Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 104


__ADS_3

Karena Jodi tidak bisa dihubungi, akhirnya Arick kembali menghampiri anak dan istrinya. Ia kembali duduk di samping Jihan.


"Apa kata Jodi Mas?" tanya Jihan, ia menoleh sekilas lalu kembali memperhatikan Zayn. Sementara Anja dan Jani baru saja naik ke atas untuk tidur, tadi dibawa oleh Melisa dan juga Sofia.


"Tidak bisa dihubungi sayang, mungkin sedang sibuk," jawab Arick sekenanya dan Jihan mengangguk.


Drt drt drt


Ponsel Arick yang masih berada di tangannya bergetar, dilihatnya ada panggilan masuk dari Faruq.


Buru-buru ia mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum Mas," jawab Arick seraya kembali bangkit dan sedikit menjauh.


Sementara Jihan kembali menoleh, tiba-tiba hatinya berdesir, entah kenapa ia merasa kehilangan saat melihat suaminya pergi menerima telepon itu.


Dilihatnya sang suami yang bertelepon entah dengan siapa, wajahnya nampak serius dan berulang kali mengangguk.


Wajah serius itu bahkan masih ada saat dilihatnya sang suami menutup panggilan telepon dan menghampiri dirinya.


"Siapa yang telepon Mas? ada apa?" tanya Jihan buru-buru saat Arick sudah duduk dengan sempurna, tidak biasanya ia begitu penasaran dengan siapa sang suami bertelepon.


"Mas Faruq sayang, ibu Nami sakit dan meminta kita untuk kesana,"


Deg! mendengar itu jantung Jihan rasanya terhenti, entah kenapa rasanya sang ibu lebih dari sakit.


Lalu Arick memanggil Asih dan mamintanya untuk membawa Zayn masuk.


"Kamu siap-siap ya? aku akan ajak papa dan ibu untuk menjenguk ibu Nami," jelas Arick dengan suara yang bergetar dan Jihan makin merasa sesak.


"Ibu sakit apa Mas?" tanya Jihan dengan hati yang begitu tak nyaman. Padahal semalam ia bermimpi begitu indah tentang sang ibu, seperti kembali ke masa lalu, dalam mimpi itu Jihan kecil berlari memeluk sang ibu dan ayahnya secara bersamaan.


Tapi kenapa hari ini ibunya malah sakit?


"Hanya demam, sebaiknya kita segera kesana. Ayo," ajak Arick, setelah dilihatnya Asih yang sudah membawa Zayn untuk naik.


Mereka pun ikut bangkit dan naik pula ke lantai 2. Bersiap-siap pergi.


Tak lama, 10 menit kemudian semua orang sudah siap. Arick, Jihan, Sofia dan Mardi pergi hanya menggunakan 1 mobil.


"Kenapa kita tidak bawa anak-anak Mas? pasti ibu senang jika bertemu dengan Zayn, Anja dan Jani," tanya Jihan saat mobil itu telah melaju dan mulai memasuki jalan raya.


"Biar mereka di rumah saja, kasihan, baby ZAJ sedang tidur," jawab Sofia karena Arick hanya terdiam.


Lidahnya kelu saat selalu bicara bohong pada sang istri.

__ADS_1


Jihan hanya mengangguk, membenarkan ucapan sang ibu mertua.


Hening.


Tak biasanya mobil mereka begitu sepi, bahkan Mardi tak mengeluarkan sepatah katapun dalam perjalanan itu.


Semuanya hanya terdiam, memperhatikan jalanan.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Nami yang sudah ramai orang dan ada bendera kuning terkibar di gerbang rumah.


Deg! melihat itu hati Jihan mencelos, dadanya mendadak sesak dan lehernya tervekak.


"Mas ..."lirih Jihan yang tak bisa berkata-kata.


Tak kuasa menahan, akhirnya Sofia memeluk sang menantu erat dan tiba-tiba menangis.


"Ibu Nami sudah tidak ada sayang, beliau sudah meninggal," jelas Sofia dan Jihan langsung gamang.


Kepalanya tiba-tiba berputar seperti dihantam.


Air mata Jihan mengalir begitu saja meski tanpa suara.


Melihat itu, Arick dengan cepat turun dari dalam mobil dan berlari menuju pintu sang istri, membukanya dan membawa sang istri masuk ke dalam dekapan.


