
Kai dan Flova berdiri di dekat pagar sembari melihat pemandangan malam hari yanng di penuhi dengan lampu-lampu yang menghiasi kota di sekitarnya. Kai sendiri masih fokus dengan foto-foto yang ia pegang, terutama foto berdua dengan Danur.
“Berhentilah mellihat foto-foto itu.” Ucap Flova.
Kai hanya tersenyum kecil dan mengganti lembar foto berikutnya. Foto itu menunjukkan pernikahan antara Danur dan Dara yang di gelar mewah kala itu. Namun, Kai fokus dengan foto dirinya bersama dengan Flova yang tersenyum riang di samping Kai.
“Kau ingat ini. Kau dulu bersikeras untuk foto di sampingku. Sudah sangat jelas kau menyukaiku dari saat itu. Ralat, sepertinya dari aku menyelamatkan mu 14 tahun yang lalu.”
“Iya, tetapi itu dulu.”
“Sekarang juga masih.” Timpal Kai yang mendapat lirikan tajam dari Flova.
Kai mengganti foto lagi, dan itu adalah foto terakhir di saat Flova masuk ke rumah sakit untuk pertama kalinya. Kai tersenyum lebar melihatnya dan menunjukkannya kepada Flova.
“Ini, kau ingat? Kau yang mengajakku menikah waktu itu.”
“Apa? A-aku tidak pernah mengatakannya.”
“Benarkah? Bukankah kau berkata 'kak, besar nanti kita menikah ya.' “
“Itu hanya masa lalu. Dan aku tidak tau apa apa waktu itu.” Jawab Flova yang tersipu malu sembari meminum kopi pesanannya.
“Keinginan Flova kecil sudah terpenuhi. Bagaimana sekarang, kau senang?”
“Ya, aku senang. Tetapi, aku lebih senang melihatmu bahagia. Lagipula aku sudah menandatangani dokumen itu. Dan semua keputusan itu ada di tanganmu.”
Kai hanya memandang Flova dan menunduk. Ia pun mengambil dokumen di meja makan dan menunjukkannya kepada Flova.
“Aku tidak setuju.”
Lantas saja ia menyobek dokumen yang Flova tanda tangani dan menerbangkannya ke langit. Flova kaget dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Flova pun turut terharu dengan keputusan yang di ambil oleh Kai. Melihat Flova menitikkan air matanya, dengan cepat Kai memeluknya.
“Terimakasih sudah hadir kembali, dan menenangkan diriku dari kelamnya masa lalu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Flova.”
Flova melepaskan pelukannya. Di usapnya kedua pipi Kai dengan kedua tangannya dengan lembut. Flova tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah Kai dan mengecup sejenak bibirnya.
“Sama-sama.” Ucapnya sembari tersenyum.
Kai pun juga membalas senyumnya dan kembali mencium bibir Flova, namun sebuah dering telepon mengganggunya, yang ternyata itu dari rekannya.
“Siapa?” tanya Flova.
“Nehra.” Ucapnya tanpa mengangkat teleponnya.
“Angkatlah, siapa tau penting. Anak kita sedang ada pada mereka sekarang.”
“Anak kita? Hm.. baiklah.”
Kai pun mengangkat telepon dari Nehra tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan Flova.
“Ada apa?”
"Kami akan antar Alena pulang, apa kalian sudah pulang? Jika belum aku bawa dia ke rumah Steffa dan jemputlah dia di sana. Sepertinya dia mengantuk, jadi cepatlah"
Kai melirik ke arah Flova sembari tersenyum.
“Ada apa?” tanya Flova bingung.
Kai tidak menghiraukannya dan tersenyum lebar.
“Kalau begitu malam ini Alena tidur di rumah Steffa saja. Aku akan kirim juga seragam sekolahnya ke sana. Malam ini aku dan Flova tidak akan pulang ke rumah. Sudah, aku tutup.”
Mendengar hal itu Flova mendadak kaget dan bingung. Ia pun memukul pundak Kai.
“Apa-apaan kau. Itu anak kita.”
“Kita tidak akan ada di rumah malam ini. Lagipula biarkan Steffa dan Nehra yang mengurusnya sebagai simulasi sebelum menjadi orang tua. Dan malam ini khusus untuk kita berdua.”
__ADS_1
Lantas Kai menggendong tubuh Flova.
“Apa-apaan ini! Turunkan aku!”
Langsung saja Kai membawa Flova pergi dari restoran tersebut dan menuju ke suatu tempat yang Kai inginkan.
