
Joanna kembali ke kantor Kai di saat jam makan siang. Kali ini ia membawakan makan siang untuk Kai. Ia berhenti sejenak di depan pintu ruangan Kai.
"Kali ini, aku tidak boleh membuat kesalahan. Aku harus sopan."
"Tok..tok.. tok.." Rosan mengetuk pintu ruangan Kai.
Flova dan Kai yang sedang menghidangkan makan siang yang di bawa khusus oleh Flova melihat ke arah pintu.
"Masuk..." Ucap Kai.
Rosan pun masuk. Kai dan Flova sudah tidak heran lagi dengan kedatangan Rosan ke kantor mereka. Rosan pun mendekati mereka dan meletakkan bekal makanan yang dibawanya di atas meja di depan sofa dimana mereka akan makan.
"Kai, setidaknya makan siang dulu sebelum bertemu klien. Ku dengan kamu akan bertemu dengan tuan Adnan kan? aku bawakan daging panggang yang aku pesan khusus dari restoran bintang lima."
Kai hanya diam dan Flova juga menggelengkan kepalanya. Ia pun mengeluarkan menu utama makanan yang di bawanya.
"Aku bawakan Fillet tuna goreng tepung, sayur genjer, telur dadar dan sambal terasi."
Kai tersenyum dan mengambil sambal terasi , namun di halangi oleh Rosan.
"Maaf Kai, ku dengar tuan Adnan tidak terlalu suka dengan bau sambal terasi."
Kai melirik kearah Flova, Flova hanya melihat Kai dan Rosan dengan bingung.
"Aku akan memakannya nanti. Aku masih bisa makan yang lain. Rosan, mau ikut bergabung makan siang bersama kami?" tawar Kai.
"Tidak masalah jika hanya kita berdua saja yang makan tanpa orang ke tiga ini. Aku memilih pergi saja dari sini."
Rosan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan Kai. Begitu Rosan menutup pintu, Flova pun berdiri dari tempat duduknya.
"Aku harus memanggil Alena sebentar."
Kai mengangguk dan membiarkan Flova pergi. Ia memanggil Alena di ruang bermain dan menggendongnya. Tepat di depan pintu, Rosan berdiri di sana sembari menyilangkan tangannya di dadanya.
"Tuan Adnan juga klien ku, jadi sebaiknya aku yang pergi bersama dengan Kai."
"Yah, aku tau. Tuan Adnan juga memintanya sendiri kepada Kai, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Flova melewatinya yang menghalangi jalannya. Rosan melihatnya tajam begitu pula kepada Alena. Alena pun menjulurkan lidahnya meledek ke arahnya.
"Dasar bocil kampungan. Tunggu saja aku akan menyingkirkan kalian dengan cepat." batin Rosan sembari mengepalkan tangannya erat.
Flova pun kembali masuk dan menurunkan Alena dari gendongannya. Alena lekas berlari dan duduk di pangkuan Kai. Kai yang sudah mengambil nasi pun langsung menyuapkannya kepada Alena. Flova pun tersenyum dan menyusul Kai juga Alena yang sedang makan.
"Sayang sekali, ini hanya momen yang singkat dan tidak akan pernah terulang lagi. Karena sudah 26 hari lebih, Kai tidak mengatakan apapun mengenai sebuah rasa ini." gumam Flova di dalam hatinya.
...*****...
Usai bertemu dengan kliennya, Kai dan Rosan kembali ke kantor. Rosan sangat - sangat bersemangat dan duduk di sofa ruangan Kai sembari tersenyum lebar.
"Aku yakin, tuan Adnan pasti akan segera menandatangani kontraknya. Oiya Kai, tuan Adnan tadi meminta aku langsung untuk mendesain khusus kalung yang ia minta. Aku akan segera membuatnya, karena pasti Tuan Adnan tidak suka menunggu lama." ucap Rosan.
"Apa kamu sudah ada ide?" tanya Kai.