Tapi Jihan tak menjawab apapun, ia hanya menurut saat sang suami membimbingnya untuk turun dari dalam mobil. Berjalan mengikuti langkah Arick karena ia memeluk bahu Jihan dengan erat.


Gema suara orang membaca surat Yasin memenuhi seisi rumah ini, makin membuat Jihan pilu dan merana sekaligus.


Mereka terus berjalan, hingga sampai di ruang tengah.


Kaki Jihan bergetar dan terasa begitu lemah tak bertenaga, ia tersungkur kala melihat sebuah tubuh yang terbaring ditengah-tengah ruangan dan seluruh tubuhnya diselimuti kain putih.


Ia menangis, namun tangisnya sama sekali tak mengeluarkan suara. Matanya terus terbelalak dan mengeluarkan air mata tanpa henti.


Hingga terasa sebuah pelukan erat menerpa tubuhnya.


Faruq berjongkok dan memeluk tubuh sang adik dengan erat dan Tangis Jihan makin pecah.


"Istigfar sayang, istigfar, hidup dan Mati adalah milik Allah, kita sebagai manusia harus ihklas menerima semua ketentuan itu," jelas Faruq mencoba tegar, meskipun hatinya begitu teriris mendapati kenyataan ini, sang ibu wafat dan menyusul ayah mereka.


Jihan tak menjawab, hanya terus menangis hingga membuat baju sang kakak sampai basah.


"Ayo kita lihat ibu untuk yang terakhir kali," ajak Faruq, ia lalu melerai pelukan itu dan membimbing sang adik untuk bangkit.


Berjalan dengan lemah menghampiri sang ibu.

__ADS_1


Keduanya bersimpuh disamping Nami yang sudah tak bernyawa, sehabis shalat subuh ia meninggal. Sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak bisa ditarik kembali.


Dengan perlahan, tangan Faruq terulur membuka penutup wajah sang ibu.


Jihan menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat wajah Nami sudah nampak begitu pucat, dengan hidung yang sudah diberi kapas.


Ia menahan agar tangisnya tidak pecah, sementara di dalam hati ia terus beristigfar.


"Ibu ..." lirih Jihan, ia mengelus wajah sang ibu dengan sayang.


Sebagai anak ia merasa tidak berbakti pada sang ibu, selalu merasa kurang memperhatikan dan kurang merawat selama sang ibu masih hidup.


Andaikan waktu bisa diulang?


Tidak. Jihan menggeleng pelan. Ia tak boleh berkata seperti itu. Ini semua sudah menjadi ketentuan Allah dan dia harus ikhkas.


Perlahan, Jihan menghapus semua air matanya dan mulai mendekat pada sang ibu.


"Maafkan aku Bu," hanya kalimat itulah yang mampu ia ucapkan seraya mencium kening sang ibu untuk yang terakhir kalinya.


Ia menjauh, menatap sang kakak dan mengangguk kecil. Mengisyaratkan bahwa kini ia sudah ihklas dan sang ibu bisa segera dikebumikan.


Lagi, Faruq memeluk adiknya dengan erat di samping jasad sang ibu.


"Doa kita untuk ibu tidak akan pernah putus, jadi selama kita hidup walau ibu dan bapak sudah tidak ada kita masih bisa terus berbakti kepada mereka, melalui doa," jelas Faruq dan Jihan menggangguk di dalam pelukan sang kakak.


Iya. Batinnya. Karena mulutnya sudah tak kuasa untuk menjawab.


Setelah itu Nami di kebumikan, semua pihak keluarga ikut mengantar ke pemakamannya.


Hujan gerimis turun, tak sampai membuat semua orang kebasahan. Namun menambah haru di hati masing-masing.


Jihan dan Faruq kembali bersimpuh saat gundukan tanah itu sudah tercetak sempurna dengan banyak bunga yang bertebaran.


"Kita pamit Bu," ucap Faruq dengan suara bergetar.


Meski sudah ihklas, namun Jihan tak bisa bohong, hatinya masih begitu terpukul dan sedih. Ia kembali menangis.


Hingga sebuah tangan hangat memeluknya erat dari arah samping. Jihan menoleh dan nampaklah wajah teduh sang suami.


"Ayo pulang, ibu sudah tenang dan anak-anak menunggu kita," jelas Arick.


Jihan mengangguk, Ya, hidup memang harus tetap berjalan meski untuk sebagian orang harus terhenti karena takdir.


Jalan sang ibu sudah usai, namun ia tak bisa tetap bertahan dikesedihan ini. Ia harus tetap melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2