Unlimited Love

Unlimited Love
42. "Sudah bangun?"


__ADS_3

Flova memapah Kai dan menidurkannya di ranjangnya. Ia hendak pergi meninggalkannya, namun dengan refleks tangan Kai memegang tangan Flova.


Sepintas bayangan tangan yang lembut di tengah suhu yang dingin terlintas di kepalanya. Ia pun melihat ke arah Kai yang masih memejamkan matanya, namun tangannya dengan erat erat menggenggam tangan Flova.


"Ada apa?"


"Aku sangat lemas, tetaplah di sini sejenak."


Flova dengan canggung pun duduk di sampingnya. Kai kembali menaruh kepalanya di pundak Flova dengan mata setengah terpejam. Jantung Flova berdegup tak karuan. Dengan posisi terduduk, Flova mencoba menyamankan dirinya untuk bersandar di kepala ranjang Kai dengan perlahan. Tubuhnya yang lelah, juga membuat dirinya mengantuk hingga ikut terlelap di samping Kai.


Alena yang sedari tadi ada di luar kamar Kai ikut tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel yang di berikan ayahnya sebagai hadiah saat ia mendapatkan gelar juara. Ia mengetikkan sesuatu di benda gepeng yang ia pegang dan tersenyum melihat kedua orang tuanya yang saling terlelap. Alena juga mencuri momen dengan ponselnya.


...*****...


Flova terbangun dari tidurnya. Ia mengedip-ngedipkan matanya dan sembari melihat sekelilingnya. Ia yang sadar habis tertidur langsung bangun dan duduk di ranjang Kai dengan bingung.


"Sudah bangun?"


Suara yang tak asing membuat Flova langsung menatap sumber suara tersebut. Orang yang baru saja mandi dan sudah berpakaiannya rapi dengan rambut yang masih basah berdiri di depan cermin dan tak lain adalah Kai.


"Ee.. maaf aku tertidur. Aku akan mandi."


Flova langsung bangun dan hendak ke kamarnya. Namun, sebuah kata-kata yang keluar dari mulut Kai membuat ia berhenti sejenak.


"Terimakasih."


Hanya kata itu saja, tetapi membuat Flova terpaku di tempatnya. Ia menatap Kai dengan ragu dan mengangguk. Ia lantas saja masuk ke dalam kamarnya serta langsung menutup pintunya.


"Huh..huh..huh... Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa jantungku terus berdetak kencang setiap kali Kai menatapku? Dan , apa tidak salah dengan apa yang ia katakan barusan?"


Segelintir perkataan dari Kai membuat Flova salah tingkah, tetapi ia langsung sadar dan menepisnya.


"Tidak.. tidak.. tidak boleh sampai menjatuhkan hati seperti ini. Ayo Flova, tetaplah profesional dengan peranmu yang hanya sebagai istri kontrak di sini.."


Flova lantas saja mengambil handuknya dan memutuskan untuk berendam agar menenangkan jiwa dan raganya yang sangat lelah akibat kegiatan seharian ini.


Usai ia mandi, ia ke kamar Alena dan melihatnya sedang mengerjakan tugas. Flova menghampirinya dan mengelus kepalanya.


"Perlu bunda bantuin?" tanya Flova.


"Engga bunda, ini mudah kok." Jawab Alena dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Oiya bunda, dua bulan lagi kan ulang tahun Alena. Alena pengen roti khusus buatan langsung dari tangan bunda. Boleh ya Bun?"


Flova tercengang sejenak dan langsung tersenyum kaku sembari mengangguk, serta mengelus rambut Alena.


"Ya sudah, lanjutkan ya. Bunda akan bawakan Alena camilan, biar Alena ngga bosen."


Alena mengangguk dan membiarkan Flova melakukan apa yang ia mau. Namun, di depan pintu sudah ada Kai yang membawakan segelas susu serta beberapa biskuit di nampan yang ada di pegangnya.


"Aku bawakan camilan ini untuk Alena."


"Oh.. terimakasih."


Flova hendak mengambil nampan yang di pegang Kai. Namun, Kai menariknya kembali.


"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu kembalilah ke ruangan mu, dan lanjutkan skripsi mu yang belum sempat kamu kerjakan."


Flova mengangguk dan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Kai mengambil alih dan menghampiri Alena yang sedang belajar di meja belajarnya.


