Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 88


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi ini Arick berniat datang ke kantor, melihat bagaimana cara kerja disana, juga mempelajari beberapa berkas yang penting.


Saat ini, keluarga besar Mardi baru saja selesai sarapan. Beberapa saat lalu bakhan Arick sudah memerintah Amir untuk segera mencari supir baru. Amir menyanggupi, kebetulan ada anak saudaranya yang sedang butuh pekerjaan, dan ia memiliki keahlian bisa menyetir mobil, sama seperti dirinya.


Bak gayung bersambut, bahkan Amir bisa membawa keponakannya itu nanti sore untuk langsung bekerja disini.


"Baguslah kalau begitu, jadi nanti bisa ganti-gantian sama pak Amir kerjanya."


"Iya Mas, terima kasih ya Mas ya, pasti dia senang sekali." jawab Amir antusias.


"Tapi dia juga harus tinggal disini ya pak, kira-kira dia mau tidak?"


"Mau Mas, yakin saya, dia belum menikah kok, umurnya kalo tidak salah sama seperti Asih dan Melisa. Masih muda, pati kerjanya lebih cekatan," jelas Amir, membangga-banggakan sang keponakan.


"Siapa tadi namanya?"


"Dimas, Mas."


"Ya sudah, nanti bapak atur-atur saja ya. Kalau saya belum pulang, temukan saja dengan papa atau ibu. Lalu kenalkan dia pada semua orang di rumah ini."


"Siap Mas," jawab Amir lantang.


Jihan dan yang lainnya yang melihat itu hanya tersenyum, merasa lucu atas semangat Amir.


Tak lama setelah Amir pergi, Arick juga berpamitan untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa, sebelum Arick pergi ia memyempatkan waktu untuk berpamitan pula pada anak-anak.


Jihan mengantar sampai di teras rumah, kecupan bibir sekilas sebagai tanda pamit sang suami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di kantor, Arick langsung disambut oleh Denni, Asisten Mardi yang kini menjadi Asisten Arick.


"Tuan_"


"Pak Denni, jangan panggil saya Tuan. Panggil saja Mas." Potong Arick cepat, ia merasa tak nyaman ketika dipanggil Tuan seperti itu. Apalagi yang memanggilnya adalah orang yang berusia lebih tua daripada dirinya. Ia merasa itu sangat tak sopan.


"Tapi_"


"Bapak tidak bisa menolak, karena ini adalah perintah." ucap Arick dingin, seolah ia benar-benar sedang marah.


Melihat itu, entah kenapa Denni malah merasa lucu sendiri. Ia tersenyum seraya mengangguk menyetujui.


Setelah itu, Arick baru ikut tersenyum.


"Mas, mau langsung lihat bagaimana cara kerja disini? atau mau langsung masuk ke ruangan?" tawar Denni.


Saat ini keduanya sedang berjalan beriringan di lobby dan langsung menjadi pusat perhatian.


"Pilih yang pertama Pak."


"Baiklah, mari kita lihat para karyawan di lantai 2. Karena dilobby hanya khusus untuk pelayanan penyambut tamu juga untuk istirahat karaywan."


Arick tak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. Kemudian berjalan dengan tatapan dingin mengikuti instruksi Denni.


Dengan rinci, Denni menjelaslan tiap Devisi. Memperkenalkan beberapa manajer dan menerangkan apa kerjanya.

__ADS_1


Selama mengelilingi kantor itu, sepatah katapun Arick tak buka suara, hanya anggukan yang ia berikan sebagai jawaban.


Sementara Denni terus menjelaskan ini dan itunya.


"Duh! kenapa pak Tuan Arick jadi berubah begini ya? Kemarin dia terlihat sangat ramah, tapi kenapa sekarang dia berubah menjadi sangat dingin." ucap salah seorang karyawan wanita, heran bercampur kecewa.


"Kalau seperti ini, lebih baik Tuan Mardi saja yang memimpin kita." jawab wanita yang berdiri disampingnya.


"Tapi Tuan Mardi juga menyeramkan, ah ternyata mereka berdua sama saja. Like father like son."


Kedua wanita ini kemudian mengangguk, menyetujui pemikiran mereka sendiri.


Setelah selesai melakukan observasi kantor, kini Arick dan Denni sudah berada di ruang kerja Direktur Utama. Ruangan yang akan menjadi tempat kerja Arick, mulai saat ini hingga nanti anak-anaknya yang menggantikan.


"Pak Denni, tolong untuk sekretaris saya diganti, cari saja yang laki-laki, jangan yang perempuan. Saya merasa tidak nyaman jika bekerja bukan dengan mahram."


"Baik Mas," jawab Denni dengan cepat.


Kemarin sebenarnya Mardi sudah mengingatkan tentang itu padanya, tapi Denni lupa. Sebenarnya pun ia sudah memiliki kandidat baru sebagai sekretaris Direktur Utama, sesuai dengan keinginan Mardi dan Arick, laki-laki dan bukan perempuan.


Denni terus mendampingi Arick saat Tuannya itu mempelajari beberapa berkas penting perusahaaan. Seperti berkas para pemegang saham, berkas perjanjian kerja sama dengan perusahaan lain, laporan keuangan, proyek-proyek yang sedang berlangsung dan yang akan datang, juga berkas seluruh data karyawan, dan masih banyak yang lainnya lagi.


Jam 3 sore, Arick menyudahi kerjanya hari ini. Belum selesai dan besok ia akan kembali mengulangi.


Arick pulang lebih dulu, sementara Denni pulang sesuai jam kantor, jam 4 sore.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Mardi.


Sore ini Dimas benar-benar datang sesuai dengan janji Amir. Saat ini Dimas sedang menghadap pada Mardi dan Sofia yang sedang bersantai di ruang tengah.


