Turun Ranjang

Turun Ranjang
Extra chapter 10


__ADS_3

Hoek... Hoek...


Hoek... Hoek...


"Sudah kubilang kau pasti kelelahan, makanlah sesuatu dulu. Ini karena kau terlalu memforsir tenagamu untuk mencari istrimu." Omel Ryan melihat Johan mual-mual hingga muntah di toilet rumah sakit ruang kerjanya.


Sambil memijat tengkuknya Ryan tak berhenti mengomel. Pasalnya setelah terakhir kali dirawat, pola makan dan pola tidur sahabatnya itu sedikit terganggu. Pagi hari sampai sore shift kerja setelahnya dia masih tetap pergi ke mansion dokter Nathan atau ayah mertuanya. Begitu juga sebaliknya, jika pekerjaannya shift malam pagi hari Johan akan tetap tidak menyerah untuk mencari istrinya.


Hingga jam tidurnya jadi tidak pasti bahkan hanya beberapa jam disela pekerjaannya. Itupun dengan tidak tenang saat tak sengaja tertidur. Ryan pun ikut membantu mencari informasi dimana keberadaan adik tirinya itu namun masih tetap nihil. Bahkan hampir setiap hari dia mampir di mansion papanya untuk mencari tahu dengan diam-diam menguping dan menyogok orang-orang papanya. Namun semuanya terlalu setia dengan papanya sehingga hasil yang didapat Ryan sama nihilnya.


Dan ini sudah lebih dari dua minggu dia berusaha dan Johan juga memutuskan untuk bekerja kembali sambil mencari istrinya. Sepertinya petuah dan nasihat bijak dari sahabatnya Ryan sedikit masuk ke dalam akal sehat Johan tentang tetap melanjutkan hidup sambil pantang menyerah mencari keberadaan istrinya. Bahkan dia sedikit bukan sedikit sebenarnya tapi terlalu banyak mengorbankan tubuh dan kesehatannya.


Bahkan wajahnya terlihat kusut, tirus bahkan banyak bulu halus tumbuh di sekitar rahangnya. Meski terkesan seksi dan hot tapi pancaran matanya terlihat redup seolah seperti mayat hidup yang berjalan. Senyum yang diberikan pada pasiennya pun tidak terlihat sampai mata dan hatinya. Dia melakukan dengan terpaksa karena tuntutan pekerjaan.


Wajah dingin dan datar dia tunjukkan tanpa sengaja pada siapapun kecuali pada pasien meski sedikit terpaksa. Hanya Ryan yang tahu bagaimana keadaan lahir dan batin sahabatnya itu. Padahal dia baru saja bersedih dan putus asa atas meninggalnya ibunya sekarang dia dipaksa dipisahkan dari istrinya oleh ayah mertuanya yang belum menganggapnya sebagai menantu.


"Pergilah kalau kau hanya mengomel!" Kesal Johan menepis tangan Ryan yang memapah tubuh lemahnya karena mual yang berkepanjangan dalam dua hari ini dan itu pun terjadi hanya di pagi hari.

__ADS_1


"Kau itu sudah lemah jadi jangan banyak tingkah!" Omel Ryan lagi menatap Johan jengkel. Kalau bukan karena hubungan persahabatan mereka yang memang sangat dekat itu, Ryan pasti akan mendorong tubuh lemah pria yang berwajah pucat pasi itu.


"Hah...hah...hah..." Nafas Johan terengah-engah setelah mengeluarkan semua isi perutnya sejak pagi tadi, padahal asupan makanan yang masuk tidak banyak.


"Coba kulihat!" Ryan menempelkan stetoskopnya untuk memeriksa tubuh Johan namun langsung ditepis kasar oleh Johan.


"Diamlah!" Teriak Ryan. Johan pun terdiam hanya menurut apa yang dilakukan sahabatnya dia sudah lelah karena tubuh lemahnya tak mampu menolak paksaan Ryan yang sedang memeriksa kondisi tubuhnya.


"Ssst... aneh?" Guman Ryan sambil menatap Johan yang memejamkan matanya dan langsung terlelap pulas namun tiba-tiba dia kembali berdiri berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan lagi isi perutnya yang sudah terkuras habis.


Ryan memasang infus pada lengan Johan setelah membaringkan tubuhnya di ranjang pasien di dalam ruang kerja Johan karena kondisi Johan memang benar-benar lemas dan tak bertenaga.


"Aku akan mengambil darahmu untuk dicek di lab." Ucap Ryan yang tak dijawab oleh Johan karena sudah tak ada tenaga lagi. Ryan mulai mencari injeksi suntik di lemari obat Johan tempat pemeriksaan pasien dan menyiapkan untuk mengambil sampel darah pada Johan.


Setelah melihat Johan terlelap lemah dan tertidur Ryan keluar dari ruang kerja Johan menuju ruang laboratorium.


"Ah, boleh aku minta tolong?" Tanya Ryan melihat perawat pria melintas di depannya setelah keluar dari ruang kerja Johan.

__ADS_1


"Ya dok?"


"Bisa bantu kau awasi dokter Johan? Dia sedang tidak sehat, sekarang dia tertidur dengan infus di tangannya. Aku harus menangani pasienku sekarang." Pinta Ryan menatap perawat itu penuh harap.


"Tentu dokter. Jangan khawatir." Jawab perawat itu membuat Ryan mengembuskan napas lega.


"Terima kasih." Ucap Ryan tersenyum lega sambil menepuk pundak perawat tersebut dan pamit pergi menuju ruangannya sebelumnya dia mampir ke ruang laboratorium untuk meminta bantuan perawat yang bertugas disana mengecek sampel darah Johan.


Ryan sebenarnya mencurigai sesuatu tapi dia tak mau gegabah sebelum memastikan kalau kecurigaannya itu benar. Apalagi mengingat rekam medis tentangnya membuat dia ragu tentang kecurigaannya.


"Aku harap kecurigaanku benar. Mungkin bisa meluluhkan hati papa." Guman Ryan setelah keluar dari ruang laboratorium.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2