
"Johan, yang dikatakan pria tadi apakah benar?" Tanya Ambar menatap putranya yang hanya terus berdiam diri.
Johan terlihat sibuk membereskan meja kerjanya di rumahnya. Setelah membuat keributan di perusahaan, Ambar mengikuti langkah Johan untuk pulang ke rumahnya. Karena terlalu malas untuk berdebat dengan ibunya, Johan mengizinkan ibunya masuk ke rumahnya.
"Seperti yang ibu dengar tadi." Jawab Johan untuk kesekian kalinya. Dia pun enggan menjelaskan pada ibunya.
"Tidak mungkin, bukankah itu perusahaan yang dibangun almarhum Ken?" Tanya Ambar tak percaya.
"Dia pemegang saham terbesar di perusahaan." Jawab Johan acuh. Dia masih terngiang-ngiang ucapan Ivan tentang istrinya yang hendak menggugat cerai dirinya.
"Ken yang membangunnya kan?" Seru Ambar tak terima.
"Bisa tinggalkan aku sendiri Bu?" Bukan maksud Johan mengusir ibunya. Namun dia sudah malas bicara dengan ibunya.
"Kau mengusir ibu?" Johan terlihat menghela nafas berat membalikkan tubuhnya menatap ibunya.
"Memang apalagi yang ingin ibu tahu, aku sudah menjawabnya pertanyaan ibu yang sama dengan saya jelas. Kumohon Bu, tinggalkan aku sendiri!" Pinta Johan memelas.
"Kalau... kalau kau sudah... tak jadi direktur... bagaimana dengan semua pinjaman dan cicilanku?" Guman Ambar gugup sambil mondar-mandir tak jelas.
"Apa maksud ibu?" Seru Johan sempat mendengar keluhan ibunya.
"I-itu... kemarin... ada yang menagih hutang pada ibu." Jawab Ambar gugup.
"Hutang apa Bu? Bukankah ibu punya kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan ibu meski tidak banyak?" Tanya Johan menatap ibunya tak percaya.
"Ta-tapi.. i-itu.. tidak cukup."
"Aarrg.." Johan membanting barang-barang di meja kerjanya yang sudah bereskan tadi membuat Ambar menggigit bibirnya takut melihat kemarahan putra bungsunya.
"I-ini semua karena istrimu... yang pergi. Ka-kalau saja dia tidak pergi... pasti tidak akan... seperti ini." Elak Ambar melimpahkan kesalahan pada Karina.
"Memang siapa yang membuatnya sampai pergi?" Jawab Johan hampir kehilangan kesabarannya lagi.
"Huh... dianya saja yang lemah." Ambar segera meninggalkan rumah Johan sebelum putranya itu mengamuk lagi.
Putra bungsunya itu memang sulit dikendalikan apa lagi jika sudah mencapai batasnya. Setelah menikah dia jarang mengamuk, entah kenapa dia sering mengamuk akhir-akhir ini. Dan Ambar bisa menebaknya hal itu karena menantu yang tidak disukainya itu.
__ADS_1
"****." Umpat Johan memilih untuk pergi keluar rumah mencoba menghibur dirinya.
.
.
"Kemana lagi aku harus mencari uangnya?" Guman Ambar setelah tiba di mansion. Dia pun mondar-mandir kesana-kemari di dalam kamarnya dengan gugup mencoba mencari cara lain.
"Mama pulang?" Sapa Ine melihat Celine masuk ke dalam mansion disambut putrinya.
"Kau belum tidur sayang?" Tanya Celine setelah memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan putrinya.
"Ine nunggu mama, mau tidur sama mama." Jawab Ine dengan muka polosnya.
"Kau baru pulang?" Ambar tiba-tiba menyela perbincangan kedua wanita beda usia itu.
"Iya Bu." Celine menghampiri Ambar sambil menyalami tak lupa mengecup punggung tangan Ambar.
"Bisa kita bicara berdua?" Tanya Ambar dengan tatapan intens menatap Celine.
"Bisa Bu." Jawab Celine setelah lama berpikir, sudah lama keduanya berbincang berdua secara intens.
