Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 84


__ADS_3

"Ada apa Rick?" tanya Mardi heran, tumben sekali anaknya ini menemuinya terlebih dahulu sebelum diminta.


Tadi saat di kamar baby ZAJ, sang istri berpesan, bahwa ia akan memaafkan Arick setelah suaminya itu benar-benar mengatakan kepada Mardi tentang Cafe dan tentang pindah lagi ke rumah ini.


Tanpa pikir panjang, Arick langsung menyetujui. Seolah tak ingin mengulur waktu, siangnya Arick langsung menemui Mardi yang sedang beristirahat di kamar.


Ada Sofia juga disini.


Mereka bertiga duduk di sofa kamar itu.


"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Sofia menyelidik, takut-takut jika Arick hendak pamit untuk pulang. Karena renovasi rumah Arick pun sudah rampung, selesai.


"Begini Pa, Bu ..."


Arick memberi jeda, ditatapnya sang ayah dan ibu secara bergantian.


"Sebenarnya Arick ingin mengajak Jihan_"


"Tunggu!" potong Sofia cepat, ia mendadak cemas, karena ternyata dugaannya benar. Arick akan kembali ke rumahnya beserta Jihan dan anak-anak.


Sofia tak sanggup, sungguh tak sanggup kembali melepas anak-anak dan cucu-cucunya itu. Belum pergi tapi kesepian sudah merayap masuk ke relung hati.


"Rick, ibu mohon Nak, kamu jangan pulang. Kembalilah kalian ke rumah ini. Ibu janji tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu, bahkan jika kalian butuh privasi, ibu tidak akan naik ke lantai 2." jelas Sofia buru-buru.


Mendengar itu, Arick langsung bangkit dari duduknya dan bersimpuh dihadapan Sofia.


Mardi dan Sofia mendelik, terkejut melihat tingkah sang anak.


Anak yang selama ini sangat dingin, sedikit bicara dan selalu acuh.


Tiba-tiba bersujud di kaki mereka.


"Maafkan aku Bu." ucap Arick lirih, ia bahkan mencium tangan sang ibu takzim


Sumpah, kini ia benar-benar merasa sangat bersalah, merasa egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli pada kedua orang tuanya.


Orang tua yang sudah melahirkan dan mengasuh dengan penuh kasih sayang, hingga kini ia menjadi orang.


"Aku akan kembali ke rumah ini Bu, aku kesini ingin mengatakan itu. Bukan ingin pamit pulang." jelas Arick, seketika itu juga senyum sang ibu mengembang.


Saking bahagianya ia sampai memeluk Arick. Dan menciumi pipi sang anak kiri dan kanan berulang, seolah Arick masih kecil.


Mardi pun merasakan kebahagiaan yang sama, diam-diam ia pun mengulum senyumnya.


"Benar seperti itu?" tanya Sofia yang masih belum percaya, apalagi kini Jihan masih nifas, belum bisa merayu Arick, pikirnya.

__ADS_1


"Iya Bu, Aku serius. Nanti aku akan ajak mang Ujang, mbak Puji dan Bude Santi untuk membereskan rumah disana. Lalu kami semua pindah kesini."


"Terima kasih Nak." timpal Sofia cepat, tak ada lagi yang lebih membahagiakam dari ini.


"Ehem!" Arick berdehem, mencoba menormalkan kembali suaranya yang serak. Selesai dengan sang ibu, kini ia menatap sang ayah.


Tangannya masih digenggaman oleh Sofia, tapi tatapannya menuju pada Mardi.


"Pa ...," panggil Arick dengan wajah serius, masih betah untuk bersimpuh.


"Jika Papa mengizinkan, mulai saat ini biarlah aku yang mengurus perusahaan Papa, aku akan meneruskannya." ucap Arick, meski sedikit ragu, tapi ia berusaha seyakin mungkin.


Tak bisa berkata-kata, mendengar itu tanpa aba-aba mata Mardi mulai berkaca-kaca, haru bercampur bahagia.


Usianya tak muda lagi, dan beruntunglah sang anak mengerti caranya berbakti.


Tanpa segan, Mardi lalu menarik sang anak dan dipeluknya erat. Arick membalas tak kalah erat pelukan itu.


Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berpelukan seperti ini. Tidak ada keterbukaan diantara keduanya hingga makin membuat jarak seolah membentang panjang.