"Ya benar lah Tuan, ini keponakan saya." Bangga Amir, Dimas hanya tersenyum, mengiyakan ucapan pakde nya ini.


Senyum Dimas itu menular, pada dua gadis yang ikut mengintip di balik tembok pembatas, siapa lagi kalau bukan Asih dan Melisa.


"Ya Ampun, ini sih cocoknya jadi adiknya pak Arick, bukannya keponakan pakde Amir." Desis Asih dengan cekikikan, bahagia akhirnya kini ada pemandangan bagus selain sang majikan.


"Kok bisa ya, keponakan pakde Amir seganteng itu. Ah, apakah dia tulang rusukku?" jawab Melisa dengan wajah yang merona.


"Ingat Sih, kamu sudah punya pacar di kampung. Berarti yang ini bagianku." Timpal Melisa lagi mencoba mendominasi si pria tampan, Dimas.


Asih cemberut, mengiyakan ucapan Melisa.


"Tapi kan masih pacaran Sa, belum tentu jadi_"


Plak!


Dengan cepat, Melisa langsung memukul bahu Asih. Hingga temannya ini gaduh kesakitan.


"Belajar setialah dari pacaran, kalau pacaran saja sudah tidak setia bagaimana saat menikah nanti." Melisa sok bijak, padahal ia hanya tak ingin berbagi tentang Dimas.


Asih cemberut.


Setelah perdebatan itu akhirnya kedua gadis ini kembali fokus mengintip, memindai ketampanan anggota baru Asisten Rumah Tangga keluarga Mardi, Dimas.


Tak lama kemudian, Jihan datang dan ikut duduk di salah satu sofa ruang tengah, ikut memperhatikan keponakan Amir yang sedang memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Ini menantu saya, Jihan. Suaminya masih kerja, Arick namanya." Jelas Mardi pada Dimas.


"Perkenalkan Bu, nama saya Dimas."


Jihan mengangguk kecil, seraya tersenyum ramah. Ia kembali melihat jam yang melingkar manis di tangan kirinya, sudah 30 menit sejak sang suami mengirimnya pesan mengatakan akan pulang, tapi hingga kini masih juga belum datang.


Ya, Jihan turun kesini memang untuk menunggu sang suami. Kebetulan semua orang sedang berkumpul.


"Bu, Jihan kedepan dulu ya, mau lihat mas Arick pulang atau belum." ucap Jihan pelan dan Sofia mengangguk. Memahami kerinduan seorang istri yang baru ditinggal kerja suami.


Mendapati restu sang ibu mertua, Jihan lalu bergegas ke teras, menunggu disana dan berulang kali melongok mengintip gerbang.


"Permisi Bu, paviliunnya dimana ya?" tanya Dimas dan Jihan langsung menoleh ke arah sumber suara.


Para pekerja pria memang tinggal di paviliun, sementara para wanita tinggal di rumah utama.


"Oh, ini Mas, kamu ikuti saja jalan itu." tunjuk Jihan pada lantai paving block yang terusun rapi menuju arah belakang.


Melihat Dimas yang sedikit bingung, Jihan memutuskan untuk sedikit mengantar hingga bangunan paviliun itu terlihat.


"Itu Mas paviliunnya." Tunjuk Jihan dan Dimas tersenyum sumringah.


"Terima kasih Bu, maaf Bu merepotkan. Pakde masih bicara dengan Tuan Mardi jadi tidak bisa mengantar saya."


"Iya tidak apa-apa." jawab Jihan, ia lalu berbalik hendak kembali ke teras.


Deg! jantungnya serasa mau copot ketika dilihatnya sang suami sudah berdiri di hadapannya.


Menatap dengan tajam dan dingin.


"Siapa dia Ji? kenapa kamu memanggil dia Mas?" tanya Arick langsung.


Saat datang, ia disuguhkan pemandangan istrinya yang pergi ke arah paviliun dengan seorang pemuda. Pemuda yang ia akui cukup tampan dan membuat ia tak nyaman. Cemburu lah istilahnya, hihi.


"Ya Allah Mas, kamu buat aku kaget." jawab Jihan jujur.


"Kaget kenapa? karena aku melihatmu disini bersama pemuda itu?" ucap Arick sambil menunjuk Dimas.


Yang ditunjuk bingung, belum memahami situasi.


"Mas, dia itu Dimas, keponakannya pak Amir, supir yang baru." jelas Jihan dengan menahan senyumnya, tahu jika sang suami sedang cemburu buta.


"Dia Dimas? lalu kenapa kamu panggil dia Mas?"


Jihan terkekeh, merasa lucu, ia bahkan menutup mulutnya agar tawa itu tidak pecah.


"Iya Mas, maaf, nanti aku akan panggil dia Dim." jawab Jihan langsung lalu memeluk lengan sang suami.


"Dim, kenalkan, ini suami Ibu, pak Arick." jelas Jihan.


Dimas mendekat dan mulai memperkenalkan diri dengan sopan. Selesai dengan Dimas, sepasang suami istri ini langsung memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenapa dia tampan sekali, pak Amir tidak bilang kalau keponakannya setampan itu." ucap Arick dengan kesal dan lagi-lagi membuat Jihan terkekeh.


"Kata siapa dia tampan, Mas lebih tampan kok." jawab Jihan dengan mengulum senyum.


"Itu, kenapa kamu senyum-senyum sendiri. Kamu bohong kan? dia lebih tampan kan?" cerca Arick tak habis-habis, dan Jihan memilih cara yang paling ampuh untuk membungkam sang suami.

__ADS_1


Di teras rumah itu, Jihan mencium bibir suaminya dalam. Bahkan hingga sang suami memeluk punggungnya erat.


__ADS_2