"Iya ma. Selamat malam nenek." Sapa Ine yang hanya disenyumi oleh Ambar.
.
.
"Li-lima ratus juta?" Tanya Celine melongo setelah mendengar ucapan nenek putrinya.
"Ehm." Jawab Ambar menekan rasa malunya. Tapi dia tetap melanjutkan karena tak mau kehilangan mansion yang dibelikan almarhum putranya.
"U-untuk apa uang sebanyak itu Bu?"
"Tidak perlu banyak tanya untuk apa? Kau punya tidak?" Tanya Ambar tidak sabaran.
"A-aku tidak punya uang sebanyak itu Bu, bahkan tabunganku menipis karena kebutuhan kami selalu tidak ada sisa setelah gajian." Jawab Celine.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kau tidak punya? Bukannya pekerjaan sebagai seorang sekretaris hampir sepuluh juta?" Seru Ambar mulai emosi merasa wanita di hadapannya ini berbohong.
"Sungguh Bu, kami hanya hidup pas-pasan sebelumnya. Dan tidak ada tabungan. Hanya beberapa rupiah untuk bertahan hidup tiga bulan ke depan seandainya tidak kerja." Ucap Celine beralasan.
"Huh... dasar miskin. Kalau bukan karena cucuku. Aku enggan menampungmu." Guman Ambar meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya. Namun hal itu dapat didengar oleh Celine. Hingga dia tanpa sadar mengepalkan tangannya erat merasa sakit hati mendengar gumaman Ambar yang didengarnya.
Kau kira aku suka tinggal disini kalau bukan karena kau kaya. Setelah kudapatkan kekayaanmu, akan kuusir segera kau. Batin Celine hanya mampu mengungkapkannya dalam hati tanpa berani mengatakannya langsung.
.
.
"Dimana dia?" Tanya Ivan setelah pulang ke mansion milik papanya.
Dia tadi terpaksa meninggalkan meeting pemegang saham untuk mengesahkan dirinya sebagai presiden direktur utama di Perusahaan itu. Karena mendapatkan kabar kalau adiknya pingsan. Dia segera bergegas meninggalkan ruang meeting namun harus tertahan karena mendengar perdebatan seorang wanita paruh baya dengan sekuriti perusahaan yang diperkerjakan olehnya.
Dan dia mengenali wanita paruh baya itu sebagai ibu mertua dari adiknya. Yang memiliki peran penting dalam kesengsaraan adiknya selama menjadi menantunya yang diperlakukan buruk oleh wanita paruh baya itu membuat Ivan geram dan ingin sekali memberikan pelajaran pada wanita itu.
Namun dia harus menahannya sesuai instruksi papanya. Karena orang-orang papanya yang akan bergerak mengurus hal itu. Dia hanya perlu melakukan apa yang dikatakan papanya saja termasuk mengambil alih perusahaan Johan dengan menunjukkan bukti surat kuasa dari adiknya. Dan hal itu tentu saja tidak disadari oleh adiknya.
Kalau sampai sang adik tahu hal itu, dia pasti akan langsung menolak mentah-mentah keinginan papa. Mereka terpaksa melakukannya untuk membalas perlakuan yang diterima Karina dari ibu mertuanya. Dan rencana itu tidak diketahui juga oleh Karina.
"Bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?" Tanya Ivan cemas melihat adiknya kembali berbaring di ranjang dengan wajah pucat.
"Tidak ada hal serius tuan, dokter hanya mengatakan kalau nona stres dan banyak pikiran. Jadi saran dokter sebisa mungkin jangan membuatnya stress berlebihan." Jelas asisten rumah tangga yang menemani Karina.
"Sudah berapa lama dia pingsan!"
"Mungkin dua jam lalu tuan."
"Terima kasih bi." Setelah melepas jasnya yang terasa sesak serta melepas dasi juga kancing kemejanya beberapa dari atas membuat Ivan menghela nafas panjang.
"Maafkan kakak, kau harus menderita terlalu lama karena kami terlambat menemukanmu." Guman Ivan mendesah pelan merasa sesak karena rasa bersalahnya.
.
.
__ADS_1
TBC