lebih indah daripada ini semua.
Kami shalat berjamaah, sedangkan Zayn duduk dikursinya memperhatikan.
Selesai shalat aku mencium punggung tangan kanan mas Arick, ia menciumku dan menciumi wajah Zayn.
"Wah, anak ayah sudah besar ya? sudah bisa duduk sendiri." Mas Arick mengangkat Zayn dan di dudukkan dipangkuannya.
"Besok kita sama-sama periksa kandungan ibu ya? kita lihat dedek bayi diperut ibu," ucap mas Arick antusias, Zayn yang diajak bicara malah sibuk sendiri memainkan kancing baju sang ayah.
"Jangan sayang, jangan dibuka. Biar ibu saja yang buka baju ayah." Mas Arick melirikku, aku tahu maksud ucapannya itu.
Dasar mesum. Aku mencebik, melepas mukenah dan segera melipatnya.
...****************...
Hari ini aku dan mas Arick memeriksakan kandungan, seperti biasa, mbak Puji setia ikut dan menggendong Zayn di kursi belakang.
Jam 9 pagi aku dan mas Arick sudah sampai di rumah sakit, kami langsung menuju ruangan bu Diah dokter kandunganku. Kemarin kami sudah membuat janji untuk konsultasi.
Aku bercerita jika kemarin sudah melakukan pemeriksaan mandiri menggunakan testpack dan hasilnya positif.
Bu Diah antusias, beliau juga meminta maaf karena dulu sempat memanggil mas Arick dengan nama mas Arend.
Dan kini bu Diah mulai memeriksa kandunganku, ia mulai memeriksa detak jantung janin menggunakan doppler, ia mengoles perutku menggunakan gel dan mulai mencari-cari dimana detaknya.
__ADS_1
Dug dug
Dug dug dug dug
Aku tersenyum sedangkan mas Arick tercenung, hihi. Lucu sekali melihat wajahnya, ya, bagiku ini bukanlah yang pertama mendengar detak jantung janin dalam kandungan. Tapi bagi mas Arick ini adalah yang pertama, dan aku yakin kini ia sedang terkagum-kagum sama seperti aku dulu.
"Terakhir datang bulan kapan Ji?" tanya bu Diah.
"Kalau tidak salah 2 bulan Bu," jawabku, 2 bulan itu juga menurut mbak Puji, karena aku benar-benar lupa kapan terakhir datang bulan.
"Sepertinya kalian akan memiliki bayi kembar, coba kita langsung USG saja ya?" pinta bu Diah dengan senyum sumringah.
Aku dan mas Arick terperangah.
"Bayi kembar?" tanya kami kompak dan bu Diah mengangguk, seraya menghidupkan alat USG di samping tempat tidurku.
"Selamat ya, bayi kalian kembar, lihatlah ada 2 kantung janin di dalam rahim. Dan mereka semua sangat sehat."
Masya Allah. Aku menutup mulutku yang terperangah tidak percaya. Betapa indah pemberianMu ya Allah.
Ku lihat mas Arick dan ternyata ia menangis. Air bening mengalir di sudut matanya.
"Terima kasih sayang," ucap mas Arick setelah puas mencium, kini ia membelai lembut wajahku.
"Kita harus berterima kasih kepada Allah Mas," jawabku dan dia mengangguk.
Mas Arick mencium bibirku sekilas dan kembali duduk di kursinya sendiri, dengan tangan yang terus menggenggam tanganku.
Bu Diah menjelaskan semua tentang kehamilan bayi kembar, mulai dari asupan makananku, gejala kehamilan yang lebih hebat dan resiko persalinan menggunakan operasi caesar.
Setelah keluar dadi ruangan bu Diah, ku lihat mas Arick malah murung, tidak sebahagia tadi saat pertama kali mengetahui jika kami akan memiliki bayi kembar.
"Mas kenapa?" tanyaku, kini kami semua sudah berjalan keluar menuju parkiran.
Mas Arick tidak menjawab, ia terus berjalan seolah tidak mendengar pertanyaanku.
Aku dan mbak Puji saling pandang, kemudian mengedikkan bahu karena tidak tahu apa yang terjadi.
Sampai di mobil mas Arick masih termenung, aku yang cemas mas Arick tidak konsentrasi akhirnya memaksanya untuk bicara.
"Mas!" Aku menahan tangannya saat hendak memasukkan gigi mobil.
Mata kami bertemu, namun entah kenapa sepertinya mata mas Arick berembun.
__ADS_1
"Mas kenapa?" tanyaku dengan nada memaksa, aku ingin menjawab sekarang juga. Apakah ia tidak senang dengan kehamilanku?
"Jawab Mas."
Suasana mobil jadi hening, aku tau mbak Puji mulai tak nyaman duduk dibelakang.
"Ji ...," ucap mas Arick pelan, ia menggenggam tanganku dan kurasakan tangannya begitu dingin.
"Kenapa Mas? ada apa?" tanyaku tidak sabaran.
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya merasa bersalah padamu."
"Kenapa?"
"Karena aku membuatmu hamil kembar."
"Kembar? Mbak Jihan hamil kembar?" sahut mbak Puji cepat dengan suara bersemangat.
Namun mbak Puji kembali terdiam dan menciut ketika melihat mas Arick yang semakin murung.
"Apa salahnya hamil kembar Mas? Mas merasa bersalah karena penjelasan bu Diah tadi?" tebakku, ku lihat mas Arick hanya terdiam, berarti jawabannya iya.
"Mas, dulu ibu Sofia juga hamil bayi kembar, nyatanya beliau bisa dan lahirlah mas Arick dan mas Arend. Bu Diah hanya memberikan edukasi kepada kita agar bisa merawat anak kita dengan baik, bukan malah takut seperti mas Arick sekarang," jelasku panjang lebar.
Pastilah mas Arick merasa bersalah, karena hamil kembar berarti beban yang ditanggungpun jadi lebih banyak. Morning sickness yang lebih parah, sakit punggung yang lebih berasa dan banyak lagi.
Mas Arick salah menangkap penjelasan bu Diah, bukannya semakin bersemangat ia malah merasa bersalah.
Aku mendekat dan memeluknya erat.
"Aku baik-baik saja Mas, aku merasa sangat bahagia dan bersyukur kita akan memiliki anak kembar. Aku tidak merasa terbebani sedikitpun. Percayalah."
Ku rasakan mas Arick mulai membalas pelukkanku, ia juga menciumi pucuk kepalaku.
"Maafkan aku Ji. Aku akan selalu menjagamu dan juga anak-anak kita."
"Ehem!" mbak Puji berdehem, aku dan mas Arick dengan perlahan melepas pelukan.
"Jadi Mbak Jihan hamil kembar?" tanya mbak Puji antusias.
"Iya Mbak."
"Masya Allah, alhamdulilah."
Mbak Puji amat bahagia, aku tersenyum, ku lihat mas Arick pun sudah mulai kembali seperti semula. Tersenyum bahagia atas kehamilan ku ini.
__ADS_1