...***** ...
Nehra yang sedang menyetir pun bingung sembari meletakan handphonenya dengan perlahan. Ia melihat ke arah Steffa yang ada di sampingnya dengan wajah yang cemberut.
“Ada apa? Kenapa?”
Dengan cepat Nehra juga mengubah ekspresinya dan tersenyum lebar.
“Alena menginap di rumah kak Steffa untuk malam ini dan esok hari sekolah pun di antar oleh kak Steffa.”
“Memangnya kenapa? Apa Kai dan Flova bertengkar lagi?”
Lantas Alena yang di belakangpun menekuk bibirnya cemberut.
“Sudah aku duga. Pasti hubungan ayah dan bunda sudah benar-benar pupus sekarang.”
“Memangnya kenapa Alena?” tanya Steffa bingung.
“Aku melihat berkas perceraian ayah dan bunda di atas nakas kamar ayah dan bunda. Dan bunda sudah menandatanganinya. Aku tau malam ini bunda akan membicarakan hal ini, sehingga aku memilih makan malam bersama kakak. Aku paham maksud bunda menandatangani berkas itu, jadi aku minta bantuan kalian agar ayah bisa keluar dari masa lalunya yang kelam. Dan mungkin, membantu ayah untuk mengembalikan perusahaan kakek, bisa membuat bunda luluh lagi kepada ayah.” Ucap panjangn lebar Alena.
“Eumm.. sepertinya Alena tidak perlu khawatir. Kakak yakin itu tidak benar. Ayah dan bunda Alena sedang menginap di luar, jadi Alena tidak perlu khawatir, karena itu semua berarti baik-baik saja.” Jelas Nehra.
“Maksud kamu?” tanya Steffa bingung.
“Sebentar lagi Alena akan memiliki teman sekamar.” Ucap Nehra.
“Oh.. benarkah? Alena akan punya adik setelah acara makan malam?” tanya Alena semangat.
Lantas Nehra dan Steffa terdiam. Steffa mengerutkan dahinya bingung sembari menyikut Nehra.
“Bagaimana kau ini. Bagaimana menjelaskannya?” ucap Steffa panik.
“Begini Alena, ayah kamu mengucapkan sebuah mantra kepada bunda agar di dalam perut bunda ada adik bayi.”
“Mantra? Bagaimana mantranya?”
“Eum.. man-man-mantranya hanya bisa di dengar oleh ayah dan bunda kamu. Jadi mereka membutuhkan waktu berdua untuk menjalankan mantranya.”
“Kenapa hanya ayah dan bunda?bukankah nanti jika kak Nehra dan kak Steffa menikah juga membutuhkan mantra itu?” tanya Alena.
“Eumm.. itu....” Nehra kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada Alena.
Steffa yang ada di sampingnya pun menggelengkan kepalanya.
“Mantra itu khusus untuk orang yang sudah menikah Alena, dan biasnya itu di berikan oleh pendeta. Dan setiap pasangan memiliki mantranya masing-masing jadi kami tidak tau pasti apa mantranya.”
“A.. begitu.”
Nehra dan Steffa menghela nafas lega melihat Alena yang sudah paham.
“ Baguslah, tetapi tetap saja kak.”
Nehra dan Steffa kembali panik di depan mendengar Alena masih melanjutkan perkataanya.
“Kalian harus membantu ayah untukmengembalikan perusahaan kakek, bagaimanapun yangn aku dengar itu perbuatan yang tidak baik. Dan sama dengan perbuatan mencuri hak millik orang lain.”
Mendengar hal itu yang dia tanyakan membuat mereka kembali lega dan tersenyum lebar.
“Baiklah. Kami akan berusaha membantu ayah. Dan kami harap ini bisa membuat ayah dan kakek kamu lebih bahagia ya, Alena.”
Alena mengangguk mendengar jawaban Nehra.
__ADS_1
“Tetapi, apa cita-cita Alena? Alena tertarik dengan perusahaan ya?”
“Alena ingin jadi dokter seperti ayah. Ayah sangat hebat waktu itu. Ayah memelukku sangat erat dan usapan tangannya pun juga sangat lembut sehingga aku berhenti menangis di saat itu. Wangi ayah juga sangat khas dan menenangkan. Ayah tidak takut apapun, dan ayah sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya dengan caranya. Jadi, aku ingin menjadi dokter yang hebat seperti ayah.”