"Maafkan aku Pa, jika selama ini aku selalu membuat Papa kecewa." ucap Arick setelah melerai pelukan itu.


"Papa yang harusnya minta maaf padamu Nak. Papa sadar, papa bukan orang tua yang baik. Mungkin tanpa sadar, papa berucap kata-kata yang menyakiti hatimu. Tapi percayalah, papa sangat menyayangumu sama seperti papa menyayangi kakakmu, almarhum Arend." jelas Mardi, Sofia yang melihat itu menangis tak bisa ditahan.


Arick yang mendengar itu merasa terenyuh, sumpah demi apapun, kini ia benar-benar seperti anak yang durhaka.


Tanpa aba-aba, ia lalu beranjak kembali memeluk ayahnya erat.


"Maafkan aku Pa, aku salah." ucap Arick tulus, sungguh-sungguh.


Air mata Sofia makin mengalir deras, tapi ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Entah kenapa hatinya jadi sangat lega.


Melihat sang istri menangis, Mardi lalu mengulurkan sebelah tangannya dan membawa Sofia masuk ke dalam dekapan.


Kedua tangan pemimpin keluarga ini mendekap anak dan istrinya dengan sayang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai meminta maaf dan mengatakan maksudnya, Arick lalu pamit untuk keluar, meninggalkan sang ibu dan sang ayah disana berdua.


Dengan senyum yang mengembang, Arick berjalan menyusuri rumah menuju poros hidupnya, sang istri yang kini sedang berada di kamar.


"Ya Allah, gantengnya pak Arick kalau senyum gitu," ucap Asih dengan mata yang berbinar. Melisa yang mendengar langsung mengikuti arah pandang Asih.


Benar saja, tuannya itu berjalan dengan terburu-buru dan senyum yang mengembang. Seolah punya kabar bahagia yang harus segera di sampaikan, pada siapa lagi kalau bukan istrinya, Jihan.

__ADS_1


"Iya ganteng, tapi sayang, udah punya orang." Jawab Melisa sambil mencebik, tak bisa dipungkiri, kadang tiap malam ia memimpikan majikannya itu untuk bisa menjadi imam.


Tapi adalah daya, itu semua hanyalah mimpi dan angan-angan.


Asih anguk-anguk, menyetujui ucapan sang partner.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ji." Panggil Arick saat ia sudah membuka pintu kamar, dilihatnya kamar kosong tak berpenghuni.


Dimana Jihan?


Perlahan, ia mendengar bunyi gemeirick air dari dalam kamar mandi. Ia kembali tersenyum, yakin jika Jihan ada disana.


"Sayang." Panggil Arick sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Jihan menyauti, katanya tunggu sebentar lagi.


Tak lama setelah itu, Jihan benar-benar keluar. Tapi Arick mengeryit bingung, takala melihat wajah sang istri yang malah dipenuhi keringat.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Arick perhatian, ia membimbing Jihan untuk duduk disis ranjang, lalu berulang kali memeriksa suhu tubuh.


"Kamu keringat dingin?" tanya Arick cemas dan Jihan mengangguk.


"Kenapa? apa ada yang sakit? apa bekas jahitannya terbuka lagi?" tanpa permisi, Arick langsung menyingkap baju sang istri, dilihatnya bekas jahitan itu masih rapi, bahkan tiap hari makin terlihat mengering.


"Apa perutmu sakit?" tebaknya lagi.


Jihan tak menjawab, ia malah meringis, antara lucu dan bingung sekaligus.


"Kenapa sayang?" Arick benar-benar cemas dan Jihan sangat malu untuk jujur.


"Kenapa?" tanyanya lagi tak bosan-bosan.


"Tidak ada yang sakit Mas."


"Lalu?" tanya Arick cepat, ia bahkan menghapus sisa-sisa keringat sang istri di dahi dengan tangannya sendiri.


"Aku tadi kebelet Pup, tapi tidak berani ngeden. Takut jahitannya lepas. Jadi lama aku di kamar mandi, sampai keringat dingin begini."


"Astagfirulahalazim, aku kira ada apa." Lega Arick, ia lalu menciumi seluruh wajah sang istri, dahi, mata kiri, mata kanan, hidung, pipi kanan, pipi kiri dan terakhi menyesap bibir.


"Nanti kita minta resep dokter Diah ya, agar Pup mu lancar."


Jihan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2