Turun Ranjang

Turun Ranjang
BAB 47


__ADS_3

POV ARICK


Aku memijat pilipisku sendiri yang terasa pusing. Sudah 8 hari ini aku tidak tidur memakai baju.


Oh Jihan.


Ku lihat Jihan yang tertidur pulas sambil memelukku erat, wajahnya ia sembunyikan didada bidangku yang terbuka, terpampang nyata.


8 hari ini aku tidur seperti ini, kata Jihan entah kenapa dia selalu tenang jika tidur sambil menciumi dadaku, menghirup aroma tubuhku.


Tapi aku yang tak biasa tidur bertelanjang dada seperti ini merasa sangat tak nyaman, bahkan diam-diam aku sudah masuk angin dihari kedua.


Tidak Rick, kamu tidak boleh mengeluh. Jika tidak menciumi dadamu maka Jihan akan mual dan muntah-muntah. Lebih baik jika kamu yang menderita kan daripada dia? kini di perutnya ada anakmu, ingat itu!


Ya, aku tidak boleh mengeluh.


Aku membimbing Jihan untuk menaikkan posisi tidurnya, hingga kini wajahnya sudah berada di leherku, bukan lagi didadaku.


Ku tarik selimut tinggi-tinggi dan mulai menutupi tubuhku yang setengah polos.


Sekarang masih jam 2, dan aku harus tidur. Jika tidak, besok pagi aku akan semakin pusing.


Karena merasa dingin, aku menelusupkan tangaku masuk ke piyama Jihan. Aku meletakkan tanganku diantara kedua gunung kembar itu.


Hangat.


Jika seperti ini aku bisa tidur dengan nyenyak


Zzz


Zzzz


"Aaaee Aaeee Ae!"


Mataku langsung terbuka ketika ku dengar Zayn menangis.


Ya Allah, baru saja aku terlelap dan kini malah Zayn yang bangun.


Plak!


"Aw! sakit sayang." Rengekku sambil menarik tangan hina ini keluar dari baju Jihan.


"Mas kenapa mesum sekali, tidur sambil memainkan ini." Tunjuk Jihan pada dadanya sendiri.


"Maaf sayang." Aku mencium pipinya sekilas, kemudian ia turun dan mulai menyusui Zayn.


Mataku berdenyut, rasanya sangat pedih.


"Ji, aku tidur dulu ya, aku sangat mengantuk," jujurku.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Jihan dan aku sangat lega.


Tanpa mengulur waktu aku langsung bergegas mengambil baju dan memakainya, bersiap untuk kembali tidur.


"Mas ..." Suara Jihan terdengar sangat memelas dan lembut. Aku tahu apa yang ingin diucapkan selanjutnya oleh Jihan.


"Jangan pakai baju," pintanya dan aku tidak bisa menolak, dengan gerakan lambam aku kembali membuka bajuku dan mulai merebahkan diri di ranjang.


Aku tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huwek!


Huwek!


"Duh Mas, kenapa kamu jadi muntah-muntah begini?" tanya Jihan dengan wajah cemasnya. Ia memijat tengkukku dan sebelah tangannya menggendong Zayn.


Kasihan sekali istriku ini.


"Tidak apa-apa sayang, sepertinya aku salah makan. Kemarin Haris dan Kris memgajak aku dan Jodi ke acara hotel, disana aku banyak sekali makan." jelasku bohong, padahal aku muntah karena masuk angin.


"Udah belum muntahnya? yuk keluar, aku minta mbak Puji buatkan jahe hangat dulu," ucap Jihan dan aku mengangguk lemah.


Jam 9 pagi aku berangkat ke cafe, hari ini jadwalku untuk memeriksa bahan-bahan produksi.


Tapi aku bersyukur, Jihan tidak mengalami morning sickness yang parah seperti yang dijelaskan dokter diah waktu itu.


Aku juga selalu pulang tepat waktu tidak ingin membuat Jihan menunggu.


"Tidur dulu Rick, nanti jam 11 aku bangunkan," ucap Jodi saat aku baru memasuki Cafe dan duduk di meja bar.


Jodi memang tahu semua penderitaanku, bukam bukan, ini bukan penderitaan, ini namanya berkah.


Jodi saja ingin sekali merasakan jadi diriku, menikah dan memiliki anak.


