Turun Ranjang

Turun Ranjang
Chapter 150


__ADS_3

Ting tong


Ting tong


Ting tong


Suara bel mansion itu berdenting, Ambar menatap ke arah pintu depan saat dirinya sedang bersantai di ruang keluarga. Terlintas seorang asisten rumah tangganya yang melewatinya untuk membuka pintu depan melihat siapa gerangan yang bertamu di pagi hari itu.


Cklek


Pintu dibuka oleh sang asisten rumah tangga tersebut mengernyitkan alis menatap heran dengan ketakutan pula melihat tiga orang, yang satu seorang pria dengan berpakaian berjas rapi mirip seorang pegawai kantoran dan dua orang tinggi, besar dan berbadan kekar berdiri di belakangnya dengan wajah sangar seperti bodyguard.


"Selamat pagi bu!" Sapa pria berjas rapi itu sopan.


"I-iya tuan." Jawab sang asisten rumah tangga ketakutan dengan gugup.


"Benar ini alamat rumah Bu Ambarwati Wijaya." Ucap pria itu lagi.


"I-iya tuan." Jawab asisten rumah tangga itu lagi.


"Saya dari kantor penagihan pinjaman uang dan kredit barang. Bisa bertemu dengan ibu Ambarwati Wijaya?" Tanya pria itu lagi.


"Se-sebentar tuan, nyonya ada di dalam. Silahkan masuk!" Jawab asisten rumah tangga itu gelagapan membuka pintu lebar mempersilahkan masuk.


Pria itu pun masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa dengan sopan. Sedang kedua pria mirip bodyguard itu berdiri tak jauh di tempat pria itu. Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada menunjukkan raut wajah yang menakutkan.


"Saya panggilkan nyonya sebentar tuan." Pamit asisten rumah tangga itu yang hanya diangguki pria itu.


.


.


"Nyonya." Panggil asisten rumah tangga itu saat berdiri di depan Ambar duduk di sofa ruang keluarga. Nafasnya terlihat ngos-ngosan karena berlarian kecil dan wajahnya ketakutan yang terlihat pucat pasi.


"Ada apa bi?" Tanya Ambar.

__ADS_1


"Ada tamu untuk nyonya." Ucapnya.


"Siapa?"


"Gak tahu Nya, katanya dari kantor penagihan kredit."


"Kantor penagihan?" Guman Ambar yang masih didengar asisten rumah tangganya. Ambar tampak mengernyitkan keningnya bingung. Dia bertanya-tanya ada apa mereka menagih ke rumah sedangkan saat dia berhutang, tagihan otomatis ditagihkan ke perusahaan atas nama Karina. Dan baru kali ini Ambar mengalami hal ini.


"Anda mencari saya?" Tanya Ambar begitu dia tiba di ruang tamu. Sambil melirik dua orang pria berbadan tinggi, besar dan kekar itu. Namun dia tetap tenang tanpa rasa takut.


"Selamat pagi nyonya, saya dari kantor penagihan pinjaman uang dan kredit barang." Ucap pria tadi sambil mengulurkan jemari tangannya bersalaman dengan Ambar. Namun Ambar tampaknya tak menghiraukannya bahkan dia mengacuhkan uluran jemari tangan itu.


"Katakan ada urusan apa!" Ketus Ambar duduk dengan angkuh di sofa depan pria itu.


"Begini Bu, nama anda nyonya Ambarwati Wijaya betul?" Tanya pria itu sebelum mulai menjelaskan sambil mengeluarkan sebuah map dari dalam tas yang dibawanya.


"Ya betul."


"Tagihan pinjaman uang dan kredit barang anda sudah menunggak selama enam bulan. Dan dengan denda dan juga bunga selama itu pula tidak ada kejelasan." Jelas pria itu menjeda ucapannya menunggu reaksi Ambar.


"Apa kau bilang? Bagaimana mungkin?" Seru Ambar tak terima.


"Itu tidak mungkin, pinjaman itu dan kredit itu semua sudah dibayarkan. Anda jangan mengada-ada, apa buktinya." Seru Ambar semakin emosi.


