
Sementara itu, Vanila saat ini sedang berada di kamarnya. Dia sedang menunggu Vioni menyiapkan makan siangnya yang dimintanya tadi pada Bibi Mel. Namun, baru saja Vanila membuka laptop untuk menonton drama Korea kesukaannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa yang sudah menggangguku?" gumamnya kesal seraya bangkit dari tempat tidur.
Vanila membuka pintu kamarnya dan melihat Bibi Mel sedang berdiri di sana.
"Apa yang sedang Bibi lakukan di sini? Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk pergi ke kamar Kak Vio dan memintanya untuk memaksakan makan siangku?" tanya Vanila.
"Maaf, Non. Nona Viona saat ini sedang sakit. Beliau tidak bisa memaksakan makan siang Anda. Jadi, saya sudah meminta koki untuk menyiapkan hidangan makan siang Anda," lapor Bibi Mel sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melirik Vanila yang mungkin sekarang sedang menampakan wajah kesalnya.
"A–apa? Kenapa dia selalu menolak apa yang aku minta? Apa dia sudah tidak menyayangiku lagi? Keterlaluan!" geram gadis itu seraya membantingkan pintu kamarnya tepat di depan wajah Bibi Mel, asisten rumah Tuan Marvel hingga wanita itu terperanjat kaget dan mundur beberapa langkah dari tempat asalnya berdiri.
Astaga, ya Tuhan ... sifatnya benar-benar berbeda dengan Nona Vioni yang tampak kalem dan lugu. Padahal, sorot mata Nona Vanila terlihat sayu daripada sorot mata Nona Vioni yang tampak tajam. Lagi-lagi Bibi Mel membandingkan kedua nona–nya itu di dalam hati.
Jika pertama kali bertemu, mungkin siapapun akan mengira kalau sifat Vanila lebih kalem dan lebih lugu karena sorot matanya yang sayu, berbeda dengan Vioni yang memiliki mata tajam, dia tampak lebih bengal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepeninggalan Vanila, Vioni tidak bisa memejamkan matanya barang sesaat. Meskipun kepalanya terasa kembali berdenyut, dia hanya bisa menahan sambil memejamkan mata. Vioni juga beberapa kali menjambak rambutnya sendiri, dia berharap rasa sakit itu akan berkurang. Namun, sekuat apapun dia menjambak rambutnya, justru rasa sakit itu malah semakin bertambah hingga membuatnya meneteskan air mata.
Ya Tuhan ... kenapa rasanya sakit sekali? Bukankah seharusnya sakit itu berkurang setelah aku minum obat? batin Vioni.
Di saat bersamaan, Bibi Mel tiba-tiba mengetuk pintu kamar Vioni hingga memaksa gadis itu untuk menghampirinya.
"Ada apa, Bi?" tanya Vioni dengan penampilan yang kacau balau. Bahkan rambutnya pun tampak sangat berantakan. Belum lagi sisa-sisa air mata yang mengering di wajahnya belum dia bersihkan.
"Ya Tuhan, Nona .... Apa yang terjadi pada Anda? Kenapa penampilan Anda seperti ini?" tanya Bibi Mel begitu ia melihat penampilan Vioni yang berantakan, sungguh tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Bibi tidak perlu menghiraukan penampilanku. Katakan saja padaku sekarang, ada apa Bibi mencariku?"
"Eh, iya ... itu, Non. Tadi Nona Vani meminta saya untuk menyampaikan pesan pada Anda kalau dia ingin memakan makan siang yang Anda siapkan," ucap Bibi Mel dengan ragu-ragu. "Maaf, Non. Sebelumnya saya sudah melarang dan menolak untuk menyampaikan hal ini, tapi dia langsung menghubungi Tuan Marvel hingga membuat saya ditegur olehnya," sambung wanita paruh baya itu lagi.
Vioni menyipitkan kedua matanya kala mendengar ucapan Bibi Mel tentang keinginan adik kembarnya.
"Apa dia tidak punya pikiran? Bisa-bisanya memintaku yang sedang sakit untuk menyiapkan makan siangnya?" geram Vioni.
Bibi Mel hanya menundukkan kepalanya. Dia sendiri merasa bersalah karena tidak bisa memaksakan makanan yang sesuai dengan lidah Vanila hingga membuat gadis itu menyuruhnya untuk meminta Vioni memasak.
"M–maaf, Non. Ini ... ini salah saya–"
"Sudah, Bibi tidak perlu lagi menyalahkan diri Bibi sendiri. Vanila berkunjung ke mari memang sengaja untuk membuatku kesusahan. Jadi ini semua bukan salah Bibi," ucap Vioni agar Bibi Mel tidak menyalahkan dirinya lagi.
"Tapi, Non–"
"Bibi tolong sampaikan saja padanya kalau aku sedang tidak enak badan. Jika nanti dia datang kemari, hiraukan saja!" perintahnya.
