
Vanila tampak terkejut setelah mendengar ucapan Vioni yang mengajaknya bertukar tempat. Sebenarnya Vioni pun tidak benar-benar mengatakan hal seperti itu karena dia hanya mencoba untuk menggoda adik kembarnya saja. Namun jika memang Vanila menyetujuinya, maka dia pun tidak akan keberatan.
"Apa maksud Kakak berbicara seperti itu? Bukankah itu sama saja Kakak mengajarkan berbohong padaku?" tanya Vanila sambil bergerak dengan tidak nyaman. Vioni bisa melihat gerak-gerik bola mata kembarannya itu tampak seolah sedang menghindari sesuatu yang tidak diinginkannya.
Lihat saja bagaimana reaksimu, Vani. Jelas kau tampak tidak rela jika kasih sayang Ayah dan Ibu turut aku rasakan, batin Vioni sambil tersenyum tipis.
Sudut garis bibir gadis itu terangkat sebelah. Dia merasakan kalau adik kembarnya memang sengaja ingin memamerkan kasih sayang ayah dan ibunya pada Vioni.
"Kak, seharusnya kakak tidak berpikir seperti itu. Apalagi Kakak juga berniat untuk menipu keluarga kita dengan bertukar tempat," ucap Vanila lagi yang terdengar sangat lucu di telinga Vioni.
Vioni melangkah mendekati Vanila. Dia menyentuh ujung rambut adik iparnya itu dan menggulung-gulungkannya di jari.
Akh, bahkan rambutnya pun tampak berkilau dan terasa halus. Pasti dia selalu memakai perawatan rambut terbaik yang diberikan oleh Ayah dan Ibu padanya. Lagi-lagi Vioni bermonolog di dalam hatinya.
Rasa iri hati memang dirasakan oleh Vioni, tapi dia juga tidak bermaksud untuk mengambil semua yang ada pada adiknya itu karena meskipun dia melakukannya, belum tentu keluarga mereka akan memperlakukan sama. Jadi di tempat manapun Vioni berada, dia akan tetap menjadi dirinya sendiri.
"Kak, apa yang sedang Kakak lakukan?" Vanila tanpa takut saat melihat Vioni menyeringai sambil memainkan rambutnya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menyentuh rambutmu saja," jawab gadis itu sambil melepaskan lilitan rambut Vanila dari jemarinya. Setelah itu, Vioni kembali ke atas kasurnya dan duduk di sana.
"Kalau kau ingin menginap di sini, minta siapkan kamar pada pelayan rumah sendiri. Aku sedang tidak enak badan! Segera tutup pintunya setelah kau keluar dari!" perintah Vioni yang langsung membuat Vanila membelalakkan mata karena baru kali ini dia menerima perlakuan seperti ini padanya.
Bahkan selama Vanila hidup, dia tidak pernah menutup pintu kamarnya sendiri karena selalu ditutupkan oleh pelayan yang disediakan kedua orang tuanya. Namun, karena beberapa hari kedepan karena pelayan itu izin pulang ke kampung halamannya, jadilah Clifford dan Rosa menyuruh Vanila meminta kakak kembarnya untuk menjadi penanggung jawabnya, atau lebih tepatnya pelayan yang memberikan semua yang dia butuhkan.
__ADS_1
Kenapa Kakak memperlakukanku seperti ini? Bukankah Ayah dan Ibu sudah memintanya untuk menjagaku dan menjadi pelayanku selama beberapa hari kedepan, sebelum pernikahannya digelar? tanya Vanila dalam hatinya.
"Hey, kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat keluar dari kamarku dan segera tutup pintunya!" Vioni kembali memerintah karena melihat adik kembarnya masih berdiri sambil menatapnya yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Kak, apa Ayah dan Ibu tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Vanila tanpa menghiraukan perintah sang kakak yang menyuruhnya keluar dari kamar itu.
"Seperti apa contohnya?" Vioni menopang kepalanya dengan menggunakan sebelah tangan sambil menata Vanila yang terus menyorotnya dengan tajam, tapi dia tidak peduli.
"Kakak harus menjagaku selama berada di sini! Jadi Kakak yang harus menyiapkan semua kebutuhanku," ucap gadis itu.