"Tentu saja. Biar aku tunjukkan."
__ADS_1
Rosan dengan semangat bangkit dari tempat duduknya dan duduk di depan meja kerja Kai. Ia mengambil selembar kertas dan mulai mendesain sebuah kalung khusus yang di minta kliennya. Kai memperhatikan gaya yang ia rangkai dengan teliti sesekali memasukkan pendapatnya.
Flova yang baru akan masuk diam di tempatnya sembari memegang gagang pintu ruangan Kai. Flova menggenggam erat gagang pintu tersebut dan memilih untuk menutupnya kembali. Ia menghela nafas panjang dan memilih untuk ke ruang bermain Alena.
"Bunda, kenapa bunda ke sini? Bukankah bunda bekerja?" tanya Alena.
"Bunda ingin beristirahat sejenak."
Flova memijat pelipisnya dan berjalan pelan mendekatinya yang sedang bermain dokter-dokteran bersama dengan boneka-bonekanya.
"Bunda sakit? Ayo coba Alena periksa."
Flova pun duduk di depannya dan berpura-pura menjadi pasien untuk Alena. Alena pun meletakkan stetoskop mainannya di dada Flova dan sangat memperagakan seorang dokter.
"Wah, bunda sakit. Bunda harus banyak beristirahat ya agar bunda tidak terlalu lelah. Bunda, minumlah ini, pasti bunda bisa bekerja lagi."
Flova tersenyum dan menerima gelas mainan yang Alena berikan kepadanya. Flova juga berpura-pura meminum dari gelas yang kosong tersebut.
"Hm.. bunda langsung sembuh. Alena dokter yang hebat." puji Flova.
"Benarkah?" tanya Alena semangat.
Flova hanya tersenyum dan memeluk Alena. Alena membalasnya dengan mencium pipi Flova.
"Jadi, Bunda bisa bekerja lagi dan jangan khawatirkan aku."
"Bunda akan di sini saja menemani Alena, kita tunggu ayah sampai pulang nanti. Bunda akan ke toilet sebentar."
Flova langsung saja pergi dari ruang bermain. Alena menatapnya dengan intens dan penuh dengan kecurigaan, akhirnya ia pun bangkit dari tempat duduknya.
Alena mengendap-endap menuju ke ruangan Kai. Ia melihat Rosan sedang sangat dekat dengan Kai. Alena mengepalkan tangannya melihat mereka berdua.
"Tante lampir lagi. Aku akan mengerjainya."
Alena kembali ke ruangannya dan mengambil sesuatu di kotak mainan kecilnya. Ia pun menyembunyikan di balik tangannya dan masuk ke ruangan Kai. Ia mengendap-endap hingga sampai dimana ia berada di depan meja Kai. Ia melihat dua gelas di sana. Alena menyergitkan dahinya dan menaruh kecoa mainannya di gelas yang terdapat cap lipstiknya.
"Ini pasti gelas Tante jahat itu."
Alena pun kembali keluar dari ruangan Kai dan kembali bermain di ruangannya. Sudah ada Flova di dalam dan sedang berdiri dengan tatapan tajam.
"Bunda cari kamu tidak ada, kamu habis dari mana?" tanya Flova.
"Aku keluar sebentar untuk mencari bunda, ku pikir bunda di ruangan ayah jadi aku mencarinya di sana." bohong Alena.
"Bunda bukannya sebelumnya sudah bilang ke toilet, kenapa perlu mencari bunda?" tanya Flova bingung.
"Hehe, aku lupa."
Flova menggelengkan kepalanya melihat Alena yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka berdua pun kembali bermain balok yang hampir mereka selesaikan.
Di ruangan sebelahnya, Rosan yang terlalu bersemangat tiba-tiba merasa sangat haus dan memilih untuk mengambil minumnya. Ia sedikit tersentak melihat sebuah mainan kecoa yang ada di minuman tersebut, dan seketika terlintas sebuah ide brilian di otaknya.