"Disini terbukti selama enam bulan terakhir setoran tiap bulannya telah dihentikan. Dan anda sudah menunggak banyak. Jika anda tidak segera melunasi jumlah ini, kami terpaksa melelang jaminan anda yaitu sertifikat mansion ini." Jelas pria itu dengan nada ancaman.


"Jangan main-main dengan saya! Tidak mungkin setoran itu dihentikan oleh menantu saya." Seru Ambar yakin.


"Baiklah kalau begitu. Coba panggil menantu anda, saya akan meminta penjelasan darinya!" Ucap pria itu membuat tubuh Ambar menegang.


"Eh?" Guman Ambar dengan wajah pucat. Dia bingung akan menjawab apa, sedang yang dimaksud menantunya adalah Karina yang sudah pergi hampir setahun yang lalu.


Tiba-tiba Ambar berkeringat dingin karena takut. Dalam hati dia mengumpat pada Karina yang mulai menghentikan setoran pinjamannya. Bahkan kartu kreditnya sudah dua bulan yang lalu dibekukan. Putranya Johan tidak banyak membantu, seolah membiarkan dirinya tanpa pegangan kartu kredit.


"I-itu... bisakah saya minta waktu? Menantu saya sedang tidak ada di rumah. Sa-saya akan melunasi semuanya jika sudah bertemu dengannya? Kau tahu PT. Keana, dia milik putra dan istrinya. Jadi.. saya akan mencoba mencari tahunya dulu." Pinta Ambar mulai memelas takut tak berani segarang tadi.

__ADS_1


"Huff .. baiklah, kami akan beri waktu satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan tidak ada konfirmasi kami akan menyegel rumah ini dan melelangnya." Jawab pria itu dengan kesal seolah sudah biasa menghadapi nasabahnya seperti ini.


"Te-terima kasih." Pria itu pun pamit setelah meninggalkan surat pernyataan tentang peringatan pinjaman Ambar.


"Sial, kemana aku harus mencarinya. Mana tak punya uang sama sekali. Aku harus menemui Johan, aku akan memaksanya untuk membayar semua hutang-hutang ini. Sial kenapa dia minggat segala. Membuat orang susah saja." Guman Ambar kesal mulai masuk ke dalam kamar mengambil apa yang akan dibawanya untuk ke rumah Johan sang putra.


.


.


"Johan ada pak?" Tanya Ambar saat sekuriti membukakan gerbang rumah Johan.


"Tuan tidak ada nyonya, tadi pergi ke kantor."


"Ke kantor? Bukannya ini akhir pekan?" Tanya Ambar keheranan. Biasanya saat akhir pekan kantor Johan libur. Namun sekarang masih pukul sepuluh pagi. Tidak mungkin Johan tetap kerja.


"Kita ke perusahaan pak!" Titah Ambar pada sopirnya tanpa pamitan pada sekuriti rumah Johan.


.


.


Satu jam yang lalu, Johan menghabiskan waktunya untuk duduk di balkon kamarnya sambil menyeruput kopinya. Setelah Ryan menutup panggilannya, Johan malas untuk menghubungi Ryan kembali. Pikirnya, Ryan pasti menghubunginya jika ada hal penting. Johan berniat menunggu panggilan Ryan lagi.


Sesuai tebakannya tak sampai satu jam, Ryan kembali menghubungi Johan lagi yang saat itu menunggu di cafe tempat biasa mereka nongkrong.


Johan bergegas pergi ke cafe tempat janjian mereka.


"Pak, kalau ada yang mencari bilang saya ke kantor ya? Siapapun?" Pesan Johan pada sekuriti rumahnya.


"Baik tuan." Jawab sekuriti itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alisnya terlihat mengernyit bingung, padahal majikannya hanya memakai kaos dan celana jins panjang. Namun dia tak mau banyak berpikir. Dia hanya seorang sekuriti yang mengikuti apa yang dikatakan atasannya. Seolah sang majikan tahu kalau mungkin ada yang mencarinya nanti.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2