Flova kembali ke kamarnya dan langsung membuka laptopnya karena benar saja ia hampir terlupakan dengan tugas yang sangat penting yang harus ia selesaikan.


Ia berhenti sejenak untuk makan malam, dan setelahnya ia pun kembali mengerjakan skripsinya hingga malam hari. Kai yang melihat dari kamarnya masih ada cahaya di sela-sela korden yang sedikit terbuka dari kamar Flova langsung memeriksanya.


Kai langsung saja menyalakan AC di kamar Flova. Sedangkan Flova hanya terus memandang laptop yang menyala di depannya sembari menyalin kata-kata yang ia sempat tulis di bukunya.


"Lanjutkan besok lagi saja, kau harus beristirahat."


"Aku butuh waktu sebentar lagi, kau keluarlah saja, jangan ganggu konsentrasi ku saat ini."


"Terserah kamu saja. Yang terpenting jangan terlalu malam."


Flova mengangguk tanpa melihatnya sedikitpun. Kai menghela nafas panjang dan kembali keluar dari kamar Flova. Kai juga sengaja sedikit membuka korden agar terlihat dari sisi kamarnya.


Hampir tiga jam berlalu. Kai yang sedang menikmati waktu sebelum tidur dengan membaca majalah, melirik ke arah kamar Flova yang masih menyala. Ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya yang menunjukkan waktu hampir tengah malam.


Ia pun bangkit dari duduknya dan menggeser pintu kamar Flova. Seketika, ia merasakan dingin di ruangan tersebut. Ia teringat bahwa Flova takut dengan dingin, ia bergegas menghampirinya, dan sudah mendapati sekujur tubuh Flova yang dingin.


"Tolong aku.." ucapnya dengan mata terpejam.


Kai mencoba mematikan AC, namun tidak berhasil. Ia pun membopong tubuh Flova dan membawanya ke kamarnya. Ia segera menidurkan Flova dan menyelimuti tubuh Flova.


Ia juga mengecilkan suhu AC di kamarnya. Ia hendak keluar untuk mengambil air hangat, namun Flova terus menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Jangan pergi..." ucapnya lirih.


Kai pun dengan perlahan pun akhirnya memilih untuk berbaring di sampingnya. Flova terus gelisah karena masih merasa kedinginan. Kai pun mendekatkan dirinya dan memeluk tubuh Flova yang menggigil.


"Ku rasa AC di dalam tidak begitu dingin, tetapi mengapa dia menggigil seperti ini? Hal apa yang membuat Flova menjadi seperti ini?"


......*****......


Flova mengerjapkan matanya sembari melihat objek yang masih buram di depannya. Hingga ia tersadar ia tidur sembari memeluk Kai. Ia hanya bisa membelalakkan matanya dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Kai. Turun secara perlahan dari ranjang dan hendak masuk ke kamarnya.


"Jangan masuk! aku belum memanggil tukang untuk memperbaiki AC di dalam."


Flova perlahan menengok ke belakang dan sedikit terkekeh. Ia pun mundur perlahan dan duduk kembali di ranjang.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Flova.


"AC di dalam rusak, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?" tanya Kai dengan suara beratnya.


"Aku tidak terlalu memperhatikan. Tetapi intinya terimakasih. Lalu, bagaimana aku mengambil baju di dalam nanti?"


Kai pun membuka lemari bajunya dan memakaikan jaket di pundak Flova. Ia juga mengalungkan syal di lehernya dari belakang.


"Aku tidak perlu ini."


Flova menatap Kai dengan wajah polosnya. Kai hanya melihatnya seperti biasanya.


"Sudah tak apa."


Flova pun berdiri dan membuka pintu kamarnya dengan ragu. Kai yang paham lantas membantunya untuk membuka kamar tersebut dan masuk terlebih dahulu ke kamarnya.


"Masuklah, aku akan tetap di sini."


Flova mengangguk dan perlahan masuk ke ruangannya. Ia juga dengan cepat mengambil baju yang akan di pakainya serta handuk untuknya mandi. Usai membawa keperluannya, mereka kembali keluar. Flova meletakkan bajunya, dan melepaskan Syal serta jaket yang terpakai di tubuhnya.


"Terimakasih banyak. Aku sangat berhutang budi."


"Ini balasanku karena kamu juga merawat ku kemarin. Tidak perlu berfikir kamu berhutang budi kepada ku."


Flova hanya mengangguk dan lantas saja masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2