"Ini pasti ulah bocah itu, bagus.."
Rosan pura-pura menjatuhkannya dan pura-pura terpeleset di tempatnya.
__ADS_1
"Auu.."
Kai panik dan meninggalkan berkas yang ia pegang di mejanya begitu saja. Ia segera berlari dan menghampirinya.
"Rosan, ada apa?"
"A-ada kecoa di minuman ku." Rosan menunjuk ke arah mainan kecoa kecil tersebut. Kai melihatnya dan mengambilnya.
"Ini pasti.."
Kai pun membantu Rosan berdiri dan mendudukkannya di sofa. Kai langsung saja ke ruangan bermain Alena dan sudah ada Flova di dalamnya.
"Kalian berdua, segera keruangan ku."
Alena dan Flova pun saling memandang bingung. Mereka pun memilih untuk mengikutinya ke ruangannya. Flova sedikit kaget melihat gelas pecah berserakan di lantai tersebut.
"Alena, apa kamu yang memasukkan mainan ini ke dalam minuman Tante Rosan?" tanya Kai dengan nada sedikit tinggi.
Alena langsung panik dan bersembunyi di belakangnya kaki Flova. Flova hanya melihatnya dengan penuh dengan kebingungan.
"Apa yang terjadi di sini? Bisa kau jelaskan kepadaku?" tanya Flova.
"Lihat ulah anakmu. Dia bisa saja membuat orang celaka. Beruntung Rosan tidak terluka karena ulahnya. Sebaiknya kau lebih memperhatikannya dan mendidiknya sopan santun dengan benar." Ucap Kai dengan tegas.
"Maksud kamu apa Kai? Dari tadi ia bersamaku di ruang bermain."
"Jangan-jangan kau dan anakmu sudah berencana untuk mencelakai ku dengan menaruh mainan itu di minuman ku sehingga membuatku kaget. Iya kan?" ucap Rosan mulai mengkompor-kompori perdebatan mereka.
"Tunggu, Alena. Kamu berbuat semua ini?" tanya Flova dengan pelan.
"Maaf bunda, maaf ayah. Tante itu sudah membuat bunda sakit, jadi aku mengerjainya."
Flova menepuk kepalanya dan menghela nafas panjang.
"Dengar kan sekarang! Flova, bisa ajarkan Alena dengan baik? Entah apa yang kamu didik kepadanya saat ini. Kau terlalu memanjakannya." ucap Kai dengan marah.
Alena yang merasa bersalah pun pergi meninggalkan tempat keributan tersebut dan berlari menjauh.
"Cukup Kai! Berhenti menceramahi ku! Bisakah kau lembut dengan Alena. Tau apa kau tentang dia! Lagipula kau bukan ayahnya dan jangan mengaturnya! Dia melakukannya pasti karena ada suatu alasan! Kau telah menyakitinya dan aku tidak terima! Aku akan berhenti sampai di sini!"
Flova langsung saja pergi dari ruangan tersebut tanpa membawa tasnya. Ia mengejar Alena yang sudah sedikit jauh dan menjumpainya sedang menangis di samping lift. Lantas saja ia menggendongnya dan turun ke bawah.
Rosan yang masih diam hanya tersenyum miring melihat pertunjukan besar di dalam ruangan tersebut. Ia pun melihat ke arah Kai yang langsung bersandar di meja kerjanya sembari menghela nafas.
"Kai.." panggil Rosan.
"Bawa Desain mu, dan kirim kembali jika sudah siap. Aku akan mengkoreksinya nanti."
"Kai apa kau perlu.."
"Cepat! jangan banyak bicara lagi!"
Rosan pun dengan segera mengambil berkasnya dan keluar dari ruangan Kai sembari tersenyum senang.
"Bagus sekali, tanpa perlu umpan aku sudah mendapatkan dua ikan sekaligus.. hahaha." ucap di batinnya dengan senang.
__ADS_1
//**//