Om Marvel? Ada apa dia menghubungiku? Apa dia sudah sampai di Singapura? gumam Vioni sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor ID milik Marvel.
Vioni memilih untuk mengabaikan panggilan pertama Marvel, tetapi ternyata omnya itu kembali menghubungi dia untuk kedua kalinya, jika sudah seperti ini mau tak mau akhirnya Vioni pun menjawab panggilan tersebut.
"Hal–"
"Vioni apa kamu tidak ingat pesanku tadi sebelum berangkat?" Suara sang tante terdengar kesal dari seberang sana hingga membuat Vioni menjauhkan telepon seluler itu beberapa senti dari telinganya.
"Apa maksud Tante?" tanya Vioni dengan heran.
__ADS_1
"Ck. Jangan berpura-pura lupa dengan apa yang aku katakan tadi pagi, Vio! Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaga Vanila dan memberikan semua yang dia inginkan? Kenapa kamu tidak melakukan hal itu?" tanya Resa dengan suara yang menggebu-gebu.
Untuk sesaat Vioni terdiam. Apa Vanila sudah mengadu pada Om dan Tante? Sungguh kekanak-kanakan sekali dia, batin Vioni dengan kesal.
"Vioni, apa kau masih mendengarkanku?" tanya Resa lagi karena dia tidak mendengar sahutan dari keponakannya.
"Aku dengar, Tante. Tapi, aku tidak bisa menjaga dan memenuhi semua keinginan dia. Aku sedang tidak enak badan," jawab Vioni pelan.
Mendengar jawaban dari keponakannya, Resa bukannya khawatir atau merasa bersalah, justru dia malah menganggap apa yang Vioni sampaikan itu hanyalah alasan karena dia tidak ingin memenuhi keinginan adik kembarnya.
"Bohong! Aku tidak percaya kalau kau sedang sakit. Cepat lakukan apa yang diminta Vanila!" teriak Resa sebelum dia mengakhiri sambungan panggilannya secara sepihak.
Vioni terdiam sambil menatap layar ponselnya yang sudah menghitam. Dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh adik kembarnya itu. Dengan langkah tertatih dan memaksakan diri, Vioni keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Vanila. Sesampainya di depan pintu kamar, Vioni berpegangan pada tiang penyangga pintu dan mulai mengetuknya. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Vanila membukakan pintu itu dan menatap Vioni dengan bibir yang menyeringai tipis.
"Ada apa Kakakku sayang? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Melihat senyuman wajah Vanila yang tampak ceria, Vioni hanya menatapnya dingin dan tajam. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pesona yang ditebarkan oleh adik kembarnya itu.
"Kenapa Kakak menatapku seperti itu? Apa Kakak membenciku? Apakah kau tidak menyayangiku lagi? Bukankah aku adik bungsumu satu-satunya yang sedang sakit? Seharusnya kau lebih perhatian dan memanjakanku. Bukan malah menatapku dengan tajam seperti ini!" cecar Vanila sambil memainkan ujung rambutnya.
Vioni menarik napasnya dalam-dalam. Jika dia tidak ingat kalau gadis yang di hadapannya itu adalah anak kesayangan keluarga, dia sudah menamparnya dan menyeret Vanila ke dapur untuk melakukan apa yang dia suruhkan padanya. Namun, Vioni hanya terdiam memperhatikan perilaku Vanila.
"Kak, kenapa Kakak hanya diam saja? Cepat lakukan apa yang Tante suruh kan padamu!" perintah Vanila tanpa tahu malu saat melihat reuni yang masih berdiam diri mematung di hadapannya.
"Oh, Jadi kau sudah menelpon Tante dan mengatakan semua yang aku lakukan padamu?"
Suara datar dan dingin milik Vioni membuat bulu kuduk Vanila sedikit meremang. Entah kenapa gadis itu merasakan aura hitam pekat yang seakan menguar dari belakang punggung kakak kembarnya. Vionis sendiri mulai melihat adiknya yang tampak gugup, tapi dia tidak peduli karena sepertinya Vanila sendiri tidak akan mempedulikannya.
__ADS_1
"I–iya. Aku yang sudah menelpon Tante dan memberitahukan semua sikap burukmu padaku. Aku hanya tidak ingin kau lupa saja kalau aku ini sedang sakit dan tidak boleh sampai terlalu emosi!" jawab Vanila dengan nada sedikit bergetar ketakutan.
Vioni menarik napas panjang sebelum kembali berkata, "Vani, seharusnya kau tidak perlu melakukan hal ini padaku. Sekeras apapun kau memintaku untuk menjadi pelayanmu, maka sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya. Kalau kau benar-benar sakit, seharusnya kau diam di rumah dan meminta Ayah serta Ibu agar tidak meninggalkanmu sendirian. Bukankah kau anak kesayangan mereka?"