Vioni mengangkat sebelah alisnya sambil terus menatap sang adik. "Untuk apa aku harus melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu? Kau kan sudah dewasa, usia kita pun sama hanya berbeda lima menit saja. Tetapi, kenapa aku harus menjadi pelayanmu?"
"Tapi–"
"Kak!" Vanila berteriak dengan cukup nyaring, sementara Vioni hanya menatapnya dengan dingin tanpa peduli dengan ekspresi yang kini ditunjukkan oleh adik kembarnya itu.
"Pergilah! Di sini tidak hanya kau yang sedang sakit. Aku juga ingin mengistirahatkan tubuhku!" perintah Vioni lagi.
Vanila tampak mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang memerah menahan amarah. Bagaimana bisa kakak kembarnya itu memperlakukannya demikian di saat kedua orang tua dan om serta tantenya tidak ada di tempat.
"Kak, aku–"
"Vani, tolong biarkan aku beristirahat sendiri! Keluarlah dari kamarku sekarang juga!" Kali ini perintah Vioni terdengar lebih tegas dan dingin dari sebelumnya sehingga membuat Vanila mau tak mau mengikuti perkataannya.
__ADS_1
Vanila keluar dari kamar Vioni sambil menutup pintunya dengan kasar, sehingga membuat pelayan yang tak sengaja lewat ke kamar itu langsung menoleh padanya.
"Nona Vani, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibi Mel pada keponakan tuannya. Dia bisa mengenali Vanila dan Vioni karena mereka penampilan kedua gadis itu berbeda. Apalagi Vanila masih mengenakan pakaian mewah, sementara Vioni hanya menggunakan pakaian rumahan biasa.
"Bibi!" Vanila menghampiri Bibi Mel dan tiba-tiba memeluk wanita paruh baya itu. Sementara Bibi Mel hanya bisa berdiam diri karena merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Vanila terhadapnya.
"N–nona, ada apa?" tanya Bibi Mel yang merasa heran.
"Bibi, apa Kakakku biasa bersikap kasar seperti itu? Dia memperlakukanku dengan kejam!" Vanila menangis sesegukan sambil terus menjelekkan Vioni dibalik bahu Bibi Mel.
"N–nana, apa maksud Anda berucap seperti itu? Nona Vioni tidak mungkin memperlakukan Anda dengan kasar. Apalagi Anda merupakan adiknya," ucap Bibi Mel tidak mempercayai perkataan Vanila.
"Tapi itu benar, Bi. Kakak menyuruhku untuk menjadi pelayannya selama di sini! Barusan dia juga menyuruhku mengambilkan air minum. Padahal, dia tahu kalau aku baru saja tiba di sini dan keadaanku juga tidak sehat."
Bibi Mel mulai merasa risih dengan apa yang dikatakan oleh Vanila padanya. Tentu saja dia tidak mempercayai semua yang dikatakan oleh gadis itu karena selama ini Vioni adalah anak pendiam yang selalu menuruti perkataan om dan tantenya. Bahkan dia sendiri mendengar kalau Vioni lah yang diperintahkan kedua majikannya itu untuk menjaga gadis yang kini sedang berada di hadapannya.
"Apa Bibi tidak mempercayai ucapanku?" tanya Vanila dengan mata berkaca-kaca serta raut wajah sedih sehingga membuat Bibi Mel tidak tega jika harus melihatnya menangis.
"N–nona, saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi–"
"Sudahlah kalau memang Bibi tidak mempercayai ucapanku! Sekarang pergi dari hadapanku dan segera siapkan kamar untuk beristirahat!" perintah Vanila sambil mendorong tubuh Bibi Mel dan menghapus air matanya. Setelah berkata seperti itu, Vanila pun pergi meninggalkan Bibi Mel tanpa menoleh lagi.
Wanita paruh baya yang merupakan pelayan di kediaman Marvel itu menatap punggung Vanila pandangan heran. Dia yang tidak mengerti dengan sikap gadis itu hanya bisa terdiam sambil mengatupkan bibirnya.
__ADS_1
Jadi, cerita tentang sifat jelek Nona Vani itu sungguhan? batinnya.