“Kau mengingatnya Alena?” tanya Nehra kagum.
“Ya, aku melihatnya. Aku juga ingat wajah kakak.”
“Kakak? Maksud Alena aku, kak Nehra.” Tanyanya semangat.
Alena mengangguk dan tersenyum lebar.
“Kau memiliki daya ingat yang hebat. Kakak kagum. Belajarlah yang rajin ya, supaya menjadi dokter yang hebat seperti ayah.”
“Oke.” Jawab Alena semangat.
Steffa yang mendengarkan di sampingnya pun turut tersenyum senang. Dan tepat pada saat itu juga mereka sampai di rumah Steffa. Mereka langsung naik ke lantai 2 dan sudah ada sebuah kotak berisi tas dan juga baju seragam Alena beserta beberapa baju santai.
Nehra pun membantu Steffa membawakannya ke dalam rumahnya.
Sesuai dengan permintaan Alena, Nehra pun menemaninya terlelap. Usai terlelap, ia pun keluar dari kamar Alena. Terlihat Steffa yang baru duduk dan menyiapkan kopi untuk Nehra.
“Duduklah dulu, minum kopi ini agar kamu tidak mengantuk di jalan nanti.”
Nehra pun duduk di sampingnya dan menyeruput kopi buatan Steffa. Dan meletakkannya setelah merasa cukup untuk membasahi mulutnya.
“Aku sedikit tercengang mendengar perkataan Alena tadi. Anak kecil berumur satu tahun, kala itu mengingat semua kejadian yang menimpanya. Kalau aku jadi dia, itu akan menjadi trauma yang berat bagiku. Mendengar cerita nya saja aku turut merasa sakitnya, apalagi di posisinya. Alena sungguh anak yang langka.”
“Benar. Beruntung ia tumbuh di keluarga yang selalu mendukungnya. Mungkin, juga karena dia di kelilingi oleh orang yang kuat, membuatnya menjadi anak yang kuat pula.”
“Mungkin juga seperti itu. Aku kagum kepada Flova, cerita hidupnya yang penuh teka-teki ini bisa mereka selesaikan sendiri. Setiap kita akan bergerak, kita mendengar mereka sudah menyelesaikannya sendiri. Seperti mereka sudah terikat satu sama lain.”
Nehra yang mendengarkan turut manggut-manggut mengiyakan pernyataan Steffa sembari menikmati kopinya.
“Aku iri kepada kisah mereka berdua. Apabila di jadikan sebuah buku, aku pasti hanya menjadi figuran di dalamnya.” Ucapnya.
Nehra pun melihat Steffa yang tengah menikmati kopinya. Nehra pun duduk tegak di sampingnya. Ia meletakkan kopi yang di pegang Steffa dan menatapnya lekat-lekat.
“Kalau begitu, maukah kau membuat kisah indah di bukumu sendiri bersamaku?”
“Tiba-tiba? Mengapa? Yang jelas saja maksudmu.” Jawab Steffa sembari terkekeh.
“Mari kita membuat kisah kita sendiri. Kisahmu dan kisahku di satu buku. Kau mau?”
“Maksudmu, kau mengajakku kencan?”
Nehra mengangguk dan tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah cincin di dalam sakunya tanpa sebuah kotak dan langsung di pasangkannya di jari manis Steffa.
“Apa ini, kau sedang melamarku? Aku saja belum mengambil keputusan?”
“Mulai hari ini, kau milikku. Tidak bisa lagi berpaling kepada orang lain.”
“Kau ini benar-benar!”
Steffa hendak melayangkan pukulan kepada Nehra namun ia segera menurunkannya.
“Pulang saja sana.” Perintah Steffa tiba-tiba.
“Ini sudah malam, kenapa kau malah mengusirku, bukankah kau seharusnya mengajak pacarmu untuk menginap?” ucap Nehra.
“Aku harus bangun pagi besok untuk menyiapkan Alena ke sekolah. Sebaiknya kau pulang saja dan antar kami ke sekolah Alena besok pagi.”
“Siap laksanakan baginda ratu.”
Sebelum kena pukulan Steffa, Nehra lebih dulu keluar dengan membawa jasnya. Setelah Nehra pergi pun, Steffa tersenyum-senyum sembari melihat cincin yang tersemat di jarinya.
“Ah.. aku sudah gila. Lebih baik sekarang aku tidur.”
__ADS_1
Steffa pun masuk ke kamarnya dan menyusul Alena yang tengah tidur di kamarnya.
//**//