"Nanti saja Jo, aku akan memeriksa persediaan bahan-bahan dulu," jawabku di sela sela menguap.


"Tidurlah dulu, kamu tidak akan bisa konsentrasi bekerja jika dalam kondisi seperti ini."


Aku tersenyum, betapa beruntungnya memiliki sahabat seperti Jodi.


"Baiklah, aku akan tidur." Aku bangkit dan segera menuju kamar istirahat ku.


Drt drt drt


Baru juga aku merebahkan badan, ponselku didalam saku celana bergetar. Buru-buru ku lihat, takutnya Jihan yang menelpon.


Dan benar saja, istri cantikku ini menelponku di jam seperti ini, ada apa?

__ADS_1


"Assalamualaikum," jawabku dan dijawab salam juga oleh Jihan.


"Ada apa sayang?" tanyaku dengan suara lembut, aku tidak pernah ingin membuatnya marah.


"Tidak ada apa-apa sayang, tapi entah kenapa tiba-tiba aku ingin mendengar suaramu," lirih Jihan dan aku tersenyum.


"Apa aku mengganggu?" tanyanya lagi dengan ragu-ragu.


"Tidak, kamu tidak menganggu, apa aku harus pulang sekarang juga?" tanyaku dengan antusias.


"Tidak tidak! jangan Mas, kamu tidak boleh seenaknya seperti itu, kasihan Jodi. Ya sudah sana kerja dulu, aku akan menunggu Mas di rumah."


Aku tersenyum, aku memang sengaja pura-pura ingin pulang agar Jihan mematikam sambungan teleponnya. Dan ternyata berhasil.


"Baiklah sayang, sampai nanti."


Sambungan telepon itu terputus dan aku langsung bernapas lega. Untunglah aku pandai berbicara manis, hihi.


Tanpa babibu, aku langsung merebahkan diri di kasur dan mulai tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 3 sore aku sudah bersiap untuk pulang, Jodi juga sebenarnya sudah bisa pulang karena ia memiliki 3 asisten chef, tapi karena dia masih jomblo, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Cafe, karena percuma pulang, di rumah tidak ada yang menunggu kepulangannya. haha, kasihan.


"Menikahlah Jo, aku akan mendukungmu untuk itu." ucapku saat kami berjalan beriringan menuju keluar, Jodi berniat mengantarku hingga ke depan.


"Aku belum siap mengutarakan isi hatiku Rick," jawab Jodi dengan wajah sendu.


"Kenapa? ku lihat akhir-akhir ini kamu dan Jasmin semakin dekat." Ya, Jodi memang menyukai Jasmin. Tapi Jodi selalu bilang jika Jasmin masih mencintaiku. Apa-apaan seperti itu.


"Tapi aku merasa dia masih menyukai mu Rick."


"Itu hanya perasaanmu saja, jika Jasmin masih menyukaiku tidak mungkin dia selalu menghabiskan waktu bersamamu. Dia pasti akan sibuk mengganggu aku dan Jihan. Tapi kamu lihat sendiri kan? dia bahkan sangat mendukungku dan Jihan, dia juga malah bersahabat dengan Jihan. Jadi tidak mungkin dia masih menyukaiku." Jelasku panjang lebar.


Aku ingin Jodi berani untuk mengungkapkan perasaannya menyatakan niatnya untuk menikahi Jasmin.


Ku lirik Jodi hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang dibuat-buat olehnya sendiri.


"Jika kamu terus menunda, jangan kecewa jika Jasmin nanti dilamar lebih dulu oleh orang lain," ucapku sambil menepuk bahunya pelan.


"Jangan sembarangan bicara! Jasmin saat ini hanya dekat denganku, mana mungkin ada orang lain yang melamarnya."


"Cih! terlalu percaya diri. Jangan lupa, Jasmin itu anaknya ustad, bisa jadi Jasmin saat ini sedang taaruf, tanpa babibu langsung menikah. Hahaha." ledekku dengan tertawa keras. Salah siapa terlalu lamban.


Jodi kembali terdiam, dan kini kami sudah sampai didepan mobilku.


"Aku pulang dulu Jo." pamitku, tapi Jodi tidak peduli, berdiri dan melamun.


Hahaha, lucu bercampur kasihan. Sudahlah, aku mau pulang.

__ADS_1


__ADS_2